Tampilkan postingan dengan label jumat. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label jumat. Tampilkan semua postingan

Jumat, 23 April 2010

Rahasia Keutamaan Hari Jumat

Novelis Ayu Sutrisna (diperankan Suzanna) sering mengalami tangan gemetar dan keringat dingin keluar karena mengidap phobia tertentu. Anton (diperankan Alan Nuari), psikiater dan sekaligus pacar yang merawatnya, menganjurkan hidup santai dan menghindari suasana sibuk dan bising.

Ia pun menyepi di sebuah rumah tua milik ayah Anton. Namun dua penjaga rumah tua itu mati mengerikan ketika mencoba memperkosa Ayu. Mereka diperkirakan dibunuh setan. Akhirnya tabir terbuka, ayah Anton mengaku bahwa istrinya telah melahirkan bayi di malam Jumat Kliwon dan terbunuh.

Malam Jumat Kliwon adalah film horor Indonesia yang dirilis pada tahun 1986. Film yang disutradari oleh Sisworo Gautama Putra ini dibintangi antara lain oleh Suzanna dan Alan Nuari.

Malam Jumat Kliwon adalah film horor Indonesia yang dirilis pada tahun 1986. Film yang disutradari oleh Sisworo Gautama Putra ini dibintangi antara lain oleh Suzanna dan Alan Nuari.

Alkisah, di atas era 80-an dan seterusnya, para sineas lain di Indonesia menjadikan hari Jumat sebagai hari menakutkan. Hampir bisa disaksikan di semua TV atau film-film horor, menjadikan hari Jumat sebagai hari “kebangkitan” para setan. Walhasil, hari Jumat adalah hari menyeramkan!

Begitulah para sineas Indonesia yang telah ikut menyumbang keburukan dengan menjadikan Hari Jumat seolah-oleh hari paling sial dan menakutkan. Andai Rasulullah masih hidup di tengah-tengah kita, mungkin baginda akan marah besar. Betapa tidak, karena baginda Rasulullah sangat memuliakan hari Jumat. Dalam banyak riwayat, Rasulullah bahkan meminta kita memuliakan hari itu.

Dalam sebuah riwayat, Rasulullah pernah bersabda. “Hari terbaik di mana matahari terbit di dalamnya ialah hari Jumat. Pada hari itu Adam Alaihis Salam diciptakan, dimasukkan ke surga, dikeluarkan daripadanya dan kiamat tidak terjadi kecuali di hari Jumat.” [Riwayat Muslim]

Rasulullah juga pernah bersabda, “Sesungguhnya hari yang paling utama bagi kalian adalah hari Jumat, maka perbanyaklah sholawat kepadaku di dalamnya, karena sholawat kalian akan ditunjukkan kepadaku, para sahabat berkata: ‘Bagaimana ditunjukkan kepadamu sedangkan engkau telah menjadi tanah?’ Nabi bersabda: ‘Sesungguhnya Allah mengharamkan bumi untuk memakan jasad para Nabi.” (Shohih. HR. Abu Dawud, Ibnu Majah, An-Nasa’i)

Keistimewaan lain hari Jumat adalah saat-saat dikabulkannya doa, yaitu saat-saat terakhir setelah shalat ashar (seperti yang dijelaskan dalam banyak hadits) atau di antara duduknya imam di atas mimbar saat berkhutbah Jumat sampai shalat selesai ditunaikan.

Amalan Mulia

Allah mengkhususkan hari Jumat ini hanya bagi kaum Muslimin dari seluruh kaum dari umat-umat terdahulu. Di dalamnya banyak rahasia dan keutamaan yang datangnya langsung dari Allah.

Beberapa rahasia keagungan hari Jumat adalah sebagai berikut;

Pertama, Hari Keberkahan. Di mana di hari Jumat berkumpul kaum Muslimin di masjid-masjid untuk mengikuti shalat dan sebelumnya mendengarkan dua khutbah Jumat yang mengandung pengarahan dan pengajaran serta nasihat-nasihat yang ditujukan kepada kaum muslimin yang kesemuanya mengandung manfaat agama dan dunia. Ibnu Qayyim al-Jauziyyah rahimahullah menyebut hari Jumat memiliki 33 keutamaan. Bahkan Imam as-Suyuthi menyebut ada 1001 keistimewaan.

Kedua, Hari Dikabulkannya doa. Di antara rahasia keutamaan hari Jumat lain adalah, di hari itu terdapat waktu-waktu dikabulkannya doa.

“Di hari Jumat itu terdapat satu waktu yang jika seorang Muslim melakukan shalat di dalamnya dan memohon sesuatu kepada Allah Ta’ala, niscaya permintaannya akan dikabulkan.’ Lalu beliau memberi isyarat dengan tangannya yang menunjukkan sedikitnya waktu itu.” [HR.Bukhari dan Muslim]

Dari Abu Hurairah, Rasulullah bersabda: "Sesungguhnya pada hari Jumat terdapat waktu mustajab bila seorang hamba muslim melaksanakan shalat dan memohon sesuatu kepada Allah pada waktu itu, niscaya Allah akan mengabulkannya.” [Muttafaqun Alaih]

Ketiga, Hari Diperintahkannya Shalat Jumat. Rasulullah bersabda, “Hendaklah kaum-kaum itu berhenti dari meninggalkan shalat Jumat. Atau (jika tidak) Allah pasti akan mengunci hari mereka, kemudian mereka pasti menjadi orang-orang yang lalai.” [Muslim]. Dalam riwayat lain Rasulullah menyebutkan, “Shalat Jumat adalah hak yang diwajibkan kepada setiap Muslim kecuali empat orang; budak atau wanita, atau anak kecil, atau orang sakit.” [Abu Daud]

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا إِذَا نُودِيَ لِلصَّلاةِ مِنْ يَوْمِ الْجُمُعَةِ فَاسْعَوْا إِلَى ذِكْرِ اللَّهِ وَذَرُوا الْبَيْعَ ذَلِكُمْ خَيْرٌ لَكُمْ إِنْ كُنْتُمْ تَعْلَمُونَ (٩)

“Hai orang-orang beriman, apabila diseru untuk menunaikan shalat Jumat, maka bersegeralah kamu kepada mengingat Allah dan tinggalkanlah jual beli, yang demikian itu lebih baik bagimu jika kamu mengetahui.” [QS: Al-Jumu'ah:9]

مَنْ غَسَّلَ يَوْمَ الْجُمْعَةِ وَاغْتَسَلَ ثُمَّ بَكَّرَ وَابْتَكَرَ وَمَشَى وَلَمْ يَرْكَبْ وَدَنَا مِنَ اْلإِمَامِ فَاسْتَمَعَ وَلَمْ يَلْغُ كَانَ لَهُ بِكُلِّ خُطْوَةٍ عَمَلُ سَنَةٍ أَجْرُ صِيَامُهَا وَقِيَامُهَا

“Barangsiapa yang bersuci dan mandi, kemudian bergegas dan mendengar khutbah dari awal, berjalan kaki tidak dengan berkendaraan, mendekat dengan imam, lalu mendengarkan khutbah dan tidak berbuat sia-sia, maka baginya bagi setiap langkah pahala satu tahun baik puasa dan shalatnya..”

,Keempat, Hari Pembeda antara Islam dan Non-Muslim. Hari Jumat adalah hari istimewa bagi kaum Muslim. Selain itu diberikan Nabi untuk membedakan antara harinya orang Yahudi dan orang Nashrani.

Abu Hurairah meriwayatkan, Rasulullah bersabda: "Allah telah memalingkan orang-orang sebelum kita untuk menjadikan hari Jumat sebagai hari raya mereka, oleh karena itu hari raya orang Yahudi adalah hari Sabtu, dan hari raya orang Nasrani adalah hari Ahad, kemudian Allah memberikan bimbingan kepada kita untuk menjadikan hari Jumat sebagai hari raya, sehingga Allah menjadikan hari raya secara berurutan, yaitu hari Jumat, Sabtu, dan Ahad. Dan di hari kiamat mereka pun akan mengikuti kita seperti urutan tersebut, walaupun di dunia kita adalah penghuni yang terakhir, namun di hari kiamat nanti kita adalah urutan terdepan yang akan diputuskan perkaranya sebelum seluruh makhluk." [HR. Muslim]

Kelima, Hari Allah menampakkan diri. Dalam sebuah riwayat disebutkan,Hari Jumat Allah menampakkan diri kepada hamba-hamba-Nya yang beriman di Surga. Dari Anas bin Malik dalam mengomentari ayat: "Dan Kami memiliki pertambahannya" (QS.50:35) mengatakan: "Allah menampakkan diri kepada mereka setiap hari Jumat."

Masih banyak keistimewan hari Jumat. Di antaranya adalah; Dalam "al-Musnad" dari hadits Abu Lubabah bin Abdul Munzir, dari Nabi Shallallahu 'Alaihi Wasallam, beliau bersabda:

"Penghulunya hari adalah hari Jumat, ia adalah hari yang paling utama di sisi Allah Subhanahu Wata'ala, lebih agung di sisi Allah Subhanahu Wata'ala dari pada hari Idul Fitri dan Idul Adha. Pada hari Jumat tersebut terdapat lima keistimewaan: Hari itu, bapak semua umat manusia, Nabi Adam 'Alaihissalam diciptakan, diturunkan ke dunia, dan wafat. Hari kiamat tak akan terjadi kecuali hari Jum’at.

Karena itu, Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wasallam, sangat memuliakan hari ini, menghormatinya, dan mengkhususkannya untuk beribadah dibandingkan hari-hari lainnya.

Etika Menyambut Hari Jumat

Mandi Jum’at [jenabat]

Mandi pada hari Jumat wajib hukumnya bagi setiap muslim yang baligh berdasarkan hadits Abu Sa’id Al Khudri, di mana Rasulullah bersabda, yang artinya, “Mandi pada hari Jumat adalah wajib bagi setiap orang yang baligh.” (HR. Bukhori dan Muslim).

Mandi Jumat ini diwajibkan bagi setiap muslim pria yang telah baligh, tetapi tidak wajib bagi anak-anak, wanita, orang sakit, dan musafir. Sedangkan waktunya adalah sebelum berangkat sholat Jumat. Adapun tata cara mandi Jumat ini seperti halnya mandi jenabat biasa. Rasulullah bersabda yang artinya, “Barangsiapa mandi Jumat seperti mandi jenabat.” (HR. Bukhari dan Muslim)

A. Berpakaian Bersih dan Memakai Wangi-Wangian

Rasulullah berkata, "Siapa yang mandi pada hari Jumat, bersuci sesuai kemampuan, merapikan rambutnya, mengoleskan parfum, lalu berangkat ke masjid, dan masuk masjid tanpa melangkahi di antara dua orang untuk dilewatinya, kemudian shalat sesuai tuntunan dan diam tatkala imam berkhutbah, niscaya diampuni dosa-dosanya di antara dua Jum'at." [HR. Bukhari]

B. Menghentikan Aktivitas Jual-Beli dan Menyegerakan ke Masjid

Anas bin Malik berkata, “Kami berpagi-pagi menuju sholat Jumat dan tidur siang setelah sholat Jumat.” (HR. Bukhari). Al Hafidz Ibnu Hajar berkata, “Makna hadits ini yaitu para sahabat memulai sholat Jumat pada awal waktu sebelum mereka tidur siang, berbeda dengan kebiasaan mereka pada sholat zuhur ketika panas, sesungguhnya para sahabat tidur terlebih dahulu, kemudian sholat ketika matahari telah rendah panasnya.” (Lihat Fathul Bari II/388)

C. Sholat Sunnah Sebelum dan Sesudah Shalat Jumat

Abu Hurairah radhiallahu ‘anhu menuturkan bahwa Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Barangsiapa mandi kemudian datang untuk sholat Jumat, lalu ia sholat semampunya dan dia diam mendengarkan khotbah hingga selesai, kemudian sholat bersama imam maka akan diampuni dosanya mulai Jumat ini sampai Jumat berikutnya ditambah tiga hari.” [HR. Muslim]

D. Membaca Surat Al Kahfi

Nabi bersabda yang artinya, “Barangsiapa yang membaca surat Al Kahfi pada hari Jumat maka Allah akan meneranginya di antara dua Jumat.”

E. Memperbanyak Shalawat.

Dari Anas ra, Rasulullah bersabda: "Perbanyaklah shalawat pada hari Jumat dan malam Jumat." [HR. Baihaqi]

Dari Aus Radhiallahu 'anhu, dia mengatakan, Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wasallam, bersabda: "Sebaik-baik hari kalian adalah hari Jumat: pada hari itu Adam diciptakan, pada hari itu beliau diwafatkan, pada hari itu sangkakala ditiup, pada hari itu manusia bangkit dari kubur, maka perbanyaklah shalawat kepadaku pada hari itu, karena shalawat kalian akan diperlihatkan kepadaku", para shahabat bertanya: "wahai Rasulullah, bagaimana diperlihatkan kepada engkau sedangkan tubuh engkau sudah hancur (sudah menyatu dengan tanah ketika sudah wafat), Beliau menjawab: "sesungguhnya Allah Subhanahu Wata'ala mengharamkan kepada bumi untuk memakan (menghancurkan) jasad para Nabi." [HR, "al-Khamsah]

Mencintai Apa yang Dicintai Nabi

Rasulullah Muhammad adalah orang pilihan dan kekasih Allah SWT. Apapun amalan yang disukai Nabi adalah hal yang paling disukai Allah dan setiap amalan yang dibenci Nabi juga dimurkai Allah.

Bentuk kesungguhan kita mencintai Rasulullah Saw adalah berlomba-lomba dan bersungguh-sungguh mengikuti dan meneladani apa yang telah beliau lakukan.

Sebagaimana firman Allah SWT, وَمَا ءَاتَاكُمُ الرَّسُولُ فَخُذُوهُ وَمَا نَهَاكُمْ عَنْهُ فَانْتَهُوا. Artinya, ”Apa saja yang dibawa oleh Rasul untuk kalian, ambillah, dan apa saja yang dilarangnya atas kalian, tinggalkanlah.” [QS. al-Hasyr [59]: 7]

Dalam ayat lain disebutkan, Katakanlah, “Jika kalian benar-benar mencintai Allah, ikutilah aku, niscaya Allah akan mengasihi kalian dan mengampuni dosa-dosa kalian.” [Qs. Ali-Imran [3]: 31].

Karena itu, apapun yang sudah ditetapkan Nabi –termasuk memuliakan hari Jumat-- adalah sesuatu yang sudah pasti disukai Allah SWT. Sangatlah tidak pantas bagi kita sekalian mengada-adakan dan mengarang-ngarang sesuatu yang sesungguhnya tidak ada dan tidak pernah dilakukan Nabi kita.

Semoga setelah ini kita ikut menjadikan dan memuliakan hari Jumat.

[www.hidayatullah.com]


Jumat, 12 Februari 2010

PEMUDA DAN HARI JUM'AT

Di antara hal yang sangat memprihatinkan yaitu adanya sebuah kenyataan yang kita saksikan dari segolongan pemuda yang tidak memiliki kepedulian terhadap waktu, khususnya waktu-waktu yang utama. Padahal mereka mengetahui dengan baik bahwasanya hidup itu pendek meskipun panjang. Kesenangan itu akan sirna meskipun abadi. Sehat akan digantikan oleh sakit, dan masa muda akan digantikan masa tua.

Di antara waktu-waktu utama yang sering diremehkan oleh sebagian pemuda adalah hari Jum'at yang Allah subhanahu wata’ala telah menunjukkan umat Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam kepadanya dan membiarkan umat-umat terdahulu tanpa petunjuk untuk menggapainya. Berikut ini beberapa ide terpilih yang dapat ditawarkan kepada para pemuda atau remaja untuk mengisi hari Jum'at:

1). Hendaknya seorang pemuda menghindarkan dirinya dari begadang sampai larut malam. Karena begadang akan menghalangi dari bergegas menuju masjid untuk menunaikan shalat Jum'at dengan segera. Ibnu Mas'ud radhiyallahu ‘anhu berkata, "Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam mencela kami karena begadang setelah Isya". (HR. Ahmad dan dishahihkan oleh Syaikh al-Albani).

2). Berdiam diri di Masjid setelah menunaikan shalat Fajar untuk berdzikir dan membaca al-Qur'an.

3). Beristirahat sebentar kemudian menyantap sarapan pagi, mandi, bersiwak, mencukur kumis dan memakai pakaian yang bagus/paling bersih dan memakai minyak wangi. Dari Salman Al-Farisi radhiyallahu ‘anhu dia berkata, "Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam telah bersabda, "Tidaklah seseorang mandi pada hari Jum'at, lalu menyucikan diri semampunya, memakai minyak rambut atau mengoleskan minyak wangi yang ada di rumahnya, kemudian ia pergi keluar rumahnya menuju masjid, dan tidak memisahkan antara dua orang (yang datang lebih awal) untuk selanjutnya ia mengerjakan shalat sebagaimana yang ditentukan kepadanya lalu memperhatikan khutbah pada saat khatib sedang berkhutbah, melainkan diampuni dosa-dosa yang dilakukan hari itu dan Jum'at yang lain". (HR. al-Bukhari).

Telah berkata Muhammad ibn Ibrahim At-Taimi rahimahullah, "Barangsiapa memotong kukunya pada hari Jum'at, memotong kumisnya, dan menghiasi diri dengan sunnah, maka ia telah menyempurnakan Jum'at." (Abdur Razzaq di dalam karangannya). Ibnu Umar radhiyallahu ‘anhu tidaklah berangkat menuju shalat Jum'at, melainkan ia memakai minyak rambut dan minyak wangi. Berkata Abu Sa'id al-Khudry radhiyallahu ‘anhu, "Tiga perkara yang menjadi kewajian seorang muslim pada hari Jum'at: Mandi, bersiwak, dan memakai minyak wangi jika ia mendapatkannya."

4). Bersegera menghadiri shalat Jum'at dengan berjalan kaki, tidak menaiki kendaraan untuk meraih pahala yang besar dalam kesegeraannya. Sebagaimana disebutkan dalam shahihain dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu bahwasanya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam telah bersabda, "Barangsiapa mandi pada hari Jum'at seperti mandi junub, lalu dia berangkat (menuju masjid), maka seakan-akan dia berkurban unta. Barangsiapa berangkat pada saat ke dua, maka seakan-akan dia berkurban sapi. Barangsiapa berangkat pada saat ke tiga, maka seakan-akan dia berkurban kambing. Barangsiapa berangkat pada saat yang ke empat, maka seakan-akan ia berkurban ayam. Barangsiapa berangkat pada saat yang ke lima, maka seakan-akan dia berkurban telor. Sedangkan jika imam telah datang, maka para malaikat berdatangan untuk mendengarkan peringatan (nasihat) ".

Ats-Tsaqofi radhiyallahu ‘anhu berkata, "Saya mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, "Barangsiapa mandi hari Jum'at dan membersihkan diri, lalu bersegera dan bergegas, berjalan kaki dan tidak menaiki kendaraan, mendekati posisi imam kemudian mendengarkan dan tidak berbuat sia-sia, maka baginya setiap langkah amalan satu tahun, termasuk pahala puasa dan qiyamullail yang ada pada tahun itu." (HR. Ahmad).

Sedangkan petunjuk para sahabat Radhiyallahu 'Anhum, maka Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu berkata, "Kami bersegera menuju Jum'at dan beristirahat setelah Jum'at.” (HR. al-Bukhari).

5). Hendaknya seorang pemuda memanfaatkan waktu duduknya di Masjid dengan amalan ibadah yang cocok dengan hati dan kondisinya. Adakalanya dengan memperbanyak shalat. Disebutkan dalam shahih Muslim dari hadits Rabi'ah bin Ka'ab al-Aslamy radhiyallahu ‘anhu dia berkata, "Saya bermalam bersama Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, maka saya membawakan air wudhu dan kebutuhannya. Maka beliau berkata kepadaku, "Mintalah". Maka saya berkata, "Saya meminta agar bisa menemanimu di Surga". Beliau berkata, "Ada yang lain selain itu". Maka aku berkata, "Cukup itu saja". Beliau berkata, "Bantulah aku agar bisa membantumu dengan memperbanyak sujud".

Harapan kita semua adalah tinggal bersama Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam di surga. Harapan ini (tinggal bersama Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam di surga) tidak akan terealisasi setelah rahmat dari Allah subhanahu wata’ala, kecuali dengan mengerjakan sebab-sebabnya. Dan di antara sebab-sebab tersebut adalah memperbanyak shalat.

Nafi' berkata, "Ibnu Umar radhiyallahu ‘anhu senantiasa shalat pada hari Jum'at. Maka ketika mendekati waktu keluarnya imam, ia duduk sebelum keluarnya imam.” (Abdurrozzak 3/210).

Dan di antara sebab-sebab yang lainnya yaitu membaca surat Al-Kahfi. Terdapat banyak nash yang menjelaskan keutamaan membacanya. Di antaranya adalah hadits yang diriwayatkan oleh Ad-Darimi dalam sunannya dari Abu Said Al-Khudry radhiyallahu ‘anhu dia bekata, "Barangsiapa membaca surat Al-Kahfi pada malam Jum'at, maka dia akan diterangi oleh cahaya dalam jarak antara dia dengan Baitul 'Atiq". (Sanadnya memiliki hukum marfu' sebagaimana yang dikatakan oleh Syaikh al-Albani).

Kemudian selayaknya ia berusaha menghafal ayat-ayat al-Qur'an yang mulia agar hati dan dadanya terisi oleh ayat-ayat al-Qur'an. Karena sebaik-baik yang mengisi hati adalah Kitabullah. Imam At-Tirmidzi telah meriwayatkan sebuah hadits dari Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhu dia berkata, "Sesungguhnya seseorang yang di dalam rongga dadanya tidak ada sesuatu dari al-Qur'an seperti rumah yang runtuh". (Berkata At-Tirmidzi: Hadits ini hasan shahih).

6). Jika khatib telah masuk untuk menyampaikan khutbah dan menunaikan shalat, hendaknya ia diam untuk mendengarkan khutbah yang disampaikannya agar dapat mengambil faidah dari khutbah tersebut. hendaknya ia berkonsentrasi mendengarkan khutbah, seolah-olah nanti ia akan ditanya tentang materi khutbah atau ia diminta untuk berbicara tentang materi yang disampaikan Khotib. Maka dengan cara ini akal dan pikirannya akan terpusat lebih banyak pada pembicaraan sang Khotib. Cobalah cara ini, engkau akan mendapatkan kebenaran dari apa yang aku ucapkan.

7). Seusai shalat Jum'at tunaikanlah shalat sunnah Jumat. Jika di masjid shalatlah empat rakaat. Sebagaimana yang telah diriwayatkan At-Tirmidzi dari hadits Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu dia berkata, "Bersabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, "Barangsiapa di antara kalian shalat setelah Jum'at, maka shalatlah empat raka’at setelahnya". Dan jika engkau lakukan di rumah maka shalatlah dua raka'at. Sebagaimana telah ditetapkan dalam shahihain, bahwasanya Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam shalat dua raka’at setelah Jum'at di rumahnya. Setelah itu santaplah makananmu dan beristirahatlah. Sebagaimana yang telah diriwayatkan Imam al-Bukhari dari hadits Sahl bin Sa'd radhiyallahu ‘anhu dia berkata, "Kami tidak beristirahat dan makan siang, kecuali setelah shalat Jum'at."

8). Setelah Ashar mungkin kamu bisa mengisinya dengan mengunjungi kerabat atau menengok orang sakit atau bisa juga dengan mengulangi pelajaran-pelajaranmu.

9). Mendekti waktu Maghrib selayaknya seorang pemuda berjalan menuju masjid untuk berdoa dan memanfaatkan waktu yang mustajab. Sebagaimana yang terdapat dalam shahihain dari hadits Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu bahwasanya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam menyebut hari Jum'at, lalu dia berkata, "Di dalamnya terdapat satu waktu yang tidaklah seorang hamba muslim yang berdiri berdoa memohon kebaikan kepada Allah bertepatan dengan waktu tersebut, melainkan Dia akan memberikan kepadanya.” Dan beliau mengisyaratkan (pendeknya waktu tersebut) dengan tangannya."

Para ulama berbeda pendapat dalam menentukan waktu ini dengan pendapat-pendapat yang banyak. Tetapi sepertinya pendapat yang pa ling kuat adalah akhir waktu Ashar. Maka selayaknya seorang pemuda muslim yang mengetahui kefakiran dan kebutuhannya kepada Rabb-nya menggunakan kesempatan ini dengan memohon hidayah dan keteguhan di atas agamanya untuk dirinya sendiri dan berdoa untuk saudara-saudaranya kaum muslimin di negara-negara bagian timur bumi dan bagian baratnya.

10). Setelah shalat Maghrib, hendaknya ia membaca wirid sore hari kemudian mengerjakan shalat sunnah Maghrib.

11). Setelah Maghrib ia bisa berkumpul bersama keluarganya untuk bercengkrama dengan mereka dan memberi manfaat dengan sesuatu yang bermanfaat bagi mereka atau bisa juga memanfaatkan waktu itu untuk mengulangi pelajarannya sehari-hari.

Seorang pemuda hendaknya mengingat bahwasanya pengulangan pelajaran yang ia lakukan adalah dalam rangka meraih ilmu. Dan menuntut ilmu merupakan ibadah yang sangat agung yang seorang hamba memperoleh pahala jika melaksanakannya. Hadits riwayat At-Tirmidzi, Ad-Darimi dan Abu Daud, menyebutkan bahwa seseorang datang kepada Abu Darda’ radhiyallahu ‘anhu saat itu ia sedang berada di Damaskus, lalu ia bertanya, "Wahai Abu Darda! Sesunggunya aku mendatangimu dari kota Madinah Rasul untuk mengklarifikasi sebuah hadits yang engkau riwayatkan dari Rasulullahshallallahu ‘alaihi wasallam". Abu Darda’ radhiyallahu ‘anhu berkata, "Apa yang menyebabkan anda datang ke sini, apakah karena suatu perniagaan? Ia menjawab,” Tidak". Ia bertanya lagi, "Apakah tidak ada hal lain yang anda cari? Orang itu menjawab, "Tidak". Maka Abu Darda radhiyallahu ‘anhu berkata, "Saya mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, "Barangsiapa berjalan (keluar) untuk mencari ilmu maka Allah akan memudahkan baginya jalan ke surga, dan malaikat akan meletakkan sayapnya sebagai keridloan terhadap penuntut ilmu. Sesungguhnya para penghuni langit dan bumi sampai makhluk yang ada di laut akan memohonkan ampunan baginya dan keutamaan seorang penutut ilmu daripada seorang yang beribadah adalah seperti keutamaan bulan dari bintang-bintang yang lainnya. Para ulama adalah pewaris nabi-nabi dan sesunggunya nabi-nabi itu tidak mewariskan dinar maupun dirham tetapi mereka mewariskan ilmu, maka barangsiapa mengambilnya (ilmu) sesungguhnya ia telah mengambil keuntungan yang besar"

12). Setelah menunaikan shalat Isya dan menyantap makan malam, jika kamu ingin membaca kitab ilmu yang cocok bagimu, maka ini adalah sebuah kebaikan. Jika engkau malas/enggan melakukan yang demikian itu maka shalat witirlah sebelum engkau tidur untuk mengakhiri harimu dengan sesuatu yang diridhoi Allah subhanahu wata’ala. Jangan lupa dzikir-dzikir menjelang tidur dan etika-etikanya. Semoga Allah subhanahu wata’ala menjaga dan memeliharamu. Shalawat dan salam semoga tercurah pada nabi kita Muhammad shallallahu 'alaihi wasallam, keluarga dan sahabat-sahabatnya. (Zainal Abidin)

Maraji': "Kai Yastafiidusy Syaab Min Yaumil Jumu'ah, Syaikh Muhammad Abdullah Al-Habdan"

alsofwah.or.id