Istri cantik, bukanlah satu-satunya kriteria bagi seorang mu'min yang memiliki cita-cita untuk membangun keluarga yang sakinah, mawaddah wa rahmah. keshalihan sang istri merupakan kriteria utama dan didambakan seorang lelaki di antara sekian banyak kriteria yang diinginkannya. Apalah arti istri yang cantik, jika ia tidak taat kepada sang suami, suka membuatnya jengkel dan sakit hati, tidak menyenangkan ketika berada di dekatnya, tidak amanah, dan lain sebagainya. Tentunya keadaan seperti ini dapat membuat sang suami merasa tak aman dan nyaman berlama-lama di dalam rumah, bahkan boleh jadi rumah baginya laksana neraka. Beginilah konsekuensi yang akan ditanggung oleh seorang lelaki, tatkala ia memutuskan kecantikanlah sebagai kriteria utama dan segalanya dalam memilih partner hidupnya, meskipun ia tidak memiliki keshalihan. Seorang istri demikianlah yang memiliki potensi besar untuk tidak patuh kepada seorang suami, menyeleweng, dan cenderung mengabaikan hak-haknya. Padahal hak seorang suami atas seorang istri merupakan seagung-agungnya hak setelah hak Allah subhanahu wata’ala dan RasulNya shallallahu ‘alaihi wasallam. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, "Kalau seandainya aku boleh menyuruh seorang untuk sujud kepada orang lain, niscaya aku akan menyuruh seorang istri untuk sujud kepada suaminya." (HR. at-Tirmidzi. Dan ia berkata, "Hasan Shahih.").
Maka perlu bagi seorang wanita, baik yang sudah menjadi seorang istri, maupun yang akan menjadi seorang istri, untuk berusaha mencari tahu kiat-kiat khusus yang harus dilaksanakan agar ia menjadi dambaan dan pujaan para suami. Mudah-mudahan beberapa pesan dan nasehat di bawah ini bisa menjadi kiat-kiat yang berharga bagi para wanita untuk mewujudkan impiannya, menjadi idola dan idaman sang suami, serta untuk menggapai kebahagian yang hakiki dalam mengarungi lautan kehidupan rumah tangga yang penuh dengan liku-liku ini bersama suami tercinta. Kiat-kiat tersebut di antaranya adalah:
1. Hendaklah seorang istri merasa cukup dan ridha dengan pemberian yang sedikit dari sang suami. Tidak banyak menuntutnya, sehingga membuatnya kecewa dan dapat menjerumuskannya untuk mencari nafkah dengan jalan dan cara yang haram. Sungguh para wanita generasi Salafush-Shalih, apabila suaminya hendak berangkat dari rumahnya untuk mencari nafkah, ia berkata kepadanya, "Jauhkanlah (wahai suamiku) mencari nafkah yang haram. Sesung-guhnya kami mampu bersabar menahan lapar, akan tetapi kami tidak mampu bersabar menahan panasnya api neraka!"
2. Hendaklah seorang istri menjauhkan diri dari berbuat durhaka kepada suaminya, meninggikan suara ketika berbicara kepadanya, dan selalu mengeluhkan tentang suaminya kepada keluarganya. Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda kepada seorang wanita, "Bagaimana sikapmu terhadap suamimu?! Sesungguhnya ia adalah surga dan nerakamu!" (HR. an-Nasa'i dan Ahmad, dan dishahihkan oleh Syaikh al-Albani).
3. Hendaklah seorang istri tidak meminta kepada suaminya seorang pembantu wanita yang masih muda, karena hal itu dapat menjadi sebab sang suami menceraikannya. Dan karena seorang pembantu wanita muda lebih berpotensi mengundang fitnah dalam rumah tangga. Khususnya fitnah bagi sang suami. Tidak sedikit kasus-kasus perselingkuhan terjadi di dalam rumah tangga antara seorang suami dengan seorang pembantu wanita muda, karena seringnya komunikasi, saling memandang dan berdua-duaan, tatkala sang istri tak ada di rumah, dan lain sebagainya. Kemudian terjadilah perselisihan dan percekcokan antara suami dan istri yang berakhir pada perceraian. Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, "Tidaklah aku meninggalkan fitnah sepeninggalanku ini bagi para lelaki yang lebih berbahaya, selain para wanita." (Muttafaq 'alaih). Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam juga bersabda, “Janganlah sekali-kali seorang lelaki berkhalwat (berdua-duaan) dengan seorang wanita melainkan ada mahram bersamanya, lalu seorang lelaki berdiri dan berkata, "Wahai Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, istriku hendak keluar menunaikan haji, sedangkan namaku telah terdaftar untuk mengikuti perang ini dan itu. Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, "Pulanglah kamu! Dan berhajilah bersama istrimu!". (Muttafaq 'alaih). Dan Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam juga bersabda, "Barangsiapa yang beriman kepada Allah dan hari Akhir, janganlah sekali-kali ia berkhalwat (berdua-duan) dengan seorang wanita yang tidak ada mahram bersamanya, maka sungguh ketiganya adalah syetan." (HR. Ahmad, dengan sanad yang shahih)
4. Hendaklah seorang istri mengetahui bahwa hak suami harus lebih diutamakan dari semua hak kerabat/ keluarganya. Jika mendapatkan hak-hak yang saling bertabrakan, maka ia harus tetap mengutamakan hak suami, dan hendaklah ia mengabaikan yang lainnya.
5. Hendaklah seorang istri menjaga harta suaminya, tidak menggunakannya tanpa sepengetahuannya. Jika ia bersedekah dari hartanya dengan idzinnya, maka ia mendapatkan pahala seperti pahala suaminya. Jika ia bersedekah tanpa ridhanya, maka suaminya mendapatkan pahala, sedangkan ia mendapatkan dosa.
6. Hendaklah seorang istri menghindar dari pergaulan dengan para tetangga yang tidak baik, teman-teman yang buruk perangainya, yang dapat mempe-ngaruhinya sehingga ia bersikap buruk terhadap suaminya, dan dapat menjadi sebab terjadinya perselihan antara ia dengannya, serta dapat merendahkan martabat dan harga diri suami di hadapannya.
7. Hendaklah seorang istri bersikap sabar atas perlakuan suaminya yang kurang baik. Hendaklah ia bijaksana dalam menyikapinya tatkala sedang emosi, niscaya suaminya akan memujinya pada waktu ia senang. Dan hendaklah ia juga mengetahui, bahwa problematika dalam rumah tangga tidak akan menjadi besar kecuali jika hal itu disikapi dengan keras kepala dan kesombongan. Maka janganlah ia menghancurkan rumah tangganya dengan sikap keras kepala dan kesombongan.
8. Hendaklah seorang istri memenuhi panggilan suaminya dalam situasi dan kondisi apa pun. Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, "Barangsiapa mengajak istrinya ke tempat tidurnya, lalu ia enggan, maka para malaikat melaknatnya hingga pagi." (Muttafaq 'alaih)
9. Hendaklah seorang istri tidak menyebutkan atau menceritakan 'sifat'/keistimewaan wanita lain kepada suaminya. Karena Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam melarang hal tersebut. Sebagaimana sabda shallallahu ‘alaihi wasallam beliau, "Janganlah seorang wanita bergaul dengan wanita lain, kemudian ia menceritakan wanita tersebut kepada suaminya, seakan-akan suaminya melihatnya (wanita tersebut)."(Muttafaq 'alaih).
10. Hendaklah seorang istri mampu menjadi pemimpin di rumah suaminya dan bertanggung jawab terhadap anak-anaknya, dengan menyuruh mereka berbuat baik, dan melarang mereka dari perbuatan yang mungkar (tidak baik). Serta tidak meridhai jika ada sesuatu yang mungkar di rumahnya. Dan hendaklah ia mengerti bahwasanya tidak ada ketaatan kepada satu makhlukpun dalam maksiat kepada Allah subhanahu wata’ala. Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, "…Dan seorang wanita (Ibu) adalah pemimpin di rumah suaminya, dan akan mem pertanggungjawabkan atas kepemimpinannya,…”(HR. al-Bukhari dan Muslim). Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam juga bersabda, "Apabila salah seorang di antara kalian melihat kemungkaran, maka hendaklah ia mencegahnya dengan tangannya, dan apabila ia tidak mampu, maka hendaklah ia mencegahnya dengan lisannya, dan apabila tidak mampu juga, maka hendaklah ia mencegahnya dengan hatinya, dan yang demikian itu adalah selemah-lemahnya iman." (HR. Muslim, Abu Daud, an-Nasai, at-Tirmidzi, Ibnu Majah dan Ahmad). Wallahu a'alam.
Dialihbahasakan dari buletin :
“Baaqotu wardin wa Nisrin, Muhdatun Likulli ‘Arusain”, Min al-Qism al’Ilmy Bi Daril-Wathan.” (Oleh: Abu Nabiel)
www.alsofwah.or.id
Lanjutkan/Read More....
Rabu, 10 Februari 2010
Selasa, 09 Februari 2010
CATATAN UNTUK PARA SUAMI
Wanita mana yang tidak mendambakan seorang lelaki yang kelak dapat menjadi sandaran hidupnya, mampu membimbing dan mendidiknya untuk menjadi wanita terbaik dan shalihah bukan saja hanya untuk suaminya, tetapi terbaik untuk Allah subhanahu wata’ala. Suami yang selalu memotivasinya untuk beribadah kepada Allah subhanahu wata’ala dan selalu istiqamah di jalan-Nya. Maka tentunya kiat-kiat di bawah ini perlu diketahui oleh para kaum lelaki yang ingin menjadi suami idaman bagi istri-istrinya. Di antaranya adalah:
1. Hendaklah seorang suami senantiasa bertakwa kepada Allah subhanahu wata’ala dalam mempergauli dan memperlakukan istrinya. Karena ia adalah amanah yang akan dipertanyakan oleh Allah subhanahu wata’ala pada hari Kiamat. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, "Perlakukanlah wanita-wanita itu dengan baik". (Muttafaq 'alaih). Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam melarang berbuat zhalim terhadap wanita. Sebagaimana beliau shallallahu ‘alaihi wasallam pernah berdo'a, "Ya Allah sesungguhnya aku akan menjadi penghalang (orang yang menzhalimi) hak dua golongan yang lemah, yakni: Anak yatim dan wanita." (HR. Ibnu Majah dengan sanad hasan).
2. Hendaklah seorang suami memiliki perangai dan tabiat yang mulia. Janganlah ia mencaci istrinya, menjelek-jelekkannya, dan mendiamkannya. Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, "Janganlah seorang mu'min membenci seorang mu'minah, jika ia tidak menyukai suatu perangai nya, maka ia akan menyukai perangai yang lain dari dirinya." (HR. Muslim).
3. Hendaklah seorang suami banyak bersabar dan baik dalam bermu'amalah dengan istrinya. Maka sebaik-baik kalian adalah yang menjaga persahabatan dan kasih sayang! Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, "Sebaik-baik kalian adalah yang terbaik terhadap keluarganya, dan aku adalah sebaik-baik kalian kepada keluargaku". (HR. Ibnu Majah)
4. Hendaklah seorang suami memiliki kecemburuan terhadap istrinya, tetapi tidak berlebihan, sehingga berburuk sangka kepadanya. Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, "Apakah kalian merasa kagum/heran dengan ghirah (rasa cemburu)nya Sa'ad? Sungguh aku lebih cemburu darinya, dan Allah lebih cemburu dariku." (HR.Muslim).
5. Hendaklah seorang suami bersikap lemah lembut dan bijaksana dalam menyikapi kesalahan dan kekeliruan. Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, "Sesungguhnya tidaklah kelembutan itu ada pada sesuatu, melainkan ia akan membuatnya menjadi indah, dan tidaklah kelembutan itu hilang dari sesuatu, melainkan ia akan memperbu-ruknya." (HR. Muslim). Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam juga bersabda, "Sesungguhnya Allah Maha lembut, Dia menyukai kelembutan di dalam semua perkara." (HR. Al-Bukhari dan Muslim).
6. Hendaklah seorang suami memberikan nafkah kepada istrinya dengan ma'ruf (layak). Sebagaimana Allah subhanahu wata’ala berfirman, artinya, "Dan janganlah kamu jadikan tanganmu terbelenggu pada lehermu dan janganlah kamu terlalu mengulurkannya karena itu kamu menjadi tercela dan menyesal." (QS. Al-Isra': 29)
(maksudnya: tidak kurang dan tidak berlebihan, pent.)
Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam pernah ditanya, apa hak istri yang wajib dipenuhi oleh suami? Lalu beliau shallallahu ‘alaihi wasallam menjawab, "Kamu memberi makan kepadanya, jika kamu makan. Dan kamu memberi pakaian untuknya, jika kamu memakai pakaian. Dan janganlah kamu memukul wajah, menjelek-jelekkannya, dan jangan pula kamu mendiamkannya kecuali di dalam rumah." (HR. Ahmad dan Abu Daud).
7. Hendaklah seorang suami mempelajari fiqih kewanitaan sehingga ia mengetahui cara menggauli istrinya saat haidh dan nifas, dan hendaklah ia mengajarkan kepada istrinya tentang masalah tersebut, jika ia belum mengetahuinya.
8. Hendaklah seorang suami mengerti, bahwasannya tidak boleh baginya berhubungan (bersetubuh) dengan istrinya waktu haidh, dan tidak pula pada duburnya. Dan dibolehkan baginya untuk bermesra-mesraan dengannya waktu haidh, kecuali melakukan jima' (bersetubuh), karena hal tersebut diharamkan. Allah subhanahu wata’ala berfirman,artinya, "Mereka bertanya kepadamu tentang haidh. Katakanlah:"Haidh itu adalah suatu kotoran". Oleh sebab itu hendaklah kamu menjauhkan diri dari wanita di waktu haidh; dan janganlah kamu mendekati mereka, sebelum mereka suci. Apabila mereka telah suci, maka campurilah mereka itu di tempat yang diperintakan Allah kepadamu. Sesung guhnya Allah menyukai orang-orang yang taubat dan menyukai orang-orang yang mensucikan diri. Isteri-isterimu adalah (seperti) tanah tempat kamu bercocok tanam, maka datangilah tanah tempat bercocok-tanammu itu bagai mana saja kamu kehendaki. Dan kerjakanlah (amal yang baik) untuk dirimu, dan bertaqwalah kepada Allah dan ketahuilah ahwa kamu kelak akan menemui-Nya. Dan berilah kabar gembira orang-orang yang beriman." (QS. Al-Baqarah: 222-223)
Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, "Allah subhanahu wata’ala tidak memandang seorang lelaki yang menggauli lelaki lain atau seorang wanita melalui dubur". (HR. At-Tirmidzi, dishahihkan oleh Al-Albani).
Di antara etika melakukan jima': Memulai dengan basmalah (membaca bismillah dan berdo'a), bersenda gurau, berpelukan, mencium sebelum melakukannya. Karena hal itu lebih dapat memberikan kepuasan bagi suami dan istri. Dan jika seorang suami telah selesai menunaikan hajatnya, maka hendaklah ia tidak tergesa-gesa (menyudahinya), sampai sang istri mendapatkan haknya. Dan barangsiapa yang ingin mengulanginya (jima'), maka hendaklah ia membasuh kemaluannya, lalu berwudhu. Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, yang artinya, "Jika salah seorang di antara kalian akan menyetubuhi istrinya mengucapkan (berdoa), "Dengan nama Allah, Ya Allah! Jauhkan kami dari setan, dan jauhkan setan untuk mengganggu apa yang Engkau rezekikan kepada kami. Maka niscaya setan tidak akan mencelakakan anak (hasil) dari keduanya selama-lamanya."(Muttafaq 'alaih). Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, "Jika salah seorang di antara kalian menyetubuhi istrinya, kemudian hendak mengulangi, maka hendaklah ia berwudhu." (HR. Muslim)
9. Hendaklah seorang suami menjauhkan diri dari menyebarkanluaskan rahasia-rahasia hubungan suami-istri. Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, "Sesungguhnya di antara manusia yang paling buruk kedudukannya di sisi Allah subhanahu wata’ala pada hari Kiamat adalah seorang suami yang menggauli istrinya, dan istrinya menggaulinya, kemudian ia sebarkan rahasia istrinya." (HR. Muslim).
Suatu ketika dikatakan kepada sebagian orang-orang shalih yang ingin menceraikan istrinya, "Apa yang membuatmu ragu kepada istrimu?" Lalu ia menjawab, "Orang yang berakal tak akan membuka rahasia." Maka tatkala ia telah menceraikannya, ia pun kembali ditanya, "Mengapa kamu menceraikannya?". Lalu ia pun menja-wab, "Apa urusanku/ hakku dengan istri orang lain?"
Mudah-mudahan kiat-kiat di atas dapat menjadi nasihat berharga untuk para suami dan para calon suami yang ingin menjadi idaman para istri. Dan semoga Allah subhanahu wata’alasenantiasa memberi kan taufiq-Nya kepada kita semua.
Sumber: Dialihbahasakan dari buletin “Baaqotu wardin wa Nisrin, Muhdatun Likulli ‘Arusain”, Min al-Qism al’Ilmy Bi Daril-Wathan. (Oleh: Abu Nabiel)
www.alsofwah.or.id
Lanjutkan/Read More....
1. Hendaklah seorang suami senantiasa bertakwa kepada Allah subhanahu wata’ala dalam mempergauli dan memperlakukan istrinya. Karena ia adalah amanah yang akan dipertanyakan oleh Allah subhanahu wata’ala pada hari Kiamat. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, "Perlakukanlah wanita-wanita itu dengan baik". (Muttafaq 'alaih). Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam melarang berbuat zhalim terhadap wanita. Sebagaimana beliau shallallahu ‘alaihi wasallam pernah berdo'a, "Ya Allah sesungguhnya aku akan menjadi penghalang (orang yang menzhalimi) hak dua golongan yang lemah, yakni: Anak yatim dan wanita." (HR. Ibnu Majah dengan sanad hasan).
2. Hendaklah seorang suami memiliki perangai dan tabiat yang mulia. Janganlah ia mencaci istrinya, menjelek-jelekkannya, dan mendiamkannya. Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, "Janganlah seorang mu'min membenci seorang mu'minah, jika ia tidak menyukai suatu perangai nya, maka ia akan menyukai perangai yang lain dari dirinya." (HR. Muslim).
3. Hendaklah seorang suami banyak bersabar dan baik dalam bermu'amalah dengan istrinya. Maka sebaik-baik kalian adalah yang menjaga persahabatan dan kasih sayang! Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, "Sebaik-baik kalian adalah yang terbaik terhadap keluarganya, dan aku adalah sebaik-baik kalian kepada keluargaku". (HR. Ibnu Majah)
4. Hendaklah seorang suami memiliki kecemburuan terhadap istrinya, tetapi tidak berlebihan, sehingga berburuk sangka kepadanya. Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, "Apakah kalian merasa kagum/heran dengan ghirah (rasa cemburu)nya Sa'ad? Sungguh aku lebih cemburu darinya, dan Allah lebih cemburu dariku." (HR.Muslim).
5. Hendaklah seorang suami bersikap lemah lembut dan bijaksana dalam menyikapi kesalahan dan kekeliruan. Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, "Sesungguhnya tidaklah kelembutan itu ada pada sesuatu, melainkan ia akan membuatnya menjadi indah, dan tidaklah kelembutan itu hilang dari sesuatu, melainkan ia akan memperbu-ruknya." (HR. Muslim). Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam juga bersabda, "Sesungguhnya Allah Maha lembut, Dia menyukai kelembutan di dalam semua perkara." (HR. Al-Bukhari dan Muslim).
6. Hendaklah seorang suami memberikan nafkah kepada istrinya dengan ma'ruf (layak). Sebagaimana Allah subhanahu wata’ala berfirman, artinya, "Dan janganlah kamu jadikan tanganmu terbelenggu pada lehermu dan janganlah kamu terlalu mengulurkannya karena itu kamu menjadi tercela dan menyesal." (QS. Al-Isra': 29)
(maksudnya: tidak kurang dan tidak berlebihan, pent.)
Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam pernah ditanya, apa hak istri yang wajib dipenuhi oleh suami? Lalu beliau shallallahu ‘alaihi wasallam menjawab, "Kamu memberi makan kepadanya, jika kamu makan. Dan kamu memberi pakaian untuknya, jika kamu memakai pakaian. Dan janganlah kamu memukul wajah, menjelek-jelekkannya, dan jangan pula kamu mendiamkannya kecuali di dalam rumah." (HR. Ahmad dan Abu Daud).
7. Hendaklah seorang suami mempelajari fiqih kewanitaan sehingga ia mengetahui cara menggauli istrinya saat haidh dan nifas, dan hendaklah ia mengajarkan kepada istrinya tentang masalah tersebut, jika ia belum mengetahuinya.
8. Hendaklah seorang suami mengerti, bahwasannya tidak boleh baginya berhubungan (bersetubuh) dengan istrinya waktu haidh, dan tidak pula pada duburnya. Dan dibolehkan baginya untuk bermesra-mesraan dengannya waktu haidh, kecuali melakukan jima' (bersetubuh), karena hal tersebut diharamkan. Allah subhanahu wata’ala berfirman,artinya, "Mereka bertanya kepadamu tentang haidh. Katakanlah:"Haidh itu adalah suatu kotoran". Oleh sebab itu hendaklah kamu menjauhkan diri dari wanita di waktu haidh; dan janganlah kamu mendekati mereka, sebelum mereka suci. Apabila mereka telah suci, maka campurilah mereka itu di tempat yang diperintakan Allah kepadamu. Sesung guhnya Allah menyukai orang-orang yang taubat dan menyukai orang-orang yang mensucikan diri. Isteri-isterimu adalah (seperti) tanah tempat kamu bercocok tanam, maka datangilah tanah tempat bercocok-tanammu itu bagai mana saja kamu kehendaki. Dan kerjakanlah (amal yang baik) untuk dirimu, dan bertaqwalah kepada Allah dan ketahuilah ahwa kamu kelak akan menemui-Nya. Dan berilah kabar gembira orang-orang yang beriman." (QS. Al-Baqarah: 222-223)
Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, "Allah subhanahu wata’ala tidak memandang seorang lelaki yang menggauli lelaki lain atau seorang wanita melalui dubur". (HR. At-Tirmidzi, dishahihkan oleh Al-Albani).
Di antara etika melakukan jima': Memulai dengan basmalah (membaca bismillah dan berdo'a), bersenda gurau, berpelukan, mencium sebelum melakukannya. Karena hal itu lebih dapat memberikan kepuasan bagi suami dan istri. Dan jika seorang suami telah selesai menunaikan hajatnya, maka hendaklah ia tidak tergesa-gesa (menyudahinya), sampai sang istri mendapatkan haknya. Dan barangsiapa yang ingin mengulanginya (jima'), maka hendaklah ia membasuh kemaluannya, lalu berwudhu. Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, yang artinya, "Jika salah seorang di antara kalian akan menyetubuhi istrinya mengucapkan (berdoa), "Dengan nama Allah, Ya Allah! Jauhkan kami dari setan, dan jauhkan setan untuk mengganggu apa yang Engkau rezekikan kepada kami. Maka niscaya setan tidak akan mencelakakan anak (hasil) dari keduanya selama-lamanya."(Muttafaq 'alaih). Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, "Jika salah seorang di antara kalian menyetubuhi istrinya, kemudian hendak mengulangi, maka hendaklah ia berwudhu." (HR. Muslim)
9. Hendaklah seorang suami menjauhkan diri dari menyebarkanluaskan rahasia-rahasia hubungan suami-istri. Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, "Sesungguhnya di antara manusia yang paling buruk kedudukannya di sisi Allah subhanahu wata’ala pada hari Kiamat adalah seorang suami yang menggauli istrinya, dan istrinya menggaulinya, kemudian ia sebarkan rahasia istrinya." (HR. Muslim).
Suatu ketika dikatakan kepada sebagian orang-orang shalih yang ingin menceraikan istrinya, "Apa yang membuatmu ragu kepada istrimu?" Lalu ia menjawab, "Orang yang berakal tak akan membuka rahasia." Maka tatkala ia telah menceraikannya, ia pun kembali ditanya, "Mengapa kamu menceraikannya?". Lalu ia pun menja-wab, "Apa urusanku/ hakku dengan istri orang lain?"
Mudah-mudahan kiat-kiat di atas dapat menjadi nasihat berharga untuk para suami dan para calon suami yang ingin menjadi idaman para istri. Dan semoga Allah subhanahu wata’alasenantiasa memberi kan taufiq-Nya kepada kita semua.
Sumber: Dialihbahasakan dari buletin “Baaqotu wardin wa Nisrin, Muhdatun Likulli ‘Arusain”, Min al-Qism al’Ilmy Bi Daril-Wathan. (Oleh: Abu Nabiel)
www.alsofwah.or.id
Lanjutkan/Read More....
Minggu, 07 Februari 2010
Histori Kuburan Rasulullah Dalam Tinjauan Aqidah
(Al Fikrah No.02 Thn VII/06 Ramadhan 1427 H)
Salah satu fenomena yang cukup menyejukkan pandangan dalam bulan Ramadhan adalah maraknya masjid-masjid dikunjungi oleh jamaah untuk mengerjakan shalat. Namun perlu untuk diperhatikan, bahwa ternyata, tidak semua masjid layak untuk kita gunakan mengerjakan shalat, baik yang wajib maupun sunnah.
Di antara penyebabnya adalah adanya kuburan dalam masjid tersebut atau di sekitar masjid tersebut. Sebagian orang membolehkan shalat di masjid yang dibangun di atas kuburan dengan dalih kuburan Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wa Sallam berada dalam masjid Nabawi. Masalahnya adalah bolehkah berdalil dengan posisi kuburan Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wa Sallam tersebut yang kini telah berada dalam masjid Nabawi? Bagaimana histori masuknya kuburan Nabi Shallallahu 'Alaihi Wa Sallam tersebut ke dalam masjid Nabawi?
Sakit dan wafatnya Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wa Sallam
Lima hari sebelum beliau wafat, yaitu pada hari Rabu beliau masuk ke dalam masjid lalu duduk di atas mimbar dan berkhutbah di hadapan sahabat, beliau berkata,
áóÚúäóÉõ Çááåö Úóáóì ÇáúíóåõæúÏö æóÇáäøóÕóÇÑóì ÇÊøóÎóÐõæúÇ ÞõÈõæúÑó ÃóäúÈöíóÇÆöåöãú ãóÓóÇÌöÏó
“Semoga Allah melaknat orang-orang Yahudi dan Nashara, mereka telah menjadikan kuburan nabi-nabi mereka sebagai masjid.” (HR. Bukhari dan Muslim).
Dalam riwayat lain dikatakan,
ÞóÇÊóáó Çááåõ ÇáúíóåõæúÏó ÇöÊøóÎóÐõæúÇ ÞõÈõæúÑó ÃóäúÈöíóÇÆöåöãú ãóÓóÇÌöÏó
“Semoga Allah memerangi orang-orang Yahudi, mereka menjadikan kuburan nabi-nabi mereka sebagai masjid.” (HR. Bukhari dan Muslim).
Kemudian beliau berkata, ”Janganlah kalian jadikan kuburanku sebagai berhala yang disembah.”
Setelah menyampaikan beberapa hal, beliau turun dari mimbar untuk shalat zhuhur, kemudian beliau duduk kembali di atas mimbar dan mengulangi perkataannya yang sebelumnya.
Penyakit Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wa Sallam terus makin parah dan makin berat sampai beliau menutupkan pakaiannya ke wajahnya, lalu beliau buka kembali dan berwasiat, “Laknat Allah atas orang-orang Yahudi dan Nashara, mereka menjadikan kuburan nabi-nabi mereka sebagai masjid.”
Detik-detik Menjelang Wafat Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wa Sallam
Menjelang wafatnya, Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wa Sallam memasukkan kedua tangannya ke dalam sebuah bejana yang berisi air kemudian mengusapkannya ke wajahnya sambil berkata, “La ilaaha illallah, sesungguhnya kematian itu mengalami sekarat.” Tak berapa lama setelah bersiwak, Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wa Sallam mengangkat tangan atau jarinya dan menatapkan pandangannya ke atap, kedua bibirnya bergerak membaca doa. Kemudian tangannya miring dan beliau pun akhirnya menjumpai Kekasihnya yang Maha Tinggi Allah Subhaanahu Wa Ta'ala.
Kejadian ini berlangsung pada saat waktu dhuha sedang panas-panasnya, yaitu pada hari Senin tanggal 12 Rabi'ul Awal 11 H., setelah umur beliau mencapai 63 tahun empat hari.
Prosesi Penguburan Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wa Sallam
Para sahabat berselisih tentang tempat pemakaman Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wa Sallam sampai Abu Bakar Radhiyallahu 'Anhu berkata, “Sesungguhnya aku telah mendengar Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wa Sallam bersabda: “Tidaklah seorang Nabi wafat kecuali dikubur di tempat ia wafat”. (HR. Ahmad dan Ibnu Mâjah).
Maka Abu Thalhah mengangkat kasur dalam kamar Aisyah Radhiyallahu 'Anha yang dipakai Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wa Sallam pada saat wafat lalu menggali tanah yang ada di bawahnya, dan membentuk liang lahad. Adapun kamar Aisyah terletak di sebelah timur Masjid Nabawi di sudut kiri depan masjid.
Renovasi dan Perluasan Masjid Nabawi dan Masuknya Kuburan ke Dalamnya
Sejalan dengan jumlah kaum muslimin yang semakin bertambah, Masjid Nabawi pun beberapa kali mengalami perluasan. Ketika al-Walîd bin Abdul Mâlik memegang tampuk pemerintahan Dinasti Banî Umayyah (86-96 H.), pada tahun 91 H., renovasi dan perluasan Masjid Nabawi akhirnya mencakup kamar Aisyah tempat Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wa Sallam, Abu Bakar Radhiyallahu 'Anhu dan Umar Radhiyallahu 'Anhu dimakamkan. Maka sejak saat itu hingga kini, kubur Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wa Sallam masuk ke dalam masjid.
Kesalahan dalam perencanaan renovasi ini karena bertentangan dengan hadits-hadits Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wa Sallam bahkan wasiat beliau yang terakhir disampaikan sebelum wafatnya, akhirnya mereka sadari. Karena itu, mereka berusaha untuk mengurangi celah penyimpangan aqidah dengan memagari hujrah tersebut dengan pagar berbentuk segi tiga yang memanjang ke arah utara, belakang kubur agar seseorang yang ingin shalat menghadap ke kuburnya tidak dapat melakukannya. (Tâhzîrus Sâjid, hal. 65-66).
Pada masa pemerintahan Dinasti Utsmâniyah, tahun 1813 M, Sultan Mahmud II membangun sebuah kubah baru berwarna hijau di atas kamar Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wa Sallam yang masih tetap kokoh hingga kini yang kian menambah fenomena baru dalam kuburan Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wa Sallam, yang tidak di ridhai oleh penghuni kubur tersebut.
Jawaban Terhadap Syubhat
Fenomena masuknya kubur Rasululullah Shallallahu 'Alaihi Wa Sallam, Abu Bakar As-Siddiq dan Umar bin Khattab Radhiyallahu 'Anhu ke dalam Masjid Nabawi telah menjadi salah satu alasan bagi sebagian orang untuk menguburkan atau mempertahankan kuburan yang ada di dalam, atau di depan masjid, atau membolehkan untuk tetap shalat di masjid-masjid seperti itu, meskipun Nabi Shallallahu 'Alaihi Wa Sallam telah melarang bahkan melaknat perbuatan tersebut dalam banyak hadits shahihnya, antara lain;
"Ingatlah! Janganlah kalian menjadikan kubur sebagai masjid, sungguh aku melarang kalian dari hal itu.”
”Ya Allah! Janganlah Engkau biarkan kuburanku sebagai berhala yang disembah. Semoga Allah melaknat kaum yang menjadikan kuburan nabi mereka sebagai masjid."
“Sesungguhnya orang yang terburuk adalah orang yang masih hidup pada saat terjadi kiamat dan orang yang menjadikan kuburan sebagai masjid.”
Di antaranya telah kami sebutkan pada bagian awal tulisan ini.
Yang mungkin dipahami dari kalimat "menjadikan kuburan sebagai masjid" adalah tiga pengertian:
* Shalat di atas makam, dengan pengertian sujud di atasnya.
* Sujud dengan menghadap ke arahnya dan menjadikannya kiblat shalat dan doa.
* Mendirikan masjid di atas makam dengan tujuan mengerjakan shalat di dalamnya.
Hadits-hadits tersebut melarang keras praktik menguburkan mayat atau mempertahankan kuburan yang ada di masjid-masjid. Sementara berhujjah dengan fenomena kuburan Rasululullah Shallallahu 'Alaihi Wa Sallam, Abû Bakar As-Shiddîq dan Umar bin Khatthâb Radhiyallahu 'Anhu yang ada di Masjid Nabawi tidak dapat diterima, karena beberapa hal;
* Masjid Nabawi tidak dibangun di atas kuburan, bahkan beliaulah bersama para sahabat termasuk Abû Bakar As-Shiddîq dan Umar bin Khattâb, yang membangunnya semasa hidupnya.
* Mereka tidak dikuburkan di dalam masjid, mereka hanya dikuburkan di kamar Aisyah Radhiyallahu 'Anhu yang terletak di sebelah timur masjid.
* Proses masuknya kuburan-kuburan tersebut bukan dilakukan oleh orang-orang yang perbuatannya menjadi hujjah dan patokan, bukan Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wa Sallam dan bukan pula Khulafâur-Râsyidîn yang praktik dan perbutannya merupakan hujjah. Dan tidak pula terjadi pada zaman mereka, bahkan terjadi setelah mereka dan kebanyakan sahabat yang tinggal di Madinah telah wafat. Karena sahabat yang berdomisili di Madinah yang terakhir wafat adalah Jâbir bin Abdullâh pada tahun 78 H (Tâhdzîrus Sâjid, hal. 59.). Sedangkan renovasi Umar bin Abdul Azîz atas instruksi Al-Walîd bin Abdul Mâlik yang merambah ke kuburan tersebut terjadi setelahnya pada tahun 91 H.
*Kuburan tersebut setelah masuk ke dalam masjid, tetap tidak memungkinkan seseorang untuk menjadikannya sebagai watsan yu’bad (berhala yang disembah) karena dipagar dengan pagar segi tiga yang salah satu seginya memanjang ke belakang, atau ke arah utara, sehingga seseorang yang ingin shalat menghadap kepadanya akan melenceng dari arah kiblat.
* Pagar tersebut telah menjadi wujud dari doa Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wa Sallam,
”Ya Allah! Janganlah Engkau biarkan kuburanku sebagai berhala yang disembah.”
Karena Al-Watsan adalah berhala yang disembah oleh orang dari jarak dekat, sementara pagar tersebut telah menghalau niat tersebut (Adhwâul Bayân, 5/498-499, Asy-Syinqithi).
Bolehkah Tetap Shalat di Masjid Nabawi Sekarang?
Larangan shalat di masjid yang terdapat kubur di dalamnya, atau di depannya, atau yang dibangun di atas kubur, sama sekali tidak mencakup larangan shalat di Masjid Nabawi, karena ia memiliki keistimewaan yang tidak terdapat pada masjid lain karena shalat di dalamnya diberi ganjaran seribu kali dibanding dengan shalat di masjid lain, ia merupakan tempat yang dianjurkan untuk dikunjungi walaupun dari jauh, di dalamnya terdapat raudhah (taman) yang merupakan salah satu taman di antara taman-taman surga dan lain-lain.
Syaikh Al Albani menukil perkataan Syaikhul Islam ibnu Taimiyah bahwa beliau berkata, "Shalat di masjid yang dibangun di atas kuburan secara mutlak dilarang, berbeda dengan masjid Nabi Shallallahu 'Alaihi Wa Sallam. Sebab shalat di masjid beliau ini sama dengan seribu shalat, karena ia didirikan berdasarkan ketakwaan."
Beliau melanjutkan, "Barangsiapa yang berkeyakinan bahwa masjid tersebut sebelum ada makam di dalamnya tidak memiliki keutamaan, karena Nabi Shallallahu 'Alaihi Wa Sallam mengerjakan shalat di dalamnya bersama orang-orang Muhajirin dan Anshar, tetapi keutamaan itu baru muncul pada masa kekhalifahan al Walîd bin Abdul Mâlik, setelah dimasukkannya kamar di mana Nabi Shallallahu 'Alaihi Wa Sallam meninggal ke dalam masjid beliau,maka dia sudah mendustakan apa yang dibawa dari Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wa Sallam dan dia berhak untuk diperangi."
Syaikhul Islam juga menjelaskan tentang sebab dibolehkannya shalat yang dikerjakan karena suatu sebab pada waktu-waktu yang dilarang mengerjakan shalat (seperti shalat sunnah setelah shalat Ashar, dibolehkan ketika seseorang masuk ke dalam masjid dan ingin mengerjakan shalat tahiyyatul masjid—red.), karena dengan melarangnya, akan menghilangkan kesempatan shalat tersebut, di mana tidak mungkin untuk mendapatkan keutamaannya karena telah tertinggal waktunya. Demikian juga shalat di masjid Nabi Shallallahu 'Alaihi Wa Sallam." Wallâhu A'lâ wa A'lam.
Sumber:
Diringkas dari makalah berjudul "Histori Kuburan Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wa Sallam dalam Tinjauan Aqidah" Karya Abu Yahya Salahuddin Guntung, Lc.
Lanjutkan/Read More....
Salah satu fenomena yang cukup menyejukkan pandangan dalam bulan Ramadhan adalah maraknya masjid-masjid dikunjungi oleh jamaah untuk mengerjakan shalat. Namun perlu untuk diperhatikan, bahwa ternyata, tidak semua masjid layak untuk kita gunakan mengerjakan shalat, baik yang wajib maupun sunnah.
Di antara penyebabnya adalah adanya kuburan dalam masjid tersebut atau di sekitar masjid tersebut. Sebagian orang membolehkan shalat di masjid yang dibangun di atas kuburan dengan dalih kuburan Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wa Sallam berada dalam masjid Nabawi. Masalahnya adalah bolehkah berdalil dengan posisi kuburan Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wa Sallam tersebut yang kini telah berada dalam masjid Nabawi? Bagaimana histori masuknya kuburan Nabi Shallallahu 'Alaihi Wa Sallam tersebut ke dalam masjid Nabawi?
Sakit dan wafatnya Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wa Sallam
Lima hari sebelum beliau wafat, yaitu pada hari Rabu beliau masuk ke dalam masjid lalu duduk di atas mimbar dan berkhutbah di hadapan sahabat, beliau berkata,
áóÚúäóÉõ Çááåö Úóáóì ÇáúíóåõæúÏö æóÇáäøóÕóÇÑóì ÇÊøóÎóÐõæúÇ ÞõÈõæúÑó ÃóäúÈöíóÇÆöåöãú ãóÓóÇÌöÏó
“Semoga Allah melaknat orang-orang Yahudi dan Nashara, mereka telah menjadikan kuburan nabi-nabi mereka sebagai masjid.” (HR. Bukhari dan Muslim).
Dalam riwayat lain dikatakan,
ÞóÇÊóáó Çááåõ ÇáúíóåõæúÏó ÇöÊøóÎóÐõæúÇ ÞõÈõæúÑó ÃóäúÈöíóÇÆöåöãú ãóÓóÇÌöÏó
“Semoga Allah memerangi orang-orang Yahudi, mereka menjadikan kuburan nabi-nabi mereka sebagai masjid.” (HR. Bukhari dan Muslim).
Kemudian beliau berkata, ”Janganlah kalian jadikan kuburanku sebagai berhala yang disembah.”
Setelah menyampaikan beberapa hal, beliau turun dari mimbar untuk shalat zhuhur, kemudian beliau duduk kembali di atas mimbar dan mengulangi perkataannya yang sebelumnya.
Penyakit Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wa Sallam terus makin parah dan makin berat sampai beliau menutupkan pakaiannya ke wajahnya, lalu beliau buka kembali dan berwasiat, “Laknat Allah atas orang-orang Yahudi dan Nashara, mereka menjadikan kuburan nabi-nabi mereka sebagai masjid.”
Detik-detik Menjelang Wafat Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wa Sallam
Menjelang wafatnya, Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wa Sallam memasukkan kedua tangannya ke dalam sebuah bejana yang berisi air kemudian mengusapkannya ke wajahnya sambil berkata, “La ilaaha illallah, sesungguhnya kematian itu mengalami sekarat.” Tak berapa lama setelah bersiwak, Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wa Sallam mengangkat tangan atau jarinya dan menatapkan pandangannya ke atap, kedua bibirnya bergerak membaca doa. Kemudian tangannya miring dan beliau pun akhirnya menjumpai Kekasihnya yang Maha Tinggi Allah Subhaanahu Wa Ta'ala.
Kejadian ini berlangsung pada saat waktu dhuha sedang panas-panasnya, yaitu pada hari Senin tanggal 12 Rabi'ul Awal 11 H., setelah umur beliau mencapai 63 tahun empat hari.
Prosesi Penguburan Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wa Sallam
Para sahabat berselisih tentang tempat pemakaman Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wa Sallam sampai Abu Bakar Radhiyallahu 'Anhu berkata, “Sesungguhnya aku telah mendengar Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wa Sallam bersabda: “Tidaklah seorang Nabi wafat kecuali dikubur di tempat ia wafat”. (HR. Ahmad dan Ibnu Mâjah).
Maka Abu Thalhah mengangkat kasur dalam kamar Aisyah Radhiyallahu 'Anha yang dipakai Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wa Sallam pada saat wafat lalu menggali tanah yang ada di bawahnya, dan membentuk liang lahad. Adapun kamar Aisyah terletak di sebelah timur Masjid Nabawi di sudut kiri depan masjid.
Renovasi dan Perluasan Masjid Nabawi dan Masuknya Kuburan ke Dalamnya
Sejalan dengan jumlah kaum muslimin yang semakin bertambah, Masjid Nabawi pun beberapa kali mengalami perluasan. Ketika al-Walîd bin Abdul Mâlik memegang tampuk pemerintahan Dinasti Banî Umayyah (86-96 H.), pada tahun 91 H., renovasi dan perluasan Masjid Nabawi akhirnya mencakup kamar Aisyah tempat Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wa Sallam, Abu Bakar Radhiyallahu 'Anhu dan Umar Radhiyallahu 'Anhu dimakamkan. Maka sejak saat itu hingga kini, kubur Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wa Sallam masuk ke dalam masjid.
Kesalahan dalam perencanaan renovasi ini karena bertentangan dengan hadits-hadits Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wa Sallam bahkan wasiat beliau yang terakhir disampaikan sebelum wafatnya, akhirnya mereka sadari. Karena itu, mereka berusaha untuk mengurangi celah penyimpangan aqidah dengan memagari hujrah tersebut dengan pagar berbentuk segi tiga yang memanjang ke arah utara, belakang kubur agar seseorang yang ingin shalat menghadap ke kuburnya tidak dapat melakukannya. (Tâhzîrus Sâjid, hal. 65-66).
Pada masa pemerintahan Dinasti Utsmâniyah, tahun 1813 M, Sultan Mahmud II membangun sebuah kubah baru berwarna hijau di atas kamar Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wa Sallam yang masih tetap kokoh hingga kini yang kian menambah fenomena baru dalam kuburan Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wa Sallam, yang tidak di ridhai oleh penghuni kubur tersebut.
Jawaban Terhadap Syubhat
Fenomena masuknya kubur Rasululullah Shallallahu 'Alaihi Wa Sallam, Abu Bakar As-Siddiq dan Umar bin Khattab Radhiyallahu 'Anhu ke dalam Masjid Nabawi telah menjadi salah satu alasan bagi sebagian orang untuk menguburkan atau mempertahankan kuburan yang ada di dalam, atau di depan masjid, atau membolehkan untuk tetap shalat di masjid-masjid seperti itu, meskipun Nabi Shallallahu 'Alaihi Wa Sallam telah melarang bahkan melaknat perbuatan tersebut dalam banyak hadits shahihnya, antara lain;
"Ingatlah! Janganlah kalian menjadikan kubur sebagai masjid, sungguh aku melarang kalian dari hal itu.”
”Ya Allah! Janganlah Engkau biarkan kuburanku sebagai berhala yang disembah. Semoga Allah melaknat kaum yang menjadikan kuburan nabi mereka sebagai masjid."
“Sesungguhnya orang yang terburuk adalah orang yang masih hidup pada saat terjadi kiamat dan orang yang menjadikan kuburan sebagai masjid.”
Di antaranya telah kami sebutkan pada bagian awal tulisan ini.
Yang mungkin dipahami dari kalimat "menjadikan kuburan sebagai masjid" adalah tiga pengertian:
* Shalat di atas makam, dengan pengertian sujud di atasnya.
* Sujud dengan menghadap ke arahnya dan menjadikannya kiblat shalat dan doa.
* Mendirikan masjid di atas makam dengan tujuan mengerjakan shalat di dalamnya.
Hadits-hadits tersebut melarang keras praktik menguburkan mayat atau mempertahankan kuburan yang ada di masjid-masjid. Sementara berhujjah dengan fenomena kuburan Rasululullah Shallallahu 'Alaihi Wa Sallam, Abû Bakar As-Shiddîq dan Umar bin Khatthâb Radhiyallahu 'Anhu yang ada di Masjid Nabawi tidak dapat diterima, karena beberapa hal;
* Masjid Nabawi tidak dibangun di atas kuburan, bahkan beliaulah bersama para sahabat termasuk Abû Bakar As-Shiddîq dan Umar bin Khattâb, yang membangunnya semasa hidupnya.
* Mereka tidak dikuburkan di dalam masjid, mereka hanya dikuburkan di kamar Aisyah Radhiyallahu 'Anhu yang terletak di sebelah timur masjid.
* Proses masuknya kuburan-kuburan tersebut bukan dilakukan oleh orang-orang yang perbuatannya menjadi hujjah dan patokan, bukan Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wa Sallam dan bukan pula Khulafâur-Râsyidîn yang praktik dan perbutannya merupakan hujjah. Dan tidak pula terjadi pada zaman mereka, bahkan terjadi setelah mereka dan kebanyakan sahabat yang tinggal di Madinah telah wafat. Karena sahabat yang berdomisili di Madinah yang terakhir wafat adalah Jâbir bin Abdullâh pada tahun 78 H (Tâhdzîrus Sâjid, hal. 59.). Sedangkan renovasi Umar bin Abdul Azîz atas instruksi Al-Walîd bin Abdul Mâlik yang merambah ke kuburan tersebut terjadi setelahnya pada tahun 91 H.
*Kuburan tersebut setelah masuk ke dalam masjid, tetap tidak memungkinkan seseorang untuk menjadikannya sebagai watsan yu’bad (berhala yang disembah) karena dipagar dengan pagar segi tiga yang salah satu seginya memanjang ke belakang, atau ke arah utara, sehingga seseorang yang ingin shalat menghadap kepadanya akan melenceng dari arah kiblat.
* Pagar tersebut telah menjadi wujud dari doa Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wa Sallam,
”Ya Allah! Janganlah Engkau biarkan kuburanku sebagai berhala yang disembah.”
Karena Al-Watsan adalah berhala yang disembah oleh orang dari jarak dekat, sementara pagar tersebut telah menghalau niat tersebut (Adhwâul Bayân, 5/498-499, Asy-Syinqithi).
Bolehkah Tetap Shalat di Masjid Nabawi Sekarang?
Larangan shalat di masjid yang terdapat kubur di dalamnya, atau di depannya, atau yang dibangun di atas kubur, sama sekali tidak mencakup larangan shalat di Masjid Nabawi, karena ia memiliki keistimewaan yang tidak terdapat pada masjid lain karena shalat di dalamnya diberi ganjaran seribu kali dibanding dengan shalat di masjid lain, ia merupakan tempat yang dianjurkan untuk dikunjungi walaupun dari jauh, di dalamnya terdapat raudhah (taman) yang merupakan salah satu taman di antara taman-taman surga dan lain-lain.
Syaikh Al Albani menukil perkataan Syaikhul Islam ibnu Taimiyah bahwa beliau berkata, "Shalat di masjid yang dibangun di atas kuburan secara mutlak dilarang, berbeda dengan masjid Nabi Shallallahu 'Alaihi Wa Sallam. Sebab shalat di masjid beliau ini sama dengan seribu shalat, karena ia didirikan berdasarkan ketakwaan."
Beliau melanjutkan, "Barangsiapa yang berkeyakinan bahwa masjid tersebut sebelum ada makam di dalamnya tidak memiliki keutamaan, karena Nabi Shallallahu 'Alaihi Wa Sallam mengerjakan shalat di dalamnya bersama orang-orang Muhajirin dan Anshar, tetapi keutamaan itu baru muncul pada masa kekhalifahan al Walîd bin Abdul Mâlik, setelah dimasukkannya kamar di mana Nabi Shallallahu 'Alaihi Wa Sallam meninggal ke dalam masjid beliau,maka dia sudah mendustakan apa yang dibawa dari Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wa Sallam dan dia berhak untuk diperangi."
Syaikhul Islam juga menjelaskan tentang sebab dibolehkannya shalat yang dikerjakan karena suatu sebab pada waktu-waktu yang dilarang mengerjakan shalat (seperti shalat sunnah setelah shalat Ashar, dibolehkan ketika seseorang masuk ke dalam masjid dan ingin mengerjakan shalat tahiyyatul masjid—red.), karena dengan melarangnya, akan menghilangkan kesempatan shalat tersebut, di mana tidak mungkin untuk mendapatkan keutamaannya karena telah tertinggal waktunya. Demikian juga shalat di masjid Nabi Shallallahu 'Alaihi Wa Sallam." Wallâhu A'lâ wa A'lam.
Sumber:
Diringkas dari makalah berjudul "Histori Kuburan Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wa Sallam dalam Tinjauan Aqidah" Karya Abu Yahya Salahuddin Guntung, Lc.
Lanjutkan/Read More....
Nasihat Kepada Para Gadis Remaja
Dengan terbata-bata dan diiringi linangan air mata penyesalan seorang remaja putri bertutur,
"Peristiwa ini bermula hanya dari pembicaraan melalui telepon antara diriku dengan seorang pria, lalu berlanjut membuahkan kisah cinta di antara kami. Ia merayu bahwa dirinya sangat mencintaiku dan ingin segera meminangku. Dia berharap dapat bertemu muka denganku, namun aku sungguh merasa keberatan, bahkan aku mengancam ingin menjauhi dirinya, kemudian menyudahi hubungan ini. Akan tetapi aku tak kuasa melakukan itu. Maka aku putuskan dengan mengirimkan fotoku dalam sebuah surat cinta yang semerbak dengan wangi aroma bunga mawar.
Gayung bersambut suratku pun dibalas olehnya, dan semenjak itu kami sering saling kirim surat. Suatu ketika melalui surat, ia mengajakku untuk keluar pergi berduaan, aku menolak dengan keras ajakan itu. Tetapi ia balik mengancam akan membeberkan semua tentang diriku, foto-fotoku, surat cintaku, dan obrolanku dengannya selama ini melalui telepon, yang ternyata ia selalu merekamnya. Aku benar-benar dibuat tak berdaya oleh ancamannya.
Akhirnya aku pun pergi keluar bersamanya dan berharap dapat pulang kembali ke rumah dengan secepatnya. Memang aku pun akhirnya pulang, namun sudah bukan sebagai diriku yang dulu lagi, aku telah berubah. Aku kembali ke rumah dengan membawa aib yang berkepanjangan, dan suatu ketika kutanyakan kepadanya, "Kapan kita akan menikah?" Apakah tidak secepatnya? Namun ternyata jawaban yang ia berikan sungguh menyakitkan, dengan nada menghina dan merendahkanku ia berkata, "Aku tak mau menikah dengan wanita rendahan sepertimu!"
Wahai saudariku tercinta!
kini engkau tahu bagaimana akhir dari hubungan kami yang jelas-jelas terlarang dalam agama ini. Oleh karena itu waspada dan berhati-hatilah jangan sampai engkau terjerumus dalam hubungan semacam itu. Jauhilah teman yang buruk perangai, yang suatu saat bisa saja ia menjerumuskanmu lalu menyeretmu ke dalam pergaulan yang rendah dan terlarang. Ia hiasi itu semua sehingga seakan-akan menarik dan merupakan hal biasa yang tidak akan berakibat apa-apa, tak akan ada aib dan lain sebagainya.
Jangan percaya omongannya, sekali lagi jangan gampang percaya! Itu semua tak lain adalah tipu daya yang dilancarkan oleh syetan dan teman-temannya. Dan jika engkau tak mau berhati-hati maka sungguh hubungan haram itu akan berakibat sebagaimana yang telah kusebutkan di atas atau bahkan lebih parah dan menyakitkan lagi.
Berhati-hatilah jangan sampai engkau terpedaya dengan bujuk rayu para laki-laki pendosa itu yang kesukaannya hanya mempermainkan kehormatan orang lain. Mereka adalah pembohong, pendusta dan pengkhianat, walau salah satu dari mulut mereka terkadang menyampaikan kejujuran dan keikhlasan. Apa yang diinginkan mereka adalah sama, dan semua orang yang berakal mengetahui itu, seakan tiada yang tersembunyi. Berapa kali kita mendengarkan, demikian juga selain kita tentang perilaku keji mereka terhadap para gadis remaja.
Namun sayang seribu sayang bahwa sebagian para gadis tak bisa mengambil pelajaran dari peristiwa memalukan yang menimpa gadis lainnya. Mereka tak mempercayai segala ucapan dan nasehat yang diberikan kecuali setelah peristiwa itu benar-benar menimpa, dan setelah terlanjur menjadi korban kebiadaban lelaki amoral itu. Tatkala musibah dan aib yang mencoreng muka telah terjadi, maka ketika itulah ia baru terbangun dari keterlenaannya, timbullah penyesalan yang mendalam atas segala yang telah dilakukannya. Ia berangan-angan agar aib, derita, dan kegetiran itu segera berakhir, namun musim telah berlalu dan segalanya telah terjadi,yang hilang tiada mungkin kembali! "Mengapa semua jadi begini?"
Saudariku Tercinta!
Bagi yang terlanjur jatuh dalam hubungan yang haram dan terlarang, jika mau berpikir maka tentu ia akan menjauhi cara seperti itu sejak awal mulanya. Sehingga tak seorang pun bisa mengajaknya demikian berpetualang dalam cinta. Sebab dalam petualangan tersebut mempertaruhkan sesuatu yang paling mulia yang merupakan lambang harga diri dan kesucian wanita. Jika sekali telah hilang, maka tak akan mungkin kembali selamanya. Wanita mana yang menginginkan agar miliknya yang paling berharga hilang begitu saja dengan sia-sia demi kesenangan sekejap? Lalu setelah itu kembali ke tengah-tengah keluarga dan masyarakat dalam keadaan terhina dan tersisih tiada mampu mendongakkan kepala?
Tiada lagi laki-laki yang mengingin kannya, hidup terkucil dan penuh kerugian yang selalu mengiringi sisa umurnya. Hatinya makin teriris manakala melihat teman sebayanya atau yang lebih muda telah menjadi seorang istri, seorang ibu rumah tangga dan pendidik generasi muda.
Oleh karena itu wahai saudariku, pikirkanlah semua ini! Jauhilah olehmu hubungan muda-mudi yang melanggar aturan agama agar engkau tidak menjadi korban selanjutnya. Ambillah pelajaran dari peristiwa yang menimpa gadis selainmu, dan jangan sampai engkau menjadi pelajaran yang diambil oleh mereka. Ketahuilah bahwa wanita yang terjaga kehormatannya itu sangatlah mahal, jika ia mengkhianati dan tak menjaga kehormatan itu, maka kehinaanlah yang pantas baginya. Tetaplah engkau pada kondisi jiwamu yang suci dan mulia dan janganlah sekali-kali engkau membuatnya hina serta menurunkan martabat dan ketinggian nilainya.
Jangan kau kira bahwa untuk mendapatkan seorang suami yang baik hanya dapat diperoleh melalui obrolan lewat telepon ataupun pacaran dan pergaulan bebas. Banyak di antara mereka yang jika dimintai pertanggung jawaban agar segera menikah justru mengatakan:
Bagaimana mungkin aku menikahi wanita sepertinya.
Bagaimana pula aku rela dengan tingkah laku dan caranya.
Bagi wanita yang telah mengkhianati kehormatannya sehari saja.
Maka tiada mungkin bagi diriku untuk memperistrinya.
Bila engkau tak menginginkan jawaban yang menyakitkan seperti ini maka jangan sekali-kali menjalin hubungan terlarang, cegahlah sedini mungkin. Selagi dirimu dapat mengen-dalikan segala urusan yang menyangkut pribadimu, maka kemuliaan dan harga diri akan terjaga. Carilah suami dengan cara yang baik dan benar, sebab kalau toh engkau mendapatkannya dengan cara gaul bebas dan cara-cara lain yang tidak benar, maka biasanya akan berakibat tersia-sianya rumah tangga dan bahkan perceraian. Rata-rata kehidupan mereka dipenuhi oleh duri, saling curiga, menuduh, dan penuh ketidakpercayaan.
Jangan kau percayai propaganda sesat yang berkedok kemajuan zaman atau mereka yang menggembar-gemborkan kebebasan kaum wanita yang mengharuskan menjalin cinta terlebih dahulu sebelum menikah. Janganlah terkecoh, sebab cinta sejati tak akan ada kecuali setelah menikah. Sedang selain itu, maka pada umumnya adalah cinta semu, hanya mengikuti angan-angan dan fatamorgana, sekedar menuruti kesenangan, hawa nafsu, dan pelampiasan emosi belaka.
Ingatlah bahwa kehidupan dunia ini sangatlah singkat dan sementara, mungkin sebentar lagi engkau akan meninggalkannya. Maka jika ternyata engkau telah terkhilaf dengan dosa-dosa segera saja bertaubat memohon ampunan sebelum ada dinding penghalang antara taubat dengan dirimu. Demi Allah nasihat ini kusampaikan dengan tulus untukmu dan itu semua semata-mata karena rasa sayang dan cintaku kepadamu.
Sumber: Buletin Darul Wathan “nihayatu fatah”
Lanjutkan/Read More....
"Peristiwa ini bermula hanya dari pembicaraan melalui telepon antara diriku dengan seorang pria, lalu berlanjut membuahkan kisah cinta di antara kami. Ia merayu bahwa dirinya sangat mencintaiku dan ingin segera meminangku. Dia berharap dapat bertemu muka denganku, namun aku sungguh merasa keberatan, bahkan aku mengancam ingin menjauhi dirinya, kemudian menyudahi hubungan ini. Akan tetapi aku tak kuasa melakukan itu. Maka aku putuskan dengan mengirimkan fotoku dalam sebuah surat cinta yang semerbak dengan wangi aroma bunga mawar.
Gayung bersambut suratku pun dibalas olehnya, dan semenjak itu kami sering saling kirim surat. Suatu ketika melalui surat, ia mengajakku untuk keluar pergi berduaan, aku menolak dengan keras ajakan itu. Tetapi ia balik mengancam akan membeberkan semua tentang diriku, foto-fotoku, surat cintaku, dan obrolanku dengannya selama ini melalui telepon, yang ternyata ia selalu merekamnya. Aku benar-benar dibuat tak berdaya oleh ancamannya.
Akhirnya aku pun pergi keluar bersamanya dan berharap dapat pulang kembali ke rumah dengan secepatnya. Memang aku pun akhirnya pulang, namun sudah bukan sebagai diriku yang dulu lagi, aku telah berubah. Aku kembali ke rumah dengan membawa aib yang berkepanjangan, dan suatu ketika kutanyakan kepadanya, "Kapan kita akan menikah?" Apakah tidak secepatnya? Namun ternyata jawaban yang ia berikan sungguh menyakitkan, dengan nada menghina dan merendahkanku ia berkata, "Aku tak mau menikah dengan wanita rendahan sepertimu!"
Wahai saudariku tercinta!
kini engkau tahu bagaimana akhir dari hubungan kami yang jelas-jelas terlarang dalam agama ini. Oleh karena itu waspada dan berhati-hatilah jangan sampai engkau terjerumus dalam hubungan semacam itu. Jauhilah teman yang buruk perangai, yang suatu saat bisa saja ia menjerumuskanmu lalu menyeretmu ke dalam pergaulan yang rendah dan terlarang. Ia hiasi itu semua sehingga seakan-akan menarik dan merupakan hal biasa yang tidak akan berakibat apa-apa, tak akan ada aib dan lain sebagainya.
Jangan percaya omongannya, sekali lagi jangan gampang percaya! Itu semua tak lain adalah tipu daya yang dilancarkan oleh syetan dan teman-temannya. Dan jika engkau tak mau berhati-hati maka sungguh hubungan haram itu akan berakibat sebagaimana yang telah kusebutkan di atas atau bahkan lebih parah dan menyakitkan lagi.
Berhati-hatilah jangan sampai engkau terpedaya dengan bujuk rayu para laki-laki pendosa itu yang kesukaannya hanya mempermainkan kehormatan orang lain. Mereka adalah pembohong, pendusta dan pengkhianat, walau salah satu dari mulut mereka terkadang menyampaikan kejujuran dan keikhlasan. Apa yang diinginkan mereka adalah sama, dan semua orang yang berakal mengetahui itu, seakan tiada yang tersembunyi. Berapa kali kita mendengarkan, demikian juga selain kita tentang perilaku keji mereka terhadap para gadis remaja.
Namun sayang seribu sayang bahwa sebagian para gadis tak bisa mengambil pelajaran dari peristiwa memalukan yang menimpa gadis lainnya. Mereka tak mempercayai segala ucapan dan nasehat yang diberikan kecuali setelah peristiwa itu benar-benar menimpa, dan setelah terlanjur menjadi korban kebiadaban lelaki amoral itu. Tatkala musibah dan aib yang mencoreng muka telah terjadi, maka ketika itulah ia baru terbangun dari keterlenaannya, timbullah penyesalan yang mendalam atas segala yang telah dilakukannya. Ia berangan-angan agar aib, derita, dan kegetiran itu segera berakhir, namun musim telah berlalu dan segalanya telah terjadi,yang hilang tiada mungkin kembali! "Mengapa semua jadi begini?"
Saudariku Tercinta!
Bagi yang terlanjur jatuh dalam hubungan yang haram dan terlarang, jika mau berpikir maka tentu ia akan menjauhi cara seperti itu sejak awal mulanya. Sehingga tak seorang pun bisa mengajaknya demikian berpetualang dalam cinta. Sebab dalam petualangan tersebut mempertaruhkan sesuatu yang paling mulia yang merupakan lambang harga diri dan kesucian wanita. Jika sekali telah hilang, maka tak akan mungkin kembali selamanya. Wanita mana yang menginginkan agar miliknya yang paling berharga hilang begitu saja dengan sia-sia demi kesenangan sekejap? Lalu setelah itu kembali ke tengah-tengah keluarga dan masyarakat dalam keadaan terhina dan tersisih tiada mampu mendongakkan kepala?
Tiada lagi laki-laki yang mengingin kannya, hidup terkucil dan penuh kerugian yang selalu mengiringi sisa umurnya. Hatinya makin teriris manakala melihat teman sebayanya atau yang lebih muda telah menjadi seorang istri, seorang ibu rumah tangga dan pendidik generasi muda.
Oleh karena itu wahai saudariku, pikirkanlah semua ini! Jauhilah olehmu hubungan muda-mudi yang melanggar aturan agama agar engkau tidak menjadi korban selanjutnya. Ambillah pelajaran dari peristiwa yang menimpa gadis selainmu, dan jangan sampai engkau menjadi pelajaran yang diambil oleh mereka. Ketahuilah bahwa wanita yang terjaga kehormatannya itu sangatlah mahal, jika ia mengkhianati dan tak menjaga kehormatan itu, maka kehinaanlah yang pantas baginya. Tetaplah engkau pada kondisi jiwamu yang suci dan mulia dan janganlah sekali-kali engkau membuatnya hina serta menurunkan martabat dan ketinggian nilainya.
Jangan kau kira bahwa untuk mendapatkan seorang suami yang baik hanya dapat diperoleh melalui obrolan lewat telepon ataupun pacaran dan pergaulan bebas. Banyak di antara mereka yang jika dimintai pertanggung jawaban agar segera menikah justru mengatakan:
Bagaimana mungkin aku menikahi wanita sepertinya.
Bagaimana pula aku rela dengan tingkah laku dan caranya.
Bagi wanita yang telah mengkhianati kehormatannya sehari saja.
Maka tiada mungkin bagi diriku untuk memperistrinya.
Bila engkau tak menginginkan jawaban yang menyakitkan seperti ini maka jangan sekali-kali menjalin hubungan terlarang, cegahlah sedini mungkin. Selagi dirimu dapat mengen-dalikan segala urusan yang menyangkut pribadimu, maka kemuliaan dan harga diri akan terjaga. Carilah suami dengan cara yang baik dan benar, sebab kalau toh engkau mendapatkannya dengan cara gaul bebas dan cara-cara lain yang tidak benar, maka biasanya akan berakibat tersia-sianya rumah tangga dan bahkan perceraian. Rata-rata kehidupan mereka dipenuhi oleh duri, saling curiga, menuduh, dan penuh ketidakpercayaan.
Jangan kau percayai propaganda sesat yang berkedok kemajuan zaman atau mereka yang menggembar-gemborkan kebebasan kaum wanita yang mengharuskan menjalin cinta terlebih dahulu sebelum menikah. Janganlah terkecoh, sebab cinta sejati tak akan ada kecuali setelah menikah. Sedang selain itu, maka pada umumnya adalah cinta semu, hanya mengikuti angan-angan dan fatamorgana, sekedar menuruti kesenangan, hawa nafsu, dan pelampiasan emosi belaka.
Ingatlah bahwa kehidupan dunia ini sangatlah singkat dan sementara, mungkin sebentar lagi engkau akan meninggalkannya. Maka jika ternyata engkau telah terkhilaf dengan dosa-dosa segera saja bertaubat memohon ampunan sebelum ada dinding penghalang antara taubat dengan dirimu. Demi Allah nasihat ini kusampaikan dengan tulus untukmu dan itu semua semata-mata karena rasa sayang dan cintaku kepadamu.
Sumber: Buletin Darul Wathan “nihayatu fatah”
Lanjutkan/Read More....
Sabtu, 06 Februari 2010
JANGAN SIA-SIAKAN SHALAT ANDA
Shalat merupakan amalan yang sangat penting dan salah satu rukun Islam yang agung. Oleh karena itu selayaknya setiap muslim memberikan perhatian yang besar terhadap urusan shalat. Shalat yang dilakukan dengan ikhlash dan memenuhi syarat dan rukunnya insya-Allah akan diterima di sisi Allah subhanahu wata’ala. Namun ada juga shalat yang tidak diterima di sisi Allah meskipun syah, dan ada pula yang batil (tidak syah) dan tentunya Allah subhanahu wata’ala pun tidak akan menerima shalat tersebut.
Berikut ini beberapa kiat untuk menjaga agar shalat kita diterima di sisi Allah subhanahu wata’ala, berpahala, dan tidak sia-sia. Semoga bermanfaat!!
1. Jangan Datangi Tukang Ramal
Orang yang mendatangi tukang ramal/juru tebak, maka shalatnya tidak diterima selama empat puluh hari, walaupun shalat yang dia kerjakan adalah syah.
Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,
"Barangsiapa yang medatangi tukang ramal ('arraf) lalu menanyakan kepada-nya tentang sesuatu (berkonsultasi), maka tidak diterima shalatnya selama empat puluh hari." (HR. Muslim)
2. Hindari Parfum bagi Wanita yang Ingin Shalat di Masjid
Pada dasarnya wanita tidak dilarang shalat di masjid, namun shalat di dalam rumahnya adalah lebih utama. Andaikan seorang wanita ingin shalat di masjid, maka hendaknya dia memperhatikan ketentuan-ketentuan syara'. Di antara yang terpenting adalah tidak memakai parfum, karena Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam telah bersabda,
"Wanita mana saja yang memakai wewangian untuk pergi ke masjid, maka tidak diterima shalatnya sebelum dia mandi sebagaimana ia mandi dari janabah." (HR. Ahmad, Abu Dawud, dishahihkan Al-Albani)
3. Laksanakan Shalat dengan Berjama’ah
Berdasarkan sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam,
"Barang siapa yang mendengar adzan lalu dia tidak memenuhinya, maka tidak ada shalat baginya kecuali karena ada udzur." (HR. Abu Dawud dan Ibnu Majah, dishahihkan oleh al-Albani)
Hal ini juga menunjukkan bahwa shalat berjama'ah hukumnya wajib bagi laki-laki yang tidak mempunyai udzur.
4. Jauhi Khamer (Miras)
Berdasarkan sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam,
"Barangsiapa meminum khamer, maka tidak diterima shalatnya selama empat puluh hari. Jika dia bertaubat, maka Allah akan menerima taubatnya." (HR Ahmad dan At-Tirmidzi)
5. Jangan Bermusuhan Secara Tidak Haq
Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,
"Ada tiga golongan yang Allah tidak menerima shalat mereka," (di antaranya).... dua orang yang saling bermusuhan." (HR. Ibnu Hibban dan Ibnu Majah)
Yang dimaksud dengan bermusuh-an di sini adalah tidak bertegur sapa melebihi tiga hari dengan alasan yang tidak dibenarkan menurut agama.
6. Jangan Durhaka kepada Orang Tua dan Memutus Tali Silatur Rahim
Berdasarkan sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam,
"Allah tidak menerima amalan orang yang memutus tali silaturrahim." (HR. Ahmad)
Orang yang melakukan perbuatan di atas mendapatkan ancaman berupa shalatnya tidak diterima oleh Allah subhanahu wata’ala, atau tidak berpahala, tetapi dari segi hukum shalatnya syah. Dan mereka tetap wajib melaksanakan shalat. Hal ini sebagai hukuman atau sanksi atas kesalahan yang dia lakukan.
Teks-teks dalil syar'i menunjukkan bahwa orang yang melakukan kesalahan tersebut di atas, maka shalatnya tidak diterima. Dengan tetap melaksanakan shalat, berarti kewajibannya telah gugur sehingga tidak terkena dosa meninggalkan shalat.
Untuk menjaga shalat agar syah dan tidak batil (sia-sia), berikut ini ditunjukkan kiat yang hendaknya kita perhatikan:
1. Shalatlah dalam Keadaan Suci
Orang yang dalam keadaan memiliki hadats, baik hadats besar maupun kecil, maka tidak syah bila mengerjakan shalat.
Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,
"Allah tidak menerima shalat salah seorang di antara kalian, jika ia berhadats, sampai ia berwudhu." (Muttafaqun 'alaih). Dan juga sabda beliau yang lainnya, "Tidak akan diterima shalat tanpa bersuci." (HR. Muslim)
2. Jauhi Sikap Riya'
Hadits riwayat Al-Bukhari dan Muslim, Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam menjelaskan bahwa amal seseorang itu tergantung niatnya. Kalau orang melaksanakan shalat karena Allah, maka shalatnya akan diterima, sedangkan jika shalatnya bukan karena Allah, maka Allah subhanahu wata’ala tidak membutuhkannya. Dalam sebuah hadits Qudsi Allah subhanahu wata’ala berfirman,
"Aku tidak butuh terhadap sekutu-sekutu, barangsiapa yang melakukan suatu amalan, yang di dalam amalan tersebut menyekutukan Aku dengan selain-Ku, maka Aku tinggalkan dia dan sekutunya." (HR. Muslim)
3. Jangan Bersikap Munafik
Orang munafik adalah orang yang mengaku Islam, namun dalam hatinya menyembunyikan kekufuran dan kebencian terhadap Islam. Dia tidak senang jika syariat Islam ditegakkan, dia membenci sunnah-sunnah yang diajarkan Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, mengejek dan memusuhi Islam, atau mengatakan bahwa Islam itu hanya di masjid saja, sedang di luar masjid tidak perlu Islam lagi.
Maka orang seperti ini tidak akan diterima shalatnya sebelum ia bertobat. Allah subhanahu wata’ala berfirman, artinya:
Katakanlah, "Apakah dengan Allah, ayat-ayat-Nya dan Rasul-Nya kamu selalu berolok-olok?". Tidak usah kamu minta maaf, karena kamu kafir sesudah beriman." (QS. At-Taubah:65-66)
"Maka demi Rabbmu, mereka (pada hakikatnya) tidak beriman hingga mereka menjadikan kamu hakim dalam perkara yang mereka perselisihkan, kemudian mereka tidak merasa keberatan dalam hati mereka terhadap putusan yang kamu berikan, dan mereka menerima dengan sepenuhnya." (QS. An-Nisa': 65)
4. Hindari Shalat di Masjid yang Ada Kuburannya
Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,
"Bumi keseluruhannya adalah masjid kecuali jamban dan kuburan." (HR. Abu Dawud, dishahihkn oleh Al-Albani).
Beliau juga telah bersabda,
"Janganlah kalian shalat menghadap ke kubur dan jangan duduk di atasnya." (HR. Muslim)
"Semoga laknat Allah ditimpakan kepada orang-orang yahudi dan nashrani yang telah menjadikan kubur para nabi mereka sebagai masjid-masjid." Aisyah radhiyallahu ‘anha berkata, "Rasulullah memperingatkan kita dari apa yang telah mereka lakukan." (Muttafaqun 'alaih)
Juga sabda beliau,
"Ketahuilah bahwa orang-orang sebelum kalian telah menjadikan kuburan para nabi mereka dan kuburan orang-orang shaleh mereka sebagai masjid-masjid. Ingatlan, jangan kalian menjadikan kubur-kubur sebagai masjid, karena sesungguhnya aku melarang yang demikian itu." (HR. Muslim)
Sebagian ulama berpendapat bahwa shalat di masjid yang ada kuburannya tidak syah, jika dengan niat ingin bertabarruk dengan ahli kubur. Sedangkan jika hanya sekedar shalat, maka shalatnya itu tetap syah, namun pelakunya terjerumus ke dalam perbuatan yang dibenci (makruh).
5. Jangan Sekali-kali Melakukan Kemusyrikan.
Orang musyrik adalah orang yang memalingkan ibadah kepada selain Allah subhanahu wata’ala, seperti orang yang ber-taqarrub atau beribadah kepada orang yang telah mati dengan keyakinan bahwa orang yang telah mati ini dapat memberikan manfaat atau menghilang-kan madharat.
Ataupun orang yang menyembelih binatang karena selain Allah, sujud kepada mereka, berdo’a kepada mereka agar memenuhi hajat dan kebutuhan hidup. Meminta mereka agar memberikan barakah kepada diri, harta dan anak-anaknya. Begitu pula orang yang berkeyakinan bahwa ada makhluk yang mengetahui perkara ghaib dan memberikan manfaat selain Allah subhanahu wata’ala serta berkeyakinan bahwa dia dapat mengatur kehidupan ini.
Orang-orang seperti ini meskipun mengerjakan shalat, tetapi shalatnya tidak diterima oleh Allah subhanahu wata’ala karena dia telah melakukan kesyirikan yang menyebabkan amal menjadi hilang lenyap.
Allah subhanahu wata’ala befirman, artinya:
"Dan sesungguhnya telah diwahyukan kepadamu dan kepada (nabi-nabi) sebelummu, "Jika kamu mempersekutu-kan (Allah), niscaya akan hapus amalmu dan tentulah kamu termasuk orang-orang yang merugi." (QS. Az-Zumar: 65)
Sumber: Shalatul Muslim, Fahd bin Sholih Al-Shuwailih. (Khalif Muttaqin)
Lanjutkan/Read More....
Berikut ini beberapa kiat untuk menjaga agar shalat kita diterima di sisi Allah subhanahu wata’ala, berpahala, dan tidak sia-sia. Semoga bermanfaat!!
1. Jangan Datangi Tukang Ramal
Orang yang mendatangi tukang ramal/juru tebak, maka shalatnya tidak diterima selama empat puluh hari, walaupun shalat yang dia kerjakan adalah syah.
Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,
"Barangsiapa yang medatangi tukang ramal ('arraf) lalu menanyakan kepada-nya tentang sesuatu (berkonsultasi), maka tidak diterima shalatnya selama empat puluh hari." (HR. Muslim)
2. Hindari Parfum bagi Wanita yang Ingin Shalat di Masjid
Pada dasarnya wanita tidak dilarang shalat di masjid, namun shalat di dalam rumahnya adalah lebih utama. Andaikan seorang wanita ingin shalat di masjid, maka hendaknya dia memperhatikan ketentuan-ketentuan syara'. Di antara yang terpenting adalah tidak memakai parfum, karena Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam telah bersabda,
"Wanita mana saja yang memakai wewangian untuk pergi ke masjid, maka tidak diterima shalatnya sebelum dia mandi sebagaimana ia mandi dari janabah." (HR. Ahmad, Abu Dawud, dishahihkan Al-Albani)
3. Laksanakan Shalat dengan Berjama’ah
Berdasarkan sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam,
"Barang siapa yang mendengar adzan lalu dia tidak memenuhinya, maka tidak ada shalat baginya kecuali karena ada udzur." (HR. Abu Dawud dan Ibnu Majah, dishahihkan oleh al-Albani)
Hal ini juga menunjukkan bahwa shalat berjama'ah hukumnya wajib bagi laki-laki yang tidak mempunyai udzur.
4. Jauhi Khamer (Miras)
Berdasarkan sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam,
"Barangsiapa meminum khamer, maka tidak diterima shalatnya selama empat puluh hari. Jika dia bertaubat, maka Allah akan menerima taubatnya." (HR Ahmad dan At-Tirmidzi)
5. Jangan Bermusuhan Secara Tidak Haq
Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,
"Ada tiga golongan yang Allah tidak menerima shalat mereka," (di antaranya).... dua orang yang saling bermusuhan." (HR. Ibnu Hibban dan Ibnu Majah)
Yang dimaksud dengan bermusuh-an di sini adalah tidak bertegur sapa melebihi tiga hari dengan alasan yang tidak dibenarkan menurut agama.
6. Jangan Durhaka kepada Orang Tua dan Memutus Tali Silatur Rahim
Berdasarkan sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam,
"Allah tidak menerima amalan orang yang memutus tali silaturrahim." (HR. Ahmad)
Orang yang melakukan perbuatan di atas mendapatkan ancaman berupa shalatnya tidak diterima oleh Allah subhanahu wata’ala, atau tidak berpahala, tetapi dari segi hukum shalatnya syah. Dan mereka tetap wajib melaksanakan shalat. Hal ini sebagai hukuman atau sanksi atas kesalahan yang dia lakukan.
Teks-teks dalil syar'i menunjukkan bahwa orang yang melakukan kesalahan tersebut di atas, maka shalatnya tidak diterima. Dengan tetap melaksanakan shalat, berarti kewajibannya telah gugur sehingga tidak terkena dosa meninggalkan shalat.
Untuk menjaga shalat agar syah dan tidak batil (sia-sia), berikut ini ditunjukkan kiat yang hendaknya kita perhatikan:
1. Shalatlah dalam Keadaan Suci
Orang yang dalam keadaan memiliki hadats, baik hadats besar maupun kecil, maka tidak syah bila mengerjakan shalat.
Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,
"Allah tidak menerima shalat salah seorang di antara kalian, jika ia berhadats, sampai ia berwudhu." (Muttafaqun 'alaih). Dan juga sabda beliau yang lainnya, "Tidak akan diterima shalat tanpa bersuci." (HR. Muslim)
2. Jauhi Sikap Riya'
Hadits riwayat Al-Bukhari dan Muslim, Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam menjelaskan bahwa amal seseorang itu tergantung niatnya. Kalau orang melaksanakan shalat karena Allah, maka shalatnya akan diterima, sedangkan jika shalatnya bukan karena Allah, maka Allah subhanahu wata’ala tidak membutuhkannya. Dalam sebuah hadits Qudsi Allah subhanahu wata’ala berfirman,
"Aku tidak butuh terhadap sekutu-sekutu, barangsiapa yang melakukan suatu amalan, yang di dalam amalan tersebut menyekutukan Aku dengan selain-Ku, maka Aku tinggalkan dia dan sekutunya." (HR. Muslim)
3. Jangan Bersikap Munafik
Orang munafik adalah orang yang mengaku Islam, namun dalam hatinya menyembunyikan kekufuran dan kebencian terhadap Islam. Dia tidak senang jika syariat Islam ditegakkan, dia membenci sunnah-sunnah yang diajarkan Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, mengejek dan memusuhi Islam, atau mengatakan bahwa Islam itu hanya di masjid saja, sedang di luar masjid tidak perlu Islam lagi.
Maka orang seperti ini tidak akan diterima shalatnya sebelum ia bertobat. Allah subhanahu wata’ala berfirman, artinya:
Katakanlah, "Apakah dengan Allah, ayat-ayat-Nya dan Rasul-Nya kamu selalu berolok-olok?". Tidak usah kamu minta maaf, karena kamu kafir sesudah beriman." (QS. At-Taubah:65-66)
"Maka demi Rabbmu, mereka (pada hakikatnya) tidak beriman hingga mereka menjadikan kamu hakim dalam perkara yang mereka perselisihkan, kemudian mereka tidak merasa keberatan dalam hati mereka terhadap putusan yang kamu berikan, dan mereka menerima dengan sepenuhnya." (QS. An-Nisa': 65)
4. Hindari Shalat di Masjid yang Ada Kuburannya
Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,
"Bumi keseluruhannya adalah masjid kecuali jamban dan kuburan." (HR. Abu Dawud, dishahihkn oleh Al-Albani).
Beliau juga telah bersabda,
"Janganlah kalian shalat menghadap ke kubur dan jangan duduk di atasnya." (HR. Muslim)
"Semoga laknat Allah ditimpakan kepada orang-orang yahudi dan nashrani yang telah menjadikan kubur para nabi mereka sebagai masjid-masjid." Aisyah radhiyallahu ‘anha berkata, "Rasulullah memperingatkan kita dari apa yang telah mereka lakukan." (Muttafaqun 'alaih)
Juga sabda beliau,
"Ketahuilah bahwa orang-orang sebelum kalian telah menjadikan kuburan para nabi mereka dan kuburan orang-orang shaleh mereka sebagai masjid-masjid. Ingatlan, jangan kalian menjadikan kubur-kubur sebagai masjid, karena sesungguhnya aku melarang yang demikian itu." (HR. Muslim)
Sebagian ulama berpendapat bahwa shalat di masjid yang ada kuburannya tidak syah, jika dengan niat ingin bertabarruk dengan ahli kubur. Sedangkan jika hanya sekedar shalat, maka shalatnya itu tetap syah, namun pelakunya terjerumus ke dalam perbuatan yang dibenci (makruh).
5. Jangan Sekali-kali Melakukan Kemusyrikan.
Orang musyrik adalah orang yang memalingkan ibadah kepada selain Allah subhanahu wata’ala, seperti orang yang ber-taqarrub atau beribadah kepada orang yang telah mati dengan keyakinan bahwa orang yang telah mati ini dapat memberikan manfaat atau menghilang-kan madharat.
Ataupun orang yang menyembelih binatang karena selain Allah, sujud kepada mereka, berdo’a kepada mereka agar memenuhi hajat dan kebutuhan hidup. Meminta mereka agar memberikan barakah kepada diri, harta dan anak-anaknya. Begitu pula orang yang berkeyakinan bahwa ada makhluk yang mengetahui perkara ghaib dan memberikan manfaat selain Allah subhanahu wata’ala serta berkeyakinan bahwa dia dapat mengatur kehidupan ini.
Orang-orang seperti ini meskipun mengerjakan shalat, tetapi shalatnya tidak diterima oleh Allah subhanahu wata’ala karena dia telah melakukan kesyirikan yang menyebabkan amal menjadi hilang lenyap.
Allah subhanahu wata’ala befirman, artinya:
"Dan sesungguhnya telah diwahyukan kepadamu dan kepada (nabi-nabi) sebelummu, "Jika kamu mempersekutu-kan (Allah), niscaya akan hapus amalmu dan tentulah kamu termasuk orang-orang yang merugi." (QS. Az-Zumar: 65)
Sumber: Shalatul Muslim, Fahd bin Sholih Al-Shuwailih. (Khalif Muttaqin)
Lanjutkan/Read More....
Label:
berjamaah,
bermusuhan,
durhaka,
khamer,
parfum,
sholat,
tukang ramal
| Reaksi: |
Selasa, 02 Februari 2010
Dari Nitraria Retusa Sampai Sholat Subuh
oleh: Addy Aba Salma
Menghadapi dampak global warming yang sangat terasa dengan suhu udara yang menjadi sangat panas, Indonesia diakhir tahun 2007 awal tahun 2008 kemarin mencanangkan penanaman sejuta pohon. Penanaman sejuta pohon ini menjadi program pemerintah RI yang intruksinya datang langsung dari Presiden SBY.
Hampir disetiap lahan luas yang masih kosong digalakkan untuk ditanami pohon. Area Bandara Soekarno Hatta pun tidak ketinggalan ikut serta dalam menghadapi issue global warming tersebut dengan menanami lahan-lahan yang masih kosong untuk ditanami macam-macam tanaman yang dapat tumbuh besar dan dapat menghijaukan lingkungan.
Penanaman sejuta pohon juga terjadi di israel, negara yang sebenarnya tidak punya tanah. Negara ini ada karena menjajah bangsa Palestina semenjak tahun 1948 silam. Yang sebenarnya ada di peta dengan nama negara israel itu tidak lain adalah tanah Bangsa Palestina tempat lahirnya para Nabi negeri yang diberakhi, tempat dimana Masjidil Aqsa berada, persinggahan Nabi Muhammad SAW ketika dalam peristiwa Isra’ wal Mi’raj.
”Maha Suci Allah, yang telah memperjalankan hamba-Nya pada suatu malam dari Al Masjidil Haram ke Al Masjidil Aqsha yang telah Kami berkahi sekelilingnya agar Kami perlihatkan kepadanya sebagian dari tanda-tanda (kebesaran) Kami. Sesungguhnya Dia adalah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.” (Qs. Al Isra’:1)
Penanaman pohon yang dilakukan di israel bukan untuk menghadapi issue global warming tetapi dalam rangka menghadapi sesuatu yang pasti terjadi yaitu peperangan yang dilakakukan umat Islam terhadap kaum yahudi yang akan terjadi diakhir zaman nanti.

Pohon yg nanti akan bisa berbicara...
Pohon yang ditanam oleh orang-orang yahudi di israel yaitu pohon NITRARIA RETUSA nama latin dari pohon GHORQOD. Orang-orang yahudi telah melakukan penanaman pohon Ghorqod (NitrarIa Retusa) ini sejak lama karena memang dianjurkan untuk secara aktif menanam pohon jenis ini di wilayah pendudukan israel di tanah Palestina.
Website Jewish National Fund (jnf.org) diakhir tahun 2007 telah mengumumkan bahwa di tanah Palestina yang dikuasai zionis-israel telah ditanami tak kurang dari 220 juta batang pohon Ghorqod. (eramuslim.com) Jumlah yang tidak sedikit dan hari ini pastinya sudah lebih dari angka 220 juta batang pohon Ghorqod.
Ada apa dengan orang-orang yahudi itu, sampai-sampai mereka melakukan aksi penanaman berjuta-juta pohon Ghorqod? Tidak lain karena mereka ternyata MENYAKINI perkataan yang diucap oleh manusia yang selama hidupnya tidak pernah berkata dusta walau sekalipun, yaitu perkataan Rasulullah Muhammad SAW. Yang tidak lain perkataan itu yang terdapat di dalam salah satu Hadist Shahih yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari dan Muslim.
“Tidak akan terjadi kiamat hingga kaum Muslimin memerangi kaum Yahudi, lalu membunuh mereka, sehingga seorang Yahudi bersembunyi di balik batu dan pohon, lalu batu dan pohon itu berkata: Hai Muslim! Hai hamba Allah! Ini Yahudi di belakangku, kemarilah, bunuhlah dia! Kecuali pohon Ghorqod, maka itu adalah dari pohon-pohonnya orang Yahudi.” (HR. Bukhari Muslim)
Kalau orang-orang yahudi itu sangatlah menyakini sabda Nabi Muhammad SAW yang jelas-jelas bukan Nabinya mereka, bagaimana dengan kita yang jelas-jelas sebagai umat Islam, umatnya Nabi Muhammad SAW?
Satu hadist lagi yang diayakini oleh zionis-israel yaitu hadist tentang keutamaan shalat subuh berjama’ah. Sampai-sampai ada salah Seorang penguasa yahudi pernah menyatakan bahwa mereka tidak akan takut terhadap orang Islam, kecuali pada satu hal, yaitu bila jumlah jama’ah sholat subuh mencapai jumlah jama’ah sholat jum’at.(hudzaifah.org)
“Sesungguhnya sholat yang paling berat bagi orang munafik adalah sholat Isya’ dan shalat Subuh. Sekiranya mereka mengetahui apa yang terkandung didalamnya, niscaya mereka akan mendatangi keduanya sekalipun dengan merangkak.” (HR. Al-Bukhari dan Muslim).
Orang yahudi itu menilai dari hadist tersebut jika masih banyaknya umat Islam yang lalai dalam melaksanakan sholat subuh berjamaah ke Masjid berarti kemenangan akan jauh dari umat Islam. Karena kemenangan akan hanya di raih ketika umat Islam jauh dari kemunafikan.
...Assholatu khairum minannaum...
Muhassabah khusus buat saya pribadi dan kita semua, sudahkah kita menjadi satu diantara umat Islam yang senantiasa mendatangi Masjid untuk berjamaah Sholat Subuh?
Wallahua’lam bishshawab
Sumber: http://indonesiancommunity.multiply.com
Lanjutkan/Read More....
Menghadapi dampak global warming yang sangat terasa dengan suhu udara yang menjadi sangat panas, Indonesia diakhir tahun 2007 awal tahun 2008 kemarin mencanangkan penanaman sejuta pohon. Penanaman sejuta pohon ini menjadi program pemerintah RI yang intruksinya datang langsung dari Presiden SBY.
Hampir disetiap lahan luas yang masih kosong digalakkan untuk ditanami pohon. Area Bandara Soekarno Hatta pun tidak ketinggalan ikut serta dalam menghadapi issue global warming tersebut dengan menanami lahan-lahan yang masih kosong untuk ditanami macam-macam tanaman yang dapat tumbuh besar dan dapat menghijaukan lingkungan.
Penanaman sejuta pohon juga terjadi di israel, negara yang sebenarnya tidak punya tanah. Negara ini ada karena menjajah bangsa Palestina semenjak tahun 1948 silam. Yang sebenarnya ada di peta dengan nama negara israel itu tidak lain adalah tanah Bangsa Palestina tempat lahirnya para Nabi negeri yang diberakhi, tempat dimana Masjidil Aqsa berada, persinggahan Nabi Muhammad SAW ketika dalam peristiwa Isra’ wal Mi’raj.
”Maha Suci Allah, yang telah memperjalankan hamba-Nya pada suatu malam dari Al Masjidil Haram ke Al Masjidil Aqsha yang telah Kami berkahi sekelilingnya agar Kami perlihatkan kepadanya sebagian dari tanda-tanda (kebesaran) Kami. Sesungguhnya Dia adalah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.” (Qs. Al Isra’:1)
Penanaman pohon yang dilakukan di israel bukan untuk menghadapi issue global warming tetapi dalam rangka menghadapi sesuatu yang pasti terjadi yaitu peperangan yang dilakakukan umat Islam terhadap kaum yahudi yang akan terjadi diakhir zaman nanti.

Pohon yg nanti akan bisa berbicara...
Pohon yang ditanam oleh orang-orang yahudi di israel yaitu pohon NITRARIA RETUSA nama latin dari pohon GHORQOD. Orang-orang yahudi telah melakukan penanaman pohon Ghorqod (NitrarIa Retusa) ini sejak lama karena memang dianjurkan untuk secara aktif menanam pohon jenis ini di wilayah pendudukan israel di tanah Palestina.
Website Jewish National Fund (jnf.org) diakhir tahun 2007 telah mengumumkan bahwa di tanah Palestina yang dikuasai zionis-israel telah ditanami tak kurang dari 220 juta batang pohon Ghorqod. (eramuslim.com) Jumlah yang tidak sedikit dan hari ini pastinya sudah lebih dari angka 220 juta batang pohon Ghorqod.
Ada apa dengan orang-orang yahudi itu, sampai-sampai mereka melakukan aksi penanaman berjuta-juta pohon Ghorqod? Tidak lain karena mereka ternyata MENYAKINI perkataan yang diucap oleh manusia yang selama hidupnya tidak pernah berkata dusta walau sekalipun, yaitu perkataan Rasulullah Muhammad SAW. Yang tidak lain perkataan itu yang terdapat di dalam salah satu Hadist Shahih yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari dan Muslim.
“Tidak akan terjadi kiamat hingga kaum Muslimin memerangi kaum Yahudi, lalu membunuh mereka, sehingga seorang Yahudi bersembunyi di balik batu dan pohon, lalu batu dan pohon itu berkata: Hai Muslim! Hai hamba Allah! Ini Yahudi di belakangku, kemarilah, bunuhlah dia! Kecuali pohon Ghorqod, maka itu adalah dari pohon-pohonnya orang Yahudi.” (HR. Bukhari Muslim)
Kalau orang-orang yahudi itu sangatlah menyakini sabda Nabi Muhammad SAW yang jelas-jelas bukan Nabinya mereka, bagaimana dengan kita yang jelas-jelas sebagai umat Islam, umatnya Nabi Muhammad SAW?
Satu hadist lagi yang diayakini oleh zionis-israel yaitu hadist tentang keutamaan shalat subuh berjama’ah. Sampai-sampai ada salah Seorang penguasa yahudi pernah menyatakan bahwa mereka tidak akan takut terhadap orang Islam, kecuali pada satu hal, yaitu bila jumlah jama’ah sholat subuh mencapai jumlah jama’ah sholat jum’at.(hudzaifah.org)
“Sesungguhnya sholat yang paling berat bagi orang munafik adalah sholat Isya’ dan shalat Subuh. Sekiranya mereka mengetahui apa yang terkandung didalamnya, niscaya mereka akan mendatangi keduanya sekalipun dengan merangkak.” (HR. Al-Bukhari dan Muslim).
Orang yahudi itu menilai dari hadist tersebut jika masih banyaknya umat Islam yang lalai dalam melaksanakan sholat subuh berjamaah ke Masjid berarti kemenangan akan jauh dari umat Islam. Karena kemenangan akan hanya di raih ketika umat Islam jauh dari kemunafikan.
...Assholatu khairum minannaum...
Muhassabah khusus buat saya pribadi dan kita semua, sudahkah kita menjadi satu diantara umat Islam yang senantiasa mendatangi Masjid untuk berjamaah Sholat Subuh?
Wallahua’lam bishshawab
Sumber: http://indonesiancommunity.multiply.com
Lanjutkan/Read More....
Minggu, 31 Januari 2010
FAWAID SHALAT SUNNAH
Tidak ada sesuatu yang diperintahkan atau dianjurkan dalam Islam kecuali ia mengandung hikmah-hikmah atau faidah-faidah mulia, tanpa kecuali shalat sunnah. Di antara fawaidnya adalah:
Pertama,Menjaga shalat sunnah membantu hamba untuk masuk ke dalam deretan sabiqina bil khairat sebagaimana dalam ayat 32 surat Fathir yang telah hadir di tulisan sebelumnya dan hal itu menurut penafsiran sebagian ulama.
Kedua, Menjaga shalat sunnah mendekatkan hamba kepada Allah dan selanjutnya membuat hamba meraih mahabbah, kecintaan dari Allah Ta'ala.
عن أبي هريرة رضي الله عنه قال : قال رسول الله صلى الله عليه وسلم : إن الله تعالى يقول : مَنْ عَادَى لِي وَلِيًا فَقَدْ آذَنْتُهُ بِالحَرْبِ وَمَا تَقَرَّبَ إِلَيَّ عَبْدِي بِشَيءٍ أَحَبَّ إِلَيَّ مِمَّا افْتَرَضْتُهُ عَلَيهِ وَمَا يَزَالُ عَبْدِي يَتَقَرَّبُ إِلَيَّ بِالنَوَافِلِ حَتَّى أُحِبَّهُ...
Dari Abu Hurairah berkata, Rasulullah saw bersabda, “Sesungguhnya Allah Ta'ala berfirman, ‘Barangsiapa memusuhi waliKu maka Aku mengumumkan perang terhadapnya. HambaKu tidak mendekatkan diri kepadaKu dengan sesuatu yang lebih Aku cintai daripada apa yang telah Aku wajibkan atasnya. HambaKu terus mendekatkan diri kepadaKu dengan amalan-amalan sunnah sehingga Aku menyintainya…” Diriwayatkan oleh al-Bukhari.
Ketiga, Menjaga shalat sunnah memberi peluang bagi seorang hamba untuk menyertai Nabi saw di surga.
Dari Rabi’ah bin Kaab al-Aslami berkata, Rasulullah saw bersabda kepadaku, “Mintalah.” Aku menjawab, “Aku berharap bisa menyertaimu di surga.” Nabi saw bertanya, “Apakah tidak yang lain?” Aku menjawab, “Cukup itu.” Maka Nabi saw bersabda, “Bantulah aku atas dirimu dengan memperbanyak sujud.” Diriwayatkan oleh Muslim.
Hadits ini mempunyai kisah sebagaimana yang diriwayatkan oleh Ath-Thabrani dan dinyatakan shahih li ghairihi oleh Syaikh al-Albani dalam Shahih at-Targhib wat Tarhib no. 388, Rabi’ah berkata, “Di siang hari aku melayani Nabi saw, jika malam tiba, aku datang ke pintu Rasulullah saw dan tidur di sana. Aku selalu mendengar beliau mengucapkan, ‘Subhanallah, Subhanallah, Subhana Rabbi.’ Sampai aku merasa bosan dan tidak kuat menahan kantuk sehingga aku pun tidur. Suatu hari Rasulullah saw berkata kepadaku, ‘Wahai Rabi’ah, mintalah sesuatu kepadaku, aku akan memberimu.’ Aku menjawab, ‘Beri aku waktu untuk berpikir.’ Rabi’ah berkata, “Aku ingat bahwa dunia fana dan terputus, maka aku berkata kepada Rasulullah saw, ‘Ya Rasulullah, aku memohon kepadamu agar engkau berdoa kepada Allah agar Dia menyelamatkanku dari neraka dan memasukkanku ke dalam surga.’ Rasulullah saw diam sesaat lalu bersabda, ‘Siapa yang menyuruhmu meminta itu?’ Aku menjawab, ‘Tidak ada, akan tetapi aku menyadari bahwa dunia fana dan terputus sementara engkau mempunyai kedudukan mulia di sisi Allah seperti saat ini, maka aku ingin engkau berdoa kepada Allah untukku.’ Rasulullah saw bersabda, ‘Aku lakukan, namun bantulah aku untuk memenuhi keinginanmu itu dengan memperbanyak sujud.”
Memperbanyak sujud berarti memperbanyak shalat, ungkapan ini termasuk, ‘Menyebut sebagian dan maksudnya adalah keseluruhan.’ Dan yang mungkin diperbanyak adalah shalat sunnah.
Keempat, Menjaga shalat sunnah memperbaiki kekurangan yang mungkin terjadi dalam shalat-shalat fardhu.
Dari Abu Hurairah bahwa Nabi saw bersabda, “Sesungguhnya amal hamba yang pertama kali dihisab adalah shalat, Rabbuna berfirman kepada malaikat –Padahal Dia lebih mengetahui- ‘Lihatlah shalat hambaKu, apakah dia menyempurnakannya atau tidak?’ Jika dia menyempurnakannya maka ditulis sempurna untuknya, jika dia mengurangi sebagian darinya maka Allah berfirman, ‘Lihatlah, apakah hambaKu mempunyai shalat sunnah?’ Jika dia mempunyai shalat sunnah maka Allah berfirman, ‘Sempurnakanlah untuk hambaKu faridhahnya dari sunnahnya…” Diriwayatkan oleh Abu Dawud.
Kelima, Memperbanyak sujud membuka peluang dikabulkannya doa.
Nabi saw bersabda, “Keadaan di mana hamba paling dekat kepada Rabbnya adalah sewaktu dia sujud, maka perbanyaklah doa.” Diriwayatkan oleh Muslim dari Abu Hurairah.
Keenam, Menjaga shalat sunnah merupakan bukti syukur hamba kepada Allah Ta'ala yang telah melimpahkan nikmat-nikmat yang tidak terhitung dan tidak ternilai.
Dari Aisyah bahwa Nabi saw melakukan shalat malam sampai kedua kakinya bengkak, maka Aisyah berkata kepada beliau, “Wahai Rasulullah, mengapa engkau melakukan ini padahal Allah telah mengampuni dosa-dosamu yang telah berlalu dan yang akan datang?” Rasulullah saw menjawab, “Aku hanya ingin menjadi hamba yang pandai bersyukur.” Muttafaq alaihi. Wallahu a’lam.
Ketujuh, Menjaga shalat sunnah meninggikan derajat dan melebur kesalahan.
Dari Ma’dan bin Abu Thalhah berkata, “Aku bertemu Tsauban mantan hamba sahaya Rasulullah saw, aku berkata kepadanya, ‘Katakan kepadaku suatu amal yang bisa aku kerjakan yang dengannya Allah memasukkanku ke dalam surga.’ Tsauban tidak menjawab. Aku mengulanginya sampai tiga kali, maka dia berkata, ‘Aku telah menanyakan hal itu kepada Rasulullah saw dan beliau bersabda, ‘Perbanyaklah sujud untuk Allah, karena kamu tidak bersujud satu kali untuk Allah kecuali Allah mengangkatmu satu derajat dengannya dan menghapus satu kesalahan darimu dengannya.’
(Izzudin Karimi)
Lanjutkan/Read More....
Pertama,Menjaga shalat sunnah membantu hamba untuk masuk ke dalam deretan sabiqina bil khairat sebagaimana dalam ayat 32 surat Fathir yang telah hadir di tulisan sebelumnya dan hal itu menurut penafsiran sebagian ulama.
Kedua, Menjaga shalat sunnah mendekatkan hamba kepada Allah dan selanjutnya membuat hamba meraih mahabbah, kecintaan dari Allah Ta'ala.
عن أبي هريرة رضي الله عنه قال : قال رسول الله صلى الله عليه وسلم : إن الله تعالى يقول : مَنْ عَادَى لِي وَلِيًا فَقَدْ آذَنْتُهُ بِالحَرْبِ وَمَا تَقَرَّبَ إِلَيَّ عَبْدِي بِشَيءٍ أَحَبَّ إِلَيَّ مِمَّا افْتَرَضْتُهُ عَلَيهِ وَمَا يَزَالُ عَبْدِي يَتَقَرَّبُ إِلَيَّ بِالنَوَافِلِ حَتَّى أُحِبَّهُ...
Dari Abu Hurairah berkata, Rasulullah saw bersabda, “Sesungguhnya Allah Ta'ala berfirman, ‘Barangsiapa memusuhi waliKu maka Aku mengumumkan perang terhadapnya. HambaKu tidak mendekatkan diri kepadaKu dengan sesuatu yang lebih Aku cintai daripada apa yang telah Aku wajibkan atasnya. HambaKu terus mendekatkan diri kepadaKu dengan amalan-amalan sunnah sehingga Aku menyintainya…” Diriwayatkan oleh al-Bukhari.
Ketiga, Menjaga shalat sunnah memberi peluang bagi seorang hamba untuk menyertai Nabi saw di surga.
Dari Rabi’ah bin Kaab al-Aslami berkata, Rasulullah saw bersabda kepadaku, “Mintalah.” Aku menjawab, “Aku berharap bisa menyertaimu di surga.” Nabi saw bertanya, “Apakah tidak yang lain?” Aku menjawab, “Cukup itu.” Maka Nabi saw bersabda, “Bantulah aku atas dirimu dengan memperbanyak sujud.” Diriwayatkan oleh Muslim.
Hadits ini mempunyai kisah sebagaimana yang diriwayatkan oleh Ath-Thabrani dan dinyatakan shahih li ghairihi oleh Syaikh al-Albani dalam Shahih at-Targhib wat Tarhib no. 388, Rabi’ah berkata, “Di siang hari aku melayani Nabi saw, jika malam tiba, aku datang ke pintu Rasulullah saw dan tidur di sana. Aku selalu mendengar beliau mengucapkan, ‘Subhanallah, Subhanallah, Subhana Rabbi.’ Sampai aku merasa bosan dan tidak kuat menahan kantuk sehingga aku pun tidur. Suatu hari Rasulullah saw berkata kepadaku, ‘Wahai Rabi’ah, mintalah sesuatu kepadaku, aku akan memberimu.’ Aku menjawab, ‘Beri aku waktu untuk berpikir.’ Rabi’ah berkata, “Aku ingat bahwa dunia fana dan terputus, maka aku berkata kepada Rasulullah saw, ‘Ya Rasulullah, aku memohon kepadamu agar engkau berdoa kepada Allah agar Dia menyelamatkanku dari neraka dan memasukkanku ke dalam surga.’ Rasulullah saw diam sesaat lalu bersabda, ‘Siapa yang menyuruhmu meminta itu?’ Aku menjawab, ‘Tidak ada, akan tetapi aku menyadari bahwa dunia fana dan terputus sementara engkau mempunyai kedudukan mulia di sisi Allah seperti saat ini, maka aku ingin engkau berdoa kepada Allah untukku.’ Rasulullah saw bersabda, ‘Aku lakukan, namun bantulah aku untuk memenuhi keinginanmu itu dengan memperbanyak sujud.”
Memperbanyak sujud berarti memperbanyak shalat, ungkapan ini termasuk, ‘Menyebut sebagian dan maksudnya adalah keseluruhan.’ Dan yang mungkin diperbanyak adalah shalat sunnah.
Keempat, Menjaga shalat sunnah memperbaiki kekurangan yang mungkin terjadi dalam shalat-shalat fardhu.
Dari Abu Hurairah bahwa Nabi saw bersabda, “Sesungguhnya amal hamba yang pertama kali dihisab adalah shalat, Rabbuna berfirman kepada malaikat –Padahal Dia lebih mengetahui- ‘Lihatlah shalat hambaKu, apakah dia menyempurnakannya atau tidak?’ Jika dia menyempurnakannya maka ditulis sempurna untuknya, jika dia mengurangi sebagian darinya maka Allah berfirman, ‘Lihatlah, apakah hambaKu mempunyai shalat sunnah?’ Jika dia mempunyai shalat sunnah maka Allah berfirman, ‘Sempurnakanlah untuk hambaKu faridhahnya dari sunnahnya…” Diriwayatkan oleh Abu Dawud.
Kelima, Memperbanyak sujud membuka peluang dikabulkannya doa.
Nabi saw bersabda, “Keadaan di mana hamba paling dekat kepada Rabbnya adalah sewaktu dia sujud, maka perbanyaklah doa.” Diriwayatkan oleh Muslim dari Abu Hurairah.
Keenam, Menjaga shalat sunnah merupakan bukti syukur hamba kepada Allah Ta'ala yang telah melimpahkan nikmat-nikmat yang tidak terhitung dan tidak ternilai.
Dari Aisyah bahwa Nabi saw melakukan shalat malam sampai kedua kakinya bengkak, maka Aisyah berkata kepada beliau, “Wahai Rasulullah, mengapa engkau melakukan ini padahal Allah telah mengampuni dosa-dosamu yang telah berlalu dan yang akan datang?” Rasulullah saw menjawab, “Aku hanya ingin menjadi hamba yang pandai bersyukur.” Muttafaq alaihi. Wallahu a’lam.
Ketujuh, Menjaga shalat sunnah meninggikan derajat dan melebur kesalahan.
Dari Ma’dan bin Abu Thalhah berkata, “Aku bertemu Tsauban mantan hamba sahaya Rasulullah saw, aku berkata kepadanya, ‘Katakan kepadaku suatu amal yang bisa aku kerjakan yang dengannya Allah memasukkanku ke dalam surga.’ Tsauban tidak menjawab. Aku mengulanginya sampai tiga kali, maka dia berkata, ‘Aku telah menanyakan hal itu kepada Rasulullah saw dan beliau bersabda, ‘Perbanyaklah sujud untuk Allah, karena kamu tidak bersujud satu kali untuk Allah kecuali Allah mengangkatmu satu derajat dengannya dan menghapus satu kesalahan darimu dengannya.’
(Izzudin Karimi)
Lanjutkan/Read More....
Langgan:
Entri (Atom)


