<?xml version='1.0' encoding='UTF-8'?><?xml-stylesheet href="http://www.blogger.com/styles/atom.css" type="text/css"?><feed xmlns='http://www.w3.org/2005/Atom' xmlns:openSearch='http://a9.com/-/spec/opensearchrss/1.0/' xmlns:georss='http://www.georss.org/georss' xmlns:gd='http://schemas.google.com/g/2005' xmlns:thr='http://purl.org/syndication/thread/1.0'><id>tag:blogger.com,1999:blog-2341110395006740809</id><updated>2012-01-23T16:23:53.404+07:00</updated><category term='husnul khatimah'/><category term='hidayah'/><category term='wafat'/><category term='sukses'/><category term='durhaka'/><category term='jilbab'/><category term='jum&apos;at'/><category term='tasyabbuh'/><category term='zina'/><category term='malas'/><category term='tukang ramal'/><category term='pray'/><category term='tahajud'/><category term='parfum'/><category term='wasiat'/><category term='lurus'/><category term='sakaratul maut'/><category term='kesalahan'/><category term='sunnah'/><category term='puasa'/><category term='colombus'/><category term='membunuh'/><category term='qiyamul lail'/><category term='penakluk'/><category term='tv'/><category term='israel'/><category term='wangi'/><category term='manfaat'/><category term='aqidah'/><category term='haram'/><category term='indian'/><category term='tahajjud'/><category term='ghorqod'/><category term='nasrani'/><category term='bermusuhan'/><category term='spiritual'/><category term='masjid'/><category term='salaf'/><category term='shubuh'/><category term='kematian'/><category term='tarbiyah'/><category term='ramadhan'/><category term='gadis'/><category term='sholat malam'/><category term='hancur'/><category term='tarawih'/><category term='su&apos;u; khatimah'/><category term='sholat'/><category term='kerudung'/><category term='kesucian'/><category term='khusyu'/><category term='qiyamul layl'/><category term='pluralisme'/><category term='shalat'/><category term='tahun baru'/><category term='pahala'/><category term='pintu'/><category term='jujur'/><category term='tiket'/><category term='suami'/><category term='gerakan'/><category term='firasat'/><category term='pluralitas'/><category term='subuh'/><category term='malam'/><category term='shaf'/><category term='media'/><category term='kehancuran'/><category term='akhirat'/><category term='rapat'/><category term='isyroq'/><category term='syetan'/><category term='makam'/><category term='remaja'/><category term='istiqamah'/><category term='jil'/><category term='idaman'/><category term='Allah'/><category term='wudhu'/><category term='natal'/><category term='fawaidh'/><category term='mulia'/><category term='malu'/><category term='waktu'/><category term='lalai'/><category term='witir'/><category term='sahabat'/><category term='suci'/><category term='kultus'/><category term='sayang'/><category term='taqdir'/><category term='islam'/><category term='amerika'/><category term='berjamaah'/><category term='khamer'/><category term='televisi'/><category term='stress'/><category term='constatinopel'/><category term='pandangan'/><category term='sekutu'/><category term='jumat'/><category term='kuburan'/><category term='jaringan islam liberal'/><category term='ritual'/><category term='maksiat'/><category term='cheng ho'/><category term='hijab'/><category term='kasih'/><category term='fatih'/><category term='dzikir'/><category term='pagi'/><category term='yahudi'/><category term='terkabul'/><category term='mati'/><category term='pemuda'/><category term='doa'/><category term='dunia'/><category term='faedah'/><category term='toleransi'/><category term='kubur'/><category term='masuk'/><category term='pacaran'/><category term='zionis'/><category term='kehidupan'/><category term='istri'/><category term='hikmah'/><title type='text'>Qiyamul Lail (Sholat Tahajud)</title><subtitle type='html'></subtitle><link rel='http://schemas.google.com/g/2005#feed' type='application/atom+xml' href='http://bertahajudlah.blogspot.com/feeds/posts/default'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2341110395006740809/posts/default?max-results=100'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://bertahajudlah.blogspot.com/'/><link rel='hub' href='http://pubsubhubbub.appspot.com/'/><link rel='next' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2341110395006740809/posts/default?start-index=101&amp;max-results=100'/><author><name>Abu Rasya</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='25' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_Vu2uwPa37To/SwJVf4XAdFI/AAAAAAAAAEk/lhZhkq-B4QA/S220/Fatih-Sultan-Muhammad.jpg'/></author><generator version='7.00' uri='http://www.blogger.com'>Blogger</generator><openSearch:totalResults>106</openSearch:totalResults><openSearch:startIndex>1</openSearch:startIndex><openSearch:itemsPerPage>100</openSearch:itemsPerPage><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2341110395006740809.post-943194894985930360</id><published>2011-09-09T09:15:00.003+07:00</published><updated>2011-09-09T09:59:21.170+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='suami'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='istri'/><title type='text'>Berhias Hanya Buat Suami</title><content type='html'>Ladang ibadah seorang istri adalah suami, dari sini maka hendaknya apa yang dia lakukan pada dirinya adalah semata-mata demi suami termasuk berhias dan mempercantik diri, jika niat istri dalam berhias adalah demi suami maka hal tersebut bernilai ibadah, di samping itu istri tidak akan memperlihatkan perhiasan dirinya kepada orang lain, karena dia memang berhias hanya untuk suami semata bukan untuk orang lain. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Imam Abu Dawud meriwayatkan dari Aisyah berkata, Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam datang kepadaku sementara di tanganku terpasang gelang dari perak, beliau bertanya kepadaku, “Ini apa wahai Aisyah?” Aku menjawab, “Aku melakukannya dengan maksud berhias untukmu.” Nabi shallallahu 'alaihi wasallam bertanya, “Kamu menzakatinya?” Aku berkata, “Tidak, masya Allah.” Nabi shallallahu 'alaihi wasallam bersabda, “Ia adalah bagianmu dari neraka.” &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kita melihat dalam hadits ini apa yang dilakukan oleh Aisyah dengan memakai gelang dari perak dalam rangka berhias demi suaminya yaitu Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam dan beliau tidak mengingkarinya, yang beliau persoalkan dalam hadits di atas adalah sisi yang tidak berkait dengan pembicaraan kita yaitu zakat perhiasan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yang terjadi saat ini dan pada zaman ini adalah kebalikannya, seorang istri tidak hanya berhias untuk suaminya semata, akan tetapi di samping untuk suaminya, dia juga berhias untuk selain suami, bahkan sebagian istri tidak berhias untuk suami, tetapi justru berhias untuk orang lain, bukti dari hal ini adalah berhiasnya sebagian istri pada saat dia keluar rumah, sementara di dalam rumah, istri tidak memperhatikan dirinya, pakaiannya ala kadarnya dan rambutnya tidak tertata rapi, tidak masalah kalau suami sedang tidak di rumah, tetapi yang sering hal itu terjadi pada saat suami sedang berada di rumah, namun begitu ada acara di luar rumah, maka dia akan berdandan habis, untuk siapa? Jadi suami tidak meraih yang khusus dari istrinya, sebagian jatahnya diberikan kepada orang lain. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Kepada siapa wanita menampakkan perhiasannya &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kepada orang-orang yang disebutkan oleh Allah dalam firmanNya, “Dan janganlah menampakkan perhiasannya kecuali kepada suami mereka atau ayah mereka atau ayah suami mereka atau putra-putra mereka atau putra-putra suami mereka atau saudara-saudara laki-laki mereka atau putra-putra saudara lelaki mereka atau putra-putra saudara perempuan mereka atau wanita-wanita Islam atau budak-budak yang mereka miliki atau pelayan-pelayan laki-laki yang tidak mempunyai keinginan (terhadap wanita) atau anak-anak yang belum mengerti tentang aurat wanita dan janganlah mereka memukulkan kakinya agar diketahui perhiasan yang mereka sembunyikan.” (Qs.An-Nur: 31). &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam ayat ini Allah menjelaskan siapa-siapa yang boleh melihat perhiasan seorang wanita, di samping suami yang memang berhak mendapatkan bagian terbesar dan terkhusus, ada pula para mahram dan orang-orang di mana terlihatnya perhiasan wanita kepada mereka tidak menimbulkan fitnah dan kerusakan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Macam-macam perhiasan &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada dasarnya berhias dan perhiasan terbagi menjadi dua; perhiasaan bawaan atau pemberian dan perhiasan buatan. Yang pertama berarti perhiasan yang sudah dibawa atau dimiliki oleh seorang wanita sebagai pemberian dari Allah seperti kecantikan wajah dan keindahan tubuh. Yang kedua berarti perhiasan yang dihasilkan dan dilakukan oleh seorang wanita dalam upaya menjaga dan menambah perhiasan yang pertama seperti pakaian, make up, perlengkapan perhiasan, emas, perak dan sebagainya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perhiasan pertama yang merupakan karunia ilahi, seorang wanita tidak memiliki upaya dalam bagian ini, karena ia merupakan jatah dari ‘sana’, maka dia harus menerimanya dengan rela, tidak perlu menggerutu dan meratapi jatah, lebih-lebih melakukan usaha-usaha merubah ciptaan Allah, tidak perlu, karena pada dasarnya Allah menciptakan kaum hawa ini dengan kecantikan dan keindahan, masing-masing memiliki porsi darinya yang sudah ditakar oleh sang Pemberi, di lain pihak penilaian terhadap kecantikan bersifat relatif dan yang penting bagi seorang wanita adalah suami, jika suami sendiri ma fi musykilah dan menerima bahkan memandangnya yang terbaik dan tercantik, maka hendaknya dia bersyukur, karena dia memang demikian walaupun hanya di mata suami, tetapi itu lebih dari cukup. Mau penilaian dari siapa? Orang lain? Tidak perlu, memang dia itu siapa? &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Barangkali yang perlu dan bisa dilakukan adalah menjaga, banyak hal yang bisa dilakukan demi menjaga ini, misalnya menjaga makanan, makan makanan yang berimbang sehingga tubuh tetap langsing dan tidak melebar, makan sayur dan buah-buahan sehingga tubuh terlihat segar, minum jamu atau ramuan-ramuan tertentu, beristirahat yang cukup sehingga kesehatan terjaga, berolah raga sebatas yang diizinkan dan mungkin dilakukan, dan masih banyak lagi perkara-perkara yang bisa dilakukan demi menjaga perhiasan bawaan dan pemberian ilahi ini, tidak masalah selama motivasi istri dalam melakukannya adalah hanya untuk suami seorang.Wallahu a'lam. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2341110395006740809-943194894985930360?l=bertahajudlah.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://bertahajudlah.blogspot.com/feeds/943194894985930360/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://bertahajudlah.blogspot.com/2011/09/berhias-hanya-buat-suami.html#comment-form' title='4 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2341110395006740809/posts/default/943194894985930360'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2341110395006740809/posts/default/943194894985930360'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://bertahajudlah.blogspot.com/2011/09/berhias-hanya-buat-suami.html' title='Berhias Hanya Buat Suami'/><author><name>Abu Rasya</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='25' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_Vu2uwPa37To/SwJVf4XAdFI/AAAAAAAAAEk/lhZhkq-B4QA/S220/Fatih-Sultan-Muhammad.jpg'/></author><thr:total>4</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2341110395006740809.post-4861155177886104302</id><published>2011-06-07T17:13:00.003+07:00</published><updated>2011-06-07T17:15:54.353+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='dzikir'/><title type='text'>MAKNA BERDZIKIR</title><content type='html'>DALIL-DALIL TENTANG KEUTAMAAN BERDZIKIR&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Dan sesungguhnya mengingat ALLAH itu paling besar.” (QS al-Ankabut:45)&lt;br /&gt;“Maka ingatlah kepada-KU, pasti AKU akan ingat kepadamu.” (QS al-Baqarah:152)&lt;br /&gt;“Dan ingatlah kepada RABB-mu di dalam hatimu dengan merendahkan diri dan merasa takut, dengan tidak meninggikan suaramu.” (QS al-A’raf:205)&lt;br /&gt;“Wahai orang-orang yang beriman ingatlah kepada ALLAH sebanyak-banyaknya dan bertasbihlah kepda-NYA pada pagi dan petang hari.” (QS al-Ahzab:41-42)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;MAKNA DZIKIR&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dzikir menurut pemahaman salafus-shalih adalah segala perbuatan yang dapat mendekatakan diri kepada ALLAH SWT, baik berupa shalat, puasa, zakat, tasbih, tahmid, takbir, tahlil maupun membicarakan hukum halal-haram, belajar, memberi nasihat, jual-beli, nikah, hajji, dan sebagainya. Sepanjang semua itu dilakukan dengan NIAT YANG IKHLAS dan melakukannya SESUAI DENGAN SYARI’AT, maka itu termasuk dzikir.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berkata Sa’id bin Jubair ra: Setiap orang yang beramal karena ALLAH adalah orang yang sedang berdzikir kepada-NYA.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berkata ‘Atha bin abi Rabah: Majlis dzikir adalah majlis yang membicarakan halal dan haram, serta bagaimana seharusnya kalian berjual-beli, shalat, puasa, nikah, thalaq, hajji, dll.&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;HAL-HAL YANG PERLU DIPERHATIKAN KETIKA BERDZIKIR&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1. Niat yang Ikhlas, dalil-dalilnya:&lt;br /&gt;Al-Qur’an: QS al-Bayyinah, 98:5; QS al-Hajj 22:37.&lt;br /&gt;As-Sunnah: Hadits Umar ra yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari-Muslim (Sesungguhnya amal itu tergantung dari niatnya)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Atsar Salafus-Shalih:&lt;br /&gt;Berkata al-Fudhail bin ‘Iyadh: Beramal karena ingin dilihat orang adalah SYIRIK, meninggalkan amal karena takut dilihat orang adalah RIYA’, adapaun IKHLAS adalah terjaganya kamu dari kedua hal tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berkata al-Harits al-Muhasibi: Orang yang benar ialah tidak peduli pada penghormatan manusia karena kesucian hatinya. Dan juga tidak suka diketahui orang kebaikannya walau sebesar biji sawi karena kebaikan amalnya. Dan iapun tidak benci jika diketahui orang kelemahannya.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berkata Abal Qasim al-Qusyairi: Ikhlas ialah mengarahkan ketaatan dengan niat kepada ALLAH Yg Maha Suci, yaitu menginginkan agar semua ketaatannya menjadi pendekatan dirinya kepada ALLAH tanpa sedikitpun keinginan-keinginan lain untuk makhluk, apalagi keinginan dipuji oleh manusia atau suka diketahui amalnya, atau segala keinginan yang lain daripada niat taqarrub kepada ALLAH SWT.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berkata Muhammad bin Sahal at-Tastari: Para orang yang pandai menafsirkan ikhlas tidak lebih dari ini: Gerak dan diamnya, baik di tengah kesepian atau keramaian hanya karena ALLAH saja, tiada bercampur sedikitpun dengan kehendak nafsu, keinginan diri ataupun keinginan duniawiah lainnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berkata abu Ali ad-Daqqaq: Ikhlas ialah memelihara diri dari ingin diperhatikan makhluk. Sedangkan Shiddiq ialah mensucikan diri dari memenuhi keinginan nafsu.&lt;br /&gt;Berkata Dzan Nun al-Mishri: Tanda ikhlas itu ada 3: Pertama, jika dipuji dan dicela orang tidak berpengaruh baginya. Kedua, jika ia beramal tidak riya’. Ketiga, jika amal yang dilakukan hanya untuk pahala akhirat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2. Keutamaan Majlis Dzikir: Berzikir dalam majlis adalah disunnahkan, berdasarkan hadits-hadits berikut ini:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nabi SAW bersabda: “Jika kalian melewati kebun-kebun syurga maka nikamtilah oleh kalian. Para sahabat ra bertanya: Wahai rasuluLLAH, apakah kebun syurga itu? Jawab nabi SAW: yaitu majelis-majelis dzikir, karena ALLAH memiliki malaikat-malaikat yang selalu mencari majelis-majelis dzikir. Apabila mereka menemukannya maka mereka akan duduk bersama-bersama orang yang berdzikir itu.” (HR Muttafaq ‘alaih, dari Ibnu Umar)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam hadits lainnya: “Rasul SAW keluar dari rumahnya menuju sebuah majlis tempat berkumpul para sahabatnya, lalu beliau bersabda: Mengapa kalian duduk-duduk bersama disini? Jawab mereka: Kami disini bertahmid atas hidayah dan nikmat yang telah diberikan-NYA kepada kami sehingga kami memeluk agama Islam. Kata nabi SAW: Demi ALLAH, apakah benar kalian duduk disini hanya karena itu? Aku tidak minta kalian bersumpah tapi Jibril telah datang kepadaku dan meberitahukan bahwa ALLAH SWT telah membanggakan kalian dihadapan para malaikat.” (HR Muslim dari Mu’awiyyah)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam hadits yang lain disebutkan: Bersabda nabi SAW: “Tiada suatu kaum yang duduk-duduk sambil berdzikir pada ALLAH, melainkan para malaikat datang berkumpul, dan rahmat ALLAH meliputi mereka, dan ketentraman turun kepada mereka, dan nama-nama mereka disebutkan satu-persatu oleh ALLAH SWT dihadapan para malaikat yang ada disisi-NYA.” (HR Muslim dari Abu Sa’id al-Khudri dan Abu Hurairah)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3. Hendaknya dzikir dilakukan dengan hati dan lisan, dan tidak keras-keras tapi juga tidak terlalu pelan, berdasarkan ayat: “Dan jangan kamu nyaringkan suaramu ketika shalat dan jangan pula kamu merendahkannya, tetapi hendaklah kamu lakukan diantara keduanya.” (QS al-Isra, 17:110)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;4. Dzikir bagi orang yang tidak bersuci. Menurut ijma’ ulama boleh saja berdzikir dengan lisan ataupun hati bagi orang yang tidak bersuci, baik ia sedang junub, haidh, keluar darah, nifas. Baik ia membaca tasbih, tahmid, tahlil, shalawat, dll. Adapun jika membaca al-Qur’an maka para ulama berbeda pendapat, menurut mazhab Syafi’i dibolehkan membaca al-Qur’an bagi wanita haidh dan nifas jika telah berwudhu’ atau bertayammum (lih. kitab al-Adzkar, hal. 39, Imam Nawawi).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;5. Sikap ketika berdzikir. Hendaknya dengan duduk sopan menghadap kiblat dengan khusyu’. Tetapi jika tidak memungkinkan maka tidak mengapa dengan kondisi apa saja yang memungkinkan karena hal tersebut merupakan afdhal (keutamaan) saja. Berdasarkan ayat: “Dan orang-orang yang berdzikir kepada ALLAH sambil berdiri, duduk dan berbaring dan mereka memikirkan penciptaan langit dan bumi.” (QS Ali-Imran, 3:190-191), juga dalam hadits: Dari A’isyah ra berkata ; “RasuluLLAH SAW bersandar dipangkuanku sedangkan aku dalam keadaan haidh, dan beliau membaca al-Qur’an.” (HR Bukhari dan Muslim)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;6. Tempat yang terlarang berdzikir. Seperti ketika buang air, berhubungan suami-istri, saat mendengarkan khutbah, saat berdiri shalat membaca Fatihah dan saat mengantuk.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;HADITS-HADITS TENTANG BERBAGAI DZIKIR YANG SHAHIH&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sabda nabi SAW: “Ada 2 kalimat, yang sangat ringan di lidah, sangat berat dalam timbangan amal, dan sangat dicintai oleh AR-RAHMAN, yaitu SubhanaLLAHi wabihamdiHI subahanaLLAHil ‘azhim[1].”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sabda nabi SAW: “Barangsiapa mengucapkan La ilaha illaLLAHu wahdaHU la syarikalaHU, laHUl mulku wa laHUl hamdu wa HUWA ‘ala syai’in qadir setiap hari 100 kali, maka bagaikan ia memerdekakan 10 orang budak dan diberikan 100 kebaikan dan dihapuskan 100 keburukannya, dan Syaithan tidak bisa mendekatinya pada hari itu sampai sore, dan tidak ada seorang yang lebih baik darinya kecuali yang membaca lebih banyak darinya. Juga dikatakan: Barangsiapa yang mengatakanSubhanaLLAH wa bihamdiHI setiap hari 100 kali, maka dihapuskan dosa-dosanya walaupun sebanyak buih di lautan[2].”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sabda nabi SAW: “Kebersihan itu sebagian dari Iman, mengucapkan alhamduliLLAH itu memenuhi timbangan kebaikan, mengucapkan subahanaLLAH wal hamduliLLAH itu memenuhi langit dan bumi[3].”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perbuatan nabi SAW: “Adalah nabi SAW jika selesai salam dari shalatnya beliau SAW membaca istighfar 3 kali, lalu membaca ALLAHumma ANTAS salamu wa minKAs salamu tabarakTA ya DZAL Jalali wal Ikram[4].”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perbuatan nabi SAW: “Adalah nabi SAW jika selesai shalat membaca ; La ilaha illaLLAH wahdaHU la syarikalaHU, laHUl mulku wa laHUl hamdu waHUWA ‘ala kulli syai’in qadir, ALLAHumma la mani’a lima a’thaiTA wa mu’thiya lima mana’TA wala yanfa’u dzal jaddi minkal jaddu[5].”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan sebagainya (bisa dilihat diberbagai kitab hadits shahih)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;RABBanaghfirlana wa israfana fi amrina…&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;REFERENSI:&lt;br /&gt;HR Bukhari, 11/175; Muslim 2694; Tirmidzi 3463.&lt;br /&gt;HR Bukhari 11/168-169; Muslim 2691; Thabrani 1/209; Tirmidzi 3464.&lt;br /&gt;HR Muslim 223.&lt;br /&gt;HR Muslim 591; Abu Daud 1513; Tirmidzi 300, Nasa’i 3/68.&lt;br /&gt;HR Bukhari 2/275; Muslim 593; Abu Daud 1515; Nasa’i 3/70.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;al-ikhwan.net&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2341110395006740809-4861155177886104302?l=bertahajudlah.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://bertahajudlah.blogspot.com/feeds/4861155177886104302/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://bertahajudlah.blogspot.com/2011/06/makna-berdzikir.html#comment-form' title='1 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2341110395006740809/posts/default/4861155177886104302'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2341110395006740809/posts/default/4861155177886104302'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://bertahajudlah.blogspot.com/2011/06/makna-berdzikir.html' title='MAKNA BERDZIKIR'/><author><name>Abu Rasya</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='25' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_Vu2uwPa37To/SwJVf4XAdFI/AAAAAAAAAEk/lhZhkq-B4QA/S220/Fatih-Sultan-Muhammad.jpg'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2341110395006740809.post-856505660275698444</id><published>2011-04-01T13:14:00.002+07:00</published><updated>2011-04-01T13:29:43.950+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='qiyamul lail'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='tahajjud'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='tahajud'/><title type='text'>Panduan Shalat Tahajud</title><content type='html'>Alhamdulillah, wa shalaatu wa salaamu 'ala Rosulillah wa 'ala alihi wa shohbihi wa man tabi'ahum bi ihsanin ilaa yaumid diin.&lt;br /&gt;Suatu kenikmatan yang sangat indah adalah bila seorang hamba bisa merasakan bagaimana bermunajat dengan Allah di tengah malam terutama ketika 1/3 malam terakhir. Berikut sedikit panduan dari kami mengenai shalat tahajud.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Maksud Shalat Tahajud&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Shalat malam (qiyamul lail) biasa disebut juga dengan shalat tahajud. Mayoritas pakar fiqih mengatakan bahwa shalat tahajud adalah shalat sunnah yang dilakukan di malam hari secara umum setelah bangun tidur.1&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Keutamaan Shalat Tahajud &lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Pertama: Shalat tahajud adalah sifat orang bertakwa dan calon penghuni surga.&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Allah Ta'ala berfirman,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;إِنَّ الْمُتَّقِينَ فِي جَنَّاتٍ وَعُيُونٍ (15) آَخِذِينَ مَا آَتَاهُمْ رَبُّهُمْ إِنَّهُمْ كَانُوا قَبْلَ ذَلِكَ مُحْسِنِينَ (16) كَانُوا قَلِيلًا مِنَ اللَّيْلِ مَا يَهْجَعُونَ (17) وَبِالْأَسْحَارِ هُمْ يَسْتَغْفِرُونَ (18)&lt;br /&gt;“Sesungguhnya orang-orang yang bertaqwa itu berada dalam taman-taman (syurga) dan mata air-mata air, sambil menerima segala pemberian Rabb mereka. Sesungguhnya mereka sebelum itu di dunia adalah orang-orang yang berbuat kebaikan. Di dunia mereka sedikit sekali tidur di waktu malam. Dan selalu memohonkan ampunan diwaktu pagi sebelum fajar.” (QS. Adz Dzariyat: 15-18).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Al Hasan Al Bashri mengatakan mengenai ayat ini, “Mereka bersengaja melaksanakan qiyamul lail (shalat tahajud). Di malam hari, mereka hanya tidur sedikit saja. Mereka menghidupkan malam hingga sahur (menjelang shubuh). Dan mereka pun banyak beristighfar di waktu sahur.”2&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Kedua: Tidak sama antara orang yang shalat malam dan yang tidak.&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Allah Ta'ala berfirman,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;أَمْ مَنْ هُوَ قَانِتٌ آَنَاءَ اللَّيْلِ سَاجِدًا وَقَائِمًا يَحْذَرُ الْآَخِرَةَ وَيَرْجُو رَحْمَةَ رَبِّهِ قُلْ هَلْ يَسْتَوِي الَّذِينَ يَعْلَمُونَ وَالَّذِينَ لَا يَعْلَمُونَ إِنَّمَا يَتَذَكَّرُ أُولُو الْأَلْبَابِ&lt;br /&gt;“(Apakah kamu hai orang musyrik yang lebih beruntung) ataukah orang yang beribadat di waktu-waktu malam dengan sujud dan berdiri, sedang ia takut kepada (azab) akhirat dan mengharapkan rahmat Tuhannya? Katakanlah: "Adakah sama orang-orang yang mengetahui dengan orang-orang yang tidak mengetahui?" Sesungguhnya orang yang berakallah yang dapat menerima pelajaran. ” (QS. Az Zumar: 9). Yang dimaksud qunut dalam ayat ini bukan hanya berdiri, namun juga disertai dengan khusu'.3&lt;br /&gt;Salah satu maksud ayat ini, “Apakah sama antara orang yang berdiri untuk beribadah (di waktu malam) dengan orang yang tidak demikian?!”4 Jawabannya, tentu saja tidak sama.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Ketiga: Shalat tahajud adalah sebaik-baik shalat sunnah.&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;أَفْضَلُ الصِّيَامِ بَعْدَ شَهْرِ رَمَضَانَ شَهْرُ اللَّهِ الْمُحَرَّمُ وَأَفْضَلُ الصَّلَاةِ بَعْدَ الْفَرِيضَةِ صَلَاةُ اللَّيْلِ&lt;br /&gt;“Sebaik-baik puasa setelah puasa Ramadhan adalah puasa pada bulan Allah –Muharram-. Sebaik-baik shalat setelah shalat wajib adalah shalat malam.”5&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;An Nawawi -rahimahullah- mengatakan, “Ini adalah dalil dari kesepakatan ulama bahwa shalat sunnah di malam hari lebih baik dari shalat sunnah di siang hari. Ini juga adalah dalil bagi ulama Syafi’iyah (yang satu madzhab dengan kami) di antaranya Abu Ishaq Al Maruzi dan yang sepaham dengannya, bahwa shalat malam lebih baik dari shalat sunnah rawatib. Sebagian ulama Syafi’iyah yang lain berpendapat bahwa shalat sunnah rawatib lebih afdhol (lebih utama) dari shalat malam karena kemiripannya dengan shalat wajib. Namun pendapat pertama tetap lebih kuat dan sesuai dengan hadits. Wallahu a’lam.6&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ibnu Rajab Al Hambali mengatakan, “Waktu tahajud di malam hari adalah sebaik-baik waktu pelaksanaan shalat sunnah. Ketika itu hamba semakin dekat dengan Rabbnya. Waktu tersebut adalah saat dibukakannya pintu langit dan terijabahinya (terkabulnya) do'a. Saat itu adalah waktu untuk mengemukakan berbagai macam hajat kepada Allah.”7&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;'Amr bin Al 'Ash mengatakan, “Satu raka'at shalat sunnah di malam hari lebih baik dari 10 raka'at shalat sunnah di siang hari.” Dikeluarkan oleh Ibnu Abi Dunya.8&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ibnu Rajab mengatakan, “Di sini 'Amr bin Al 'Ash membedakan antara shalat malam dan shalat di siang hari. Shalat malam lebih mudah dilakukan sembunyi-sembunyi dan lebih mudah mengantarkan pada keikhlasan.”9 Inilah sebabnya para ulama lebih menyukai shalat malam karena amalannya yang jarang diketahui orang lain.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Keempat: Shalat tahajud adalah kebiasaan orang sholih.&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;عَلَيْكُمْ بِقِيَامِ اللَّيْلِ فَإِنَّهُ دَأْبُ الصَّالِحِيْنَ قَبْلَكُمْ وَهُوَ قُرْبَةٌ إِلَى رَبِّكُمْ وَمُكَفِّرَةٌ لِلسَّيِّئَاتِ وَمَنْهَاةٌ عَنِ الإِثْمِ&lt;br /&gt;“Hendaklah kalian melaksanakan qiyamul lail (shalat malam) karena shalat amalan adalah kebiasaan orang sholih sebelum kalian dan membuat kalian lebih dekat pada Allah. Shalat malam dapat menghapuskan kesalahan dan dosa. ”10&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Kelima: Sebaik-baik orang adalah yang melaksanakan shalat tahajud.&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam pernah mengatakan mengenai 'Abdullah bin 'Umar,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;« نِعْمَ الرَّجُلُ عَبْدُ اللَّهِ ، لَوْ كَانَ يُصَلِّى بِاللَّيْلِ » . قَالَ سَالِمٌ فَكَانَ عَبْدُ اللَّهِ لاَ يَنَامُ مِنَ اللَّيْلِ إِلاَّ قَلِيلاً .&lt;br /&gt;“Sebaik-baik orang adalah 'Abdullah (maksudnya Ibnu 'Umar) seandainya ia mau melaksanakan shalat malam.” Salim mengatakan, “Setelah dikatakan seperti ini, Abdullah bin 'Umar tidak pernah lagi tidur di waktu malam kecuali sedikit.”11&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Waktu Shalat Tahajud&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Shalat tahajud boleh dikerjakan di awal, pertengahan atau akhir malam. Ini semua pernah dilakukan oleh Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam. Sebagaimana Anas bin Malik -pembantu Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam- mengatakan,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;مَا كُنَّا نَشَاءُ أَنْ نَرَى رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فِي اللَّيْلِ مُصَلِّيًا إِلَّا رَأَيْنَاهُ وَلَا نَشَاءُ أَنْ نَرَاهُ نَائِمًا إِلَّا رَأَيْنَاهُ&lt;br /&gt;“Tidaklah kami bangun agar ingin melihat Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam di malam hari mengerjakan shalat kecuali pasti kami melihatnya. Dan tidaklah kami bangun melihat beliau dalam keadaan tidur kecuali pasti kami melihatnya pula.”12&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ibnu Hajar menjelaskan,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;إِنَّ صَلَاته وَنَوْمه كَانَ يَخْتَلِف بِاللَّيْلِ وَلَا يُرَتِّب وَقْتًا مُعَيَّنًا بَلْ بِحَسَبِ مَا تَيَسَّرَ لَهُ الْقِيَام&lt;br /&gt;“Sesungguhnya waktu shalat malam dan tidur yang dilakukan Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam berbeda-beda setiap malamnya. Beliau tidak menetapkan waktu tertentu untuk shalat. Namun beliau mengerjakannya sesuai keadaan yang mudah bagi beliau.”13&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Waktu Utama untuk Shalat Tahajud&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Waktu utama untuk shalat malam adalah di akhir malam. Dari Abu Hurairah, Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;يَنْزِلُ رَبُّنَا تَبَارَكَ وَتَعَالَى كُلَّ لَيْلَةٍ إِلَى السَّمَاءِ الدُّنْيَا حِينَ يَبْقَى ثُلُثُ اللَّيْلِ الآخِرُ فَيَقُولُ مَنْ يَدْعُونِى فَأَسْتَجِيبَ لَهُ وَمَنْ يَسْأَلُنِى فَأُعْطِيَهُ وَمَنْ يَسْتَغْفِرُنِى فَأَغْفِرَ لَهُ&lt;br /&gt;“Rabb kami -Tabaroka wa Ta'ala- akan turun setiap malamnya ke langit dunia ketika tersisa sepertiga malam terakhir. Lalu Allah berfirman, “Siapa yang memanjatkan do'a pada-Ku, maka Aku akan mengabulkannya. Siapa yang memohon kepada-Ku, maka Aku akan memberinya. Siapa yang meminta ampun pada-Ku, Aku akan memberikan ampunan untuknya”.”14&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari 'Abdullah bin 'Amr, Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;إِنَّ أَحَبَّ الصِّيَامِ إِلَى اللَّهِ صِيَامُ دَاوُدَ وَأَحَبَّ الصَّلاَةِ إِلَى اللَّهِ صَلاَةُ دَاوُدَ عَلَيْهِ السَّلاَمُ كَانَ يَنَامُ نِصْفَ اللَّيْلِ وَيَقُومُ ثُلُثَهُ وَيَنَامُ سُدُسَهُ وَكَانَ يَصُومُ يَوْمًا وَيُفْطِرُ يَوْمًا&lt;br /&gt;“Sesungguhnya sebaik-baik puasa di sisi Allah adalah puasa Daud15 dan sebaik-baik shalat di sisi Allah adalah shalatnya Nabi Daud 'alaihis salam. Beliau biasa tidur di separuh malam dan bangun tidur pada sepertiga malam terakhir. Lalu beliau tidur kembali pada seperenam malam terakhir. Nabi Daud biasa sehari berpuasa dan keesokan harinya tidak berpuasa.”16&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;'Aisyah pernah ditanyakan mengenai shalat malam yang dilakukan oleh Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam. 'Aisyah menjawab,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;كَانَ يَنَامُ أَوَّلَهُ وَيَقُومُ آخِرَهُ ، فَيُصَلِّى ثُمَّ يَرْجِعُ إِلَى فِرَاشِهِ ، فَإِذَا أَذَّنَ الْمُؤَذِّنُ وَثَبَ ، فَإِنْ كَانَ بِهِ حَاجَةٌ اغْتَسَلَ ، وَإِلاَّ تَوَضَّأَ وَخَرَجَ&lt;br /&gt;“Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam biasa tidur di awal malam, lalu beliau bangun di akhir malam. Kemudian beliau melaksanakan shalat, lalu beliau kembali lagi ke tempat tidurnya. Jika terdengar suara muadzin, barulah beliau bangun kembali. Jika memiliki hajat, beliau mandi. Dan jika tidak, beliau berwudhu lalu segera keluar (ke masjid).”17&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Shalat Tahajud Ketika Kondisi Sulit&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bermunajatlah pada Allah di akhir malam ketika kondisi begitu sulit.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;'Ali bin Abi Tholib pernah menceritakan,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;رَأَيْتُنَا لَيْلَةَ بَدْرٍ وَمَا مِنَّا إِنْسَانٌ إِلاَّ نَائِمٌ إِلاَّ رَسُولَ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- فَإِنَّهُ كَانَ يُصَلِّى إِلَى شَجَرَةٍ وَيَدْعُو حَتَّى أَصْبَحَ وَمَا كَانَ مِنَّا فَارِسٌ يَوْمَ بَدْرٍ غَيْرَ الْمِقْدَادِ بْنِ الأَسْوَدِ&lt;br /&gt;“Kami pernah memperhatikan pada malam Badar dan ketika itu semua orang pada terlelap tidur kecuali Rasulullah shallalahu 'alaihi wa sallam. Beliau melaksanakan shalat di bawah pohon. Beliau memanjatkan do'a pada Allah hingga waktu Shubuh. Dan tidak ada di antara kami tidak ada yang mahir menunggang kuda selain Al Miqdad bin Al Aswad.”18 Dalam riwayat lain disebutkan,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;يُصَلِّى وَيَبْكِى حَتَّى أَصْبَحَ&lt;br /&gt;“Beliau melaksanakan shalat sambil menangis hingga waktu shubuh.”19&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Jumlah Raka'at Shalat Tahajud yang Dianjurkan (Disunnahkan)&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jumlah raka'at shalat tahajud yang dianjurkan adalah tidak lebih dari 11 atau 13 raka'at. Dan inilah yang menjadi pilihan Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;'Aisyah mengatakan,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;مَا كَانَ يَزِيدُ فِى رَمَضَانَ وَلاَ غَيْرِهِ عَلَى إِحْدَى عَشْرَةَ رَكْعَةً ، يُصَلِّى أَرْبَعَ رَكَعَاتٍ فَلاَ تَسْأَلْ عَنْ حُسْنِهِنَّ وَطُولِهِنَّ ، ثُمَّ يُصَلِّى أَرْبَعًا فَلاَ تَسْأَلْ عَنْ حُسْنِهِنَّ وَطُولِهِنَّ ، ثُمَّ يُصَلِّى ثَلاَثًا&lt;br /&gt;“Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam tidak pernah menambah shalat malam di bulan Ramadhan dan bulan lainnya lebih dari 11 raka'at. Beliau melakukan shalat empat raka'at, maka jangan tanyakan mengenai bagus dan panjangnya. Kemudian beliau melakukan shalat empat raka'at lagi dan jangan tanyakan mengenai bagus dan panjangnya. Kemudian beliau melakukan shalat tiga raka'at.”20&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ibnu 'Abbas mengatakan,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;كَانَ صَلاَةُ النَّبِىِّ - صلى الله عليه وسلم - ثَلاَثَ عَشْرَةَ رَكْعَةً . يَعْنِى بِاللَّيْلِ&lt;br /&gt;“Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam biasa melaksanakan shalat malam 13 raka'at. ”21&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Zaid bin Kholid Al Juhani mengatakan,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;لأَرْمُقَنَّ صَلاَةَ رَسُولِ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- اللَّيْلَةَ فَصَلَّى. رَكْعَتَيْنِ خَفِيفَتَيْنِ ثُمَّ صَلَّى رَكْعَتَيْنِ طَوِيلَتَيْنِ طَوِيلَتَيْنِ طَوِيلَتَيْنِ ثُمَّ صَلَّى رَكْعَتَيْنِ وَهُمَا دُونَ اللَّتَيْنِ قَبْلَهُمَا ثُمَّ صَلَّى رَكْعَتَيْنِ وَهُمَا دُونَ اللَّتَيْنِ قَبْلَهُمَا ثُمَّ صَلَّى رَكْعَتَيْنِ وَهُمَا دُونَ اللَّتَيْنِ قَبْلَهُمَا ثُمَّ صَلَّى رَكْعَتَيْنِ وَهُمَا دُونَ اللَّتَيْنِ قَبْلَهُمَا ثُمَّ أَوْتَرَ فَذَلِكَ ثَلاَثَ عَشْرَةَ رَكْعَةً.&lt;br /&gt;“Aku pernah memperhatikan shalat malam yang dilakukan oleh Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam. Beliau pun melaksanakan 2 raka'at ringan. Kemudian setelah itu beliau laksanakan 2 raka'at yang panjang-panjang. Kemudian beliau lakukan shalat 2 raka'at yang lebih ringan dari sebelumnya. Kemudian beliau lakukan shalat 2 raka'at lagi yang lebih ringan dari sebelumnya. Beliau pun lakukan shalat 2 raka'at yang lebih ringan dari sebelumnya. Kemudian beliau lakukan shalat 2 raka'at lagi yang lebih ringan dari sebelumnya. Lalu terakhir beliau berwitir sehingga jadilah beliau laksanakan shalat malam ketika itu 13 raka'at.”22 Ini berarti Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam melaksanakan witir dengan 1 raka'at.23&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari sini menunjukkan bahwa disunnahkan sebelum shalat malam, dibuka dengan 2 raka'at ringan terlebih dahulu. 'Aisyah mengatakan,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;كَانَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- إِذَا قَامَ مِنَ اللَّيْلِ لِيُصَلِّىَ افْتَتَحَ صَلاَتَهُ بِرَكْعَتَيْنِ خَفِيفَتَيْنِ.&lt;br /&gt;“Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam jika hendak melaksanakan shalat malam, beliau buka terlebih dahulu dengan melaksanakan shalat dua rak'at yang ringan.”24&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Bolehkah Menambahkan Raka'at Shalat Malam Lebih Dari 11 Raka'at?&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Al Qodhi 'Iyadh mengatakan,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;وَلَا خِلَاف أَنَّهُ لَيْسَ فِي ذَلِكَ حَدّ لَا يُزَاد عَلَيْهِ وَلَا يَنْقُص مِنْهُ ، وَأَنَّ صَلَاة اللَّيْل مِنْ الطَّاعَات الَّتِي كُلَّمَا زَادَ فِيهَا زَادَ الْأَجْر ، وَإِنَّمَا الْخِلَاف فِي فِعْل النَّبِيّ صَلَّى اللَّه عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَمَا اِخْتَارَهُ لِنَفْسِهِ&lt;br /&gt;“Tidak ada khilaf bahwa tidak ada batasan jumlah raka'at dalam shalat malam, tidak mengapa ditambah atau dikurang. Alasannya, shalat malam adalah bagian dari ketaatan yang apabila seseorang menambah jumlah raka'atnya maka bertambah pula pahalanya. Jika dilakukan seperti ini, maka itu hanya menyelisihi perbuatan Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam dan menyelisihi pilihan yang beliau pilih untuk dirinya sendiri.”25&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ibnu 'Abdil Barr mengatakan,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;فلا خلاف بين المسلمين أن صلاة الليل ليس فيها حد محدود وأنها نافلة وفعل خير وعمل بر فمن شاء استقل ومن شاء استكثر&lt;br /&gt;“Tidak ada khilaf di antara kaum muslimin bahwa shalat malam tidak ada batasan raka'atnya. Shalat malam adalah shalat nafilah (shalat sunnah) dan termasuk amalan kebaikan. Seseorang boleh semaunya mengerjakan dengan jumlah raka'at yang sedikit atau pun banyak.”26&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Adapun dalil yang menunjukkan bolehnya menambah lebih dari 11 raka'at, di antaranya:&lt;br /&gt;Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam ditanya mengenai shalat malam, beliau menjawab,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;صَلاَةُ اللَّيْلِ مَثْنَى مَثْنَى ، فَإِذَا خَشِىَ أَحَدُكُمُ الصُّبْحَ صَلَّى رَكْعَةً وَاحِدَةً ، تُوتِرُ لَهُ مَا قَدْ صَلَّى&lt;br /&gt;“Shalat malam itu dua raka'at-dua raka'at. Jika salah seorang di antara kalian takut masuk waktu shubuh, maka kerjakanlah satu raka'at. Dengan itu berarti kalian menutup shalat tadi dengan witir.”27 Padahal ini dalam konteks pertanyaan. Seandainya shalat malam itu ada batasannya, tentu Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam akan menjelaskannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lalu bagaimana dengan hadits 'Aisyah,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;مَا كَانَ يَزِيدُ فِى رَمَضَانَ وَلاَ غَيْرِهِ عَلَى إِحْدَى عَشْرَةَ رَكْعَةً&lt;br /&gt;“Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam tidak pernah menambah shalat malam di bulan Ramadhan dan bulan lainnya lebih dari 11 raka'at. ”28&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jawabannya adalah sebagai berikut:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jika ingin mengikuti sunnah (ajaran) Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam, maka mestinya mencocoki beliau dalam jumlah raka'at shalat juga dengan tata cara shalatnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sedangkan shalat yang paling bagus, kata Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam adalah,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;أَفْضَلُ الصَّلاَةِ طُولُ الْقُنُوت&lt;br /&gt;“Shalat yang paling baik adalah yang paling lama berdirinya.”29&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun sekarang yang melakukan 11 raka'at demi mencontoh Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam tidak melakukan lama seperti beliau. Padahal jika kita ingin mencontoh jumlah raka'at yang dilakukan Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam seharusnya juga lama shalatnya pun sama.&lt;br /&gt;Sekarang pertanyaannya, manakah yang lebih utama melakukan shalat malam 11 raka'at dalam waktu 1 jam ataukah shalat malam 23 raka'at yang dilakukan dalam waktu dua jam atau tiga jam? &lt;div&gt;&lt;br /&gt;Yang satu mendekati perbuatan Nabi shallalahu 'alaihi wa sallam dari segi jumlah raka'at. Namun yang satu mendekati ajaran Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam dari segi lamanya. Manakah di antara kedua cara ini yang lebih baik?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jawabannya, tentu yang kedua yaitu yang shalatnya lebih lama dengan raka'at yang lebih banyak. Alasannya, karena pujian Allah terhadap orang yang waktu malamnya digunakan untuk shalat malam dan sedikit tidurnya. Allah Ta'ala berfirman,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;كَانُوا قَلِيلًا مِنَ اللَّيْلِ مَا يَهْجَعُونَ&lt;br /&gt;“Di dunia mereka sedikit sekali tidur diwaktu malam.” (QS. Adz Dzariyat: 17)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;وَمِنَ اللَّيْلِ فَاسْجُدْ لَهُ وَسَبِّحْهُ لَيْلًا طَوِيلًا&lt;br /&gt;“Dan pada sebagian dari malam, maka sujudlah kepada-Nya dan bertasbihlah kepada-Nya pada bagian yang panjang dimalam hari.” (QS. Al Insan: 26)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Oleh karena itu, para ulama ada yang melakukan shalat malam hanya dengan 11 raka'at namun dengan raka'at yang panjang. Ada pula yang melakukannya dengan 20 raka'at atau 36 raka'at. Ada pula yang kurang atau lebih dari itu. Mereka di sini bukan bermaksud menyelisihi ajaran Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam. Namun yang mereka inginkan adalah mengikuti maksud Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam yaitu dengan mengerjakan shalat malam dengan thulul qunut (berdiri yang lama).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;Sampai-sampai sebagian ulama memiliki perkataan yang bagus, “Barangsiapa yang ingin memperlama berdiri dan membaca surat dalam shalat malam, maka ia boleh mengerjakannya dengan raka'at yang sedikit. Namun jika ia ingin tidak terlalu berdiri dan membaca surat, hendaklah ia menambah raka'atnya.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mengapa ulama ini bisa mengatakan demikian? Karena yang jadi patokan adalah lama berdiri di hadapan Allah ketika shalat malam. -Demikianlah faedah yang kami dapatkan dari penjelasan Syaikh Musthofa Al 'Adawi dalam At Tarsyid-30&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Qodho' bagi yang Luput dari Shalat Tahajud karena Udzur&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bagi yang luput dari shalat tahajud karena udzur seperti ketiduran atau sakit, maka ia boleh mengqodho'nya di siang hari sebelum Zhuhur.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;'Aisyah mengatakan,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- كَانَ إِذَا فَاتَتْهُ الصَّلاَةُ مِنَ اللَّيْلِ مِنْ وَجَعٍ أَوْ غَيْرِهِ صَلَّى مِنَ النَّهَارِ ثِنْتَىْ عَشْرَةَ رَكْعَةً.&lt;br /&gt;“Sesungguhnya Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam, jika beliau luput dari shalat malam karena tidur atau udzur lainnya, beliau mengqodho'nya di siang hari dengan mengerjakan 12 raka'at.”31&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;'Umar bin Khottob mengatakan bahwa Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;مَنْ نَامَ عَنْ حِزْبِهِ أَوْ عَنْ شَىْءٍ مِنْهُ فَقَرَأَهُ فِيمَا بَيْنَ صَلاَةِ الْفَجْرِ وَصَلاَةِ الظُّهْرِ كُتِبَ لَهُ كَأَنَّمَا قَرَأَهُ مِنَ اللَّيْلِ&lt;br /&gt;“Barangsiapa yang tertidur dari penjagaannya atau dari yang lainnya, lalu ia membaca apa yang biasa ia baca di shalat malam antara shalat shubuh dan shalat zhuhur, maka ia dicatat seperti membacanya di malam hari.”32&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Demikian pembahasan ringkas kami mengenai shalat tahajud. Kami masih akan membahas kiat-kiat bangun shalat tahajud dan panduan shalat witir -insya Allah-. Semoga Allah mudahkan.&lt;br /&gt;Semoga kita semakin terbimbing dengan sajian ringkas ini. Semoga Allah memudahkan kita untuk mengamalkan sekaligus merutinkannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Segala puji bagi Allah yang dengan nikmat-Nya segala kebaikan menjadi sempurna.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Penulis: Muhammad Abduh Tuasikal&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;Artikel Rumaysho.com&lt;br /&gt;Disempurnakan di Panggang-Gunung Kidul, 21 Muharram 1431 H&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Footnote:&lt;br /&gt;1 Lihat Shahih Fiqh Sunnah, Syaikh Abu Malik, 1/397, Al Maktabah At Taufiqiyah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2 Lihat Tafsir Al Qur'an Al 'Azhim, Ibnu Katsir, 13/212, Maktabah Al Qurthubah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3 Lihat Tafsir Al Qur'an Al 'Azhim, 12/115.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;4 Lihat Zaadul Masiir, Ibnul Jauzi, 7/166, Al Maktab Al Islami.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;5 HR. Muslim no. 1163, dari Abu Hurairah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;6 Al Minhaj Syarh Shahih Muslim bin Al Hajjaj, 8/55, Dar Ihya' At Turots Al 'Arobi, Beirut, 1392&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;7 Lathoif Al Ma'arif, Ibnu Rajab Al Hambali, hal. 77, Al Maktab Al Islami, cetakan pertama, tahun 1428 H.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;8 Lathoif Al Ma'arif, hal. 76.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;9 Idem.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;10 Lihat Al Irwa' no. 452. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadits ini hasan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;11 HR. Bukhari no. 3739, dari Hafshoh.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;12 Shahih. HR. Bukhari no. 1141, An Nasai no. 1627 (ini lafazh An Nasai), At Tirmidzi no. 769. Lihat Shahih wa Dho'if Sunan An Nasai, Syaikh Al Albani, 4/271, Asy Syamilah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;13 Fathul Bari, Ibnu Hajar Al 'Asqolani Asy Syafi'i, 3/23, Darul Ma'rifah Beirut, 1379.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;14 HR. Bukhari no. 1145 dan Muslim no. 758, dari Abu Hurairah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;15 Sebagaimana dijelaskan oleh penulis Shahih Fiqh Sunnah -Syaikh Abu Malik- bahwa puasa Daud ini boleh dilakukan dengan syarat tidak sampai melalaikan yang wajib-wajib dan tidak sampai melalaikan memberi nafkah kepada keluarga yang menjadi tanggungannya. Lihat Shahih Fiqh Sunnah, Syaikh Abu Malik, 2/138, Al Maktabah At Taufiqiyah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;16 HR. Bukhari no. 1131 dan Muslim no. 1159, dari 'Abdullah bin 'Amr.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;17 HR. Bukhari no. 1146, dari 'Aisyah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;18 HR. Ahmad 1/138. Syaikh Syu'aib Al Arnauth mengatakan bahwa sanad hadits ini shahih.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;19 HR. Ahmad 1/125. Syaikh Syu'aib Al Arnauth mengatakan bahwa sanad hadits ini shahih.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;20 HR. Bukhari no. 3569 dan Muslim no. 738.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;21 HR. Bukhari no. 1138 dan Muslim no. 764.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;22 HR. Muslim no. 765.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;23 Lihat Al Muntaqo Syarh Al Muwatho', 1/280, Mawqi' Al Islam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;24 HR. Muslim no. 767.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;25 Al Minhaj Syarh Shahih Muslim bin Al Hajjaj, An Nawawi, 6/19, Dar Ihya' At Turots Al Arobi Beirut, cetakan kedua, 1392.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;26 At Tamhid, Ibnu 'Abdil Barr, 21/69-70, Wizaroh Umum Al Awqof, 1387 dan Al Istidzkar, Ibnu 'Abdil Barr, 2/98, Darul Kutub Al 'Ilmiyyah, 1421 H.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;27 HR. Bukhari no. 990 dan Muslim no. 749, dari Ibnu 'Umar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;28 HR. Bukhari dan Muslim. Sudah lewat takhrijnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;29 HR. Muslim no. 756, dari Jabir.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;30 Lihat At Tarsyid, Syaikh Musthofa Al 'Adawi, hal. 146-149, Dar Ad Diya'.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;31 HR. Muslim no. 746.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;32 HR. Muslim no. 747.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2341110395006740809-856505660275698444?l=bertahajudlah.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://bertahajudlah.blogspot.com/feeds/856505660275698444/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://bertahajudlah.blogspot.com/2011/04/panduan-shalat-tahajud.html#comment-form' title='2 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2341110395006740809/posts/default/856505660275698444'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2341110395006740809/posts/default/856505660275698444'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://bertahajudlah.blogspot.com/2011/04/panduan-shalat-tahajud.html' title='Panduan Shalat Tahajud'/><author><name>Abu Rasya</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='25' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_Vu2uwPa37To/SwJVf4XAdFI/AAAAAAAAAEk/lhZhkq-B4QA/S220/Fatih-Sultan-Muhammad.jpg'/></author><thr:total>2</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2341110395006740809.post-194553938128885209</id><published>2011-01-31T10:03:00.001+07:00</published><updated>2011-01-31T10:04:24.584+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='sunnah'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='puasa'/><title type='text'>Puasa Sunnah dalam Setahun</title><content type='html'>Sungguh, puasa adalah amalan yang sangat utama. Di antara ganjaran puasa disebutkan dalam hadits berikut, “Setiap amalan kebaikan yang dilakukan oleh manusia akan dilipatgandakan dengan sepuluh kebaikan yang semisal hingga tujuh ratus kali lipat. Allah Ta’ala berfirman (yang artinya), “Kecuali amalan puasa. Amalan puasa tersebut adalah untuk-Ku. Aku sendiri yang akan membalasnya. Disebabkan dia telah meninggalkan syahwat dan makanan karena-Ku. Bagi orang yang berpuasa akan mendapatkan dua kebahagiaan yaitu kebahagiaan ketika dia berbuka dan kebahagiaan ketika berjumpa dengan Rabbnya. Sungguh bau mulut orang yang berpuasa lebih harum di sisi Allah daripada bau minyak kasturi” (HR. Muslim no. 1151).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Adapun puasa sunnah adalah amalan yang dapat melengkapi kekurangan amalan wajib. Selain itu pula puasa sunnah dapat meningkatkan derajat seseorang menjadi wali Allah yang terdepan (as saabiqun al muqorrobun).[1] Lewat amalan sunnah inilah seseorang akan mudah mendapatkan cinta Allah. Sebagaimana disebutkan dalam hadits qudsi, “Hamba-Ku senantiasa mendekatkan diri pada-Ku dengan amalan-amalan sunnah sehingga Aku mencintainya. Jika Aku telah mencintainya, maka Aku akan memberi petunjuk pada pendengaran yang ia gunakan untuk mendengar, memberi petunjuk pada penglihatannya yang ia gunakan untuk melihat, memberi petunjuk pada tangannya yang ia gunakan untuk memegang, memberi petunjuk pada kakinya yang ia gunakan untuk berjalan. Jika ia memohon sesuatu kepada-Ku, pasti Aku mengabulkannya dan jika ia memohon perlindungan, pasti Aku akan melindunginya” (HR. Bukhari no. 2506).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada kesempatan kali ini, Buletin At Tauhid mencoba mengangkat pembahasan puasa sunnah yang bisa diamalkan sesuai tuntunan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Semoga bermanfaat.&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Puasa Senin Kamis&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Berbagai amalan dihadapkan (pada Allah) pada hari Senin dan Kamis, maka aku suka jika amalanku dihadapkan sedangkan aku sedang berpuasa.” (HR. Tirmidzi no. 747. Shahih dilihat dari jalur lainnya).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha, beliau mengatakan, “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam biasa menaruh pilihan berpuasa pada hari senin dan kamis.” (HR. An Nasai no. 2360 dan Ibnu Majah no. 1739. Shahih)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Puasa Tiga Hari Setiap Bulan Hijriyah&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dianjurkan berpuasa tiga hari setiap bulannya, pada hari apa saja. Mu’adzah bertanya pada ‘Aisyah, “Apakah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam berpuasa tiga hari setiap bulannya?” ‘Aisyah menjawab, “Iya.” Mu’adzah lalu bertanya, “Pada hari apa beliau melakukan puasa tersebut?” ‘Aisyah menjawab, “Beliau tidak peduli pada hari apa beliau puasa (artinya semau beliau).” (HR. Tirmidzi no. 763 dan Ibnu Majah no. 1709. Shahih)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun, hari yang utama untuk berpuasa adalah pada hari ke-13, 14, dan 15 dari bulan Hijriyah yang dikenal dengan ayyamul biid.[2] Dari Ibnu ‘Abbas radhiyallahu ‘anhuma, beliau berkata, “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam biasa berpuasa pada ayyamul biidh ketika tidak bepergian maupun ketika bersafar.” (HR. An Nasai no. 2345. Hasan). Dari Abu Dzar, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda padanya, “Jika engkau ingin berpuasa tiga hari setiap bulannya, maka berpuasalah pada tanggal 13, 14, dan 15 (dari bulan Hijriyah).” (HR. Tirmidzi no. 761 dan An Nasai no. 2424. Hasan)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Puasa Daud&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Puasa yang paling disukai oleh Allah adalah puasa Nabi Daud. Shalat yang paling disukai Allah adalah Shalat Nabi Daud. Beliau biasa tidur separuh malam, dan bangun pada sepertiganya, dan tidur pada seperenamnya. Beliau biasa berbuka sehari dan berpuasa sehari.” (HR. Bukhari no. 3420 dan Muslim no. 1159)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Cara melakukan puasa Daud adalah sehari berpuasa dan sehari tidak. Syaikh Muhammad bin Sholih Al ‘Utsaimin rahimahullah mengatakan, “Puasa Daud sebaiknya hanya dilakukan oleh orang yang mampu dan tidak merasa sulit ketika melakukannya. Jangan sampai ia melakukan puasa ini sampai membuatnya meninggalkan amalan yang disyari’atkan lainnya. Begitu pula jangan sampai puasa ini membuatnya terhalangi untuk belajar ilmu agama. Karena ingat, di samping puasa ini masih ada ibadah lainnya yang mesti dilakukan. Jika banyak melakukan puasa malah membuat jadi lemas, maka sudah sepantasnya tidak memperbanyak puasa. … Wallahul Muwaffiq.”[3]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Puasa di Bulan Sya’ban&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;‘Aisyah radhiyallahu ‘anha mengatakan, “Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak biasa berpuasa pada satu bulan yang lebih banyak dari bulan Sya’ban. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam biasa berpuasa pada bulan Sya’ban seluruhnya.” (HR. Bukhari no. 1970 dan Muslim no. 1156). Yang dimaksud di sini adalah berpuasa pada mayoritas harinya (bukan seluruh harinya[4]) sebagaimana diterangkan oleh Az Zain ibnul Munir.[5] Para ulama berkata bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak menyempurnakan berpuasa sebulan penuh selain di bulan Ramadhan agar tidak disangka puasa selain Ramadhan adalah wajib.[6]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Puasa Enam Hari di Bulan Syawal&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Barangsiapa yang berpuasa Ramadhan kemudian berpuasa enam hari di bulan Syawal, maka dia seperti berpuasa setahun penuh.” (HR. Muslim no. 1164)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Puasa di Awal Dzulhijah&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari Ibnu ‘Abbas, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Tidak ada satu amal sholeh yang lebih dicintai oleh Allah melebihi amal sholeh yang dilakukan pada hari-hari ini (yaitu 10 hari pertama bulan Dzul Hijjah).” Para sahabat bertanya: “Tidak pula jihad di jalan Allah?” Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab: “Tidak pula jihad di jalan Allah, kecuali orang yang berangkat jihad dengan jiwa dan hartanya namun tidak ada yang kembali satupun.” (HR. Abu Daud no. 2438, At Tirmidzi no. 757, Ibnu Majah no. 1727, dan Ahmad no. 1968. Shahih). Keutamaan sepuluh hari awal Dzulhijah berlaku untuk amalan apa saja, tidak terbatas pada amalan tertentu, sehingga amalan tersebut bisa shalat, sedekah, membaca Al Qur’an, dan amalan sholih lainnya.[7] Di antara amalan yang dianjurkan di awal Dzulhijah adalah amalan puasa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari Hunaidah bin Kholid, dari istrinya, beberapa istri Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam mengatakan, “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam biasa berpuasa pada sembilan hari awal Dzulhijah, pada hari ‘Asyura’ (10 Muharram), berpuasa tiga hari setiap bulannya[8], …” (HR. Abu Daud no. 2437. Shahih).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Puasa ‘Arofah&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Puasa ‘Arofah ini dilaksanakan pada tanggal 9 Dzulhijjah. Abu Qotadah Al Anshoriy berkata, “Nabi shallallahu ’alaihi wa sallam ditanya mengenai keutamaan puasa ‘Arofah? Beliau menjawab, ”Puasa ‘Arofah akan menghapus dosa setahun yang lalu dan setahun yang akan datang.” Beliau juga ditanya mengenai keistimewaan puasa ’Asyura? Beliau menjawab, ”Puasa ’Asyura akan menghapus dosa setahun yang lalu” (HR. Muslim no. 1162). Sedangkan untuk orang yang berhaji tidak dianjurkan melaksanakan puasa ‘Arofah. Dari Ibnu ‘Abbas, beliau berkata,  “Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak berpuasa ketika di Arofah. Ketika itu beliau disuguhkan minuman susu, beliau pun meminumnya.” (HR. Tirmidzi no. 750. Hasan shahih).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Puasa ‘Asyura&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Puasa yang paling utama setelah (puasa) Ramadhan adalah puasa pada bulan Allah – Muharram. Sementara shalat yang paling utama setelah shalat wajib adalah shalat malam.” (HR. Muslim no. 1163). An Nawawi -rahimahullah- menjelaskan, “Hadits ini merupakan penegasan bahwa sebaik-baik bulan untuk berpuasa adalah pada bulan Muharram.”[9]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Keutamaan puasa ‘Asyura sebagaimana disebutkan dalam hadits Abu Qotadah di atas. Puasa ‘Asyura dilaksanakan pada tanggal 10 Muharram. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bertekad  di akhir umurnya untuk melaksanakan puasa ‘Asyura tidak bersendirian, namun diikutsertakan dengan puasa pada hari sebelumnya (9 Muharram). Tujuannya adalah untuk menyelisihi puasa ‘Asyura yang dilakukan oleh Ahlul Kitab.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ibnu Abbas radhiyallahu ’anhuma berkata bahwa ketika Nabi shallallahu ’alaihi wa sallam melakukan puasa hari ’Asyura dan memerintahkan kaum muslimin untuk melakukannya, pada saat itu ada yang berkata, “Wahai Rasulullah, hari ini adalah hari yang diagungkan oleh Yahudi dan Nashrani.” Lantas beliau mengatakan, “Apabila tiba tahun depan –insya Allah (jika Allah menghendaki)- kita akan berpuasa pula pada hari kesembilan.” Ibnu Abbas mengatakan, “Belum sampai tahun depan, Nabi shallallahu ’alaihi wa sallam sudah keburu meninggal dunia.” (HR. Muslim no. 1134).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketentuan dalam Melakukan Puasa Sunnah&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pertama: Boleh berniat puasa sunnah setelah terbit fajar jika belum makan, minum dan selama tidak melakukan hal-hal yang membatalkan puasa. Berbeda dengan puasa wajib maka niatnya harus dilakukan sebelum fajar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha, ia berkata, “Pada suatu hari, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menemuiku dan bertanya, “Apakah kamu mempunyai makanan?” Kami menjawab, “Tidak ada.” Beliau berkata, “Kalau begitu, saya akan berpuasa.” Kemudian beliau datang lagi pada hari yang lain dan kami berkata, “Wahai Rasulullah, kita telah diberi hadiah berupa Hais (makanan yang terbuat dari kura, samin dan keju).” Maka beliau pun berkata, “Bawalah kemari, sesungguhnya dari tadi pagi tadi aku berpuasa.” (HR. Muslim no. 1154). An Nawawi memberi judul dalam Shahih Muslim, “Bab: Bolehnya melakukan puasa sunnah dengan niat di siang hari sebelum waktu zawal (bergesernya matahari ke barat) dan bolehnya membatalkan puasa sunnah meskipun tanpa udzur. ”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kedua: Boleh menyempurnakan atau membatalkan puasa sunnah. Dalilnya adalah hadits ‘Aisyah diatas. Puasa sunnah merupakan pilihan bagi seseorang ketika ia ingin memulainya, begitu pula ketika ia ingin meneruskan puasanya. Inilah pendapat dari sekelompok sahabat, pendapat Imam Ahmad, Ishaq, dan selainnya. Akan tetapi mereka semua, termasuk juga Imam Asy Syafi’i bersepakat bahwa disunnahkan untuk tetap menyempurnakan puasa tersebut.[10]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketiga: Seorang istri tidak boleh berpuasa sunnah sedangkan suaminya bersamanya kecuali dengan seizin suaminya. Dari Abu Hurairah, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Janganlah seorang wanita berpuasa sedangkan suaminya ada kecuali dengan seizinnya.” (HR. Bukhari no. 5192 dan Muslim no. 1026)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;An Nawawi rahimahullah menjelaskan, “Yang dimaksudkan dalam hadits tersebut adalah puasa sunnah yang tidak terikat dengan waktu tertentu. Larangan yang dimaksudkan dalam hadits di atas adalah larangan haram, sebagaimana ditegaskan oleh para ulama Syafi’iyah. Sebab pengharaman tersebut karena suami memiliki hak untuk bersenang-senang dengan istrinya setiap harinya. Hak suami ini wajib ditunaikan dengan segera oleh istri. Dan tidak bisa hak tersebut terhalang dipenuhi gara-gara si istri melakukan puasa sunnah atau puasa wajib yang sebenarnya bisa diakhirkan.”[11] Beliau rahimahullah menjelaskan pula, “Adapun jika si suami bersafar, maka si istri boleh berpuasa. Karena ketika suami tidak ada di sisi istri, ia tidak mungkin bisa bersenang-senang dengannya.”[12]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Semoga Allah beri taufik untuk beramal sholih.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Penulis: Muhammad Abduh Tuasikal&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Artikel www.muslim.or.id&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[1] Lihat Al furqon baina awliyair rohman wa awliyaisy syaithon, Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah, hal. 51, Maktabah Ar Rusyd, cetakan kedua, tahun 1424 H.&lt;br /&gt;[2] Hari ini disebut dengan ayyamul biid (biid = putih, ayyamul = hari) karena pada malam ke-13, 14, dan 15 malam itu bersinar putih dikarenakan bulan purnama yang muncul pada saat itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[3] Syarh Riyadhus Sholihin, Syaikh Muhammad bin Sholih Al Utsaimin, 3/470, Darul Kutub Al ‘Ilmiyah, cetakan ketiga, 1424 H&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[4] Karena kadang kata seluruh (kullu) dalam bahasa Arab bermakna mayoritas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[5] Lihat Nailul Author, Muhammad bin ‘Ali Asy Syaukani, 4/621, Idarotuth Thob’ah Al Muniroh.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[6] Al Minhaj Syarh Shahih Muslim, Yahya bin Syarf An Nawawi, 8/37, Dar Ihya’ At Turots, cetakan kedua, 1392.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[7] Lihat Tajridul Ittiba’, Syaikh Ibrahim bin ‘Amir Ar Ruhailiy, hal. 116, 119-121, Dar Al Imam Ahmad.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[8] Yang jadi patokan di sini adalah bulan Hijriyah, bukan bulan Masehi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[9] Al Minhaj Syarh Shahih Muslim, 8/55.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[10] Al Minhaj Syarh Shahih Muslim, 8/35.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[11] Al Minhaj Syarh Shahih Muslim, 7/115.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[12] Idem.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2341110395006740809-194553938128885209?l=bertahajudlah.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://bertahajudlah.blogspot.com/feeds/194553938128885209/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://bertahajudlah.blogspot.com/2011/01/puasa-sunnah-dalam-setahun.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2341110395006740809/posts/default/194553938128885209'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2341110395006740809/posts/default/194553938128885209'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://bertahajudlah.blogspot.com/2011/01/puasa-sunnah-dalam-setahun.html' title='Puasa Sunnah dalam Setahun'/><author><name>Abu Rasya</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='25' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_Vu2uwPa37To/SwJVf4XAdFI/AAAAAAAAAEk/lhZhkq-B4QA/S220/Fatih-Sultan-Muhammad.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2341110395006740809.post-436529156521487055</id><published>2010-11-16T05:20:00.001+07:00</published><updated>2010-11-16T05:22:28.122+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='jil'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='yahudi'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='jaringan islam liberal'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='media'/><title type='text'>Media Barat Terus Terusan Mengsetankan Islam</title><content type='html'>Oleh Ainuddin Chalik*&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;SIAPA pun yang sadar tak memungkiri, bahwa media dikuasai Amerika, ditunggangi gerakan zionis Yahudi internasional di belakangnya. Media adalah alat propaganda. Bagi siapa pun, ia penting untuk dikuasai.&lt;br /&gt;Aksi propaganda melalui media tidak saja terjadi di film-film produksi Hollywood, yang memang lebih banyak mengumbar hegemoni dan teknologi Amerika untuk unjuk gigi keadikuasaannya. Film serial James Bond, Tomorrow Never Dies adalah salah satu contoh besarnya peran senjata yang bernama media.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di film ini diceritakan, si agen M16 ini menghadapi kelompok teroris yang dipimpin Elliot Carver. Carver melancarkan teror kepada dunia bukan dengan senjata api yang bisa meluluhlantakkan bangunan bangunan. Tapi dengan senjata mandraguna; Informasi!!.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Diceritakan dalam film ini, sang teroris adalah penguasa media yang punya jaringan koran besar berskala internasional bernama Carver Media Group Network. Koran itu sering memuat berita-berita panas soal politik yang menyulut perang antarnegara. Padahal, semua kejadian politik itu adalah desain Carver yang menggunakan media massa sebagai alat propaganda untuk menjatuhkan suatu pemerintahan negara tertentu&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Media adalah senjata dan berita adalah mesiu," kata Carver pada Bond.&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Stanley Adi Prasetyo, Wartawan senior, pendiri sekaligus anggota Majelis Etik, Aliansi Jurnalis Independen (AJI), menulis dalam artikelnya berjudul Media Sebagai Alat Propaganda, disimpulkan bahwa di tangan yang salah, media bisa menjadi alat propaganda.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Media Adalah Senjata&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Peran media kontra Islam pada invasi Israel ke Palestina tahun 2008 lalu sangat terasa. Bagaimana sikap ambigu yang ditunjukkan para pemimpin Arab menyikapi tragedi di Gaza Palestina kala itu. Mesir yang notabene adalah negara paling dekat dan berbatasan dengan Gaza tidak mau membuka perbatasannya di Raffah. Begitu juga dengan Jordan, mereka secara geografis termasuk yang dekat dengan Gaza, hanya karena terikat perjanjian dengan Israel, mereka tega membiarkan umat Islam di Gaza terbantai oleh para agresor tersebut.&lt;br /&gt;Tapi tak ada yang mengejutkan dalam hal ini; orang-orang Israel sudah memperkirakan semua opini media massa terhadap aksinya, juga karena yang terpenting, Israel sudah jauh-jauh hari (selama enam bulan lebih) membuat kerja sama dengan negara-negara Arab.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nir Rosen, Wartawan AS keturunan Iran, Pengarang buku "The Triumph of the Martyrs: A Reporter's Journey into Occupied Iraq" dalam laporannya di Aljazeera, menulis:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sementara militer Israel khusyuk membombardir 1,5 juta penduduk Gaza, media menyaksikan sebuah dilema simalakama—karena di satu sisi mereka terluka mengabarkan semua itu, namun di sisi lainnya, mereka juga berusaha mencari-cari pembenaran atas ulah sang agresor barbar itu. (http://english.aljazeera.net/focus/2008/12/20081230122143645275.html).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Beberapa perusahaan media raksasa yang dimiliki oleh orang Yahudi seperti: Time Warner, merupakan konglomerasi media terbesar di dunia. Bekerjasama dengan AOL membentuk AOL-Warner. Yang masuk ke dalam Warner adalah Time Inc, HBO, Cinemax termasuk juga CNN yang dibeli dari Ted Turner. Raja konglomerasi media lainnya adalah Rupert Murdoch. Pemilik News Corporation yang meliputi Fox Television Network, Fox News, the FX Channel, 20th Century Fox Films, Fox 2000, dan penerbit Harper Collins. News Corp.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kantor-kantor berita raksasa yang dikuasai Yahudi antara lain Reuter (didirikan di Jerman oleh Julius Paul Reuter, seorang Yahudi kelahiran Jerman bernama asal Israel Beer Josaphat, lalu pindah ke Paris dan pindah lagi ke London), Associated Press (AP) yang berpusat di Amerika Serikat, dan United Press International (UPI) juga di AS.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di Amerika, koran-koran juga dikuasai oleh Yahudi antara lain Wall Street Journal, Daily News, New York Times, The Washington Post, The Times Herald, dan lain-lain. Dua majalah kaliber dunia, Time dan Newsweek juga dikuasai orang-orang Yahudi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tidak hanya itu, orang-orang Yahudi juga mendominasi perfilman internasional dan jaringan TV internasional (ABC, CBS, NBS). Perusahaan-perusahaan film yang didominasi mereka antara lain Fox Company, Golden Campany, Metro Company, Warner &amp; Broos Company, dan Paramaount Company. (http://www.inminds.com/boycott-aol.htmlelas terang benderang bahwa dunia informasi bukan hanya di Ameri, http://www.inminds.com/boycott-news-corporation.html)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan, masih banyak lagi. Berangkat dari fakta ini terlihat jka, tetapi di seluruh dunia telah dikuasai oleh Yahudi. Akhir dari agenda mereka adalah membentuk Tata Dunia Baru (The New World Order) di mana mereka menjadi majikan bagi semua Ghoyim (non-zionis) yang ada di muka bumi. Tujuan akhir dari gerakan ini dipahat dalam lambang negara AS dengan kalimat "Novus Ordo Seclorum".&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Penyetanan Wajah Islam&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Asep Syamsul M. Romli, S.IP dalam bukunya Demonologi Islam, Upaya Barat Membasmi Kekuatan Islam (GIP, 2000), menjelaskan bahwa demonologi Islam adalah penggambaran atau pencitraan Islam sebagai demon (setan, iblis, atau hantu) yang jahat (evil) dan kejam (cruel). Ia juga bisa berarti perekayasaan sistematis untuk menempatkan Islam dan umatnya agar dipandang sebagai ancaman yang sangat menakutkan.&lt;br /&gt;Romli menjelaskan bahwa istilah demonologi memang jarang sekali digunakan, bahkan hanya kamus-kamus bahasa Inggris tertentu yang memuat istilah tersebut. Kamus terkenal, Kamus Inggris-Indonesia karya John M. Echols dan Hassan Shadily (1976) misalnya, hanya memasukkan kata demon yang berarti (1) setan, iblis, jin, dan (2) orang yang keranjingan tentang sesuatu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Istilah demonology dapat ditemukan dalam The Concise Standard English Dictionary karya Collins Concise terbitan Glasgow &amp; London. Dalam kamus tersebut, demonology diartikan sebagai study of demons (studi tentang setan, iblis, atau hantu). Kata demon-nya sendiri diartikan sebagai a devil; a person of preternatural cruelty or evil character (setan; seseorang yang kekejamannya di luar batas kewajaran atau sifat-sifat jahat).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lebih lanjut menurut Romli, arti lebih lengkap tentang demonology dapat ditemukan pada Merriam Webster's Collegiate Dictionary (1993). Disebutkan, demonology berarti (1) the study of demons or evil spirits (studi tentang setan atau semangat kejahatan), (2) belief in demons: a doctrine of evil spirits (kepercayaan kepada setan: doktrin tentang semangat kejahatan), dan (3) a catalog of enemies (daftar musuh).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Demonologi Islam dilakukan oleh pihak Barat (kaum Zionis Yahudi dan Salibis) yang memandang Islam sebagai ancaman bagi kepentingan mereka. Demonologi Islam menjadi bagian dari strategi Barat untuk meredam kekuatan Islam, yang mereka sebut sebagai The Green Menace (Bahaya Hijau).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Proses demonologi berlangsung melalui pencitraan negatif tentang Islam dan para pejuangnya, melalui penjulukan-penjulukan terorisme, fundamentalisme yang dipopulerkan media massa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan cara itu, Barat berupaya menenggelamkan citra Islam sebagai rahmatan lil 'alamien dan sistem hidup (way of life) terbaik untuk umat manusia, membuat masyarakat dunia memusuhi dan memerangi Islam, dan menumbuhkembangkan Islamophobia atau ketakutan terhadap Islam, sekaligus mencegah dan menindas kebangkitan Islam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Penguasaan dan penjajahan media massa oleh Zionis-Salibis inilah yang memudahkan mereka melakukan demonologi Islam, atau "penyetanan wajah Islam", untuk membentuk pendapat umum tentang Islam sebagai umat yang berbahaya, ekstrimis, fundamentalis, dan teroris.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Keterlibatan Islam Liberal&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;A. Fatih Syuhud, Sarjana Ilmu Politik dari Agra University, India, dalam tulisannya "Amerika dan Islam Liberal" yang dimuat Harian Pelita Jakarta, 11 Juli 2005, menguak beberapa fakta dari sebuah dokumen setebal 525 halaman yang dirilis oleh think tank neo-konservatif AS yang sangat berpengaruh dan banyak mendukung kebijakan gedung putih, RAND Corporation, yang disiapkan khusus untuk Angkatan Udara (AU) AS.&lt;br /&gt;Dokumen yang berjudul: Muslim World After 9/11, itu menggarisbawahi strategi AS yang akan mengurangi kondisi yang dapat menciptakan ekstremisme politik dan agama dan sikap anti-AS di kalangan komunitas Muslim dunia. Di dalam dokumen ini menganjurkan AS agar menciptakan dan mendukung jaringan Islam liberal yang terdiri dari Muslim moderat internasional yang nantinya dapat menantang legitimasi klaim kalangan Islamis radikal untuk berbicara atas nama Islam, dan menawarkan sebuah pemahaman agama yang liberal.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dokumen ini, lanjut Syuhud, mengingatkan bahwa kelompok Islam liberal mungkin kekurangan sumber dana yang diperlukan untuk membentuk jaringan besar dan karena itu meminta AS untuk mendanai berbagai aktivitas kalangan ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tentu saja kalangan Islam liberal yang hendak dibantu tersebut diharapkan untuk memfokuskan kritik mereka pada kalangan Islamis radikal, dan mungkin, diminta untuk tetap diam manis dalam berbagai kesalahan kebijakan luar negeri AS, atau kehilangan bantuan dana sebagai taruhannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Oleh karena itu, apa yang harus dilakukan AS adalah mencari jalan untuk menetralisir kalangan ekstremis dengan bantuan Muslim moderat, tanpa perlu membuat perubahan struktrual apapun dalam segi kebijakan ekonomi, politik dan strategi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan menganggap problema ekstremisme sebagai murni diciptakan oleh Islamis jahat, maka dokumen ini hanya terfokus pada isu ekstremisme atas nama Islam, sementara tak satu pun menyebut ekstremisme lain yang tidak kecil yang dilakukan oleh fundamentalis Yahudi dan Kristen. Laporan ini juga tidak menyebut sama sekali dukungan Amerika atas Islamis radikal pada masa lalu (seperti di Afghanistan untuk melawan Soviet) atau atas kelompok Muslim konservatif dalam upaya mengalahkan pengaruh kalangan kiri, nasionalis, dan anti-imperialis.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Analisa Fatih Syuhud ini terbukti. Betapa tidak, berikut ini mungkin adalah salah satu suara bagaimana lantangnya pegiat Islam liberal di Indonesia menjadi corong kepentingan agenda AS tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seperti pada kutipan tulisan Ulil Abshar Abdalla (Kordinator JIL) di posting milis Islam Liberal yang juga sempat diberitakan media beberapa waktu silam:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Yang mengganggu saya adalah umat Islam saat ini protes dengan begitu gigihnya terhadap pencaplokan Israel atas tanah Palestina, tetapi tidak pernah sedikit pun terganggu dengan masa lampau mereka yang penuh dengan agresi dan aksi pencaplokan pula. Apa yang diambil Israel saat ini dari tanah Palestina tak ada apa-apanya dibanding dengan luasnya wilayah yang ditaklukkan oleh umat Islam di masa lampau".&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Entah kenapa, kenapa seorang Ulil merasa terganggu dengan sikap ummat Islam yang melancarkan protes terhadap Israel yang jelas jelas adalah penjajah yang tidak mau mendengar siapa pun.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tentang fakta Israel tidak mau mendengar, ini bukan meracau. Mungkin masih segar dalam ingatan ketika Perdana Menteri Turki, Recep Tayyip Erdogan, hadir di Davos, Swiss, Kamis (29/01/2009) sebagai pembicara dalam panel diskusi pada hari kedua Forum Ekonomi Dunia (WEF). Saat itu, David Ignatius, kolumnis harian The Washington Post, keturunan Yahudi yang terlahir pada 26 Mei 1950, hanya memberinya waktu semenit untuk menginterupsi pernyataan monolog yang panjang lebar dari Presiden Israel Shimon Peres mengenai alasan serangan militer tiga pekan Israel ke Gaza.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Agresi itu, dalihnya, untuk membela diri atas delapan tahun hujan roket yang dilancarkan Hamas ke wilayah negara zionis itu. Erdogan jelas sangat kesal diperlakukan tidak adil seperti itu. ''Kalian Israel memang tak pernah mau mendengarkan,'' kata Erdogan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ini kondisi yang menyedihkan sebetulnya. Di saat umat Islam sedang di bombardir habis habisan dari luar dengan penggambaran atau pencitraan Islam yang konservatif, radikal, teroris, ekstrim, sadis, masuk pula serangan dari dalam umat Islam sendiri dengan berusaha menanamkan pola fikir liberalisme, pluralisme, relativisme, nihilisme, feminisme-gender, humanisme dan non apologetik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Secara keseluruhan memang, tulisan Ulil yang cukup panjang ini tampak sekali menyeru umat Islam untuk bisa lebih toleran dan welcome dalam menyikapi krisis Palestina ini. Tapi Islam tidak mungkin masuk ke wilayah pemikiran ala oreintalis yang bias itu. Islam punya word view (pandangan hidup) sendiri yang holistik yang tidak perlu mengadopsi peradaban Barat sebagai "jalan kebenaran" yang meanstreamnya lebih kepada nilai liberatif yang sangat absurd itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Armada Riyanto, Ketua Sekolah Tinggi Filsafat Teologi Widya Sasana, Malang, seperti dimuat di Koran Kompas 12 April 2008, dengan jelas mengetengahkan fakta absurditas libertarian. Etika libertarian, kata Riyanto, bukan ilusi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perspektif libertarian, kata dia, adalah memproduksi "kegilaan" aneka imajinasi, keputusan, tindakan yang secara nyata memorakporandakan tata nilai tradisional kehidupan bersama. Atas nama libertas, manusia seolah ada dalam ruang kosong eksploitasi dengan resiko apa saja, termasuk kemungkinan menghina atau menyakiti orang lain. Konsep kebebasan yang selfish ini menuai kepuasan semu individual, tetapi menjarah rasa hormat komunitas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dasar persfektif etika libertarian ini, lanjut Riyanto, adalah homo liber, manusia bebas. Kebebasan menjadi pondasi nilai. Namun, pada saat yang sama kebebasan dimaknai sebagai ruang kosong sehingga apa yang disebut baik atau buruk ada dalam ranah buram. Yang penting, manusia bebas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Membangun Kekuatan Media&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sejak perkembangan Islam, komunikasi media memang sudah menjadi tradisi. Rasulullah SAW sendiri yang memulainya dan langsung memberi contoh. Saat itu, berdakwah hanya bil lisan, dirasa sudah tidak cukup. Melalui media dakwah bil qolam-lah, yang saat itu berupa perantara surat dan tulisan, sebagian besar raja raja dan kepala suku di sekitar jazirah Arab menjadi penganut Islam.&lt;br /&gt;Tradisi ini pun tetap bertahan hingga kekhalifahan pelanjutnya. Namun pada perjalanan selanjutnya, tradisi ini mulai mengalami pergeseran dan pelan pelan meredup.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari perjalanan sejarah itu, seorang muslim hendaknya sadar bahwa sesungguhnya umat Islamlah yang menguasai media. Namun, itu tidak untuk saat ini. Kini justru Islam adalah korban media. Terus ditimpuki dan digebuki. Akhir-akhir ini Islam kerap distigmtisasi dan dilabeli julukan yang nista dan tak terpuji.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Agar kita tak terus tercekoki berbagai macam informasi sampah, yang terpenting kita lakukan saat ini adalah selalu melakukan proses tabayyun (check and recheck) terhadap berbagai berita yang berseliweran di tengah-tengah kita. Sudah selayaknya kita lebih cermat dan teliti dalam memilih berita dari sumber-sumber yang menurut dugaan kita bisa dipercaya dan bertanggungjawab.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Untuk itu kehadiran media media Islam yang berpengaruh menjadi kebutuhan yang sangat mendesak. Dan, patut disadari, kaum muda Islam dan muslimin adalah pemain inti yang harus terlibat dalam tarung dahsyat ini. Media adalah senjata.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Media adalah senjata dan berita adalah mesiu," begitu kata Carver. (*)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;*Penulis adalah peminat masalah sosial kemasyarakatan dan agama.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sumber: http://www.hidayatullah.com/&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2341110395006740809-436529156521487055?l=bertahajudlah.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://bertahajudlah.blogspot.com/feeds/436529156521487055/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://bertahajudlah.blogspot.com/2010/11/media-barat-terus-terusan-mengsetankan.html#comment-form' title='1 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2341110395006740809/posts/default/436529156521487055'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2341110395006740809/posts/default/436529156521487055'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://bertahajudlah.blogspot.com/2010/11/media-barat-terus-terusan-mengsetankan.html' title='Media Barat Terus Terusan Mengsetankan Islam'/><author><name>Abu Rasya</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='25' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_Vu2uwPa37To/SwJVf4XAdFI/AAAAAAAAAEk/lhZhkq-B4QA/S220/Fatih-Sultan-Muhammad.jpg'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2341110395006740809.post-4028638490527823411</id><published>2010-10-16T10:49:00.000+07:00</published><updated>2010-10-16T10:50:42.114+07:00</updated><title type='text'>Penggagas Hari Membakar Al-Quran Dibayangi Kebangkrutan</title><content type='html'>LONDON--Habis jatuh tertimpa tangga pula. Setelah nyawanya terancam kini giliran pastor Terry Jones yang menggagas hari membakar Alquran itu menghadapi tagihan 100 ribu poundsterling untuk membayar jasa keamanan polisi. Lebih dari 200 polisi termasuk anggota Tim SWAT yang mengawasi Jones di luar Gereja Florida.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perlindungan ini dilakukan untuk mengamankan Jones dari segala kemungkinan penyerangan terhadap dirinya. Sayangnya, Jones tidak ada niatan membayar tagihan yang diberikan pemerintah lokal Gainville atas ulahnya itu. "Jika kami tahu ini sebelumnya, maka kami akan menolak untuk diberikan pengamanan," ujar Jones seperti dikutip dailymail, Senin (20/9). Tagihan juga datang dari kepolisian setempat yang meminta bayaran kepada Jones sebesar 50 ribu poundsterling atas jasa kepolisian yang menjaganya 24 jam.&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Seperti diberitakan, Jones dan anggota jamaah Gereja kecil di Gainesville, Florida berencana membagikan 200 salinan Alquran untuk dibakar dalam peringatan tragedi 11 September. Ide pembakaran ini membuat berang Menteri Pertahanan AS RObert Gates. Gates saat itu mengkhawatirkan ide Jones akan membahayakan keselamatan tentara AS yang sedang bertugas di Afghanistan. Tekanan dari Obama dan Vatikan pada akhirnya membatalkan niat Jones. Sayangnya, ibarat nasi menjadi bubur, sejumlah pembakaran Alquran terjadi diberbagai wilayah di AS.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kini Jones terancam bangkrut. Dengan jemaah yang tidak begitu besar yakni hanya 40 orang, Jones kemungkinan besar tidak akan mampu membayar tagihan itu. Sempat ada wacana dari Jones untuk menjual Gereja dan pindah ke tempat yang lebih besar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tampaknya rencana itu bakalan batal terlaksana. Apalagi pemerintah lokal Gainesville telah menyatakan Jones adalah pihak yang bertanggung jawab atas layanan polisi yang langsung diberikan kepada gereja pascapengumuman ide pembakaran Alquran. Keamanan ini diberikan berdasar peringatan Biro Investigas AS, FBI, atas kemungkinan ancaman teror sebagai serangan balasan.(rpblk) &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2341110395006740809-4028638490527823411?l=bertahajudlah.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://bertahajudlah.blogspot.com/feeds/4028638490527823411/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://bertahajudlah.blogspot.com/2010/10/penggagas-hari-membakar-al-quran.html#comment-form' title='8 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2341110395006740809/posts/default/4028638490527823411'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2341110395006740809/posts/default/4028638490527823411'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://bertahajudlah.blogspot.com/2010/10/penggagas-hari-membakar-al-quran.html' title='Penggagas Hari Membakar Al-Quran Dibayangi Kebangkrutan'/><author><name>Abu Rasya</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='25' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_Vu2uwPa37To/SwJVf4XAdFI/AAAAAAAAAEk/lhZhkq-B4QA/S220/Fatih-Sultan-Muhammad.jpg'/></author><thr:total>8</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2341110395006740809.post-734344708880663515</id><published>2010-09-07T13:36:00.005+07:00</published><updated>2010-09-07T13:42:23.845+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='islam'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='indian'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='colombus'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='amerika'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='cheng ho'/><title type='text'>Amerika : Negeri Muslim Yang Dimurtadkan (bag. 1)</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://2.bp.blogspot.com/_Vu2uwPa37To/TIXd7vskHQI/AAAAAAAAANA/ZnjoTk19EsY/s1600/cherooke.jpg"&gt;&lt;img style="float: left; margin: 0pt 10px 10px 0pt; cursor: pointer; width: 150px; height: 123px;" src="http://2.bp.blogspot.com/_Vu2uwPa37To/TIXd7vskHQI/AAAAAAAAANA/ZnjoTk19EsY/s400/cherooke.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5514057337270443266" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;oleh: Ustad Ahmat Sarwat, Lc.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Meneliti sejarah awal masuknya Islam ke Amerika, lumayan bikin kaget juga. Ternyata Amerika yang selama ini identik sebagai pusat kekafiran, justru lebih dulu mengenal Islam sebelum para penyebar agama lain dari Eropa menguasai negeri itu. Fakta-fakta ini mungkin akan membuat kita berbeda memandang Amerika, yaitu sebagai bagian dari wilayah yang dakwah disana harus diteruskan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;1. Khashshash bin Said bin Aswad&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ada banyak versi tentang siapakah yang pertama kali membawa agama Islam ke Amerika. Salah satunya yang bisa disebut adalah Khashshah bin Said bin Aswad yang tercatat dalam sejarah pada tahun 889 masehi telah mendarat di benua itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dia seorang navigator muslim yang berasal dari Qordoba, Spanyol. Sebagaimana kita ketahui, Spanyol saat itu merupakan pusat peradaban Islam di Barat, di bawah pimpinan Khilafah Bani Umayah II.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ini adalah analisa lumayan kuat untuk bisa dipercaya, lantaran kekuatan armada Khilafah Bani Umayyah II di Spanyol saat itu memang sangat besar dan luar biasa luas pengaruhnya. Adalah sangat tidak mustahil buat para pelaut di masa itu untuk mengarui samudera Atlantik. Apalagi ada semangat juang yang sangat tinggi untuk menyebarkan agama Islam seluruh penjuru dunia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan fakta ini, maka benua Amerika termasuk benua yang sudah sejak awal mengenal ajaran Islam. Sungguh luar biasa kemampuan para pelaut muslim saat itu. Dengan menyeberangi lautan Atlantic yang luas itu, mereka tercatat sebagai di antara pembawa agama Islam ke Amerika. Dan jarak waktunya hanya terpaut 200-an tahun setelah Rasulullah SAW wafat.&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Mungkin ke depan kita akan mengatakan bahwa bangsa muslim lah yang sesungguhnya berhak disebut sebagai penemu benua Amerika, bukan Amerigo Vespucci atau Colombus. Sebab Vespucci baru menemukan benua itu di tahun 1499-1500 Masehi. Demikian juga Colombus baru tiba di tahun 1492 Masehi. Bandingan dengan Khashshash bin Said bin Aswad yang sudah mendarat di benua itu di tahun 889 Masehi. Itu berarti 600 tahun lebih dulu dari kedatangan keduanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan kedatangan para pelaut muslim ke benua Amerika bukan sekedar bertujuan utnuk piknik atau jalan-jalan, tetapi tentuya sambil menyebarkan agama terakhir yang Allah turunkan, yaitu agama Islam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bukti-bukti selanjutnya akan memperkuat teori ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;2. Laksamana Ceng Ho&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selain itu sejarah juga mencatat bahwa Laksamana Ceng Ho yang beragama Islam, juga pernah mendarat di benua Amerika. Yang menarik, laksamana yang juga seorang da`i muslim ini mendarat 70 tahun lebih awal dari Colombus.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bahkan armada dan kapal Ceng Ho jauh lebih besar dari kapal milik Colombus. Namun karena sejarah dunia ditulis oleh orang lain, maka fakta bahwa Ceng Ho mendarat lebih dahulu dari Colombus seolah &lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://2.bp.blogspot.com/_Vu2uwPa37To/TIXeYTRJPcI/AAAAAAAAANI/UmUMIoEOYlI/s1600/chengho.jpg"&gt;&lt;img style="float: left; margin: 0pt 10px 10px 0pt; cursor: pointer; width: 300px; height: 210px;" src="http://2.bp.blogspot.com/_Vu2uwPa37To/TIXeYTRJPcI/AAAAAAAAANI/UmUMIoEOYlI/s400/chengho.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5514057827855449538" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;lenyap di balik kebohongan nyata.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Gambar di samping menunjukkan bahwa kapal Cheng Ho memang jauh lebih besar dibandingkan kapal Colombus. Kapal ini juga tercatat pernah mendarat di nusantara, selain berdiplomasi dan berdagang, juga menyebarkan dakwah Islam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Cheng Ho punya nama arab, yaitu Haji Mahmud Shams. Beliau adalah seorang muslim China yang lahir tahun 1371 dan wafat tahun 1433. Terkenal sebagai pelaut dan penjelajah Tiongkok terkenal yang melakukan beberapa penjelajahan antara tahun 1405 hingga 1433.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;3. Columbus&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selain itu juga ada catatan dari Colombus sendiri, bahwa pada 21 Oktober 1492 dia melihat masjid dalam pelayarannya antara Gibara dan Pantai Kuba. Ini menunjukkan bahwa Colombus pun mengakui bahwa sudah ada sejumlah masyarakat di Amerika yang memeluk agama Islam, sebelum kedatangannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Colombus mengira bahwa pulau tersebut masih perawan, belum berpenghuni sama sekali. Mereka berorintasi menjadikan pulau tersebut sebagai perluasan wilayah Spanyol.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tetapi setelah menerobos masuk, Columbus ternyata kaget menemukan bangunan yang persis pernah ia lihat sebelumnya ketika mendarat di Afrika. Bangunan megah itu adalah Masjid yang dipakai oleh Orang-orang Islam untuk beribadah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Semula Columbus disambut dengan ramah oleh suku Indian, tetapi setelah ketahuan niat buruknya datang di pulau itu, Colombus banyak mendapat resistensi dari penduduk setempat. Beberapa armada kapal milik rombongan Colombus ditenggelamkan oleh suku Indian sebab mereka merasa terganggu dan terancam oleh kedatangan Colombus.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;4. Indian Muslim&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yang menarik adalah islamnya suku-suku asli yang menghuni benua Amerika, yaitu Indian. Gambar utama tulisan ini adalah lukisan wajah seorang kepala suku Cherokee, Seqouya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tercatat begitu banyak bukti bahwa suku-suku itu banyak yang sudah mengenal agama Islam, seperti Apache, Cherokee, Sioux, Anasazi, Arawak, Arikana, Chavin Cree, Makkah (mirip nama mekkah Al-Mukarramah), Hohokam, Hupa, Hopi, Mahigan, Mohawk, Nazca, Zulu, dan Zuni.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Begitu banyak bukti bahwa bangsa Indian sudah memeluk agama Islam. Misalnya, beberapa tulisan cherokee abad ke-7 terpahat pada bebatuan di Nevada sangat mirip dengan tulisan “Muhammad” dalam bahasa Arab.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ciri lainnya adalah foto atau lukisan yang kita lihat tentang kostum yang dikenakan oleh bangsa Indian. Ternyata banyak kepala suku Indian mengenakan tutup kepala khas orang Islam, seperti sorban ini. Bahkan mereka mempunyai aksara Syllabary yang mirip aksara Arab.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan fakta yang tidak terbantahkan, adalah sebuah naskah perjanjian antara pemerintah Amerika dan Kepala Suku Indian Cherokee. Nashkah itu hingga kini masih tersimpan rapi di gedung Arsip Perpustakaan Nasional di ibukota Washington DC.&lt;br /&gt;Yang menarik, nama kepala Suku Cherokee adalah Abdel-Khak and Muhammad Ibnu Abdullah. Jelas itu nama muslim.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun populasi suku Indian yang banyak menganut agama Islam menurun drastis akibat pembantaian. Salah satunya kebijakan resmi pemerintah USA berupa Indian Removal Act tahun 1830 yang memberikan izin resmi buat bangsa Eropa untuk mengusir atau membunuh bangsa Indian.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tercatat lebih dari 70.000 orang indian di usir dari tanahnya sehingga mengakibatkan ribuan orang meninggal.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(bersambung ke bag. 2)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;www.ustsarwat.com&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2341110395006740809-734344708880663515?l=bertahajudlah.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://bertahajudlah.blogspot.com/feeds/734344708880663515/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://bertahajudlah.blogspot.com/2010/09/amerika-negeri-muslim-yang-dimurtadkan.html#comment-form' title='1 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2341110395006740809/posts/default/734344708880663515'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2341110395006740809/posts/default/734344708880663515'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://bertahajudlah.blogspot.com/2010/09/amerika-negeri-muslim-yang-dimurtadkan.html' title='Amerika : Negeri Muslim Yang Dimurtadkan (bag. 1)'/><author><name>Abu Rasya</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='25' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_Vu2uwPa37To/SwJVf4XAdFI/AAAAAAAAAEk/lhZhkq-B4QA/S220/Fatih-Sultan-Muhammad.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/_Vu2uwPa37To/TIXd7vskHQI/AAAAAAAAANA/ZnjoTk19EsY/s72-c/cherooke.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2341110395006740809.post-7422336083138014524</id><published>2010-08-23T08:26:00.002+07:00</published><updated>2010-08-23T08:30:54.975+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='subuh'/><title type='text'>Perbaiki Subuh Kita</title><content type='html'>"Siapa yang ingin berjihad di jalan Allah, saya tunggu di bukit ini&lt;br /&gt;ba'da subuh"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kalimat di atas sangat melekat di benak saya, meski sudah lebih dua&lt;br /&gt;puluh tahun silam saya mendengarnya di sebuah film epik berjudul Cut&lt;br /&gt;Nyak Dien. Kisah kepahlawanan para pejuang Aceh yang gagah perkasa&lt;br /&gt;melawan penjajah Belanda ketika itu. Kalimat penuh semangat dan&lt;br /&gt;mengandung ruh jihad itu diucapkan oleh seorang panglima perang Aceh,&lt;br /&gt;Teuku Umar di hadapan para pejuangnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bertahun-tahun saya sempat bertanya, "kenapa ba'da subuh?"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kala itu, jawaban yang saya dapat sangat polos, lumayan masuk akal,&lt;br /&gt;namun cukup menggelikan kalau dipikir-pikir. "Orang-orang Belanda itu&lt;br /&gt;nggak sholat subuh, jadi kalau pasukan Aceh menyerbu ba'da subuh,&lt;br /&gt;pasukan Belanda masih tidur dan tidak siap menghadapi serangan".&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seiring dengan waktu, saya mendapatkan jawaban yang mudah-mudahan&lt;br /&gt;lebih tepat untuk pertanyaan, "kenapa ba'da subuh?"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Diantara lima waktu sholat wajib, subuh dianggap paling berat meskipun&lt;br /&gt;jumlah rakaatnya paling sedikit. Bangun subuh, mendirikan sholat dan&lt;br /&gt;berjamaah di masjid adalah perjuangan berat bagi sebagian orang.&lt;br /&gt;Bangunnya saja perlu perjuangan, beberapa mata tak sanggup terbuka,&lt;br /&gt;sebagian bangun dengan bermalas-malasan, ada yang terbangun kemudian&lt;br /&gt;terlelap lagi, ada yang bergerak hanya untuk menarik selimut dan&lt;br /&gt;melanjutkan mimpi, dan ada pula yang sama sekali tak bergerak dan&lt;br /&gt;terus mendengkur.&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Ada orang-orang yang memerlukan bantuan orang lain untuk bangun subuh.&lt;br /&gt;Kalau pun sudah bangun, ada yang menunda-nunda sholatnya. Ada pula&lt;br /&gt;berdiri sholat dalam keadaan malas, itu terlihat dari gerakan&lt;br /&gt;sholatnya yang terburu-buru atau dari sikap berdirinya yang tidak&lt;br /&gt;tegap. Dan ada loh yang sholat sambil matanya terpejam atau sholat&lt;br /&gt;sambil berkali-kali menguap.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sampai disini sebenarnya sudah lumayan bagus, yang penting masih mau&lt;br /&gt;sholat subuh. Tetapi bagi orang-orang yang beriman, ketika adzan&lt;br /&gt;berkumandang ia semangat bergegas membasuh muka. Bahkan sebagian&lt;br /&gt;lainnya menyesal jika hanya terbangun pada saat adzan, sebab ia&lt;br /&gt;biasanya bangun di sepertiga malam dan tak tertidur lagi sampai waktu&lt;br /&gt;subuh. Orang-orang ini, rela mengorbankan kenikmatan tidurnya serta&lt;br /&gt;meminimalkan istirahatnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kesungguhannya semakin teruji ketika ia memilih untuk membelah fajar,&lt;br /&gt;menerobos udara dingin menuju masjid untuk sholat berjamaah.&lt;br /&gt;Orang-orang yang bersungguh-sungguh diwaktu subuh inilah yang dipilih,&lt;br /&gt;seperti Muhammad yang terpilih untuk mengangkat Hajar Aswad karena&lt;br /&gt;tiba di Ka'bah lebih dulu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Maka wajar jika Teuku Umar meminta para pejuangnya berkumpul persis&lt;br /&gt;ba'da subuh, karena ia hanya ingin berjuang bersama orang-orang yang&lt;br /&gt;memiliki semangat pengorbanan, yang jiwanya dipenuhi kesungguhan&lt;br /&gt;diatas rata-rata kebanyakan orang lainnya. Mereka yang tak bangun&lt;br /&gt;subuh, bukan saja tertinggal tak ikut berjuang, melainkan memang tak&lt;br /&gt;dibutuhkan sama sekali dalam perjuangan karena dianggap tak&lt;br /&gt;bersungguh-sungguh.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Semangat dan kesungguhan yang diperoleh dari kebiasaan sholat subuh,&lt;br /&gt;bisa kita terapkan dalam mengatasi berbagai masalah kehidupan. Seberat&lt;br /&gt;apapun masalah, pasti ada jalan keluarnya. Masalahnya adalah, apakah&lt;br /&gt;kita memiliki semangat dan kesungguhan diatas rata-rata untuk mencari&lt;br /&gt;jalan keluarnya? Jika belum, mungkin ada baiknya kita mulai dengan&lt;br /&gt;sama-sama memperbaiki subuh kita. Mau? (gaw) &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;http://warnaislam. com&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2341110395006740809-7422336083138014524?l=bertahajudlah.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://bertahajudlah.blogspot.com/feeds/7422336083138014524/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://bertahajudlah.blogspot.com/2010/08/perbaiki-subuh-kita.html#comment-form' title='1 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2341110395006740809/posts/default/7422336083138014524'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2341110395006740809/posts/default/7422336083138014524'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://bertahajudlah.blogspot.com/2010/08/perbaiki-subuh-kita.html' title='Perbaiki Subuh Kita'/><author><name>Abu Rasya</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='25' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_Vu2uwPa37To/SwJVf4XAdFI/AAAAAAAAAEk/lhZhkq-B4QA/S220/Fatih-Sultan-Muhammad.jpg'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2341110395006740809.post-4413258348704595819</id><published>2010-08-08T12:57:00.003+07:00</published><updated>2010-08-08T13:05:19.420+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='yahudi'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='nasrani'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='ramadhan'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='puasa'/><title type='text'>Ramadhan Di Babak Keempat Akhir Zaman</title><content type='html'>oleh Ustadz Ihsan Tandjung&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ramadhan Mubarok. Menjelang tibanya bulan Ramadhan, setiap orang beriman merasa berbahagia. Setiap pencinta al-khair (kebaikan) bersuka cita. Ada suasana penuh ketaatan dan kesucian yang sungguh dinantikan. Bukan rahasia lagi, bahwa sebagian besar ummat Islam mengalami perubahan penampilan bila sudah memasuki bulan penuh rahmat dan berkah Ilahi. Yang jarang muncul di masjid, tiba-tiba kita jumpai datang sholat ke masjid. Yang jarang membuka mushaf Al-Qur’an, sekonyong-konyong rajin tilawah. Muslimah yang tidak pernah menutup auratnya, mendadak tampil ber-jilbab. Subhaanallah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bahkan mereka yang biasa berbuat maksiat juga ”terpaksa” mengurangi perilaku tercelanya. Bukan karena ia sadar, tapi karena ada semacam keharusan untuk merahasiakan kemungkarannya. Ada kesungkanan untuk secara vulgar meneruskan dosanya. Sebut saja ada sejenis ”solidaritas” yang perlu ia tunjukkan di muka umum karena berada di dalam bulan suci. Ada semacam ketidak-leluasaan untuk meneruskan kemaksiatannya dibandingkan bila berada di bulan-bulan selain Ramadhan. Sungguh, bagi para penggemar kemaksiatan bulan Ramadhan merupakan bulan penuh siksaan batin dan penderitaan lahir. Laa haula wa laa quwwata illa billah. Benarlah apa yang diucapkan Rasulullah Muhammad shallallahu 'alaihi wasallam dalam haditsnya berikut ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;إِذَا كَانَ أَوَّلُ لَيْلَةٍ مِنْ شَهْرِ رَمَضَانَ صُفِّدَتْ الشَّيَاطِينُ وَمَرَدَةُ الْجِنِّ وَغُلِّقَتْ أَبْوَابُ النَّارِ فَلَمْ يُفْتَحْ مِنْهَا بَابٌ وَفُتِّحَتْ أَبْوَابُ الْجَنَّةِ فَلَمْ يُغْلَقْ مِنْهَا بَابٌ وَيُنَادِي مُنَادٍ يَا بَاغِيَ الْخَيْرِ أَقْبِلْ وَيَا بَاغِيَ الشَّرِّ أَقْصِرْ&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bersabda Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam: “Bila tiba malam pertama bulan Ramadhan para syaithan dibelenggu, maksudnya jin. Dan pintu-2 Neraka ditutup dan tak satupun yang dibuka dan pintu-2 surga dibuka dan tak satupun yang ditutup dan ada penyeru yang menyerukan: ”Wahai para pencari kebaikan, sambutlah (songsonglah) dan wahai para pencari kejahatan, tolaklah (hindarilah).” (HR Tirmidzi)&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Namun demikian, kita perlu menyadari bahwa keadaan dunia dewasa ini tidaklah sama dengan keadaannya di masa lalu. Sebut saja sepuluh, limapuluh apalagi seratus atau dua ratus tahun yang lalu. Hanya dalam beberapa tahun belakangan ini, secara cepat dunia telah mengalami penuaan mendadak. Dunia sudah tua renta. Ibarat seorang manula (manusia usia lanjut), dunia sudah berjalan membungkuk dengan menggunakan tongkat, rambutnya sudah banyak yang memutih beruban. Memang, semenjak limabelas abad yang lalu sewaktu diutusnya Nabi Muhammad shallallahu 'alaihi wasallam ke muka bumi, dunia segera memasuki era Akhir Zaman. Mengapa? Karena Nabi Akhir Zaman telah diutus oleh Allah. Nabi Muhammad shallallahu 'alaihi wasallam merupakan penutup rangkaian para Nabi utusan Allah yang diperuntukkan bagi penutup para ummat. Beliau merupakan Nabi Akhir Zaman untuk kita, Ummat Akhir Zaman.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam sebuah hadits panjang riwayat Imam Ahmad, Nabi Muhammad shallallahu 'alaihi wasallam telah menjelaskan ringkasan perjalanan sejarah Ummat Islam yang hidup di Akhir Zaman. Secara garis besar, beliau mengatakan bahwa bakal ada lima babak yang dilalui dalam sejarah ummat Islam di Akhir Zaman. Dari kelima babak tersebut kita telah menyaksikan tiga babak berlalu. Dan dewasa ini kita sedang menjalani babak keempat. Tinggal satu babak terakhir yang perlu disongsong kedatangannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;تَكُونُ النُّبُوَّةُ فِيكُمْ مَا شَاءَ اللَّهُ أَنْ تَكُونَ ثُمَّ يَرْفَعُهَا إِذَا شَاءَ أَنْ يَرْفَعَهَا ثُمَّ تَكُونُ خِلَافَةٌ عَلَى مِنْهَاجِ النُّبُوَّةِ فَتَكُونُ مَا شَاءَ اللَّهُ أَنْ تَكُونَ ثُمَّ يَرْفَعُهَا إِذَا شَاءَ اللَّهُ أَنْ يَرْفَعَهَا ثُمَّ تَكُونُ مُلْكًا عَاضًّا فَيَكُونُ مَا شَاءَ اللَّهُ أَنْ يَكُونَ ثُمَّ يَرْفَعُهَا إِذَا شَاءَ أَنْ يَرْفَعَهَا ثُمَّ تَكُونُ مُلْكًا جَبْرِيَّا فَتَكُونُ مَا شَاءَ اللَّهُ أَنْ تَكُونَ ثُمَّ يَرْفَعُهَا إِذَا شَاءَ أَنْ يَرْفَعَهَا ثُمَّ تَكُونُ خِلَافَةً عَلَى مِنْهَاجِ النُّبُوَّةِ ثُمَّ سَكَتَ&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bersabda Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam: “Akan berlangsung babak (1) An-Nubuwwah (kenabian) di tengah-tengah kalian selama kurun waktu tertentu yang Allah kehendaki lalu Dia mengangkatnya (berakhir) bila Dia menghendaki untuk mengakhirinya. Kemudian berlangsung babak (2) kekhalifahan menurut sistim kenabian selama kurun waktu tertentu yang Allah kehendaki lalu Dia mengangkatnya bila Dia menghendaki untuk mengakhirinya Kemudian berlangsung babak (3) kerajaan yang bengis selama kurun waktu tertentu yang Allah kehendaki lalu Dia mengangkatnya bila Dia menghendaki untuk mengakhirinya Kemudian berlangsung babak (4) pemerintahan yang menindas (diktator) selama kurun waktu tertentu yang Allah kehendaki lalu Dia mengangkatnya bila Dia menghendaki untuk mengakhirinya Kemudian akan berelangsung kembali babak (5) kekhalifahan menurut sistim kenabian. Kemudian beliau diam”.(HR Ahmad 17680)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Babak pertama dan kedua merupakan babak yang sangat ideal. Pada babak pertama ummat Islam langsung dipimpin dan dibimbing oleh Nabi Muhammad shallallahu 'alaihi wasallam. Sedangkan babak kedua ditandai dengan munculnya empat orang Al-Khulafa Ar-Rasyidin (para khalifah yang terbimbing) yang terdiri dari sahabat-sahabat terbaik, yakni Abu Bakar Ash-Shiddiq, Umar ibnul-Khattab, Ustman bin Affan dan Ali bin Abi Thalib radhiyallahu ’anhum ’ajma’iin. Keempat sahabat ini termasuk sepuluh sahabat yang dijanjikan surga oleh Nabi Muhammad shallallahu 'alaihi wasallam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sesudah itu, pada babak ketiga ummat Islam mengalami kepemimpinan para raja-raja yang kebanyakan di antara mereka berlaku zalim. Namun demikian –walau jarang- ada juga yang adil seperti cicit Umar ibnul-Khattab radhiyallahu ’anhu, yakni Umar bin Abdul Aziz rahimahullah. Babak ketiga ditandai dengan silih bergantinya aneka kerajaan Islam. Namun secara garis besar ada tiga di antaranya yang sangat signifikan, yakni Dinasti Kerajaan Bani Ummayyah, Bani Abbasiyyah dan Kesultanan Turki Ustmani.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah runtuhnya kekhalifahan terakhir yakni Kesultanan Turki Utsmani, maka duniapun memasuki babak keempat. Inilah babak dimana kita hidup dewasa ini. Nabi Muhammad shallallahu 'alaihi wasallam menyebutkan bahwa di babak keempat ini ummat bakal dipimpin oleh para Mulkan Jabriyyan (para penguasa yang menindas/memaksakan kehendak alias para diktator). Dan benar saja, semenjak ditinggalkannya babak ketiga, dunia segera menyaksikan bagaimana kepemimpinan yang semula berlangsung selama ribuan tahun di bawah kepemimpinan ummat Islam atas dunia, tiba-tiba Allah gilirkan dan serahkan kepada kaum kafir yang kemudian memaksakan kehendak mereka dan mengabaikan Kehendak Allah dan RasulNya. Belum pernah dalam sejarah Islam di Akhir Zaman kita merasakan keterasingan dari ajaran Islam sebagaimana yang kita alami dewasa ini. Kepemimpinan dunia dewasa ini diarahkan dari Barat yang notabene merupakan Judeo-Christian Civilization (Peradaban Yahudi-Nasrani). Segenap negeri kaum muslimin mengekor ke Barat. Keadaan ini telah di-Nubuwwah-kan oleh Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam sejak dulu:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;لَتَتَّبِعُنَّ سَنَنَ الَّذِينَ مِنْ قَبْلِكُمْ&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;شِبْرًا بِشِبْرٍ وَذِرَاعًا بِذِرَاعٍ حَتَّى لَوْ دَخَلُوا فِي جُحْرِ ضَبٍّ&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;لَاتَّبَعْتُمُوهُمْ قُلْنَا يَا رَسُولَ اللَّهِ آلْيَهُودَ وَالنَّصَارَى قَالَ فَمَنْ&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda: "Sungguh, kalian benar-benar akan mengikuti kebiasaan orang-orang sebelum kalian sejengkal demi sejengkal dan sehasta demi sehasta, sehingga sekiranya mereka masuk ke dalam lubang biawak pun kalian pasti akan mengikuti mereka." Kami bertanya; "Wahai Rasulullah, apakah mereka itu Yahudi dan Nasrani?" Beliau menjawab: "Siapa lagi kalau bukan mereka?" (MUSLIM - 4822)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Babak keempat ini merupakan babak paling kelam dalam sejarah Islam. Ibarat sebuah filem, maka babak keempat merupakan potongan filem dimana jagoannya mengalami kekalahan sementara penjahatnya berada di atas angin. Di babak ini kaum muslimin dituntut untuk bersabar dan melipatgandakan kesabarannya menyaksikan kesewenang-wenangan kaum kuffar. Puncak dari kegelapan babak keempat ialah keluarnya puncak fitnah, yakni Dajjal. Dajjal merupakan tanda besar pertama yang menandakan semakin dekatnya Kiamat. Tidak mengherankan bila Ahmad Thomson, seorang penulis muslim berkebangsaan Inggirs, menyatakan bahwa dunia modern dewasa ini sedang mengokohkan dirinya menjadi sebuah Sistem Dajjal yang kian hari kian hegemonik dan mempersiapkan diri untuk menyambut kedatangan pemimpinnya yakni si mata tunggal Dajjal. Dan tidak mengherankan pula bila pada babak ini terjadi akselerasi kemunculan tanda-tanda kecil Kiamat yang umumnya berupa fenomena pelanggaran hukum Allah dan RasulNya. Sebab ini merupakan babak yang mendahului munculnya babak kelima dimana pada saat itu justru dunia akan menyaksikan kembali kedamaian dan keberkahan ketika diberlakukannya kembali hukum Allah dengan tegaknya babak (5) kekhalifahan menurut manhaj (sistim) kenabian.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;يَخْرُجُ في آخِرِ أُمَّتي اَلمهَدِيُّ يَسْقِيهِ الله ُالْغَيثَ وَتُخْرِجُ الأَرضُ نَبَاتَهَا وَيُعْطِي المَالَ صِحَاحًا وَتَكْثُرُ المَاشِيَةُ وَتَعْظُمُ الأُمَّةُ يَعِيشُ سَبْعًا أَوْ ثَمَانِيًا يَعْنِي حُجَجًا&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Pada masa akhir ummatku akan muncul Al-Mahdi. Pada waktu itu Allah menurunkan banyak hujan, bumi menumbuhkan tumbuh-tumbuhan, memberikan banyak harta (penghasilan), banyak ternak, ummat menjadi mulia dan dia (Al-Mahdi) hidup selama tujuh atau delapan tahun.” (HR Al-Hakim 4:557-558)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bila kita ikuti berbagai perkembangan situasi niscaya begitu banyak contoh nyata di sekitar kita yang membenarkan bahwa kita sekarang berada dalam babak paling kelam dalam sejarah Islam. Kaum muslimin banyak yang meniru pola hidup kaum Yahudi-Nasrani. Tidak bisa dipungkiri bahwa seluruh dunia dewasa ini berkiblat kepada kepemimpinan dunia yang berperadaban Yahudi-Nasrani. Kebanyakan pemimpin negeri muslim mengekor kepada mereka. Bahkan sistem hukum dan kemasyarakatanpun menjiplak sistem mereka. Apalagi di bidang budaya dan hiburan praktis kaum muslimin menikmati produk mereka sepenuhnya. Padahal Allah memperingatkan akibat yang bakal timbul jika tingkah mengikuti mereka dilestarikan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لا تَتَّخِذُوا الْيَهُودَ وَالنَّصَارَى أَوْلِيَاءَ بَعْضُهُمْ أَوْلِيَاءُ بَعْضٍ وَمَنْ يَتَوَلَّهُمْ مِنْكُمْ فَإِنَّهُ مِنْهُمْ إِنَّ اللَّهَ لا يَهْدِي الْقَوْمَ الظَّالِمِينَ&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mengambil orang-orang Yahudi dan Nasrani menjadi pemimpin-pemimpin (mu); sebahagian mereka adalah pemimpin bagi sebahagian yang lain. Barang siapa di antara kamu mengambil mereka menjadi pemimpin, maka sesungguhnya orang itu termasuk golongan mereka. Sesungguhnya Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang zalim.” (QS. Al-Maidah : 51)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setidaknya ada dua akibat yang Allah ancam akan menimpa kaum muslimin jika menjadikan orang-orang Yahudi dan Nasrani menjadi role-model (kiblat kepemimpinan). Pertama, Allah katakan ”Barang siapa di antara kamu mengambil mereka menjadi pemimpin, maka sesungguhnya orang itu termasuk golongan mereka.” Artinya, Allah tidak pandang lagi kita sebagai ummat Islam, melainkan menjadi bagian dari mereka (Yahudi dan Nasrani). Dan kedua, Allah memandang kita sebagai orang-orang yang zalim yang tidak layak memperoleh petunjuk-Nya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jika kedua akibat tersebut telah menjadi kenyataan, maka tidak mengherankan bilamana jumlah besar penduduk muslim di berbagai penjuru dunia tidak membawa serta pengaruh signifikan ajaran Islam yang dianutnya. Di samping itu kita menjadi faham mengapa dengan mudahnya kaum muslimin rela menanggalkan ideologi Islam dan menerima ideologi asing yang ditawarkan kaum Yahudi-Nasrani. Sebab mereka lebih tertarik mengikuti petunjuk kaum Yahudi-Nasrani daripada petunjuk Allah dalam menata kehidupan pribadi maupun kolektif.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saudaraku, marilah kita bertekad menjadikan bulan Ramadhan tahun ini sebagai turning point (titik balik) agar kaum muslimin menelusuri kembali jatidirinya yang sejati. Marilah kita melaksanakan shaum (berpuasa) dalam arti sebenarnya. Kita menahan diri dari godaan para Mulkan Jabriyyan (para penguasa yang menindas/memaksakan kehendak alias para diktator). Jangan hendaknya giliran kepemimpinan kaum Yahudi-Nasrani di babak keempat perjalanan sejarah ummat Islam di Akhir Zaman membuat kita menjadi inferior (rendah diri). Sehingga kita menggunakan kaedah kaum kafir If you cannot beat them, then you join them (jika kamu tidak sanggup mengalahkan mereka, maka bergabunglah bersama mereka). Sekal-kali tidak, saudaraku...!! Marilah kita bersabar dalam beriman dan berislam di era paling kelam dalam sejarah Islam ini. Memang tidak mudah, tapi percayalah, hanya dengan berpegang kepada jatidiri Iman dan Islam yang diperintahkan Allah-lah kita bakal sanggup menyambut datangnya babak kelima, yakni tegaknya babak (5) kekhalifahan menurut manhaj (sistim) kenabian.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;وَلا تَهِنُوا وَلا تَحْزَنُوا وَأَنْتُمُ الأعْلَوْنَ إِنْ كُنْتُمْ مُؤْمِنِينَ&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Janganlah kamu bersikap lemah, dan janganlah (pula) kamu bersedih hati, padahal kamulah orang-orang yang paling tinggi (derajatnya), jika kamu orang-orang yang beriman.” (QS. Ali Imran : 139)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saudaraku, marilah kita mengembangkan mentalitas pemenang walaupun dalam realitanya kemenangan itu belum kita raih. Daripada mengembangkan mentalitas pecundang demi terpenuhinya mimpi seolah-olah sudah meraih kemenangan... Hasbun-Allahu wa ni’mal Wakiil. Ni’mal Maula wa ni’man Nashiir.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Wallahu a’lam bish-showwaab.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;eramuslim.com&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2341110395006740809-4413258348704595819?l=bertahajudlah.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://bertahajudlah.blogspot.com/feeds/4413258348704595819/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://bertahajudlah.blogspot.com/2010/08/ramadhan-di-babak-keempat-akhir-zaman.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2341110395006740809/posts/default/4413258348704595819'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2341110395006740809/posts/default/4413258348704595819'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://bertahajudlah.blogspot.com/2010/08/ramadhan-di-babak-keempat-akhir-zaman.html' title='Ramadhan Di Babak Keempat Akhir Zaman'/><author><name>Abu Rasya</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='25' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_Vu2uwPa37To/SwJVf4XAdFI/AAAAAAAAAEk/lhZhkq-B4QA/S220/Fatih-Sultan-Muhammad.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2341110395006740809.post-2851339433246632116</id><published>2010-07-22T21:25:00.000+07:00</published><updated>2010-07-22T21:29:27.051+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='sayang'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Allah'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='kasih'/><title type='text'>Membaca Kasih Sayang Allah</title><content type='html'>Oleh: Dr. Attabiq Luthfi, MA&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;dakwatuna.com – “Dan Dia (Allah) Telah memberikan kepadamu (keperluanmu) dan segala apa yang kamu mohonkan kepadaNya. Dan jika kamu menghitung nikmat Allah, tidaklah dapat kamu menghinggakannya. Sesungguhnya manusia itu, sangat zalim lagi sangat mengingkari (kufur nikmat)“. (Ibrahim: 34)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Membaca merupakan perintah pertama Allah dalam Al-Qur’an yang ditujukan langsung kepada manusia pilihan-Nya, Rasulullah saw. melalui wahyu pertama ‘Iqra’ (bacalah) dengan nama Tuhanmu yang telah menciptakan’ (Al-Alaq: 1). Membaca di sini harus difahami dalam arti yang luas karena memang objek membaca dalam wahyu pertama tersebut tidak dibatasi dan tidak ditentukan; Bacalah! Berarti beragam yang layak dan harus dibaca. Salah satu objek terbesar yang harus dibaca adalah kasih sayang Allah swt. yang terhampar di seluruh jagat raya ini tanpa terkecuali. Semuanya adalah bukti dan tanda kasih sayang Allah swt. untuk seluruh makhluk ciptaan-Nya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Untuk itu, ayat di atas hadir untuk mengingatkan manusia akan kasih sayang Allah swt. yang memberikan segala yang dibutuhkan, sekaligus merupakan perintah untuk senantiasa membaca karunia tersebut agar tidak termasuk orang yang zalim, apalagi kufur nikmat seperti yang disebutkan di kalimat terakhir ayat tersebut di atas ‘Sesungguhnya manusia itu sangat zhalim lagi sangat ingkar nikmat.’&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Tentu, ayat ini tidak berdiri sendiri seperti juga seluruh ayat-ayat Al-Quran. Setiap ayat memiliki keterkaitan dan korelasi dengan ayat sebelum atau sesudahnya yang menunjukkan wahdatul Qur’an kesatuan dan kesepaduan ayat-ayat Al-Qur’an, termasuk ayat di atas ini harus dibaca dengan mengkorelasikannya dengan dua ayat sebelumnya yang menggambarkan sekian banyak dari nikmat Allah swt. yang harus dibaca dengan penuh kesadaran:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Allahlah Yang telah menciptakan langit dan bumi serta menurunkan air hujan dari langit, Kemudian Dia mengeluarkan dengan air hujan itu berbagai buah-buahan menjadi rezki untukmu; dan Dia pula telah menundukkan bahtera bagimu supaya bahtera itu, berlayar di lautan dengan kehendak-Nya, dan Dia telah menundukkan (pula) bagimu sungai-sungai. Dan Dia telah menundukkan (pula) bagimu matahari dan bulan yang terus menerus beredar (dalam orbitnya); dan telah menundukkan bagimu malam dan siang.” (Ibrahim: 32-33)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ayat yang senada dengan ayat di atas dalam bentuk tantangan Allah kepada seluruh makhluk-Nya sekaligus perintahNya untuk membaca hamparan karunia nikmat-Nya yang tiada terhingga adalah surah An-Nahl: 18&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Dan jika kamu menghitung-hitung nikmat Allah, niscaya kamu tak dapat menentukan jumlahnya. Sesungguhnya Allah benar-benar Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” Dalam penutup ayat ini Allah swt. hadir dengan dua sifat yang merupakan puncak dari kasih sayang-Nya, yaitu Maha Pengampun lagi Maha Penyayang’.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ibnu Katsir mengungkapkan penafsirannya dalam kitab Tafsir Al-Qur’an Al-Azhim bahwa selain dari perintah Allah untuk membaca nikmat Allah, pada masa yang sama merupakan sebuah pernyataan akan ketidak berdayaan hamba Allah swt. dalam menghitung nikmat-Nya, apalagi menjalankan kesyukuran karenanya, seperti yang dinyatakan oleh Thalq bin Habib:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Sesungguhnya hak Allah sangat berat untuk dipenuhi oleh hamba-Nya. Demikian juga nikmat Allah begitu banyak untuk disyukuri oleh hamba-Nya. Karenanya mereka harus bertaubat siang dan malam.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Membaca kasih sayang Allah merupakan langkah awal mensyukuri nikmat-Nya. Untuk membuktikan bahwa seseorang telah melakukan syukur nikmat, paling tidak terdapat empat langkah yang harus dipenuhinya: pertama, Mengekpresikan kegembiraan dengan kehadiran nikmat tersebut. Kedua, Mengapresiasikan rasa syukur atas nikmat tersebut dengan ungkapan lisan dalam bentuk pujian. Ketiga, membangun komitmen dengan memelihara dan memanfaatkan nikmat tersebut sesuai dengan kehendak Sang Pemberi nikmat. Keempat, Mengembangkan dan memberdayakannya agar melahirkan kenikmatan yang lebih besar di masa yang akan datang sesuai dengan janji Allah swt. dalam firman-Nya:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Jika kalian bersyukur maka akan Aku tambahkan nikmat-Ku kepadamu.” (Ibrahim: 7) Di sini kesyukuran justru diuji apakah dapat membuahkan kenikmatan yang lain atau malah sebaliknya, menghalangi hadirnya nikmat Allah swt. dalam bentuk yang lainnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ternyata memang mega proyek Iblis terhadap manusia adalah bagaimana menjauhkannya dari kasih sayang Allah swt. sehingga mereka senantiasa hanya membaca ujian dan cobaan yang menimpanya agar mereka tidak termasuk kedalam golongan yang mensyukuri nikmat-Nya. Padahal secara jujur, kasih sayang Allah swt. dalam bentuk anugerah nikmat-Nya pasti jauh lebih besar daripada ujian maupun sanksi-Nya. Di sini, kelemahan manusia membaca nikmat merupakan keberhasilan proyek iblis menyesatkan manusia. Allah menceritakan tentang proyek&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Iblis dalam firman-Nya:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Iblis menjawab: “Karena Engkau Telah menghukum saya tersesat, saya benar-benar akan (menghalang-halangi) mereka dari jalan Engkau yang lurus. Kemudian saya akan mendatangi mereka dari muka dan dari belakang mereka, dari kanan dan dari kiri mereka. dan Engkau tidak akan mendapati kebanyakan mereka bersyukur.“ (Al-A’raf: 16-17)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam konteks ini, sungguh usaha dan kerja Iblis tidak main-main. Ia akan memperdaya manusia dari seluruh segmentasi dan celah kehidupannya tanpa terkecuali. Dalam bahasa Prof. Mutawalli Sya’rawi, “Syaitan akan datang kepada manusia dari titik lemahnya (ya’tisy Syaithan min nuqthah dha’f lil insan).” Jika manusia kuat dari aspek harta, maka ia akan datang melalui pintu wanita. Jika ia kuat pada pintu wanita, ia akan datang dari pintu jabatan dan begitu seterusnya tanpa henti. Sehingga akhirnya hanya segelintir manusia yang akan selamat dari bujuk rayu syetan dan menjadi pribadi yang bersyukur. Allah swt. pernah berpesan kepada Nabi Daud dan keluarga-Nya agar mewaspadai hal tersebut dalam firman-Nya: “Bekerjalah Hai keluarga Daud untuk bersyukur (kepada Allah). dan sedikit sekali dari hamba-hamba-Ku yang berterima kasih (bersyukur).“ (Saba’: 13)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Memang hanya sedikit sekali yang cerdas dan bijak membaca kasih sayang Allah swt. Selebihnya adalah manusia yang suka berkeluh kesah, mengeluh dan tidak bersyukur atas karunia nikmat yang ada. Bahkan kerap menyalahkan orang lain, su’uzhan dan berprasangka buruk kepada Allah. Padahal kebaikan dan pahala sikap syukur itu akan kembali kepada dirinya sendiri, bukan kepada orang lain. Karenanya ujian kesyukuran itu akan terus menyertai manusia sampai Allah benar-benar tahu siapa yang bersyukur diantara hamba-Nya dan siapa di antara mereka yang kufur. ‘Ya Allah, jadikanlah kami termasuk golongan yang sedikit.‘ Allahu a’lam&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2341110395006740809-2851339433246632116?l=bertahajudlah.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://bertahajudlah.blogspot.com/feeds/2851339433246632116/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://bertahajudlah.blogspot.com/2010/07/membaca-kasih-sayang-allah.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2341110395006740809/posts/default/2851339433246632116'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2341110395006740809/posts/default/2851339433246632116'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://bertahajudlah.blogspot.com/2010/07/membaca-kasih-sayang-allah.html' title='Membaca Kasih Sayang Allah'/><author><name>Abu Rasya</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='25' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_Vu2uwPa37To/SwJVf4XAdFI/AAAAAAAAAEk/lhZhkq-B4QA/S220/Fatih-Sultan-Muhammad.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2341110395006740809.post-9113977184472154287</id><published>2010-06-06T18:40:00.002+07:00</published><updated>2010-06-06T18:45:08.932+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='syetan'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='masuk'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='pintu'/><title type='text'>Pintu-Pintu Masuknya Syetan</title><content type='html'>Imam Ibnul Qayyim menyebutkan empat macam pintu masuknya syetan untuk menjerumuskan manusia. Empat pintu tersebut adalah; lahazhat (pandangan mata), khatharat (angan-angan), lafzhat (ucapan lisan), dan khuthuwat (langkah kaki). Beliau rahimahullah telah menjelaskan betapa bahayanya jika kita meremeh kan dan tidak waspada terhadap empat hal ini. Selain itu, beliau juga menjelaskan bagaimana cara untuk menjaga diri darinya agar seseorang selamat dari tipu daya dan gangguan syetan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di antaranya beliau mengatakan, "Karena sumber kemaksiatan itu dimulai dari pandangan, maka Allah subhanahu wata’ala mendahulukan perintah menundukkan pandangan daripada perintah menjaga kemaluan. Karena berbagai kejadian buruk itu dimulai dari padangan, sebagaimana api yang besar berasal dari percikan yang kecil. Maka dimulai dari pandangan, lalu menjadi angan-angan, lalu langkah kaki dan terakhir melakukan dosa. Berikut ini penjelasan ringkas tentang empat hal di atas, semoga bermanfaat. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Lahazhat (Pandangan Mata) &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yang dimaksudkan lahazhat adalah mengikuti hawa nafsu dan memberi kebebasan kepadanya. Padahal menjaganya adalah pangkal terjaganya kemaluan. Maka siapa yang dengan bebas melemparkan pandangan dan mengikuti hawa nafsunya, berarti dia telah menjerumuskan dirinya dalam kehancuran. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Oleh karena itu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wassallam telah mengingatkan kita, sebagaimana sabdanya, &lt;br /&gt;"Janganlah engkau ikuti padangan dengan padangan berikutnya, karena untukmu adalah padangan yang pertama, sedangkan selanjutnya bukan untukmu." (HR. Ahmad) &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Beliau juga melarang duduk-duduk di pinggir jalan. Maka para shahabat bertanya, "Bagaimana jika kondisi mengharuskan untuk itu (duduk di pinggir jalan)?” Maka beliau menjawab, "Jika engkau memang harus melakukan itu, maka berikanlah hak jalan." Para shahabat bertanya, "Apakah hak jalan itu?” Beliau menjawab, "Menahan pandangan, tidak mengganggu orang dan menjawab salam." (Muttafaq 'alaih) &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pandangan adalah sumber berbagai bencana yang banyak menimpa manusia, karena pandangan akan melahirkan angan-angan, lalu angan-angan melahirkan pemikiran, pemikiran melahirkan syahwat, dan syahwat memunculkan keinginan, lalu keinginan itu makin menguat hingga menjadi azam (tekad), akhirnya terjadilah perbuatan, jika tidak ada yang menghalangi. Maka dikatakan bahwa bersabar untuk menahan pandangan lebih ringan dibanding bersabar menahan derita setelahnya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pandangan seperti anak panah yang meluncur terus dan tidak akan sampai pada sasaran sebelum orang yang memandang menyediakan tempat untuknya di dalam hati. Kemudian setelah itu pandangan tersebut menggoreskan luka dalam hati, lalu disusul lagi dengan luka yang lain sebagai tambahan atas luka yang sebelumnya. Akhirnya pedihnya luka pun tak dapat terhindarkan lagi karena pandangan yang terulang terus menerus tiada henti. &lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Khatharat (Angan-angan) &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Angan-angan urusannya lebih sulit lagi, karena ia merupakan awal terjadinya kebaikan atau keburukan. Dari angan-angan lahir keinginan dan kemauan serta azam (tekad). Maka siapa yang memelihara angan-angannya berarti dia telah memegang kendali dirinya, telah menundukkan hawa nafsunya. Dan siapa yang dikalahkan oleh angan-angannya maka hawa nafsu akan mengendalikannya. Siapa yang meremehkan angan-angan, maka angan-angannya akan menggiring nya menuju kehancuran. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Angan-angan seseorang berkisar pada empat hal pokok, yaitu; Pertama, angan-angan yang memberikan manfaat keduniaan; Ke dua, angan-angan yang mendatangkan madharat keduniaan; Ke tiga, angan-angan yang memberikan maslahat akhirat; Ke empat, angan-angan yang mendatang kan madharat akhirat. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Maka hendaknya seseorang selalu melihat kepada apa yang dia angankan, dia pikirkan, dan dia inginkan lalu menimbangnya dengan empat hal di atas. Lalu memilih yang terbaik, mendahulukan mana yang terpenting, mengakhirkan yang kurang penting. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Khayalan dan angan-angan kosong adalah sesuatu yang berbahaya bagi manusia, karena ia hanya akan melahirkan rasa lemah, malas, dan akhirnya sikap meremehkan dan tidak perhatian terhadap waktu lalu berujung pada kerugian dan penyesalan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Maka seorang yang berakal, angan-angannya berkisar pada hal-hal yang baik, penting dan perlu. Dan untuk itulah syariat datang. Karena kebaikan dunia dan akhirat tidak akan dicapai kecuali dengan mengikuti syariat itu. Pikiran dan angan-angan yang paling mulia adalah segala yang ditujukan untuk Allah subhanahu wata’ala dan negri akhirat, di antara contohnya adalah: &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Memikirkan ayat-ayat Allah subhanahu wata’ala dan berusaha memahaminya, sebab Allah subhanahu wata’ala menurunkan al-Qur'an bukan hanya sekedar untuk dibaca. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Memikirkan ayat-ayat yang dapat kita saksikan (ayat kauniyah) dan mengambil pelajaran darinya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Memikirkan pemberian Allah subhanahu wata’ala, kebaikan dan nikmat-nikmat-Nya yang beraneka ragam kepada segenap makhluk, keluasan rahmat Allah subhanahu wata’ala, kesantunan dan ampunan-Nya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Memikirkan kewajiban-kewajiban kita terhadap waktu, tugas-tugas yang harus ditunaikan dan mendata berbagai rencana kerja. Seorang yang bijak menjadi anak dari waktunya. Jika waktu disia-siakan maka hilanglah kebaikan, karena kebaikan itu dengan memanfaatkan waktu, kalau waktu sudah lewat maka tak mungkin untuk diraih kembali.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Lafzhat (Ucapan Lisan) &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Cara untuk memelihara ucapan adalah dengan menjaganya agar tidak berbicara yang sia-sia, tidak berbicara kecuali yang diharapkan memberi keuntungan dan manfaat dalam agama. Jika ingin berbicara maka hendaknya melihat, apakah ucapan itu memberi kan keuntungan dan faidah atau tidak? Jika tidak memberi keuntungan maka perlu ditinjau lagi. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jika engkau ingin tahu apa yang ada dalam hati seseorang, maka perhatikanlah gerakan mulutnya, karena mulutnya akan memperlihatkan kepadamu apa yang ada di dalam hatinya. Yahya bin Muadz berkata, "Hati itu ibarat periuk yang sedang mendidih, sedangkan lisan ibarat gayungnya. Maka perhatikanlah seseorang ketika berbicara, karena lisannya sedang menciduk untukmu apa yang ada dalam hatinya, manis atau pahit, tawar atau asin, dan lain sebagai nya. Dan cidukan lisannya akan menje- laskan kepadamu rasa hati orang itu.” &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam sebuah hadits marfu' dari Anas disebutkan, &lt;br /&gt;"Tidak lurus keimanan seorang hamba sebelum lurus hatinya, dan tidak lurus hati seseorang sebelum lurus lisannya." (HR. Ahmad, dan ada penguatnya) &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rasulullah shallallahu ‘alaihi wassallam ketika ditanya tentang sesuatu yang banyak menjerumuskan manusia ke dalam neraka, maka beliau menjawab, "Mulut dan kemaluan." (HR. at-Tirmidzi dan berkata hadits hasan shahih) &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Khuthuwat (Langkah Kaki) &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Langkah kaki, cara menjaganya adalah dengan tidak mengangkat telapak kaki, kecuali untuk sesuatu yang diharapkan pahala dan kebaikannya. Jika sekiranya langkah kaki tidak menambah pahala, maka duduk adalah lebih baik. Dan mungkin juga melangkah kepada hal yang mubah (boleh), namun diniatkan untuk qurbah (pendekatan diri) semata-mata karena Allah subhanahu wata’ala, maka langkah kaki akan dinilai sebagai qurbah. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam hal ketergelinciran langkah kaki dan lisan, maka ada ayat yang menjelaskan bahwa antara keduanya ada saling keterkaitan, sebagaimana firman Allah subhanahu wata’ala, artinya, &lt;br /&gt;“Dan hamba-hamba yang baik dari Rabb Yang Maha Penyayang itu (ialah) orang-orang yang berjalan di atas bumi dengan rendah hati dan apabila orang-orang jahil menyapa mereka, mereka mengucapkan kata-kata (yang mengandung) keselamatan.” (QS. 25:63) &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam ayat di atas, Allah subhanahu wata’ala menyifati ibadur Rahman di antaranya adalah istiqamah (lurus) dalam ucapan dan langkah kaki mereka. Sebagaimana juga Allah subhanahu wata’ala mengaitkan antara lahazhat (pandangan) dengan khatharat (angan-angan) dalam firman-Nya, artinya, &lt;br /&gt;“Dia mengetahui (pandangan) mata yang khianat dan apa yang disembunyikan oleh hati.” (QS. 40:19). Wallahu a’lam bish shawab. (Kholif) &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sumber: Madakhil asy-Syaithan li ighwa’ al-Insan, min kalam al-Imam Ibnu Qayyim al-Jauziyah dengan memotong dan meringkas, Qism Ilmi Darul Wathan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2341110395006740809-9113977184472154287?l=bertahajudlah.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://bertahajudlah.blogspot.com/feeds/9113977184472154287/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://bertahajudlah.blogspot.com/2010/06/pintu-pintu-masuknya-syetan.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2341110395006740809/posts/default/9113977184472154287'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2341110395006740809/posts/default/9113977184472154287'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://bertahajudlah.blogspot.com/2010/06/pintu-pintu-masuknya-syetan.html' title='Pintu-Pintu Masuknya Syetan'/><author><name>Abu Rasya</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='25' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_Vu2uwPa37To/SwJVf4XAdFI/AAAAAAAAAEk/lhZhkq-B4QA/S220/Fatih-Sultan-Muhammad.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2341110395006740809.post-2956456061900556855</id><published>2010-05-30T11:32:00.004+07:00</published><updated>2010-05-30T12:01:24.373+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='masjid'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='berjamaah'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='sholat'/><title type='text'>40 Manfaat Shalat Berjama'ah (Khatimah)</title><content type='html'>oleh : Syaikh Abu Abdillah Musnid al-Qahthani&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Khatimah&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Segala puji bagi Allah subhanahu wata'aala, Dzat yang dengan nikmat-Nya kebaikan menjadi sempurna.&lt;br /&gt;Setelah disebutkan keutamaan, faedah dan manfaat yang terkandung di dalam shalat berjama’ah, di mana tidak seorangpun yang mengetahui batasannya melainkan Allah subhanahu wata'aala, jelaslah bagi kita betapa besar keagungan, urgensi dan kedudukannya di dalam Islam berdasarkan teks-teks Al-Qur’an dan as-Sunnah.&lt;br /&gt;Dan pembaca yang budiman......&lt;br /&gt;Berikut kami ketengahkan sebagian perkataan para sahabat dan para Ulama setelahnya yang menjelaskan secara tegas tentang hukum shalat berjama’ah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;ul&gt;&lt;li&gt;Diriwayatkan dari Ibnu Mas’ud dan Abi Musa al-Asy’ari radhiyallahu 'anhuma, bahwa keduanya berkata: “Barangsiapa mendengar adzan, lalu dia tidak mendatanginya tanpa ada halangan maka tidak ada shalat baginya.” &lt;/li&gt;&lt;/ul&gt;&lt;ul&gt;&lt;li&gt;Diriwayatkan dari Ali radhiyallahu 'anhu, bahwa dia berkata: “Barangsiapa mendengar adzan, lalu dia tidak mendatanginya maka shalatnya tidak akan sampai kepalanya kecuali ada halangan.” &lt;/li&gt;&lt;/ul&gt;&lt;ul&gt;&lt;li&gt;Diriwayatkan dari A’isyah radhiyallahu 'anha, dia berkata: “Barangsiapa mendengar adzan lalu tidak mendatanginya maka dia tidak menghendaki kebaikan begitupun kebaikan tidak menghendakinya”. &lt;/li&gt;&lt;/ul&gt;&lt;ul&gt;&lt;li&gt;Diriwayatkan dari Abu Hurairah radhiyallahu 'anhu, dia berkata: “Sungguh dua telinga anak Adam dipenuhi dengan timah panas (sebagai siksaan) lebih baik daripada dia mendengar seruan seorang muadzin lalu dia tidak memenuhi panggilannya”. &lt;/li&gt;&lt;/ul&gt;&lt;ul&gt;&lt;li&gt;Diriwayatkan dari Ibnu Abbas radhiyallahu 'anhu bahwasanya dia ditanya perihal seorang laki-laki yang puasa di siang hari dan shalat di malam hari, namun tidak menghadiri shalat Jum’at dan berjama’ah? Maka dia berkata: “tempatnya di neraka.” &lt;/li&gt;&lt;/ul&gt;&lt;ul&gt;&lt;li&gt;Suatu saat Atha’ bin Abi Rabah berkata: “Tidaklah seseorang dari hamba Allah yang menetap di kota dan di perkampungan mendapatkan keringanan apabila mendengar adzan untuk meninggalkan shalat (berjama’ah)”. &lt;/li&gt;&lt;/ul&gt;&lt;ul&gt;&lt;li&gt;Berkata al-Auza’i: “Tidak ada ketaatan terhadap kedua orang tua di dalam meninggalkan shalat Jum’at dan shalat berjama’ah baik mendengar adzan atau tidak”. (Lihat, ucapan-ucapan di atas dalam kitab al-Ausath fi as-Sunan wa al-Ijma’ wa al-Khilaf, karya Ibnu al-Mundzir, IV/136-137) &lt;/li&gt;&lt;/ul&gt;&lt;ul&gt;&lt;li&gt;Imam al-Bukhari rahimahullah berkata di dalam Sahihnya: “Bab Wajibnya ShaLat Berjama’ah” &lt;/li&gt;&lt;/ul&gt;&lt;ul&gt;&lt;li&gt;Para ulama madzhab Hanafi dan Maliki mengatakan: “Shalat berjama’ah hukumnya sunnah mu’akkadah (yang ditekankan), namun demikian orang yang meninggalkannya berdosa dan sah shalat dengan tidak berjama’ah. Adapun perbedaan antara mereka dengan yang mengatakan bahwa shalat berjama’ah hukumnya wajib adalah perbedaan redaksi, dan bahkan sebagian mereka secara tegas mengatakan wajib” (Kitabush Shalat, karya Ibnul Qayyim, hal. 111) &lt;/li&gt;&lt;/ul&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;ul&gt;&lt;li&gt;Al-‘Alamah ‘Alauddin as-Samarqandi, seorang ulama’ besar di kalangan madzhab Hanafi berkata: “Shalat berjama’ah hukumnya adalah wajib, dan sebagian sahabat kami (ulama madzhab Hanafi) mengatakan sunnah mu’akaddah, keduanya mengandung makna yang sama, karena mengacu pada hadits yang bersumber dari Nabi shallallahu 'alahi wasallam, bahwa beliau selalu melakukan shalat berjama’ah begitu juga ummat setelah beliau sampai hari ini, disertai dengan pengingkaran terhadap orang yang meninggalkannya. Dan yang demikian merupakan pengertian wajibnya bukan sunnah” (Tuhfah al-Fuqaha’, I/358) &lt;/li&gt;&lt;/ul&gt;&lt;ul&gt;&lt;li&gt;Imam asy-Syafi’i berkata: “Aku tidak akan memberikan keringanan bagi siapa saja yang mampu melakukan shalat berjama’ah untuk meninggalkannya kecuali ada halangan” (Kitab al-‘Um, hal. 277) &lt;/li&gt;&lt;/ul&gt;&lt;ul&gt;&lt;li&gt;Imam an-Nawawi berkata: “Shalat berjama’ah diperintahkan berdasarkan hadits-hadits yang sahih dan dikenal luas serta kesepakatan kaum Muslimin. Dan di kalangan sahabat kami (Ulama madzhab Syafi’I) ada tiga pendapat. Salah satu diantaranya mengatakan fardhu kifayah, yang kedua mengatakan sunnah dan yang ketiga mengatakan fardhu ‘ain namun tidak merupakan syarat sahnya shalat. Dan pendapat yang ketiga ini merupakan pendapat dua ulama besar yang memiliki keahlian dalam ilmu Fiqh dan hadits di kalangan madzhab kami yaitu Abu Bakar bin Khuzaimah dan Ibnu al-Mundzir. Berkata al-Rafi’i: “Pendapat yang ketiga ini dikatakan juga sebagai pendapat asy-Syafi’i (al-Majmu’, IV/183) &lt;/li&gt;&lt;/ul&gt;&lt;ul&gt;&lt;li&gt;Dikalangan madzhab Imam Ahmad bin Hanbal, kebanyakan mereka mengatakan:”Sesungguhnya shalat berjama’ah adalah wajib bagi setiap orang, berdosa bagi yang meninggalkan dan bukan merupakan syarat sahnya shalat, dan dalam riwayat yang lain dikatakan merupakan syarat sahnya shalat. Berkata al-Mardawi di dalam al-Inshaf: “Bahwa perkataan Imam Ahmad bin Hanbal yang mengatakan bahwa shalat berjama’ah adalah wajib untuk shalat lima waktu bagi laki-laki dan tidak merupakan syarat (sahnya shalat) adalah madzhab beliau dan tidak ada keraguan, juga pendapat kebanyakan ulama madzhab Hambali, bahkan kebanyakan mereka memastikan dan mencatat bahwa itulah pendapat yang dipegang oleh Imam Ahmad.”(Lihat, Abwabu Shalatiljama’ah dari Kitab al-Inshaf, al-Iqna’ dan al-Mughni) &lt;/li&gt;&lt;/ul&gt;&lt;ul&gt;&lt;li&gt;Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah berkata: “Shalat berjama’ah merupakan perkara yang ditekankan di dalam agama berdasarkan kesepakatan kaum Muslimin dan hukumnya wajib bagi setiap orang menurut sebagian besar kalangan Salaf dan para Imam Ahli Hadits seperti Ahmad, Ishaq dan selain dari keduanya serta sebagian ulama madzhab asy-Syafi’i. Dan hukumnya fardhu kifayah menurut sebagian ulama madzhab asy-Syafi’i dan selain mereka. Dan pendapat ini yang lebih kuat di kalangan mereka.” &lt;/li&gt;&lt;/ul&gt;&lt;ul&gt;&lt;li&gt;Orang yang terus menurus meninggalkan shalat berjama’ah adalah orang yang tidak baik, harus dicegah, diperingatkan, bahkan dihukum serta ditolak kesaksiannya meskipun ada yang mengatakan bahwa hukumnya adalah sunnah mu’akkadah.” &lt;/li&gt;&lt;/ul&gt;&lt;ul&gt;&lt;li&gt;Beliau juga mengatakan: “Barangsiapa yang berkeyakinan bahwa shalat di rumahnya lebih utama daripada shalat berjama’ah di masjid maka dia adalah sesat dan pelaku bid’ah menurut kesepakatan kaum Muslimin. Karena shalat berjama’ah bisa jadi hukumnya fardhu ‘ain atau fardhu kifayah, sementara dalil-dalil dari al-Qur’an dan as-Sunnah menunjukkan bahwa shalat berjama’ah adalah wajib bagi setiap orang. Dan mereka yang mengatakan sunnah mu’akaddah dan tidak mengatakan wajib mencela orang yang terus-menerus meninggalkannya, bahkan orang yang sering meninggalkan perkara sunnah yang hukumnya di bawah hukum shalat berjama’ah akan luntur sifat adilnya dan tidak diterima kesaksiannya menurut mereka, maka bagaimana pula orang yang terbiasa meninggalkan shalat berjama’ah ??? Maka dia harus diperintahkan untuk melaksanakannya menurut kesepakatan kaum Muslimin dan dicela karena meninggalkannya, Dan orang yang terus-menerus meninggalkan sunnah rawatib yang kedudukannya di bawah shalat berjama’ah tidak dibolehkan untuk memutuskan suatu perkara, memberikan kesaksian dan berfatwa, maka bagaimana pula dengan shalat berjama’ah yang merupakan syiar Islam yang paling agung.”(Majmu’ al-Fatawa, XXIII/253) &lt;/li&gt;&lt;/ul&gt;&lt;ul&gt;&lt;li&gt;Ibnul Qayyim berkata: “Barangsiapa yang memperhatikan sunnah Rasulullah shallallahu 'alahi wasallam dengan pehatian yang sungguh-sungguh akan jelas baginnya bahwa melakukan shalat berjama’ah di masjid adalah fardhu ‘ain (wajib bagi setiap orang) kecuali ada halangan yang membolehkan meninggalkan shalat Jum’at dan shalat berjama’ah, maka tidak hadir ke masjid tanpa ada halangan sama seperti meninggalkan shalat berjama’ah secara keseluruhan. Dengan demikian terjadi kesingkronan pada seluruh hadits dan atsar (yang berkenaan dengan shalat berjama’ah.pent)”… hingga Beliau berkata: “Maka keyakinan yang kita pegang dan kita pertanggungjawabkan kepada Allah bahwa tidak boleh bagi seorangpun meninggalkan shalat berjama’ah di masjid kecuali ada halangan. Wallahu a’lam bish shawab. (Kitab ash-Shalah, hal. 137) &lt;/li&gt;&lt;/ul&gt;&lt;ul&gt;&lt;li&gt;Telah kita sebutkan di atas perkataan Imam asy-Syaukani (Lihat, manfaat yang Kesepuluh) &lt;/li&gt;&lt;/ul&gt;&lt;ul&gt;&lt;li&gt;Al-Lajnah ad-Daimah lil Buhust al-‘Ilmiyah wa al-Ifta’ (Komisi Tetap Bidang Penelitian Ilmiah dan Fatwa) pada Lembaga Ulama-ulama Besar Saudi Arabiyah telah memberikan jawaban berkaitan dengan permasalahan ini: “Bahwa shalat lima waktu dengan berberjama’ah di masjid adalah wajib bagi setiap mukallaf laki-laki, maka barangsiapa yang meninggalkannya dengan sengaja tanpa ada halangan maka dia telah berdosa, sebagaimana sabda Nabi shallallahu 'alahi wasallam. “Barangsiapa mendengar adzan, lalu dia tidak mendatanginya maka tidak ada shalat baginya kecuali karena halangan”. (H.R Ibnu Majah, dan ad-Daruquthni dengan sanad yang sahih) Dan Ibnu Abbas pernah ditanya tentang al-‘Udzur (halangan), maka dia menjawab: “ dalam keadaan ketakutan atau sakit.” (Fatwa al-Lajnah ad-Da’imah VII/292)&lt;/li&gt;&lt;/ul&gt;&lt;br /&gt;Maka setelah terpaparkan atsar (perkataan-perkataan) para sahabat dan perkataan para Ulama Salaf jelaslah bagi kita secara gamblang bahwa shalat berjama’ah adalah wajib bagi setiap orang, dan bukan merupakan syarat sahnya shalat. Barangsiapa meninggalkannya tanpa ada halangan maka dia berdosa dan telah bermaksiat kepada Allah dan Rasul-Nya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;Alhamdulillah, sebagaimana telah jelas pula bahwa meskipun ungkapan para Ulama beraneka ragam dalam menamai hukum shalat berjama’ah antara fardu ‘ain atau fardhu kifayah atau sunnah mu’akkadah, namun mereka sepakat bahwa barangsiapa yang meninggalkannya maka dia berdosa, dan perbedaan yang ada di kalangan mereka hanya sekedar perbedaan redaksi saja. Maka janganlah seseorang terpedaya oleh sebagian orang yang menganggap remeh hukum ibadah yang agung ini. &lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;Kepada Allah-lah aku memohon agar menjadikan kita semua termasuk orang-orang yang dapat menegakkan shalat, menunaikan zakat dan senantiasa ruku’ bersama orang-orang yang ruku’.&lt;br /&gt;Dan semoga Allah memberikan ampunan kepada kita, kedua orang tua kita, ulama kita, dan seluruh kaum Muslimin.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;Semoga shalawat dan salam serta keberkahan senantiasa tercurahkan kepada Nabi kita Muhammad, keluarga dan segenap sahabatnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;www.alsofwah.or.id&lt;/div&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2341110395006740809-2956456061900556855?l=bertahajudlah.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://bertahajudlah.blogspot.com/feeds/2956456061900556855/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://bertahajudlah.blogspot.com/2010/05/oleh-syaikh-abu-abdillah-musnid-al_30.html#comment-form' title='2 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2341110395006740809/posts/default/2956456061900556855'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2341110395006740809/posts/default/2956456061900556855'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://bertahajudlah.blogspot.com/2010/05/oleh-syaikh-abu-abdillah-musnid-al_30.html' title='40 Manfaat Shalat Berjama&apos;ah (Khatimah)'/><author><name>Abu Rasya</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='25' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_Vu2uwPa37To/SwJVf4XAdFI/AAAAAAAAAEk/lhZhkq-B4QA/S220/Fatih-Sultan-Muhammad.jpg'/></author><thr:total>2</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2341110395006740809.post-2924277161831465723</id><published>2010-05-27T07:43:00.003+07:00</published><updated>2010-05-27T07:52:54.135+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='salaf'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='masjid'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='berjamaah'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='sholat'/><title type='text'>40 Manfaat Shalat Berjama'ah (38), (39), (40).</title><content type='html'>oleh : Syaikh Abu Abdillah Musnid al-Qahthani&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Manfaat ke–38 : Terjaganya Kepribadian yang Baik &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Shalat berjamaah adalah salah satu sebab bagi terjaganya kepribadian seseorang. Sebagian ulama salaf berkata, “Termasuk kepribadian yang baik yaitu menjaga shalat berjamaah dan senantiasa datang ke masjid saat datang waktu shalat.” (Lihat Al Muru’atu wa Khawarimuha, Masyhur Hasan Salman, hal, 36.) &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Adapun orang yang meninggalkan shalat berjamaah maka dia telah menghancurkan kepribadian baiknya. Dan seperti diketahui, orang yang kepribadiannya telah hancur, tidak lagi dapat diterima kesaksiannya. &lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Manfaat ke–39 : Adanya Perasaan Berdiri dalam Suatu Barisan Jihad &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Manfaat shalat berjamaah yang lain yaitu ia bisa mendatangkan perasaan tengah berdiri dalam barisan jihad, sebagaimana firman Allah,&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;إِنَّ الله يُحِبُّ الذين يقاتلون فِى سَبِيلِهِ صَفّاً كَأَنَّهُم بنيان مَّرْصُوصٌ &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang berperang di jalanNya dalam barisan yang teratur.” (Ash-Shaff: 4). &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan tak diragukan lagi, mereka yang telah menjadi satu barisan dalam jihad bila sudah terbiasa dengan shalat lima waktu, ia akan menjadi sarana bagi ketaatan kepada komandan mereka dalam barisan jihad. Mereka tidak akan mendahului atau mengakhirkan komando-komando pemimpinnya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Manfaat ke–40 : Menghadirkan Perasaan Apa yang Terjadi pada Zaman Nabi shallallahu 'alahi wasallam dan Para Sahabatnya &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sesungguhnya shalat berjamaah bisa menghadirkan perasaan bagi yang hidup di zaman akhir dengan apa yang ada pada zaman permulaan Islam. Yakni dengan keadaan para sahabat. Imam merasa bahwa dirinya berada pada maqam (posisi) Rasulullah shallallahu 'alahi wasallam dalam mengimami para jamaah. Sedangkan para makmum merasa bahwa mereka berada pada maqam sahabat-sahabat Rasulullah shallallahu 'alahi wasallam. Dan tak disangsikan lagi, adanya keterkaitan orang-orang yang hidup di akhir zaman dengan pendahulunya di zaman permulaan Islam merupakan motivator kuat dalam mengikuti salaf dan petunjuk mereka. Alangkah baiknya jika kita melakukan suatu pekerjaan yang dianjurkan lalu kita merasa bahwa kita sedang meneladani Rasulullah shallallahu 'alahi wasallam dan para sahabatnya yang mulia. Dengan demikian niscaya seseorang akan memiliki motivasi kuat dalam jiwanya sehingga ia bergabung dengan perilaku as-salafush shalih. Dengan demikian ia akan menjadi pengikut as-salafush shalih, baik dalam aqidah, amalan, tingkah laku, maupun manhaj. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Penutup &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Segala puji bagi Allah, yang dengan nikmatNya segala yang baik menjadi sempurna. &lt;br /&gt;Amma ba’du,... &lt;br /&gt;Inilah sebagian dari manfaat dan faedah shalat berjamaah. Dan tidak seorangpun yang mengetahui keutamaan ibadah agung ini secara sesungguhnya kecuali Allah subhanahu wata'aala Karena kebaikan dilipatkan menjadi sepuluh kalinya hingga menjadi tujuh ratus kali lipat. Dan Allah melipatgandakan untuk siapa yang dikehendakiNya. Dan Allah Maha Luas (karuniaNya) dan Maha Mengetahui. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Penulis perlu menekankan sekali lagi bahwa dasar yang paling fundamental dalam ibadah ini (shalat berjamaah), juga pada yang lain adalah untuk menghamba kepada Allah SWT dengan menjalankan segala perintah-Nya dan meninggalkan semua laranganNya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hanya kepada Allah kita berdoa semoga Ia menjadikan kita termasuk orang-orang yang menegakkan shalat dan menunaikan zakat serta ruku' bersama orang-orang yang ruku'. Mudah-mudahan Allah mengampuni kita, kedua orang tua kita, saudara-saudara kita umat Islam. Semoga shalawat dan barakah senantiasa dilimpahkan kepada Nabi kita Muhammad, juga kepada keluarga dan segenap sahabatnya. Amin. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;www.alsofwah.or.id&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2341110395006740809-2924277161831465723?l=bertahajudlah.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://bertahajudlah.blogspot.com/feeds/2924277161831465723/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://bertahajudlah.blogspot.com/2010/05/oleh-syaikh-abu-abdillah-musnid-al_27.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2341110395006740809/posts/default/2924277161831465723'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2341110395006740809/posts/default/2924277161831465723'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://bertahajudlah.blogspot.com/2010/05/oleh-syaikh-abu-abdillah-musnid-al_27.html' title='40 Manfaat Shalat Berjama&apos;ah (38), (39), (40).'/><author><name>Abu Rasya</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='25' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_Vu2uwPa37To/SwJVf4XAdFI/AAAAAAAAAEk/lhZhkq-B4QA/S220/Fatih-Sultan-Muhammad.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2341110395006740809.post-1062900993390772543</id><published>2010-05-26T07:41:00.003+07:00</published><updated>2010-05-26T07:48:24.871+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='masjid'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='berjamaah'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='sholat'/><title type='text'>40 Manfaat Shalat Berjama'ah (35), (36), (37).</title><content type='html'>oleh : Syaikh Abu Abdillah Musnid al-Qahthani&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Manfaat ke–35 : Memperbaiki Penampilan dan Jati Diri &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di antara manfaat shalat berjamaah yaitu ia pada galibnya membuat seorang muslim memperhatikan diri dan penampilannya, kebersihan pakaian dan parfumnya. Yang demikian itu karena ia berkumpul dengan saudara-saudaranya dan bertemu dengan mereka sepanjang siang dan malam hari. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berbeda dengan orang yang shalat sendirian, kebanyakan mereka meremehkan masalah ini dan menyalahi firman Allah, &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;يابنى ءَادَمَ خُذُواْ زِينَتَكُمْ عِندَ كُلِّ مَسْجِدٍ وَكُلُواْ واشربوا وَلاَ تُسْرِفُواْ إِنَّهُ لاَ يُحِبُّ المسرفين &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Hai anak Adam, pakailah pakaianmu yang indah di setiap (memasuki) mesjid, makan dan minumlah, dan jangan berlebih-lebihan. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berlebih-lebihan.” (Al-A'raf : 31). &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Asy-Syaukani rahimahullah berkata, “Perintah ini ditujukan kepada segenap anak Adam meskipun ayat tersebut diturunkan karena sebab khusus. Yang dipandang adalah keumuman lafazh, tidak khususnya sebab. Adapun zinah dalam ayat tersebut maknanya adalah pakaian yang dijadikan perhiasan oleh manusia. Mereka diperintahkan untuk berpakaian indah ketika pergi ke masjid-masjid untuk shalat atau thawaf.” (Fathul Qadir 2/228) &lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Manfaat ke–36 : Saling Mengenal dan Memperkenalkan Diri &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Shalat berjamaah merupakan kesempatan besar untuk saling mengenal dan beramah-tamah antar sesama muslim saat pertemuan mereka dalam shalat lima waktu, juga ketika masuk dan keluar masjid.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Shalat berjamaah juga kesempatan bagi para jamaah untuk saling mencari tahu satu sama lain, serta untuk mengetahui tentang situasi dam kondisi mereka, sehingga terjadilah kunjungan kepada orang sakit, membantu orang yang membutuhkan, berbelas kasih kepada orang yang tertimpa musibah dan sebagainya, hal-hal yang bisa menguatkan hubungan dan menambah persaudaraan antar sesama muslim. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Manfaat ke–37 : Berlomba-lomba dalam Ketaatan Kepada Allah &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Termasuk manfaat shalat berjamaah yaitu ia menjadi pendorong (motivator) untuk berlomba-lomba dalam ketaatan kepada Allah dengan penuh kejujuran dan keikhlasan. Ketika para jamaah melihat saudara-saudaranya yang lain maka mereka akan berlomba-lomba bersama saudara-saudaranya tersebut dalam hal-hal yang mendekatkan dirinya kepada Allah dalam ibadah yang agung itu. Yakni dengan menambah kebajikan seperti bersegera menuju masjid saat waktu shalat tiba, menunaikan shalat sunnat rawatib, membaca dzikir, doa dan sebagainya. Allah memerintahkan kita untuk berlomba-lomba dalam hal yang mendekatkan kita kepada keridhaan dan Surga-Nya dengan berbagai amal shalih. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Allah berfirman, &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;وَفِى ذلك فَلْيَتَنَافَسِ المتنافسون &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Dan untuk yang demikian itu hendaknya orang berlomba-lomba.” (Al-Muthaffifin: 26).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2341110395006740809-1062900993390772543?l=bertahajudlah.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://bertahajudlah.blogspot.com/feeds/1062900993390772543/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://bertahajudlah.blogspot.com/2010/05/40-manfaat-shalat-berjamaah-35-36-37.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2341110395006740809/posts/default/1062900993390772543'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2341110395006740809/posts/default/1062900993390772543'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://bertahajudlah.blogspot.com/2010/05/40-manfaat-shalat-berjamaah-35-36-37.html' title='40 Manfaat Shalat Berjama&apos;ah (35), (36), (37).'/><author><name>Abu Rasya</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='25' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_Vu2uwPa37To/SwJVf4XAdFI/AAAAAAAAAEk/lhZhkq-B4QA/S220/Fatih-Sultan-Muhammad.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2341110395006740809.post-81780577803251300</id><published>2010-05-22T18:47:00.004+07:00</published><updated>2010-05-22T19:13:06.159+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='masjid'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='berjamaah'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='sholat'/><title type='text'>40 Manfaat Shalat Berjama'ah (31), (32), (33), (34)</title><content type='html'>oleh : Syaikh Abu Abdillah Musnid al-Qahthani&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Manfaat ke–31 : Menjaga Shalat-shalat Sunnah Rawatib dan Dzikir &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Termasuk manfaat shalat berjamaah yaitu paada umumnya ia membantu seorang muslim selalu menjaga hal-hal yang sunnah, shalat-shalat rawatib dan dzikir bersaamaan dengan shalat wajib yang lima waktu. Ini adalah fenomena yang tampak di masjid-masjid. Berbeda dengan orang yang shalat sendirian, kebanyakan ia meremehkan hal-hal sunnat tersebut, yang sesungguhnya berpahala besar. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rasulullah shallallahu 'alahi wasallam bersabda, &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;مَنْ صَلىَّ فيِ يَوْمٍ وَلَيْلَةٍ ثِنْتَيْ عَشْرَةَ رَكْعَةً بُنِيَ لَهُ بَيْتٌ فيِ اْلجَنَّةِ: أَرْبَعًاً قَبْلَ الظُّهْرِ وَرَكْعَتَيْنِ بَعْدَهَا وَرَكْعَتَيْنِ بَعْدَ اْلمَغْرِبِ وَرَكْعَتَيْنِ بَعْدَ اْلعِشَاءِ وَرَكْعَتَيْنِ قَبْلَ صَلاَةِ اْلغَذَاةِ &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Siapa yang shalat sehari semalam duabelas rakaat niscaya dibangunkan satu rumah untuknya di Surga: empat rakaat sebelum Dzuhur dan dua rakaat setelahnya, dua rakaat setelah Maghrib, dua rakaat setelah Isya’ dan dua rakaat sebelum Shubuh.” (Shahihul Jami’ no.6362) &lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Manfaat ke–32 : Memahami Hukum-hukum Shalat &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di antara manfaat shalat berjamaah yaitu ia merupakan kesempatan besar untuk mempelajari sifat-sifat shalat dan mengetahui hukum-hukumnya. Dan itu bisa dilakukan saat masing-masing orang menyaksikan lainnya yang sedang shalat. Atau dengan mendengarkan ceramah-ceramah yang disampaikan di masjid-masjid, juga dengan membaca tulisan-tulisan yang ditempelkan di dalam masjid. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Shalat berjamaah juga merupakan kesempatan untuk mengetahui bacaan yang benar serta belajar hukum-hukum tajwid dengan mendengarkan bacaan imam. Adapun orang yang shalat sendirian, maka ia tidak dapat mengambil manfaat sedikitpun dari hal-hal di atas. Bahkan mungkin terkadang ia melakukan kesalahan yang membatalkan shalatnya tetapi ia tidak merasa. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Manfaat ke–33 : Membiasakan Disiplin dan Menguasai Diri &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam shalat berjamaah terdapat pengajaran tentang disiplin dan penguasaan diri. Yaitu pada saat mengikuti imam dalam beberapa takbirnya serta dalam pergantian gerakan-gerakan shalat. Pada saat itu ia tidak boleh mendahului gerakan imam, tertinggal daripadanya, membarengi atau melampauinya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nabi shallallahu 'alahi wasallam telah menegaskan hal ini dalam sabdanya, &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;إِنَّمَا جُعِلَ اْلإِمَامُ لِيُؤْتَمَّ بِهِ فَلاَ تَخْتَلِفُوْا عَلَيْهِ وَإِذَا كَبَّرَ فَكَبِّرُوْا وَإِذَا رَكَعَ فَارْكَعُوْا وَإِذَا قَالَ سَمِعَ اللهُ لِمَنْ حَمِدَهُ فَقُوْلُوْا رَبَّنَا لَكَ اْلحَمْدُ وَإِذَا سَجَدَ فَاسْجُدُوْا وَإِذَا صَلَّى جَالِسًا فَصَلُّوْا جُلُوْسًا أَجْمَعِيْنَ &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Sesungguhnya imam itu diadakan agar ia diikuti karena itu janganlah kalian berselisih atasnya. Jika ia bertakbir maka bertakbirlah, dan jika ia ruku’ maka ruku’lah dan jika ia mengucapkan, 'Sami’allahu liman hamidah,' maka ucapkanlah, 'rabbana lakal hamd,' (bagiMu lah, wahai Tuhanku segala puji), dan jika ia sujud maka sujudlah dan jika ia shalat dengan duduk maka shalatlah kalian dengan duduk semua.” (Shahihul Jami’ no.2360) &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Manfaat ke–34 : Menampakkan Kekuatan Umat Islam dan Membuat Kesal Orang-orang Kafir dan Munafik &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Shalat berjamaah menampakkan kekuatan umat Islam sepanjang siang dan malam, juga menampakkan jumlah mereka yang besar. Di samping, ia akan membuat kesal musuh-musuh mereka, dari golongan orang-orang kafir dan munafik. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Syaikh Abdurrahman as-Sa'di rahimahullah berkata, “Pengaruh dari konsekuensi amal seorang hamba akan mendatangkan pahala yang besar bagi dirinya.” (Tafsir as-Sa’di, Surat at-Taubah ayat 120) &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;www.alsofwah.or.id&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2341110395006740809-81780577803251300?l=bertahajudlah.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://bertahajudlah.blogspot.com/feeds/81780577803251300/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://bertahajudlah.blogspot.com/2010/05/40-manfaat-shalat-berjamaah-31-32-33-34.html#comment-form' title='1 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2341110395006740809/posts/default/81780577803251300'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2341110395006740809/posts/default/81780577803251300'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://bertahajudlah.blogspot.com/2010/05/40-manfaat-shalat-berjamaah-31-32-33-34.html' title='40 Manfaat Shalat Berjama&apos;ah (31), (32), (33), (34)'/><author><name>Abu Rasya</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='25' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_Vu2uwPa37To/SwJVf4XAdFI/AAAAAAAAAEk/lhZhkq-B4QA/S220/Fatih-Sultan-Muhammad.jpg'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2341110395006740809.post-5442922681406889395</id><published>2010-05-21T11:26:00.002+07:00</published><updated>2010-05-21T11:31:09.306+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='masjid'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='berjamaah'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='sholat'/><title type='text'>40 Manfaat Shalat Berjama'ah (27), (28), (29), (30)</title><content type='html'>oleh : Syaikh Abu Abdillah Musnid al-Qahthani&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Manfaat ke–27 : Selamat dari Neraka Wail &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Shalat berjamaah bisa menjaga seorang muslim dari meremehkan, melalaikan dan melupakan shalat. Juga menjaganya dari melakukan shalat di akhir waktu. Bahkan kebanyakan mereka yang meninggalkan shalat, pada awalnya adalah mereka meninggalkan shalat berjamaah. Karena itu, di antara rahmat Allah kepada kita, Dia mensyariatkan shalat lima waktu secara berjamaah. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Allah subhanahu wata'aala mengancam orang-orang yang melalaikan shalat dan mengakhirkannya dari waktunya dengan firmanNya,&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;فَوَيْلٌ لِّلْمُصَلِّينَ . الذين هُمْ عَن صَلاتِهِمْ سَاهُونَ &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Maka celakalah bagi orang-orang yang shalat, (yaitu) orang-orang yang lalai dari shalatnya.” (Al-Ma'un: 4-5). &lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Manfaat ke–28 : Selamat dari Kelalaian &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan shalat berjamaah berarti seseorang selamat dari doa Nabi shallallahu 'alahi wasallam atas orang-orang yang meninggalkannya agar hati mereka dikunci mati, demikian pula dengan melaksanakan shalat berjamaah, berarti selamat dari kelalaian. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ibnu Majah meriwayatkan dari Ibnu Abbas dan Ibnu Umar radhiyallahu 'anhuma bahwa keduanya mendengar Nabi shallallahu 'alahi wasallam bersabda, &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;لَيَنْتَهِيَنَّ أَقْوَامٌ عَنْ وَدْعِهِمُ اْلجَمَاعَاتِ أَوْ لَيَخْتِمَنَّ اللهُ عَلىَ قُلُوْبِهِمْ ثُمَّ لَيَكُوْنَنَّ مِنَ اْلغَافِلِيْنَ &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Sungguh beberapa kaum benar-benar akan menghentikan (kebiasaannya) meninggalkan shalat berjamaah atau Allah benar-benar akan mengunci mati hati mereka lalu mereka benar-benar termasuk orang-orang yang lalai.” (Shahih Sunan Ibnu Majah no.646) &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Manfaat ke–29 : Doanya Tidak Ditolak &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam hidup ini kita memiliki banyak waktu yang jika kita berdoa di dalamnya akan dikabulkan. Bahkan di sana ada waktu-waktu bagi doa yang tak mungkin ditolak. Di antara waktu-waktu dan kesempatan emas tersebut adalah waktu antara adzan dan iqamat. &lt;br /&gt;Adapun faktor yang menyebabkan kita menggunakan waktu yang berharga tersebut (untuk berdoa) di antaranya adalah shalat berjamaah. Sebab pada umumnya, orang yang datang ke masjid sebelum iqamat selalu menyibukkan diri dengan dzikir dan doa. Orang yang shalat sendirian tidak memperdulikan kesempatan yang berharga ini. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rasulullah shallallahu 'alahi wasallam bersabda,&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;اَلدُّعَاءُ لاَ يُرَدُّ بَيْنَ اْلأَذَانِ وَاْلإِقَامَةِ &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Doa antara adzan dan iqamat adalah tidak ditolak.” (Shahihul Jami no.3408)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Manfaat ke–30 : Persaudaraan, Kasih Sayang dan Persamaan &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di antara maksud Islam yang agung yaitu menyatukan antara hati kaum mukminin serta menjaga kasih sayang dan persamaan antara mereka. Dengan shalat berjamaah, semua hal tersebut terealisir, yakni ketika orang-orang yang sedang berdiri dalam satu shaf yang kokoh dan lurus, tidak ada perbedaan di antara mereka. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nabi shallallahu 'alahi wasallam menganjurkan agar kita meluruskan shaf dan tidak berselisih (bengkok dan berpencar), seraya menjelaskan bahwa yang demikian itu adalah sebab-sebab bagi bersatunya segenap hati. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam sebuah riwayat disebutkan, &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;وَلاَ تَخْتَلِفُوْا فَتَخْتَلِفَ قُلُوْبُكُمْ &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Dan janganlah kalian berselisih (bengkok dalam shaf), karena hal itu akan mengakibatkan berselisihnya hati.” (Shahihul Jami’ no.961) &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;www.alsofwah.or.id&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2341110395006740809-5442922681406889395?l=bertahajudlah.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://bertahajudlah.blogspot.com/feeds/5442922681406889395/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://bertahajudlah.blogspot.com/2010/05/40-manfaat-shalat-berjamaah-27-28-29-30.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2341110395006740809/posts/default/5442922681406889395'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2341110395006740809/posts/default/5442922681406889395'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://bertahajudlah.blogspot.com/2010/05/40-manfaat-shalat-berjamaah-27-28-29-30.html' title='40 Manfaat Shalat Berjama&apos;ah (27), (28), (29), (30)'/><author><name>Abu Rasya</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='25' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_Vu2uwPa37To/SwJVf4XAdFI/AAAAAAAAAEk/lhZhkq-B4QA/S220/Fatih-Sultan-Muhammad.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2341110395006740809.post-3346257271590488384</id><published>2010-05-19T10:54:00.002+07:00</published><updated>2010-05-19T11:00:56.544+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='masjid'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='berjamaah'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='sholat'/><title type='text'>40 Manfaat Shalat Berjama'ah (24), (25), (26).</title><content type='html'>oleh : Syaikh Abu Abdillah Musnid al-Qahthani&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Manfaat ke–24 : Mendapatkan Pahala Berjamaah Meskipun Telah Selesai Dikerjakan &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Manfaat lain dari shalat berjamaah yaitu orang yang datang (ke masjid) untuk melakukannya akan tetap mendapatkan pahala berjamaah meskipun orang-orang sudah selesai melakukan shalat berjamaah. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Imam Ahmad, Abu Daud dan an-Nasa’i meriwayatkan dari Abu Hurairah radhiyallahu 'anhu, bahwasanya Nabi shallallahu 'alahi wasallam bersabda, &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;مَنْ تَوَضَّأَ فَأَحْسَنَ وُضُوْءَهُ ثُمَّ رَاحَ فَوَجَدَ النَّاسَ قَدْ صَلُّوْا أَعْطَاهُ اللهُ مِثْلَ أَجْرِ مَنْ صَلاَّهَا وَحَضَرَهَا لاَ يَنْقُصُ ذلِكَ مِنْ أَجْرِهْمْ شَيْئاً &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Siapa yang berwudhu kemudian membaikkan wudhunya lalu pergi (ke masjid) dan ia mendapati orang-orang telah selesai shalat, niscaya Allah (tetap) memberinya pahala orang yang tetap shalat dan menghadirinya secara berjamaah, pahalanya tidak mengurangi sedikitpun dari pahala mereka.” (Shahihul Jami’ no.6163) &lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Manfaat ke–25 : Sempurnanya Shalat &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Shalat berjamaah adalah salah satu sebab bagi kesempurnaan dan kelengkapan shalat, juga pada ghalibnya menyelamatkan dan mengamankan diri dari lupa. Selanjutnya, ia berdampak pada semakin tingginya derajat (potensi) diterimanya shalat tersebut dengan izin Allah. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rasulullah shallallahu 'alahi wasallam bersabda, &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;اْلإِمَامُ ضَامِنٌ وَاْلمُؤَذِّنُ مُؤْتَمَنٌ، اَللّهُمَّ أَرْشِدِ اْلأَئِمَّةَ وْاغْفِرْ لِلْمُؤَذِّنِيْنَ &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Imam adalah yang bertanggung jawab, mu’adzin adalah yang dipercaya. Ya Allah, berilah petunjuk kepada para imam dan ampunilah para mu'adzin.” (Shahihul Jami’ no.2787) &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Para ulama berkata, “Imam adalah yang bertanggung jawab maksudnya dialah yang menanggung kesempurnaan shalat para makmum.” (Lihat ‘Aunul Ma’bud 2/152) &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ini tentunya berbeda dengan orang yang shalat sendirian. Jika terjadi kesalahan, lupa atau kekurangan, tak seorangpun yang menanggung atasnya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Manfaat ke–26 : Amal yang Paling Utama &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Shalat berjamaah adalah di antara sebab yang menjadikan seseorang melakukan shalat pada awal waktunya atau minimal tepat pada waktunya. Dan ini adalah termasuk amalan yang paling utama di sisi Allah subhanahu wata'aala. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Abu Daud dan at-Tirmidzi meriwayatkan dari Ummi Farwah radhiyallahu 'anha, bahwasanya ia berkata, Rasulullah shallallahu 'alahi wasallam ditanya, &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;أَيُّ اْلأَعْمَالِ أَفْضَلُ؟ قَالَ: اَلصَّلاَةُ فيِ أَوَّلِ وَقْتِهَا. وَفيِ رِوَايَةٍ لِمُسْلِمٍ: أَفْضَلُ اْلأَعْمَالِ الصَّلاَةُ لِوَقْتِهَا وَبِرُّ اْلوَالِدَيْنِ &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Amalan apakah yang paling utama?” Beliau menjawab, “Shalat pada awal waktunya.” Dan dalam riwayat Muslim disebutkan, “Amal yang paling utama yaitu shalat pada waktunya dan berbuat baik pada ibu bapak (birrul walidain).” (Shahihu Jami no.1093,1094) &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;www.alsofwah.or.id&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2341110395006740809-3346257271590488384?l=bertahajudlah.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://bertahajudlah.blogspot.com/feeds/3346257271590488384/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://bertahajudlah.blogspot.com/2010/05/40-manfaat-shalat-berjamaah-24-25-26.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2341110395006740809/posts/default/3346257271590488384'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2341110395006740809/posts/default/3346257271590488384'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://bertahajudlah.blogspot.com/2010/05/40-manfaat-shalat-berjamaah-24-25-26.html' title='40 Manfaat Shalat Berjama&apos;ah (24), (25), (26).'/><author><name>Abu Rasya</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='25' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_Vu2uwPa37To/SwJVf4XAdFI/AAAAAAAAAEk/lhZhkq-B4QA/S220/Fatih-Sultan-Muhammad.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2341110395006740809.post-46075566690373112</id><published>2010-05-18T08:42:00.003+07:00</published><updated>2010-05-18T08:56:52.996+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='berjamaah'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='sholat'/><title type='text'>40 Manfaat Shalat Berjama'ah (21), (22), (23).</title><content type='html'>oleh : Syaikh Abu Abdillah Musnid al-Qahthani&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Manfaat ke–21 : Bebas dari Neraka dan Bebas dari Sifat Nifak &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di antara manfaat shalat berjamaah adalah siapa yang menjaga dan melakukannya secara rutin selama 40 hari, dan tidak ketinggalan takbir pertama, niscaya Allah akan memberinya dua pembebasan; bebas (selamat) dari neraka dan bebas dari kemunafikan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Semoga Allah melindungi kita dan orang-orang yang kita cintai dari siksa Allah. &lt;br /&gt;Diriwayatkan dari Anas radhiyallahu 'anhu, bahwasanya Rasulullah shallallahu 'alahi wasallam bersabda, &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;مَنْ صَلىَّ أَرْبَعِيْنَ يَوْماً فيِ جَمَاعَةٍ يُدْرِكُ التَّكْبِيْرَةَ اْلأُوْلىَ كُتِبَ لَهُ بَرَاءتَانَ: بَرَاءةٌ مِنَ النَّارِ وَبَرَاءةٌ مِنَ النِّفَاقِ &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Siapa yang melakukan shalat berjamaah selama 40 hari, dan ia mendapatkan takbir pertama, niscaya dituliskan untuknya dua pembebasan; bebas (selamat) dari Neraka dan bebas dari nifak.” (Shahihul Jami’ no.6365) &lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Manfaat ke–22 : Mendapatkan Shalawat dari Allah dan Para Malaikat &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berdiri pada shaf-shaf untuk menyelenggarakan shalat berjamaah adalah salah satu sebab adanya shalawat Allah dan para malaikat yang mulia terhadap mereka yang shalat, utamanya mereka yang berada pada shaf-shaf terdepan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rasulullah shallallahu 'alahi wasallam bersabda, &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;إِنَّ اللهَ وَمَلاَئِكَتَهُ يُصَلُّوْنَ عَلىَ الصُّفُوْفِ اْلمُقَدَّمَةِ. وَفيِ رِوَايَةٍ: عَلىَ الصَّفِّ اْلأَوَّلِ. وَفيِ رِوَايَةٍ: عَلىَ الصُّفُوْفِ اْلأُوَلِ &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Sesungguhnya Allah dan para malaikatNya bershalawat atas orang-orang yang shalat (berjamaah yang terdapat) pada shaf-shaf terdepan. Dalam riwayat lain, (yang terdapat) pada shaf pertama. Dalam riwayat lain pula (disebutkan), (yang terdapat) pada shaf-shaf awal.” (Shahihul Jami’ no.1842) &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Para ulama berkata, (maksud dari) para malaikat bershalawat atas (orang-orang yang berdiri) pada shaf-shaf yaitu mereka memintakan ampun untuk mereka. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Manfaat ke–23 : Mendapatkan Rumah di Surga &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Shalat berjamaah menjadikan seorang muslim memperhatikan masalah lurusnya shaf-shaf. Dan itulah yang memang dianjurkan oleh Nabi shallallahu 'alahi wasallam. Karena itu, mereka akan shalat dalam suatu shaf (yang lurus) atau mengisi tempat kosong (dalam shaf). Dan yang demikian itu mendatangkan keutamaan yang agung dan pahala yang besar dari Allah subhanahu wata'aala. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aisyah radhiyallahu 'anha meriwayatkan, Rasulullah shallallahu 'alahi wasallam bersabda, &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;إِنَّ اللهَ وَمَلاَئِكَتَهُ يُصَلُّوْنَ عَلىَ الَّذِيْنَ يَصِلُوْنَ الصُّفُوْفَ &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Sesungguhnya Allah dan para malaikatNya bershalawat atas orang-orang yang menghubungkan shaf.” (Shahihut Targib wat Tarhib no.501) &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan Nabi shallallahu 'alahi wasallam bersabda, &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;مَنْ سَدَّ فُرْجَةً رَفَعَهُ اللهُ بِهَا دَرَجَةً وَبَنىَ لَهُ بَيْتًا فيِ اْلجَنَّةِ &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Siapa yang mengisi tempat kosong (dalam shaf), niscaya dengannya Allah mengangkat (untuknya) satu derajat dan membangunkan baginya satu rumah di Surga.” (Shahihut Targib wat Tarhib no.505) &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2341110395006740809-46075566690373112?l=bertahajudlah.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://bertahajudlah.blogspot.com/feeds/46075566690373112/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://bertahajudlah.blogspot.com/2010/05/40-manfaat-shalat-berjamaah-21-22-23.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2341110395006740809/posts/default/46075566690373112'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2341110395006740809/posts/default/46075566690373112'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://bertahajudlah.blogspot.com/2010/05/40-manfaat-shalat-berjamaah-21-22-23.html' title='40 Manfaat Shalat Berjama&apos;ah (21), (22), (23).'/><author><name>Abu Rasya</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='25' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_Vu2uwPa37To/SwJVf4XAdFI/AAAAAAAAAEk/lhZhkq-B4QA/S220/Fatih-Sultan-Muhammad.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2341110395006740809.post-697165929879262616</id><published>2010-05-15T09:00:00.000+07:00</published><updated>2010-05-15T09:00:00.438+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='shalat'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='berjamaah'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='sholat'/><title type='text'>40 Manfaat Shalat Berjama'ah (17), (18), (19), &amp; (20)</title><content type='html'>oleh : Syaikh Abu Abdillah Musnid al-Qahthani&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Manfaat ke–17 : Berkumpulnya para Malaikat Pada Waktu Shalat Shubuh dan Ashar serta Permohonan Ampun Mereka Bagi yang Hadir&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Para malaikat yang mulia berkumpul (untuk menyaksikan) jamaah shalat Shubuh dan Ashar dan mereka juga memohonkan ampun bagi setiap yang datang (pada waktu itu) ke masjid untuk shalat berjamaah.&lt;br /&gt;Dalam Shahihain disebutkan, bahwasanya Rasulullah shallallahu 'alahi wasallam bersabda,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;يَتَعَاقَبُوْنَ فِيْكُمْ مَلاَئِكَةٌ بِاللَّيْلِ وَمَلاَئِكَةٌ بِالنَّهَارِ وَيَجْتَمِعُوْنَ فيِ صَلاَةِ اْلفَجْرِ وَصَلاَةِ اْلعَصْرِ ثُمَّ يَعْرُجُ الَّذِيْنَ تَابُوْا فِيْكُمْ فَيَسْأَلَهُمْ رَبُّهُمْ وَهُوَ أَعْلَمُ بِهِمْ: كَيْفَ تَرَكْتُمْ عِبَادِيْ ؟ فَيَقُوْلُوْنَ: تَرَكْنَاهُمْ وَهُمْ يُصَلُّوْنَ وَأَتَيْنَاهُمْ وَهُمْ يُصَلُّوْنَ&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Para malaikat malam dan malaikat siang bergantian menyertai kalian dan mereka berkumpul pada saat (diselenggarakan jamaah) shalat Shubuh dan shalat Ashar. Lalu malaikat yang (sudah) menyertai kalian naik (ke langit), dan mereka ditanya oleh Tuhan mereka, padahal Dia lebih mengetahui daripada mereka, bagaimana keadaan hamba-hambaKu yang kalian tinggalkan? Mereka menjawab, Kami meninggalkan mereka sedang dalam keadaan shalat dan kami mendatangi mereka sedang dalam keadaan shalat (juga).”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam riwayat lain menurut Ibnu Khuzaimah,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;فَيَقُوْلُوْنَ أَتَيْنَاهُمْ وَهُمْ يُصَلُّوْنَ وَتَرَكْنَاهُمْ وَهُمْ يُصَلُّوْنَ فَاغْفِرْ لَهُمْ يَوْمَ الدِّيْنِ&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Mereka menjawab, 'Kami datang sedang mereka dalam keadaan shalat dan kami tinggalkan mereka dalam keadaan shalat (pula), maka ampunilah mereka pada hari pembalasan'.” &lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Manfaat ke–18 : Menyamai Shalat Separuh Malam atau Sepanjang Malam&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Shalat Isya' secara berjamaah menyamai shalat separuh malam sedang shalat Shubuh secara berjamaah menyamai shalat sepanjang malam. Rasulullah shallallahu 'alahi wasallam bersabda,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;مَنْ صَلىَّ اْلعِشَاءَ فيِ جَمَاعَةٍ فَكَأَنَّمَا قَامَ نِصْفَ اللَّيْلِ وَمَنْ صَلىَّ الصُّبْحَ فيِ جَمَاعَةٍ فَكَأَنَّمَا صَلىَّ اللَّيْلَ كُلَّهُ&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Siapa yang shalat Isya’ secara berjamaah, maka seakan-akan ia shalat separuh malam. Dan siapa yang shalat Shubuh secara berjamaah, maka seakan-akan ia shalat sepanjang malam.” (HR. Muslim). &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Manfaat ke–19 : Berada dalam Jaminan Allah&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Shalat berjamaah adalah di antara sebab penjagaan Allah terhadap hambaNya, bahkan Ia menjadikan hamba tersebut berada dalam jaminan, amanat dan tanggungan-Nya. Dan itu diperoleh dengan melakukan shalat Shubuh secara berjamaah.Rasulullah shallallahu 'alahi wasallam bersabda,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;مَنْ صَلىَّ الصُّبْحَ فيِ جَمَاعَةٍ فَهُوَ فيِ ذِمَّةِ اللهِ&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Siapa yang shalat Shubuh secara berjamaah maka ia berada dalam jaminan Allah.” (Shahihut Targib wat Tarhib no.418) &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Manfaat ke–20 : Berada dalam Naungan Allah Pada Hari Kiamat&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Sesungguhnya shalat berjamaah bisa membentuk seorang muslim yang sangat mencintai dan senantiasa bergantung dengan masjid, tempat di mana shalat didirikan. Dan orang yang hatinya senantiasa bergantung kepada masjid, ia kelak berada dalam naungan Alla pada hari Kiamat. Ia termasuk tujuh golongan manusia yang mendapat naungan dari Allah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam Shahihain dari Abu Hurairah radhiyallahu 'anhu, Nabi shallallahu 'alahi wasallam bersabda,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;سَبْعَةٌ يُظِلُّهُمُ اللهُ فيِ ظِلِّهِ يَوْمَ لاَ ظِلَّ إِلاَّ ظِلُّهُ … وَرَجُلٌ قَلْبُهُ مُعَلَّقٌ فيِ اْلمَسَاجِدِ&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Tujuh golongan manusia yang Allah akan menaunginya pada hari Kiamat saat tiada lagi naungan kecuali naungan-Nya… laki-laki yang hatinya senantiasa bergantung kepada masjid-masjid.” &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;www.alsofwah.or.id&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2341110395006740809-697165929879262616?l=bertahajudlah.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://bertahajudlah.blogspot.com/feeds/697165929879262616/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://bertahajudlah.blogspot.com/2010/05/40-manfaat-shalat-berjamaah-17-18-19-20.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2341110395006740809/posts/default/697165929879262616'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2341110395006740809/posts/default/697165929879262616'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://bertahajudlah.blogspot.com/2010/05/40-manfaat-shalat-berjamaah-17-18-19-20.html' title='40 Manfaat Shalat Berjama&apos;ah (17), (18), (19), &amp; (20)'/><author><name>Abu Rasya</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='25' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_Vu2uwPa37To/SwJVf4XAdFI/AAAAAAAAAEk/lhZhkq-B4QA/S220/Fatih-Sultan-Muhammad.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2341110395006740809.post-5174849487695361901</id><published>2010-05-14T07:56:00.003+07:00</published><updated>2010-05-14T08:04:03.093+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='berjamaah'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='sholat'/><title type='text'>40 Manfaat Shalat Berjama'ah (14), (15), &amp; (16)</title><content type='html'>oleh : Syaikh Abu Abdillah Musnid al-Qahthani&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Manfaat ke–14 : Di Antara Sebab Diampuninya Dosa-dosa&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sesungguhya shalat berjamaah adalah salah satu di antara sebab diampuninya dosa-dosa, bahkan dosa-dosa yang telah lalu. Rasulullah shallallahu 'alahi wasallam bersabda,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;إِذَا قَالَ اْلإِمَامُ: )غَيْرِ المغضوب عَلَيْهِمْ( فَقُوْلُوْا: آمِيْنَ، فَإِنَّهُ مَنْ وَافَقَ قَوْلَهُ قَوْلَ اْلمَلاَئِكَةِ غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Jika imam mengucapkan, 'Ghairil maghdhubi ‘alaihim waladh dhallin,' (bukan orang-orang yang Engkau murkai bukan pula mereka yang tersesat) maka ucapkanlah, 'amin,' karena sesungguhnya siapa yang ucapan (amin-nya) bersamaan dengan ucapan malaikat, niscaya ia akan diampuni dari dosa-dosanya yang telah lalu.” (Muttafaq 'alaih).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Beliau shallallahu 'alahi wasallam juga bersabda,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;إِذَا قَالَ اْلإِمَامُ: سَمِعَ اللهُ لِمَنْ حَمِدَهُ فَقُوْلُوْا: اَللّهُمَّ رَبَّنَا لَكَ اْلحَمْدُ، فَإِنَّهُ مَنْ وَافَقَ قَوْلَهُ قَوْلَ اْلمَلاَئِكَةِ غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Jika imam mengucapkan, 'Sami’ allahu liman hamidah,' (Allah Maha Mendengar terhadap orang yang memujiNya) maka ucapkanlah, 'Allahumma rabbana lakal hamd,' (Ya Tuhanku, bagiMu segala puji). Karena sesungguhnya siapa yang ucapannya bersamaan dengan ucapan malaikat, niscaya ia akan diampuni dosa-dosanya yang telah lalu.” (Muttafaq 'alaih).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selain itu Rasulullah shallallahu 'alahi wasallam juga bersabda,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;مَنْ تَوَضَّأَ لِلصَّلاَةِ فَأَسْبَغَ اْلوُضُوْءَ ثُمَّ مَشَى إِلىَّ الصَّلاَةِ اْلمَكْتُوْبَةِ فَصَلاَّهَا مَعَ النَّاسِ أَوْ مَعَ اْلجَمَاعَةِ أَوْ فيِ اْلمَسْجِدِ غَفَرَ اللهُ لَهُ ذُنُوْبَهُ&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Siapa yang berwudhu untuk shalat dan ia menyempurnakan wudhunya, lalu berjalan (untuk menunaikan) shalat wajib, dan ia shalat bersama manusia atau bersama jamaah atau di dalam masjid, niscaya Allah mengampuni dosa-dosanya.” (HR. Muslim). &lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Manfaat ke–15 : Di Antara Sebab Ta'ajub Allah subhanahu wata'aala&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Di antara sifat Allah subhanahu wata'aala adalah ta’ajub. Dan di antara sebab ta’ajubnya Allah adalah shalat berjamaah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rasulullah shallallahu 'alahi wasallam bersabda,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;إِنَّ اللهَ لَيَعْجَبُ مِنَ الصَّلاَةِ فيِ اْلجَمْعِ&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Sesungguhnya Allah ta'ajub pada shalat (yang dilakukan) secara berjamaah.” (Shahihul Jami’ no.1820)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Para salaf sepakat terhadap penetapan sifat ta’ajub bagi Allah. Karena itu ia wajib ditetapkan tanpa tharif (penyelewengan), ta’thil (menafikan), takyif (menanyakan bagaimana) dan tamtsil (penyerupaan). Ia adalah ta’ajub secara hakiki yang sesuai dengan keagungan Allah subhanahu wata'aala. (Lihat Syarh Lum’atul I’tiqad, oleh Syaikh Ibnu Utsaimin, hal. 59, cet. Maktabah Thabariyah) &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Manfaat ke–16 : Berpahala Besar Karena Berjalan Untuk Menunaikannya&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Shalat berjamaah menjadikan seorang muslim keluar menuju masjid, dan biasanya ia berjalan serta banyak melangkah. Dengan demikian ia mendapatkan pahala besar dan kebaikan yang banyak dan tak seorangpun mengetahui sebatas apa pahalanya kecuali Allah subhanahu wata'aala. Beberapa hadits shahih dari Rasulullah shallallahu 'alahi wasallam telah menjelaskan tentang keutamaan keluar menuju masjid dan banyaknya langkah yang diayunkan menuju shalat berjamaah. Di antaranya sabda Rasulullah shallallahu 'alahi wasallam,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;مَنْ تَوَضَّأَ لِلصَّلاَةِ فَأَسْبَغَ اْلوُضُوْءَ ثُمَّ مَشَى إِلىَّ الصَّلاَةِ اْلمَكْتُوْبَةِ فَصَلاَّهَا مَعَ النَّاسِ أَوْ مَعَ اْلجَمَاعَةِ أَوْ فيِ اْلمَسْجِدِ غَفَرَ اللهُ لَهُ ذُنُوْبَهُ&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Siapa yang berwudhu untuk shalat dan ia menyempurnakan wudhunya, lalu berjalan (untuk menunaikan) shalat wajib, dan ia shalat bersama manusia atau bersama jamaah atau di dalam masjid, niscaya Allah mengampuni dosa-dosanya.” (HR. Muslim).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan dalam Shahih al-Bukhari dan Muslim disebutkan,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;أَعْظَمُ النَّاسِ أَجْراً فيِ الصَّلاَةِ أَبْعَدُهُمْ فَأَبْعَدُهُمْ مَمْشًى، وَالَّذِيْ يَنْتَظِرُ الصَّلاَةَ حَتىَّ يُصَلِّيَهَا مَعَ اْلإِمَامِ أَعْظَمُ أَجْراً مِنَ الَّذِيْ يُصَلِّيْ ثُمَّ يَنَامُ&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Orang yang paling besar pahalanya dalam shalat adalah orang yang paling jauh, kemudian yang agak jauh perjalannya di antara yang lain. Dan orang yang menanti didirikannya shalat sampai ia melaksanakannya bersama imam adalah lebih besar pahalanya daripada orang yang shalat kemudian tidur.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;أَلاَ أَدُلُّكُمْ عَلىَ مَا يَمْحُوْ اللهُ بِهِ اْلخَطَايَا وَيَرْفَعُ بِهِ الدَّرَجَاتِ: إِسْبَاغُ اْلوُضُوْءِ عَلىَ اْلمَكَارِهِ وَكَثْرَةُ اْلخُطَا إِلىَ اْلمَسْجِدِ وَانْتِظَارُ الصَّلاَةِ بَعْدَ الصَّلاَةِ فَذلِكُمُ الرِّبَاطُ&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Maukah kamu aku tunjukkan sesuatu yang dengannya Allah menghapus dosa-dosa dan meninggikan derajat? Menyempurnakan wudhu pada (bagian) yang kurang disukai, banyak melangkah ke masjid dan menunggu (didirikannya) shalat (fardhu) setelah shalat (fardhu yang lain). Itulah kesiap-siagaan (dalam menjaga perintah Allah).” (HR. Muslim).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;مَنْ غَدَا إِلىَ اْلمَسْجِدِ وَرَاحَ أَعَدَّ اللهُ لَهُ نُزُلاً مِنَ اْلجَنَّةِ كُلَّمَا غَدَا وَرَاحَ&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Siapa yang pergi menuju masjid dan pulang (darinya) niscaya Allah menyediakan tempat tinggal baginya di Surga setiap kali ia pulang-pergi.” (Muttafaq 'alaih).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;مَنْ تَطَهَّرَ فيِ بَيْتِهِ ثُمَّ مَشَى إِلىَ بَيْتٍ مِنْ بُيُوْتِ اللهِ لِيَقْضِيَ فَرِيْضَةً مِنْ فَرَائِضِ اللهِ كَانَتْ خُطْوَتَاهُ تَحُطُّ خَطِيْئَةً وَاْلأُخْرَى تَرْفَعُ دَرَجَةً&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Siapa yang berwudhu di rumahnya lalu berjalan menuju rumah di antara rumah-rumah Allah untuk menunaikan salah satu kewajiban (dari) Allah maka salah satu dari kedua langkahnya menghapus dosa-dosa dan yang lain meninggikan derajat.” (HR. Muslim).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;بَشِّرِ اْلمَشَّائِيْنَ فيِ الظُّلْمِ إِلىَ اْلمَسَاجِدِ بِالنُّوْرِ التَّامِّ يَوْمَ اْلقِيَامَةِ&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Berilah kabar gembira kepada para pejalan kaki di kegelapan ke masjid-masjid dengan cahaya yang sempurna di hari Kiamat.” (Shahihul Jami’ no.2823)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;مَنْ مَشَى إِلىَ صَلاَةٍ مَكْتُوْبَةٍ فيِ اْلجَمَاعَةِ فَهِيَ كَحَجَّةٍ وَمَنْ مَشَى إِلىَ تَطَوُّعٍ فَهِيَ كَعُمْرَةٍ نَافِلَةٍ&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Siapa yang berjalan untuk shalat fardhu berjamaah maka ia laksana haji. Dan siapa yang berjalan untuk (shalat) sunnah maka ia seperti umrah sunnat.” (Shahihul Jami’ no.6556)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;ثَلاَثَةٌ فيِ ضِمَانِ اللهِ عَزَّ وَجَلَّ: رَجُلٌ خَرَجَ إِلىَ مَسْجِدٍ مِنْ مَسَاجِدِ اللهِ عَزَّ وَجَلَّ وَرَجُلٌ خَرَجَ غَازِيًا فيِ سَبِيْلِ اللهِ تَعَالىَ وَرَجُلٌ خَرَجَ حَاجًّا&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ada tiga golongan manusia yang berada di bawah jaminan Allah subhanahu wata'aala : Laki-laki yang keluar ke masjid di antara masjid-masjid Allah, laki-laki yang keluar untuk berperang di jalan Allah, dan laki-laki yang keluar untuk menunaikan haji.” (Shahihul Jami’ no.3051)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pahala agung yang diterima oleh orang yang berjalan menuju masjid itu tidak saja saat ia pergi ke masjid, tetapi juga ketika ia pulang daripadanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rasulullah shallallahu 'alahi wasallam bersabda,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;مَنْ رَاحَ إِلىَ مَسْجِدِ اْلجَمَاعَةِ فَخُطْوَةٌ تَمْحُوْ سَيِّئَةً وَخُطْوَةٌ تَكْتُبُ لَهُ حَسَنَةً ذاهِباً وَرَاجِعاً&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Siapa yang berangkat ke masjid (untuk) berjamaah maka langkah (yang satu) menghapus satu keburukan dan langkah (yang lain) menuliskan baginya satu kebaikan, saat pergi dan kembali.” (Shahihut Targib wat Tarhib no.298)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan masalah keutamaan berjalan untuk shalat berjamaah ini, telah diriwayatkan oleh Imam Ahmad, Abu Daud, at-Tirmidzi, an-Nasa'i, Ibnu Majah, Ibnu Khuzaimah dan Ibnu Hibban dalam kitab Shahih, serta diriwayatkan pula oleh al-Hakim dan ia menshahihkanya, bahwasanya Rasulullah shallallahu 'alahi wasallam bersabda,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;مَنْ غَسَّلَ يَوْمَ اْلجُمُعَةِ وَاغْتَسَلَ وَبَكَّرَ وَابْتَكَرَ وَمَشَى وَلَمْ يَرْكَبْ وَدَنَا مِنَ اْلإِمَامِ فَاسْتَمَعَ وَلَمْ يَلْغَ كَانَ لَهُ بِكُلِّ خُطْوَةٍ عَمَلُ سَنَةٍ أَجْرُ صِيَامِهَا وَقِيَامِهَا&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Siapa yang mandi sebersih-sebersihnya pada hari jum'at dan (membiasakan) mandi, lalu ia datang pagi-pagi dan bersegera, ia tidak naik (kendaraan) tetapi berjalan, dan ia dekat dengan imam lalu ia mendengarkannya, ia pun tidak berbuat sia-sia, niscaya pada setiap langkah (yang ia ayunkan) pahalanya (sama dengan pahala) satu tahun dari ibadah puasa dan shalat.” (Shahihut Targib wat Tarhib no.690) &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;www.alsofwah.or.id&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2341110395006740809-5174849487695361901?l=bertahajudlah.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://bertahajudlah.blogspot.com/feeds/5174849487695361901/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://bertahajudlah.blogspot.com/2010/05/40-manfaat-shalat-berjamaah-14-15-16.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2341110395006740809/posts/default/5174849487695361901'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2341110395006740809/posts/default/5174849487695361901'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://bertahajudlah.blogspot.com/2010/05/40-manfaat-shalat-berjamaah-14-15-16.html' title='40 Manfaat Shalat Berjama&apos;ah (14), (15), &amp; (16)'/><author><name>Abu Rasya</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='25' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_Vu2uwPa37To/SwJVf4XAdFI/AAAAAAAAAEk/lhZhkq-B4QA/S220/Fatih-Sultan-Muhammad.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2341110395006740809.post-1247068575168110740</id><published>2010-05-12T07:44:00.003+07:00</published><updated>2010-05-12T07:57:39.982+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='berjamaah'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='sholat'/><title type='text'>40 Manfaat Shalat Berjama'ah (11) , (12), &amp; (13)</title><content type='html'>oleh : Syaikh Abu Abdillah Musnid al-Qahthani&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Manfaat ke–11 : Lebih Suci di Sisi Allah Daripada Shalat Sendiri-sendiri&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Sesungguhnya shalat berjamaah itu, meskipun dengan jumlah sedikit, ia lebih suci di sisi Allah daripada shalat sendiri-sendiri meskipun jumlah orangnya lebih banyak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;صَلاَةُ رَجُلَيْنِ يَؤُمُّ أَحَدُهُمَا صَاحِبَهُ أَزْكَى عِنْدَ اللهِ مِنْ صَلاَةِ أَرْبَعَةٍ تَتْرَى، صَلاَةُ أَرْبَعَةٍ يَؤُمُّهُمْ أَحَدُهُمْ أَزْكَى عِنْدَ اللهِ مِنْ صَلاَةِ ثَمَانِيَةٍ تَتْرَى، وَصَلاَةِ ثَمَانِيَةٍ يَؤُمُّهُمْ أَحَدُهُمْ أَزْكَى عِنْدَ اللهِ مِنْ صَلاَةِ مِائَةٍ تَتْرَى&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Shalat dua orang laki-laki dengan salah seorang dari mereka menjadi imam adalah lebih suci di sisi Allah daripada shalat empat orang secara sendiri-sendiri. Shalat empat orang dengan salah seorang dari mereka menjadi imam adalah lebih suci di sisi Allah daripada shalat delapan orang secara sendiri-sendiri. Dan shalat delapan orang dengan salah seorang dari mereka menjadi imam adalah lebih suci di sisi Allah daripada shalat seratus orang secara sendiri-sendiri.” (Shahihul Jami’ no.3836) &lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Manfaat ke–12 : Menjaga Diri dari Setan&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Shalat berjamaah –dengan izin Allah– menjaga seorang muslim dari musuh bebuyutannya yang tidak pernah diam dan putus asa, juga menghindarkannya dari penguasaan setan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;مَا مِنْ ثَلاَثَةٍ فيِ قَرْيَةٍ وَلاَ بَدْوٍ لاَ تُقَامُ فِيْهِمُ الصَّلاَةُ إِلاَّ قَدِ اسْتَحْوَذَ عَلَيْهِمُ الشَّيْطَانُ فَعَلَيْكُمْ بِالْجَمَاعَةِ فَإِنَّمَا يَأْكُلُ الذِّئْبُ اْلقَاصِيَةَ&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Tidaklah tiga orang berada di suatu desa atau dusun dan mereka tidak mendirikan shalat (berjamaah) kecuali mereka telah dikuasi oleh setan. Karena itu, hendaklah kalian senantiasa berjamaah. Sungguh srigala itu hanya makan (hewan piaraan) yang jauh (dari gerombolan kawan-kawannya).” (Shahihul Jami’ no.5701) &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Manfaat ke–13 : Jauh dari Menyerupai Orang-orang Munafik&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Melakukan shalat berjamaah secara rutin bisa menjauhkan seorang muslim dari menyerupai orang-orang munafik yang oleh Allah diancam bakal menempati Neraka yang paling bawah, Na’udzubillah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di antara sifat orang-orang munafik yang paling nyata yaitu meninggalkan shalat berjamaah, terutama shalat Isya' dan Shubuh. Rasulullah shallallahu 'alahi wasallam bersabda,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;لَيْسَ صَلاَةٌ أَثْقَلُ عَلىَ اْلمُنَافِقِيْنَ مِنَ اْلفَجْرِ وَالْعِشَاءِ وَلَوْ يَعْلَمُوْنَ مَا فِيْهِمَا لأَتَوْهُمَا وَلَوْ حَبْوًا …&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Tak ada shalat yang lebih berat menurut orang-orang munafik melebihi (beratnya) shalat Shubuh dan Isya’. Dan seandainya mereka mengetahui pahala pada keduanya, niscaya mereka akan datang (berjamaah) meskipun dengan merangkak…” (Muttafaq 'alaih).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan di muka telah kita kutip perkataan Ibnu Mas'ud radhiyallahu 'anhu, “Dan sesungguhnya engkau telah mempersaksikan kepada kami bahwa tidaklah meninggalkan (shalat berjamaah) kecuali orang munafik yang jelas-jelas kemunafikannya.” &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2341110395006740809-1247068575168110740?l=bertahajudlah.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://bertahajudlah.blogspot.com/feeds/1247068575168110740/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://bertahajudlah.blogspot.com/2010/05/40-manfaat-shalat-berjamaah-11-12-13.html#comment-form' title='1 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2341110395006740809/posts/default/1247068575168110740'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2341110395006740809/posts/default/1247068575168110740'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://bertahajudlah.blogspot.com/2010/05/40-manfaat-shalat-berjamaah-11-12-13.html' title='40 Manfaat Shalat Berjama&apos;ah (11) , (12), &amp; (13)'/><author><name>Abu Rasya</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='25' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_Vu2uwPa37To/SwJVf4XAdFI/AAAAAAAAAEk/lhZhkq-B4QA/S220/Fatih-Sultan-Muhammad.jpg'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2341110395006740809.post-1135616429747024973</id><published>2010-05-11T08:00:00.002+07:00</published><updated>2010-05-11T09:08:32.709+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='berjamaah'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='sholat'/><title type='text'>40 Manfaat Shalat Berjama'ah (8) , (9), &amp; (10)</title><content type='html'>oleh : Syaikh Abu Abdillah Musnid al-Qahthani&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Manfaat ke–8 : Mengagungkan dan Menampakkan Syi'ar Allah&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan shalat berjamaah berarti menampakkan dan mengagungkan salah satu di antara syi'ar Islam, bahkan termasuk syi'ar yang paling agung, yakni shalat. Allah berfirman tentang mereka yang mengagungkan syi'ar-syi'arNya,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;ذلك وَمَن يُعَظّمْ شعائر الله فَإِنَّهَا مِن تَقْوَى القلوب&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Demikianlah (perintah Allah). Dan barangsiapa mengagungkan syi'ar-syi'ar Allah, maka sesungguhnya itu timbul dari ketakwaan hati. (Al-Hajj: 32). &lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Manfaat ke–9 : Termasuk Sunnah-sunnah Petunjuk&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Sesungguhnya shalat berjamaah adalah termasuk sunnah-sunnah petunjuk yang diajarkan Rasulullah shallallahu 'alahi wasallam kepada kita. Meninggalkannya berarti kesesatan dan kemunafikan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Abdullah bin Mas'ud radhiyallahu ‘anhu berkata,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;مَنْ سَرَّهُ أَنْ يَلْقَى اللهَ غَدًا مُسْلِماً فَلْيُحَافِظْ عَلىَ هؤُلاَءِ الصَّلَوَاتِ حَيْثُ يُنَادَى بِهِنَّ فَإِنَّ اللهَ شَرَعَ لِنَبِيِّكُمْ سُنَنَ اْلهُدَى وَإِنَّهُنَّ مِنْ سُنَنِ اْلهُدَى. وَلَوْ أَنَّكُمْ صَلَّيْتُمْ فِيْ بُيُوْتِكُمْ كَمَا يُصَلِّيْ هذَا اْلمُتَخَلِّفُ فيِ بَيْتِهِ لَتَرَكْتُمْ سُنَّةَ نَبِيِّكُمْ وَلَوْ تَرَكْتُمْ سُنَّةَ نَبِيِّكُمْ لَضَلَلْتُمْ. وَمَا مِنْ رَجُلٍ يَتَطَهَّرُ فَيُحْسِنُ الطُّهُوْرَ ثُمَّ يَعْمِدُ إِلىَ مَسْجِدٍ مِنْ هذِهِ اْلمَسَاجِدِ إِلاَّ كَتَبَ اللهُ لَهُ بِكُلِّ خُطْوَةٍ يَخْطُوْهَا حَسَنَةً وَيَرْفَعُهُ بِهَا دَرَجَةً وَيَحُطُّ عَنْهُ بِهَا سَيِّئَةً وَلَقَدْ رَأَيْتُنَا وَمَا يَتَخَلَّفُ عَنْهَا إِلاَّ مُنَافِقٌ مَعْلُوْمُ النِّفَاقِ وَلَقَدْ كَانَ الرَّجُلُ يُؤْتَى يُهَادَى بَيْنَ الرَّجُلَيْنِ حَتىَّ يُقَامَ فيِ الصَّفِّ&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Siapa saja yang senang bertemu Allah kelak dalam keadaan muslim maka hendaklah ia menjaga shalat-shalat yang mereka dipanggil untuk (melakukan)nya. Sesungguhnya Allah telah mensyariatkan kepada Nabi kalian beberapa jalan petunjuk. Dan sungguh sekiranya kalian shalat di rumah sebagaimana orang yang meninggalkan (shalat berjamaah) ini di rumahnya, niscaya kalian telah meninggalkan sunnah Nabi kalian tentulah kalian telah sesat. Dan tidaklah seorang laki-laki berwudhu kemudian ia membaikkan wudhunya lalu menuju ke masjid di antara masjid-masjid ini kecuali Allah menulis setiap langkah yang ia langkahkan satu kebaikan untuknya dan Allah meninggikannya satu derajat serta menghapuskan satu keburukannya. Dan sesungguhnya kita telah menyaksikan bahwa tidak meninggalkan (shalat berjamaah) kecuali seorang munafik yang tampak jelas kemunafikannya. Dan sesungguhnya dahulu (sampai terjadi) ada seorang laki-laki yang dipapah oleh dua orang kemudian ia diberdirikan di dalam shaf (agar bisa shalat berjamaah).”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam riwayat lain disebutkan,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;إِنَّ رَسُوْلَ اللهِ صلى الله عليه وسلم عَلَّمَنَا سُنَنَ اْلهُدَى وَإِنَّ مِنْ سُنَنِ اْلهُدَى الصَّلاَةُ فيِ اْلمَسْجِدِ الَّذِيْ يُؤَذَّنُ فِيْهِ&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Sesungguhnya Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam telah mengajarkan kepada kita jalan-jalan petunjuk. Dan di antara jalan-jalan petunjuk itu adalah shalat di masjid yang dikumandangkan adzan di dalamnya.” (Diriwayatkan oleh Muslim) &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Manfaat ke–10 : Lebih Utama dari Shalat Sendirian&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Shalat berjamaah lebih utama 27 derajat daripada shalat sendirian. Riwayat lain menyebutkan bahwa ia lebih utama 25 derajat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rasulullah shallallahu 'alahi wasallam bersabda,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;صَلاَةُ اْلجَمَاعَةِ تَفْضُلُ صَلاَةَ اْلفَذِّ بِخَمْسٍ وَعِشْرِيْنَ دَرَجَةً&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Shalat berjamaah itu lebih utama 25 derajat daripada shalat sendirian.” (HR. al-Bukhari).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam riwayat lain disebutkan,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;بِسَبْعٍ وَعِشْرِيْنَ دَرَجَةً&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“(Lebih utama) 27 derajat.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Para ulama rahimahumullah telah melakukan pendekatan makna antara kedua riwayat tersebut dan mereka menjelaskan sebab-sebab perbedaan derajat yang disebutkan di atas. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;www.alsofwah.or.id&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2341110395006740809-1135616429747024973?l=bertahajudlah.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://bertahajudlah.blogspot.com/feeds/1135616429747024973/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://bertahajudlah.blogspot.com/2010/05/oleh-syaikh-abu-abdillah-musnid-al.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2341110395006740809/posts/default/1135616429747024973'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2341110395006740809/posts/default/1135616429747024973'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://bertahajudlah.blogspot.com/2010/05/oleh-syaikh-abu-abdillah-musnid-al.html' title='40 Manfaat Shalat Berjama&apos;ah (8) , (9), &amp; (10)'/><author><name>Abu Rasya</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='25' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_Vu2uwPa37To/SwJVf4XAdFI/AAAAAAAAAEk/lhZhkq-B4QA/S220/Fatih-Sultan-Muhammad.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2341110395006740809.post-852072809510720428</id><published>2010-05-10T07:48:00.001+07:00</published><updated>2010-05-10T07:48:00.398+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='shalat'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='berjamaah'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='sholat'/><title type='text'>40 Manfaat Shalat Berjama'ah (6) &amp; (7)</title><content type='html'>oleh : Syaikh Abu Abdillah Musnid al-Qahthani&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Manfaat ke–6 : Selamat Karena Mengikuti Rasul shallallahu 'alahi wasallam&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mengikuti Rasul shallallahu 'alahi wasallam dalam ibadah yang agung ini, yakni shalat bejamaah –juga dalam ibadah-ibadah yang lain– adalah di antara sebab-sebab turunnya hidayah (petunjuk), kecintaan Allah subhanahu wata'aala, ampunanNya atas dosa-dosa kita serta di antara sebab-sebab kesempatan kita dari Neraka dan masuk Surga.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Allah berfirman,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;وَإِن تُطِيعُوهُ تَهْتَدُواْ&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Dan jika kamu ta'at kepadanya, niscaya kamu mendapat petunjuk.” (An Nur:54).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;قُلْ إِن كُنتُمْ تُحِبُّونَ الله فاتبعونى يُحْبِبْكُمُ الله وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ والله غَفُورٌ رَّحِيم&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Katakanlah, 'Jika kamu (benar-benar) mencintai Allah, ikutilah aku, niscaya Allah mengasihi dan mengampuni dosa-dosamu.' Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (Ali Imran : 31).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan Rasulullah shallallahu 'alahi wasallam bersabda,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;كُلُّ أُمَّتِيْ يَدْخُلُوْنَ اْلجَنَّةَ إِلاَّ مَنْ أَبىَ. مَنْ أَطَاعَنِيْ دَخَلَ اْلجَنَّةَ وَمَنْ عَصَانِيْ فَقَدْ أَبىَ&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Segenap umatku akan masuk Surga kecuali orang yang tidak mau. Siapa yang mentaatiku pasti masuk Surga dan siapa yang mendurhakaiku maka dia tidak mau (masuk Surga).” (HR. al-Bukhari). &lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Manfaat ke–7 : Sholat Berjamaah Termasuk Sasaran Islam yang Agung&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berjamaah dalam maknanya yang umum termasuk sasaran Islam yang agung. Banyak nash-nash yang menyeru ditegakkan dan dijaganya jamaah (persatuan), sebaliknya melarang perpecahan dan menjauhi jamaah umat Islam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nabi shallallahu 'alaihi wasallam bersabda,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;يَدُ اللهِ مَعَ اْلجَمَاعَةِ&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Tangan Allah bersama jamaah (umat Islam).” (HR at-Tirmidzi).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;اَلْجَمَاعَةُ رَحْمَةٌ وَاْلفُرْقَةُ عَذَابٌ&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Berjamaah (bersatu)adalah rahmat dan perpecahan adalah adzab.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Karena itu, banyak ibadah yang disyariatkan secara berjamaah agar maksud agung daripadanya (persatuan) benar-benar menghujam dalam jiwa segenap umat Islam. Seperti: Ibadah haji, puasa, shalat Jum'at, shalat berjamaah, shalat pada dua hari raya, tarawih dsb. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;www.alsofwah.or.id&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2341110395006740809-852072809510720428?l=bertahajudlah.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://bertahajudlah.blogspot.com/feeds/852072809510720428/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://bertahajudlah.blogspot.com/2010/05/40-manfaat-shalat-berjamaah-6-7.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2341110395006740809/posts/default/852072809510720428'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2341110395006740809/posts/default/852072809510720428'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://bertahajudlah.blogspot.com/2010/05/40-manfaat-shalat-berjamaah-6-7.html' title='40 Manfaat Shalat Berjama&apos;ah (6) &amp; (7)'/><author><name>Abu Rasya</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='25' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_Vu2uwPa37To/SwJVf4XAdFI/AAAAAAAAAEk/lhZhkq-B4QA/S220/Fatih-Sultan-Muhammad.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2341110395006740809.post-4845669724063928567</id><published>2010-05-09T14:45:00.002+07:00</published><updated>2010-05-09T15:18:44.132+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='shalat'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='berjamaah'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='sholat'/><title type='text'>40 Manfaat Shalat Berjama'ah (4) &amp; (5)</title><content type='html'>oleh : Syaikh Abu Abdillah Musnid al-Qahthani&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Manfaat ke–4 : Mengagungkan dan Menekankan Apa yang Diangungkan dan Ditekankan Oleh Rasul shallallahu 'alahi wasallam &lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Shalat berjamaah memiliki arti yang besar dan urgen sekali. Perintah melakukannya tidak saja dalam situasi-situasi biasa, tetapi Allah memerintahkan bahkan menekankan shalat berjamaah sampai dalam situasi khauf (tak aman, menakutkan). &lt;br /&gt;Allah berfirman, &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;وَإِذَا كُنتَ فِيهِمْ فَأَقَمْتَ لَهُمُ الصلاوة فَلْتَقُمْ طَائِفَةٌ مّنْهُمْ أَسْلِحَتَهُمْ فَإِذَا سَجَدُواْ فَلْيَكُونُواْ مِن وَرَائِكُمْ وَلْتَأْتِ طَائِفَةٌ أخرى لَمْ يُصَلُّواْ فَلْيُصَلُّواْ مَعَكَ وَلْيَأْخُذُواْ حِذْرَهُمْ وَأَسْلِحَتَهُمْ وَدَّ الذين كَفَرُواْ لَوْ تَغْفُلُونَ عَنْ أَسْلِحَتِكُمْ وَأَمْتِعَتِكُمْ فَيَمِيلُونَ عَلَيْكُمْ مَّيْلَةً واحدة وَلاَ جُنَاحَ عَلَيْكُمْ إِن كَانَ بِكُمْ أَذًى مّن مَّطَرٍ أَوْ كُنتُم مَّرْضَى أَن تَضَعُواْ أَسْلِحَتَكُمْ وَخُذُواْ حِذْرَكُمْ إِنَّ الله أَعَدَّ للكافرين عَذَاباً مُّهِيناً &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Dan apabila kamu berada di tengah-tengah mereka (sahabatmu) lalu kamu hendak mendirikan shalat bersama-sama mereka, maka hendaklah segolongan dari mereka berdiri (shalat) besertamu dan menyandang senjata, kemudian apabila mereka (yang shalat besertamu) sujud (telah menyempurnakan seraka'at), maka hendaklah mereka pindah dari belakangmu (untuk menghadapi musuh) dan hendaklah datang golongan yang kedua yang belum bershalat,lalu bershalatlah mereka denganmu, dan hendaklah mereka bersiap siaga dan menyandang senjata.” (An-Nisa':102). &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Demikian pula Nabi shallallahu 'alahi wasallam menekankan shalat berjamaah. Beliau memerintahkan shalat berjamaah dan tidak memberi rukhshah (keringanan) kepada orang yang meninggalkannya, sebagaimana akan kita bahas kemudian, insya Allah. Di antara contohnya, ada seorang laki-laki buta datang kepada Nabi shallallahu 'alaihi wasallam, meminta izin beliau untuk meninggalkan shalat berjamaah. Ia menyebutkan (alasan) bahwa rumahnya jauh dan tak ada seorangpun yang menuntunnya. Sementara perjalanannya (menuju masjid) penuh dengan singa dan binatang buas lainnya. Selain itu, ia juga mengemukakan alasan-alasan lain. Nabi shallallahu 'alaihi wasallam kemudian bertanya, &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;أَتَسْمَعُ النِّدَاءَ؟ قَالَ: نَعَمْ قَالَ: أَجِبْ. وَفيِ رِوَايَةٍ قَالَ: لاَ أَجِدُ لَكَ رُخْصَةً &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Apakah engkau mendengar adzan ?” Ia menjawab, “Benar.” “(Jika demikian) maka jawablah (penuhilah seruannya).”dalam riwayat lain dikatakan, “Aku tidak mendapati rukhsah (keringanan, dispensasi) untukmu.” (Mukhtashar Shahih Muslim) &lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Manfaat ke–5 : Mematuhi Perintah Rasul shallallahu 'alahi wasallam &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan shalat berjamaah berarti mematuhi perintah Rasulullah shallallahu 'alahi wasallam dan mengikuti sunnah beliau, baik qauliyah (ucapan) maupun fi’liyah (perbuatan). Rasulullah shallallahu 'alahi wasallam memerintahkan kita melakukan dan bersegera shalat berjamaah. Beliau bersabda,&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;مَنْ سَمِعَ النِّدَاءَ فَلَمْ يَأْتِهِ فَلاَ صَلاَةَ لَهُ إِلاَّ مِنْ عُذْرٍ &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Siapa yang mendengar adzan lalu tidak mendatanginya (untuk shalat berjamaah) maka tidak ada shalat baginya kecuali udzur.” (Lihat Shahihul Jami’ (6300))&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;إِذَا كَانُوْا ثَلاَثَةً فَلْيَؤُمَّهُمْ أَحَدُهُمْ وَأَحَقُّهُمْ بِاْلإِمَامَةِ أَقْرَؤُهُمْ &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Jika mereka bertiga maka hendaklah salah seorang dari mereka menjadi imam. Dan yang paling berhak menjadi imam adalah yang paling pandai membaca (al-Qur’an).” (HR Muslim) &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;www.alsofwah.or.id&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2341110395006740809-4845669724063928567?l=bertahajudlah.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://bertahajudlah.blogspot.com/feeds/4845669724063928567/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://bertahajudlah.blogspot.com/2010/05/40-manfaat-shalat-berjamaah-4-5.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2341110395006740809/posts/default/4845669724063928567'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2341110395006740809/posts/default/4845669724063928567'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://bertahajudlah.blogspot.com/2010/05/40-manfaat-shalat-berjamaah-4-5.html' title='40 Manfaat Shalat Berjama&apos;ah (4) &amp; (5)'/><author><name>Abu Rasya</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='25' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_Vu2uwPa37To/SwJVf4XAdFI/AAAAAAAAAEk/lhZhkq-B4QA/S220/Fatih-Sultan-Muhammad.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2341110395006740809.post-3037411809581623042</id><published>2010-05-07T06:27:00.003+07:00</published><updated>2010-05-07T10:12:52.864+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='berjamaah'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='sholat'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='manfaat'/><title type='text'>40 Manfaat Shalat Berjama'ah (2) &amp; (3)</title><content type='html'>oleh : Syaikh Abu Abdillah Musnid al-Qahthani&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Manfaat ke–2 : Sebagai Saksi Keimanan&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Shalat berjamaah adalah sarana terpenting dan utama untuk memakmurkan rumah-rumah Allah. Jika bukan karena shalat berjamaah tentu masjid-masjid menjadi sepi. &lt;br /&gt;Allah subhanahu wata'aala bersaksi bahwa memakmurkan masjid-masjid adalah dengan iman dan bahwasanya mereka adalah orang-orang yang diberi petunjuk oleh Allah pada kebenaran dan sungguh mereka adalah orang-orang yang beruntung. &lt;br /&gt;Allah berfirman, &lt;br /&gt;إِنَّمَا يَعْمُرُ مساجد الله مَنْ ءَامَنَ بالله واليوم الأخر وَأَقَامَ الصلاة وءاتى الزكواة وَلَمْ يَخْشَ إِلاَّ الله فعسى أولئك أَن يَكُونُواْ مِنَ المهتدين &lt;br /&gt;“Hanyalah yang memakmurkan mesjid-mesjid Allah ialah orang-orang yang beriman kepada Allah dan hari kemudian, serta tetap mendirikan sholat, menuaikan zakat dan tidak takut (kepada siapapun) selain kepada Allah, maka merekalah orang-orang yang diharapkan termasuk golongan orang-orang yang mendapat petunjuk. (At Taubah: 18). &lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Manfaat ke–3 : Mendapatkan Tazkiyah (Pernyataan Kesucian) dan Anugerah Besar dari Allah&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Shalat berjamaah adalah di antara sebab-sebab dzikrullah (mengingat Allah) dan bertasbih (memuji) kepada-Nya di masjid-masjid. Allah memuji mereka yang melakukan hal itu sekaligus menjuluki mereka sebagai rijal (orang-orang gentleman). Mereka adalah orang-orang yang tidak lalai karena bisnis dan perdagangan mereka dari mengingat Allah, mendirikan shalat dan menunaikan zakat. Allah juga bersaksi terhadap keimanan dan rasa takut mereka kepadaNya. Selanjutnya Allah menjelaskan bahwa mereka adalah orang-orang yang diterima kebaikannya, diampuni segala kesalahan dan dosa mereka, di samping anugerah-anugerah lain yang diberikan Allah kepada mereka selain pahala. &lt;br /&gt;Allah berfirman, &lt;br /&gt;فِى بُيُوتٍ أَذِنَ الله أَن تُرْفَعَ وَيُذْكَرَ فِيهَا اسمه يُسَبِّحُ لَهُ فِيهَا بالغدو والأصال . رِجَالٌ لاَّ تُلْهِيهِمْ تجارة وَلاَ بَيْعٌ عَن ذِكْرِ الله وَإِقَامِ الصلاة وَإِيتَاءِ الزكواة يخافون يَوْماً تَتَقَلَّبُ فِيهِ القلوب والأبصار . &lt;br /&gt;لِيَجْزِيَهُمُ الله أَحْسَنَ مَا عَمِلُواْ وَيَزِيدَهُم مّن فَضْلِهِ والله يَرْزُقُ مَن يَشَاءُ بِغَيْرِ حِسَابٍ &lt;br /&gt;“Bertasbih kepada Allah di masjid-masjid yang telah diperintahkan untuk dimuliakan dan disebut namaNya di dalamnya, pada waktu pagi dan waktu petang, laki-laki yang tidak dilalaikan oleh perniagaan dan tidak (pula) oleh jual beli dari mengingat Allah, mendirikan shalat, dan membayarkan zakat.Mereka takut pada suatu hari yang (di hari itu) hati dan penglihatan menjadi goncang.(Mereka mengerjakan yang demikian itu) supaya Allah memberi balasan kepada mereka (dengan balasan) yang lebih baik dari apa yang telah mereka kerjakan, dan supaya Allah menambah karuniaNya kepada mereka. Dan Allah memberi rizki kepada siapa yang dikehendakiNya tanpa batas.” (An-Nur: 36-38). &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2341110395006740809-3037411809581623042?l=bertahajudlah.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://bertahajudlah.blogspot.com/feeds/3037411809581623042/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://bertahajudlah.blogspot.com/2010/05/40-manfaat-shalat-berjamaah-2-3.html#comment-form' title='1 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2341110395006740809/posts/default/3037411809581623042'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2341110395006740809/posts/default/3037411809581623042'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://bertahajudlah.blogspot.com/2010/05/40-manfaat-shalat-berjamaah-2-3.html' title='40 Manfaat Shalat Berjama&apos;ah (2) &amp; (3)'/><author><name>Abu Rasya</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='25' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_Vu2uwPa37To/SwJVf4XAdFI/AAAAAAAAAEk/lhZhkq-B4QA/S220/Fatih-Sultan-Muhammad.jpg'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2341110395006740809.post-1580134761155543594</id><published>2010-05-06T07:40:00.002+07:00</published><updated>2010-05-06T08:11:26.416+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='shalat'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='berjamaah'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='sholat'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='manfaat'/><title type='text'>40 Manfaat Shalat Berjama'ah (1)</title><content type='html'>oleh : Syaikh Abu Abdillah Musnid al-Qahthani&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Kata Pengantar &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sesungguhnya segala pujian adalah milik Allah, kami memohon pertolongan, ampunan serta bertaubat kepadaNya. Kami berlindung kepada Allah dari kejahatan diri dan keburukan pekerjaan pekerjaan kami. Siapa saja yang diberi petunjuk Allah, niscaya tak seorangpun yang bisa menyesatkannya. Dan siapa yang disesatkan Allah, niscaya tak seorangpun bisa menunjukinya. Aku bersaksi bahwa Muhammad shallallahu 'alahi wasallam adalah hamba dan utusan-Nya. Semoga shalawat dan salam senantiasa dilimpahkan kepada beliau, segenap keluarga dan sahabatnya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ini adalah risalah ringkas tentang keutamaan dan manfaat shalat bejamaah. Dalam risalah ini, penulis menghimpun -dengan taufik Allah- berbagai manfaat tersebut hingga mencapai 40 buah, Alhamdulillah. penulis menjadikan kitabullah dan sunnah RasulNya a sebagai rujukan utama dalam penulisan ini, sebab kedua wahyu tersebut telah sangat cukup sebagai dasar dan dalil. Di samping, agar pembahasan tidak bertele-tele, sehingga – dengan izin Allah – mudah memahaminya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ada beberapa hal yang memotivasi kami menulis tema ini, diantaranya : &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1. Penulis menyaksikan kondisi sebagian besar umat Islam di berbagai negara Islam tidak begitu memperhatikan shalat berjamaah, bahkan hingga para du’atnya &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2. Penulis merasakan sendiri, juga yang penulis lihat pada sebagian saudara-saudara muslim lain –mudah mudahan Allah menunjuki kita semua– terkadang meremehkan ibadah agung ini dengan alasan karena banyaknya kesibukan dan sempitnya waktu. Semoga Allah menolong kita.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selanjutnya, di sini penulis merasa perlu mengingatkan bahwa dasar utama dari ibadah ini (shalat berjamaah), juga ibadah ibadah lain, adalah ta’abbud kepada Allah subhanahu wata'aala, dengan menjalankan segala perintahNya. Dan meninggalkan semua laranganNya. Berbagai manfaat ini kita sebutkan hanyalah sebagai targhib (penyenang) dan tasyji' (motivator) bagi orang-orang yang melakukannya, sekaligus sebagai peringatan bagi mereka yang malas. &lt;br /&gt;Akhirnya, hanya kepada Allah kita memohon pertolongan dan kelurusan, dan semoga Ia menjadikan berbagai amalan kita ikhlas karenaNya semata. Amin. &lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Manfaat ke–1 : Mematuhi Perintah Allah&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sesungguhnya dengah shalat berjamaah berarti kita telah mematuhi (salah satu) perintah Allah yang dibebankan kepada segenap hambaNya yang beriman. Allah berfirman, &lt;br /&gt;وَأَقِيمُواْ الصلاة وَءَاتُواْ الزكواة واركعوا مَعَ الراكعين &lt;br /&gt;“Dan dirikanlah shalat, tunaikanlah zakat, dan ruku'lah bersama orang-orang yang ruku'.” (Al-Baqarah: 43). &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menjelaskan ayat di atas, Ibnu Katsir rahimahullah dalam kitab Tafsirnya berkata, “Yakni hendaklah kalian bersama orang-orang beriman dalam berbagai perbuatan mereka yang terbaik, dan yang paling utama dan sempurna dari semua itu adalah shalat. Dan banyak para ulama yang menjadikan ayat ini sebagai dalil bagi diwajibkannya shalat berjamaah” dalam Kitabush Shalah, hal .114, Ibnul Qayyim 5 menerangkan, “Jika dikatakan (shalat berjamaah wajib), ini bertentangan dengan firman Allah, &lt;br /&gt;يامريم اقنتى لِرَبّكِ واسجدى واركعى مَعَ الركعين &lt;br /&gt;“Hai Maryam, taatlah kepada Rabbmu, sujud dan ruku'-lah bersama orang-orang yang ruku'.” (Ali Imran: 43). &lt;br /&gt;Padahal wanita tidak wajib menghadiri (melakukan) shalat secara berjamaah.” &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kita menjawab, “Ayat tersebut tidak menunjukkan wajibnya perintah tersebut (shalat berjamaah bagi setiap wanita, tetapi perintah tersebut khusus ditunjukan kepada Maryam. Ini berbeda dengan firmanNya (yang menunjukkan wajibnya shalat berjamaah bagi laki-laki, red.), &lt;br /&gt;وَأَقِيمُواْ الصلاة وَءَاتُواْ الزكواة واركعوا مَعَ الراكعين &lt;br /&gt;“Dan dirikanlah shalat, tunaikanlah zakat, dan ruku'lah bersama orang-orang yang ruku'.” (Al-Baqarah: 43). &lt;br /&gt;Maryam memiliki kekhususan (keistimewaan) yang tidak dimiliki oleh wanita-wanita lain, yaitu ibunya telah menadzarkan puterinya (Maryam) menjadi hamba yang shalih dan berkhidmat, untuk beribadah kepadaNya dan senantiasa berada di masjid, ia tidak pernah meninggalkan masjid karena itu ia diperintah untuk ruku' bersama orang-orang yang ruku'.” &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bersambung....&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2341110395006740809-1580134761155543594?l=bertahajudlah.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://bertahajudlah.blogspot.com/feeds/1580134761155543594/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://bertahajudlah.blogspot.com/2010/05/40-manfaat-shalat-berjamaah-1.html#comment-form' title='1 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2341110395006740809/posts/default/1580134761155543594'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2341110395006740809/posts/default/1580134761155543594'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://bertahajudlah.blogspot.com/2010/05/40-manfaat-shalat-berjamaah-1.html' title='40 Manfaat Shalat Berjama&apos;ah (1)'/><author><name>Abu Rasya</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='25' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_Vu2uwPa37To/SwJVf4XAdFI/AAAAAAAAAEk/lhZhkq-B4QA/S220/Fatih-Sultan-Muhammad.jpg'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2341110395006740809.post-1004479938870914403</id><published>2010-04-27T06:26:00.003+07:00</published><updated>2010-04-27T06:39:04.777+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='lalai'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='dzikir'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='pagi'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='malas'/><title type='text'>Malas Beraktivitas, Mungkin Anda Lalai dari Dzikir Pagi</title><content type='html'>Segala puji bagi Allah, Rabb semesta alam. Shalawat dan salam kepada Nabi kita Muhammad, keluarga dan para sahabatnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;An Nawawi dalam Shohih Muslim membawakan bab dengan judul “Keutamaan tidak beranjak dari tempat shalat setelah shalat shubuh dan keutamaan masjid“.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam bab tersebut terdapat suatu riwayat dari seorang tabi’in –Simak bin Harb-. Beliau rahimahullah mengatakan bahwa dia bertanya kepada Jabir bin Samuroh,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;أَكُنْتَ تُجَالِسُ رَسُولَ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم-&lt;br /&gt;“Apakah engkau sering menemani Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam duduk?”&lt;br /&gt;Jabir menjawab,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;نَعَمْ كَثِيرًا كَانَ لاَ يَقُومُ مِنْ مُصَلاَّهُ الَّذِى يُصَلِّى فِيهِ الصُّبْحَ أَوِ الْغَدَاةَ حَتَّى تَطْلُعَ الشَّمْسُ فَإِذَا طَلَعَتِ الشَّمْسُ قَامَ وَكَانُوا يَتَحَدَّثُونَ فَيَأْخُذُونَ فِى أَمْرِ الْجَاهِلِيَّةِ فَيَضْحَكُونَ وَيَتَبَسَّمُ.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Iya. Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam biasanya tidak beranjak dari tempat duduknya setelah shalat shubuh hingga terbit matahari. Apabila matahari terbit, beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam berdiri (meninggalkan tempat shalat). Dulu para sahabat biasa berbincang-bincang (guyon) mengenai perkara jahiliyah, lalu mereka tertawa. Sedangkan beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam hanya tersenyum saja.” (HR. Muslim no. 670)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;An Nawawi mengatakan, “Dalam hadits ini terdapat anjuran berdzikir setelah shubuh dan mengontinukan duduk di tempat shalat jika tidak memiliki udzur (halangan). Al Qadhi Husain mengatakan bahwa inilah sunnah yang biasa dilakukan oleh salaf dan para ulama. Mereka biasa memanfaatkan waktu tersebut untuk berdzikir dan berdo’a hingga terbit matahari.” (Syarh An Nawawi ‘ala Muslim, 8/29, Asy Syamilah)&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Membaca Dzikir Pagi Menjadi Kebiasaan Ibnu Mas’ud radhiyallahu ‘anhu&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari Abu Wa’il, dia berkata, “Pada suatu pagi kami mendatangi Abdullah bin Mas’ud selepas kami melaksanakan shalat shubuh. Kemudian kami mengucapkan salam di depan pintu. Lalu kami diizinkan untuk masuk. Akan tetapi kami berhenti sejenak di depan pintu. Lalu keluarlah budaknya sembari berkata, “Mari silakan masuk.” Kemudian kami masuk sedangkan Ibnu Mas’ud sedang duduk sambil berdzikir.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ibnu Mas’ud lantas berkata, “Apa yang menghalangi kalian padahal aku telah mengizinkan kalian untuk masuk?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lalu kami menjawab, “Tidak, kami mengira bahwa sebagian anggota keluargamu sedang tidur.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ibnu Mas’ud lantas bekata, “Apakah kalian mengira bahwa keluargaku telah lalai?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kemudian Ibnu Mas’ud kembali berdzikir hingga dia mengira bahwa matahari telah terbit. Lantas beliau memanggil budaknya, “Wahai budakku, lihatlah apakah matahari telah terbit.” Si budak tadi kemudian melihat ke luar. Jika matahari belum terbit, beliau kembali melanjutkan dzikirnya. Hingga beliau mengira lagi bahwa matahari telah terbit, beliau kembali memanggil budaknya sembari berkata, “Lihatlah apakah matahari telah terbit.” Kemudian budak tadi melihat ke luar. Jika matahari telah terbit, beliau mengatakan,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;الْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِى أَقَالَنَا يَوْمَنَا هَذَا&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Segala puji bagi Allah yang telah menolong kami berdzikir pada pagi hari ini.” (HR. Muslim no. 822)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah Menjadi Malas Beraktivitas Disebabkan Lupa Dzikir Pagi&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah adalah orang yang gemar beribadah dan bukanlah orang yang kelihatan bengis sebagaimana anggapan sebagian orang. Kita dapat melihat aktivitas beliau di pagi hari sebagaimana dikisahkan oleh muridnya –Ibnu Qayyim Al Jauziyah.-&lt;br /&gt;Ketika menjelaskan faedah dzikir bahwa dzikir dapat menguatkan hati dan ruh, Ibnul Qayim mengatakan,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah suatu saat shalat shubuh. Kemudian (setelah shalat shubuh) beliau duduk sambil berdzikir kepada Allah Ta’ala hingga pertengahan siang. Kemudian berpaling padaku dan berkata, ‘Ini adalah kebiasaanku di pagi hari. Jika aku tidak berdzikir seperti ini, hilanglah kekuatanku’ –atau perkataan beliau yang semisal ini-.” (Al Wabilush Shoyib min Kalamith Thoyib, hal.63, Maktabah Syamilah)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di Antara Dzikir Pagi yang Ringan yang Bisa Rutin Dibaca&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;[1] Membaca istigfar sebanyak 100x: Astagfirullah wa atubu ilaih&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;مَا أَصْبَحْتُ غَدَاةً قَطٌّ إِلاَّ اِسْتَغْفَرْتُ اللهَ مِائَةَ مَرَّةٍ&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Tidaklah aku berada di pagi hari (antara terbit fajar hingga terbit matahari, pen) kecuali aku telah beristigfar pada Allah sebanyak 100 kali.” (HR. An Nasa’i. Dishohihkan oleh Syaikh Al Albani dalam Silsilah Ash Shohihah no. 1600. Lihat Al Mu’jam Al Awsath lith Thobroniy, 8/432, Asy Syamilah)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;[2] Membaca sayyidul istighfar 1x&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari Syaddad bin Aus radhiyallahu ‘anhu, dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, beliau bersabda,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Penghulu istigfar adalah apabila engkau mengucapkan,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;اَللَّهُمَّ أَنْتَ رَبِّيْ لاَ إِلَـهَ إِلاَّ أَنْتَ، خَلَقْتَنِيْ وَأَنَا عَبْدُكَ، وَأَنَا عَلَى عَهْدِكَ وَوَعْدِكَ مَا اسْتَطَعْتُ، أَعُوْذُ بِكَ مِنْ شَرِّ مَا صَنَعْتُ، أَبُوْءُ لَكَ بِنِعْمَتِكَ عَلَيَّ، وَأَبُوْءُ بِذَنْبِيْ فَاغْفِرْ لِيْ فَإِنَّهُ لاَ يَغْفِرُ الذُّنُوْبَ إِلاَّ أَنْتَ&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[Allahumma anta robbi laa ilaha illa anta, kholaqtaniy wa ana 'abduka wa ana 'ala 'ahdika wa wa'dika mastatho'tu. A'udzu bika min syarri maa shona'tu, abu-u laka bi ni'matika 'alayya wa abu-u bi dzanbi. Faghfirlii fa innahu laa yaghfirudz dzunuba illa anta] “Ya Allah! Engkau adalah Rabbku, tidak ada Tuhan yang berhak disembah kecuali Engkau. Engkaulah yang menciptakanku. Aku adalah hamba-Mu. Aku akan setia pada perjanjianku dengan-Mu semampuku. Aku berlindung kepada-Mu dari kejelekan yang kuperbuat. Aku mengakui nikmat-Mu kepadaku dan aku mengakui dosaku, oleh karena itu, ampunilah aku. Sesungguhnya tiada yang mengampuni dosa kecuali Engkau.” (HR. Bukhari no. 6306)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;[3] Membaca surat Al Ikhlash, Al Falaq, dan An Naas masing-masing sebanyak 3x&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;« (قُلْ هُوَ اللَّهُ أَحَدٌ) وَالْمُعَوِّذَتَيْنِ حِينَ تُمْسِى وَحِينَ تُصْبِحُ ثَلاَثَ مَرَّاتٍ تَكْفِيكَ مِنْ كُلِّ شَىْءٍ »&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Membaca Qul huwallahu ahad (surat Al Ikhlas) dan Al Muwa’idzatain (surat Al Falaq dan An Naas) ketika sore dan pagi hari sebanyak tiga kali akan mencukupkanmu dari segala sesuatu).” (HR. Abu Daud no. 5082. Syaikh Al Albani dalam Shohih wa Dho’if Sunan Abi Daud mengatakan bahwa hadits ini hasan)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jika ingin mengetahui dan mengamalkan dzikir-dzikir pagi lainnya, silakan dilihat di kitab Hisnul Muslim (karya Syaikh Sa’id bin Wahf Al Qohthoni hafizhohullah, sudah banyak diterjemahkan) atau buku Do’a dan Dzikir karya Al Ustadz Yazid bin Abdil Qodir Jawas hafizhohullah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Semoga Allah menjadikan waktu pagi kita menjadi waktu yang penuh berkah. Semoga Allah memudahkan kita melakukan amalan yang bermanfaat di dalamnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;***&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di pagi hari yang penuh berkah, 9 Rabi’ul Akhir 1430 H&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Penulis: Muhammad Abduh Tuasikal&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2341110395006740809-1004479938870914403?l=bertahajudlah.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://bertahajudlah.blogspot.com/feeds/1004479938870914403/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://bertahajudlah.blogspot.com/2010/04/malas-beraktivitas-mungkin-anda-lalai.html#comment-form' title='1 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2341110395006740809/posts/default/1004479938870914403'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2341110395006740809/posts/default/1004479938870914403'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://bertahajudlah.blogspot.com/2010/04/malas-beraktivitas-mungkin-anda-lalai.html' title='Malas Beraktivitas, Mungkin Anda Lalai dari Dzikir Pagi'/><author><name>Abu Rasya</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='25' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_Vu2uwPa37To/SwJVf4XAdFI/AAAAAAAAAEk/lhZhkq-B4QA/S220/Fatih-Sultan-Muhammad.jpg'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2341110395006740809.post-2303904770451076446</id><published>2010-04-23T13:22:00.003+07:00</published><updated>2010-04-23T13:29:37.403+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='mulia'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='jumat'/><title type='text'>Rahasia Keutamaan Hari Jumat</title><content type='html'>Novelis Ayu Sutrisna (diperankan Suzanna) sering mengalami tangan gemetar dan keringat dingin keluar karena mengidap phobia tertentu. Anton (diperankan Alan Nuari), psikiater dan sekaligus pacar yang merawatnya, menganjurkan hidup santai dan menghindari suasana sibuk dan bising.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ia pun menyepi di sebuah rumah tua milik ayah Anton. Namun dua penjaga rumah tua itu mati mengerikan ketika mencoba memperkosa Ayu. Mereka diperkirakan dibunuh setan. Akhirnya tabir terbuka, ayah Anton mengaku bahwa istrinya telah melahirkan bayi di malam Jumat Kliwon dan terbunuh.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Malam Jumat Kliwon adalah film horor Indonesia yang dirilis pada tahun 1986. Film yang disutradari oleh Sisworo Gautama Putra ini dibintangi antara lain oleh Suzanna dan Alan Nuari.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Malam Jumat Kliwon adalah film horor Indonesia yang dirilis pada tahun 1986. Film yang disutradari oleh Sisworo Gautama Putra ini dibintangi antara lain oleh Suzanna dan Alan Nuari.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Alkisah, di atas era 80-an dan seterusnya, para sineas lain di Indonesia menjadikan hari Jumat sebagai hari menakutkan.  Hampir bisa disaksikan di semua TV atau film-film horor, menjadikan  hari Jumat sebagai hari “kebangkitan” para setan. Walhasil, hari Jumat adalah hari menyeramkan!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Begitulah para sineas Indonesia yang telah ikut menyumbang keburukan dengan menjadikan Hari Jumat seolah-oleh hari paling sial dan menakutkan. Andai Rasulullah masih hidup di tengah-tengah kita, mungkin baginda akan marah besar. Betapa tidak, karena baginda Rasulullah sangat memuliakan hari Jumat. Dalam banyak riwayat, Rasulullah bahkan meminta kita memuliakan hari itu.&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Dalam sebuah riwayat, Rasulullah pernah bersabda. “Hari terbaik di mana matahari terbit di dalamnya ialah hari Jumat. Pada hari itu Adam Alaihis Salam diciptakan, dimasukkan ke surga, dikeluarkan daripadanya dan kiamat tidak terjadi kecuali di hari Jumat.” [Riwayat Muslim]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rasulullah juga pernah bersabda, “Sesungguhnya hari yang paling utama bagi kalian adalah hari Jumat, maka perbanyaklah sholawat kepadaku di dalamnya, karena sholawat kalian akan ditunjukkan kepadaku, para sahabat berkata: ‘Bagaimana ditunjukkan kepadamu sedangkan engkau telah menjadi tanah?’ Nabi bersabda: ‘Sesungguhnya Allah mengharamkan bumi untuk memakan jasad para Nabi.” (Shohih. HR. Abu Dawud, Ibnu Majah, An-Nasa’i)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Keistimewaan lain hari Jumat adalah saat-saat dikabulkannya doa, yaitu saat-saat terakhir setelah shalat ashar (seperti yang dijelaskan dalam banyak hadits) atau di antara duduknya imam di atas mimbar saat berkhutbah Jumat sampai shalat selesai ditunaikan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Amalan Mulia&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Allah mengkhususkan hari Jumat ini hanya bagi kaum Muslimin dari seluruh kaum dari umat-umat terdahulu.  Di dalamnya banyak rahasia dan keutamaan yang datangnya langsung dari Allah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Beberapa rahasia keagungan hari Jumat adalah sebagai berikut;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pertama, Hari Keberkahan. Di mana di hari Jumat berkumpul kaum Muslimin di masjid-masjid  untuk mengikuti shalat dan sebelumnya mendengarkan dua khutbah Jumat yang mengandung pengarahan dan pengajaran serta nasihat-nasihat yang ditujukan kepada kaum muslimin yang kesemuanya mengandung manfaat agama dan dunia.  Ibnu Qayyim al-Jauziyyah rahimahullah menyebut hari Jumat memiliki 33 keutamaan. Bahkan Imam as-Suyuthi  menyebut ada 1001 keistimewaan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kedua, Hari Dikabulkannya doa. Di antara rahasia keutamaan hari Jumat lain adalah, di hari itu terdapat waktu-waktu dikabulkannya doa. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt; “Di hari Jumat itu terdapat satu waktu yang jika seorang Muslim melakukan shalat di dalamnya dan memohon sesuatu kepada Allah Ta’ala, niscaya permintaannya akan dikabulkan.’ Lalu beliau memberi isyarat dengan tangannya yang menunjukkan sedikitnya waktu itu.” [HR.Bukhari dan Muslim]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari Abu Hurairah, Rasulullah bersabda: "Sesungguhnya pada hari Jumat terdapat waktu mustajab bila seorang hamba muslim melaksanakan shalat dan memohon sesuatu kepada Allah pada waktu itu, niscaya Allah akan mengabulkannya.” [Muttafaqun Alaih]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketiga, Hari Diperintahkannya Shalat Jumat. Rasulullah bersabda, “Hendaklah kaum-kaum itu berhenti dari meninggalkan shalat Jumat. Atau (jika tidak) Allah pasti akan mengunci hari mereka, kemudian mereka pasti menjadi orang-orang yang lalai.” [Muslim]. Dalam riwayat lain Rasulullah menyebutkan, “Shalat Jumat adalah hak yang diwajibkan kepada setiap Muslim kecuali empat orang; budak atau wanita, atau anak kecil, atau orang sakit.” [Abu Daud]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا إِذَا نُودِيَ لِلصَّلاةِ مِنْ يَوْمِ الْجُمُعَةِ فَاسْعَوْا إِلَى ذِكْرِ اللَّهِ وَذَرُوا الْبَيْعَ ذَلِكُمْ خَيْرٌ لَكُمْ إِنْ كُنْتُمْ تَعْلَمُونَ (٩)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Hai orang-orang beriman, apabila diseru untuk menunaikan shalat Jumat, maka bersegeralah kamu kepada mengingat Allah dan tinggalkanlah jual beli, yang demikian itu lebih baik bagimu jika kamu mengetahui.”  [QS: Al-Jumu'ah:9]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;مَنْ غَسَّلَ يَوْمَ الْجُمْعَةِ وَاغْتَسَلَ ثُمَّ بَكَّرَ وَابْتَكَرَ وَمَشَى وَلَمْ يَرْكَبْ وَدَنَا مِنَ اْلإِمَامِ فَاسْتَمَعَ وَلَمْ يَلْغُ كَانَ لَهُ بِكُلِّ خُطْوَةٍ عَمَلُ سَنَةٍ أَجْرُ صِيَامُهَا وَقِيَامُهَا&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Barangsiapa yang bersuci dan mandi, kemudian bergegas dan mendengar khutbah dari awal, berjalan kaki tidak dengan berkendaraan, mendekat dengan imam, lalu mendengarkan khutbah dan tidak berbuat sia-sia, maka baginya bagi setiap langkah pahala satu tahun baik puasa dan shalatnya..”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;,Keempat, Hari Pembeda antara Islam dan Non-Muslim. Hari Jumat adalah hari istimewa bagi kaum Muslim. Selain itu diberikan Nabi untuk membedakan antara harinya orang Yahudi dan orang Nashrani.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Abu Hurairah meriwayatkan, Rasulullah bersabda: "Allah telah memalingkan orang-orang sebelum kita untuk menjadikan hari Jumat sebagai hari raya mereka, oleh karena itu hari raya orang Yahudi adalah hari Sabtu, dan hari raya orang Nasrani adalah hari Ahad, kemudian Allah memberikan bimbingan kepada kita untuk menjadikan hari Jumat sebagai hari raya, sehingga Allah menjadikan hari raya secara berurutan, yaitu hari Jumat, Sabtu, dan Ahad. Dan di hari kiamat mereka pun akan mengikuti kita seperti urutan tersebut, walaupun di dunia kita adalah penghuni yang terakhir, namun di hari kiamat nanti kita adalah urutan terdepan yang akan diputuskan perkaranya sebelum seluruh makhluk."  [HR. Muslim]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kelima, Hari Allah menampakkan diri.  Dalam sebuah riwayat disebutkan,Hari Jumat  Allah menampakkan diri kepada hamba-hamba-Nya yang beriman di Surga. Dari Anas bin Malik dalam mengomentari ayat: "Dan Kami memiliki pertambahannya" (QS.50:35) mengatakan: "Allah menampakkan diri kepada mereka setiap hari Jumat."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Masih banyak keistimewan hari Jumat. Di antaranya adalah; Dalam "al-Musnad" dari hadits Abu Lubabah bin Abdul Munzir, dari Nabi Shallallahu 'Alaihi Wasallam, beliau bersabda:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Penghulunya hari adalah hari Jumat, ia adalah hari yang paling utama di sisi Allah Subhanahu Wata'ala, lebih agung di sisi Allah Subhanahu Wata'ala dari pada hari Idul Fitri dan Idul Adha. Pada hari Jumat tersebut terdapat lima keistimewaan: Hari itu,  bapak semua umat manusia, Nabi Adam 'Alaihissalam diciptakan, diturunkan ke dunia, dan wafat.  Hari kiamat tak akan terjadi kecuali hari Jum’at. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Karena itu, Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wasallam, sangat memuliakan hari ini, menghormatinya, dan mengkhususkannya untuk beribadah dibandingkan hari-hari lainnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Etika Menyambut Hari Jumat&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Mandi Jum’at [jenabat]&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mandi pada hari Jumat wajib hukumnya bagi setiap muslim yang baligh berdasarkan hadits Abu Sa’id Al Khudri, di mana Rasulullah bersabda, yang artinya, “Mandi pada hari Jumat adalah wajib bagi setiap orang yang baligh.” (HR. Bukhori dan Muslim). &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mandi Jumat ini diwajibkan bagi setiap muslim pria yang telah baligh, tetapi tidak wajib bagi anak-anak, wanita, orang sakit, dan musafir. Sedangkan waktunya adalah sebelum berangkat sholat Jumat. Adapun tata cara mandi Jumat ini seperti halnya mandi jenabat biasa. Rasulullah bersabda yang artinya, “Barangsiapa mandi Jumat seperti mandi jenabat.” (HR. Bukhari dan Muslim)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;A.    Berpakaian Bersih dan Memakai Wangi-Wangian&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rasulullah berkata, "Siapa yang mandi pada hari Jumat, bersuci sesuai kemampuan, merapikan rambutnya, mengoleskan parfum, lalu berangkat ke masjid, dan masuk masjid tanpa melangkahi di antara dua orang untuk dilewatinya, kemudian shalat sesuai tuntunan dan diam tatkala imam berkhutbah, niscaya diampuni dosa-dosanya di antara dua Jum'at." [HR. Bukhari]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;B.     Menghentikan Aktivitas Jual-Beli dan Menyegerakan ke Masjid&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Anas bin Malik berkata, “Kami berpagi-pagi menuju sholat Jumat dan tidur siang setelah sholat Jumat.” (HR. Bukhari). Al Hafidz Ibnu Hajar berkata, “Makna hadits ini yaitu para sahabat memulai sholat Jumat pada awal waktu sebelum mereka tidur siang, berbeda dengan kebiasaan mereka pada sholat zuhur ketika panas, sesungguhnya para sahabat tidur terlebih dahulu, kemudian sholat ketika matahari telah rendah  panasnya.” (Lihat Fathul Bari II/388)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;C.      Sholat Sunnah Sebelum dan Sesudah Shalat Jumat&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Abu Hurairah radhiallahu ‘anhu menuturkan bahwa Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Barangsiapa mandi kemudian datang untuk sholat Jumat, lalu ia sholat semampunya dan dia diam mendengarkan khotbah hingga selesai, kemudian sholat bersama imam maka akan diampuni dosanya mulai Jumat ini sampai Jumat berikutnya ditambah tiga hari.” [HR. Muslim]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;D.    Membaca Surat Al Kahfi&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nabi bersabda yang artinya, “Barangsiapa yang membaca surat Al Kahfi pada hari Jumat maka Allah akan meneranginya di antara dua Jumat.”  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;E.  Memperbanyak Shalawat.  &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari Anas ra,  Rasulullah  bersabda: "Perbanyaklah shalawat pada hari Jumat  dan malam Jumat."  [HR. Baihaqi]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari Aus Radhiallahu 'anhu, dia mengatakan, Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wasallam, bersabda: "Sebaik-baik hari kalian adalah hari Jumat: pada hari itu Adam diciptakan, pada hari itu beliau diwafatkan, pada hari itu sangkakala ditiup, pada hari itu manusia bangkit dari kubur, maka perbanyaklah shalawat kepadaku pada hari itu, karena shalawat kalian akan diperlihatkan kepadaku", para shahabat bertanya: "wahai Rasulullah, bagaimana diperlihatkan kepada engkau sedangkan tubuh engkau sudah hancur (sudah menyatu dengan tanah ketika sudah wafat), Beliau menjawab: "sesungguhnya Allah Subhanahu Wata'ala mengharamkan kepada bumi untuk memakan (menghancurkan) jasad para Nabi." [HR, "al-Khamsah]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Mencintai Apa yang Dicintai Nabi&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rasulullah Muhammad adalah orang pilihan dan kekasih Allah SWT. Apapun amalan yang disukai Nabi adalah hal yang paling disukai Allah dan setiap amalan yang dibenci Nabi juga dimurkai Allah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bentuk kesungguhan kita mencintai Rasulullah Saw adalah berlomba-lomba dan bersungguh-sungguh mengikuti dan meneladani apa yang telah beliau lakukan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebagaimana firman Allah SWT, وَمَا ءَاتَاكُمُ الرَّسُولُ فَخُذُوهُ وَمَا نَهَاكُمْ عَنْهُ فَانْتَهُوا. Artinya, ”Apa saja yang dibawa oleh Rasul untuk kalian, ambillah, dan apa saja yang dilarangnya atas kalian, tinggalkanlah.” [QS. al-Hasyr [59]: 7]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam ayat lain disebutkan, Katakanlah, “Jika kalian benar-benar  mencintai Allah, ikutilah aku, niscaya Allah akan mengasihi kalian dan mengampuni dosa-dosa kalian.” [Qs. Ali-Imran [3]: 31].&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Karena itu, apapun yang sudah ditetapkan Nabi –termasuk memuliakan hari Jumat-- adalah sesuatu yang sudah pasti disukai Allah SWT. Sangatlah tidak pantas bagi kita sekalian mengada-adakan dan mengarang-ngarang sesuatu yang sesungguhnya tidak ada dan tidak pernah dilakukan Nabi kita.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Semoga setelah ini kita ikut menjadikan dan memuliakan hari Jumat. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[www.hidayatullah.com]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2341110395006740809-2303904770451076446?l=bertahajudlah.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://bertahajudlah.blogspot.com/feeds/2303904770451076446/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://bertahajudlah.blogspot.com/2010/04/rahasia-keutamaan-hari-jumat.html#comment-form' title='2 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2341110395006740809/posts/default/2303904770451076446'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2341110395006740809/posts/default/2303904770451076446'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://bertahajudlah.blogspot.com/2010/04/rahasia-keutamaan-hari-jumat.html' title='Rahasia Keutamaan Hari Jumat'/><author><name>Abu Rasya</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='25' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_Vu2uwPa37To/SwJVf4XAdFI/AAAAAAAAAEk/lhZhkq-B4QA/S220/Fatih-Sultan-Muhammad.jpg'/></author><thr:total>2</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2341110395006740809.post-4882519086619704834</id><published>2010-04-20T16:40:00.006+07:00</published><updated>2010-04-20T16:45:21.743+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='qiyamul lail'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='sholat malam'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='tahajud'/><title type='text'>Shalat Malam</title><content type='html'>&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Hukum, Waktu dan Jumlah Rokaat Sholat Malam&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hukum sholat malam adalah sunah muakkad. Waktunya adalah setelah sholat ‘isya sampai dengan sebelum waktu sholat shubuh. Akan tetapi, waktu yang paling utama adalah sepertiga malam yang terakhir dan boleh dikerjakan sesudah tidur ataupun sebelumnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sedangkan jumlah rokaatnya paling sedikit adalah 1 rokaat berdasarkan sabda Rosululloh sholallohu ‘alaihi wa sallam, “Sholat malam adalah 2 rokaat (salam) 2 rokaat (salam), apabila salah seorang di antara kamu khawatir akan datangnya waktu shubuh maka hendaklah dia sholat 1 rokaat sebagai witir baginya.” (HR. Bukhori dan Muslim). Dan paling banyak adalah 11 rokaat berdasarkan perkataan ‘Aisyah radhiyallohu ‘anha, “Tidaklah Rosululloh sholallohu ‘alaihi wa sallam sholat malam di bulan romadhon atau pun bulan yang lainnya lebih dari 11 rokaat.” (HR. Bukhori dan Muslim), walaupun mayoritas ulama menyatakan tidak ada batasan dalam jumlah rokaatnya.&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Keutamaan Sholat Malam&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketika menyebutkan ciri-ciri orang yang bertakwa, Alloh Subhanallohu wa Ta’ala berfirman yang artinya, “Mereka sedikit sekali tidur di waktu malam. Dan selalu memohonkan ampunan di waktu pagi sebelum fajar.” (QS. Adz Dzariyat: 17-18)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Karena pentingnya sholat malam ini Alloh berfirman kepada Nabi-Nya yang artinya, “Hai orang yang berselimut, bangunlah pada sebagian malam (untuk sholat), separuhnya atau kurangi atau lebihi sedikit dari itu. Dan bacalah Al-Qur’an dengan tartil.” (QS. AlMuzammil: 1-4)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berikut ini akan kami sampaikan beberapa keutamaan sholat malam dengan tujuan agar seseorang lebih bersemangat dan terdorong hatinya untuk mengerjakannya dan selalu mengerjakannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1. Sebab masuk surga.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rosululloh sholallohu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Wahai sekalian manusia, sebarkanlah salam, berilah makanan, sambunglah tali persaudaraan dan sholatlah ketika manusia terlelap tidur pada waktu malam niscaya engkau akan masuk surga dengan selamat.” (HR. Ibnu Majah, dishohihkan oleh Al Albani)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2. Menaikkan derajat di surga.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rosululloh sholallohu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Sungguh di dalam surga tedapat kamar-kamar yang bagian dalamnya terlihat dari luar dan bagian luarnya terlihat dari dalam. Kamar-kamar itu Alloh sediakan bagi orang yang memberi makan, melembutkan perkataan, mengiringi puasa Romadhon (dengan puasa sunah), menebarkan salam dan mengerjakan sholat malam ketika manusia lain terlelap tidur.” (HR. At Tirmidzi, dihasankan oleh Al Albani)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3. Penghapus dosa dan kesalahan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rosululloh sholallohu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Hendaklah kalian melakukan sholat malam, karena sholat malam itu adalah kebiasaan orang-orang sholih sebelum kalian, dan ibadah yang mendekatkan diri pada Tuhan kalian serta penutup kesalahan dan sebagai penghapus dosa.” (HR. At Tirmidzi, dihasankan oleh Al Albani)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;4. Sholat yang paling utama setelah sholat fardhu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rosululloh sholallohu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Sholat yang paling utama setelah sholat wajib adalah sholat malam.” (HR. Muslim)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;5. Kemulian orang yang beriman dengan sholat malam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketika Jibril datang pada Rosululloh sholallohu ‘alaihi wa sallam lalu berkata, “Hai Muhammad, kemuliaan orang beriman adalah dengan sholat malam. Dan kegagahan orang beriman adalah sikap mandiri dari bantuan orang lain.” (HR. Al Hakim, dihasankan oleh Al Albani)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Akan tetapi disayangkan kebanyakan kaum muslimin meninggalkan sholat malam yang berarti telah menyia-nyiakan keutamaan yang telah Alloh sediakan dikarenakan kemalasan yang ada pada mereka atau pun tergoda dengan gemerlapnya dunia. Dalam riwayat Imam Bukhori disebutkan bahwa ketika Rosululloh ditanya tentang seorang yang tidur sepanjang malam sampai waktu subuh, maka Rosululloh shollallohu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Dia adalah seorang yang kedua telinganya dikencingi oleh setan.” Hal ini adalah penghinaan setan baginya, lalu bagaimana seorang yang bangun setelah waktu subuh??? Wallohu Musta’an.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;***&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Penulis: Abu Abdillah Rudi Agus H.&lt;br /&gt;Artikel www.muslim.or.id&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2341110395006740809-4882519086619704834?l=bertahajudlah.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://bertahajudlah.blogspot.com/feeds/4882519086619704834/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://bertahajudlah.blogspot.com/2010/04/shalat-malam.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2341110395006740809/posts/default/4882519086619704834'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2341110395006740809/posts/default/4882519086619704834'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://bertahajudlah.blogspot.com/2010/04/shalat-malam.html' title='Shalat Malam'/><author><name>Abu Rasya</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='25' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_Vu2uwPa37To/SwJVf4XAdFI/AAAAAAAAAEk/lhZhkq-B4QA/S220/Fatih-Sultan-Muhammad.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2341110395006740809.post-1515321067345880169</id><published>2010-04-19T12:54:00.002+07:00</published><updated>2010-04-19T12:56:44.731+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='kesalahan'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='masjid'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='sholat'/><title type='text'>Beberapa Kesalahan Dalam Masjid</title><content type='html'>Masjid adalah tempat pembinaan umat yang sangat penting. Di tempat yang mulia ini ada adab-adab yang perlu diperhatikan ketika kita berhubungan dengan masjid, namun banyak kaum muslimin yang melalaikan adab-adab tersebut padahal mereka berada di rumah-rumah milik Allah. Di sini insya Allah akan sedikit dibahas beberapa kesalahan yang paling sering terjadi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Memakai Pakaian yang Tidak Bagus Ketika Shalat&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kaum Muslimin yang semoga dirahmati Allah ta’ala, Allah tidak hanya memerintahkan kita untuk sekedar memakai pakaian yang menutup aurat, akan tetapi memerintahkan kita pula untuk memperbagus pakaian apalagi ketika ke masjid. Allah berfirman, “Hai anak adam, pakailah pakaianmu yang indah di setiap (memasuki) masjid.” (QS. Al A’raf [7]: 31). Imam Ibnu Katsir mengatakan dalam kitab tafsirnya bahwa dari ayat ini dapat diambil pelajaran bahwa kita disunnahkan berhias ketika shalat, lebih-lebih ketika hari Jumat dan hari raya. Dan termasuk perhiasan adalah siwak dan parfum.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun sekarang banyak kita jumpai kaum muslimin yang ketika pergi ke masjid hanya mengenakan pakaian seadanya padahal ia memiliki pakaian yang bagus. Bahkan tidak sedikit yang mengenakan pakaian yang penuh gambar atau berisi tulisan-tulisan jahil. Akibatnya, mau tidak mau orang yang ada di belakangnya akan melihat dan membaca sehingga rusaklah konsentrasinya.&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Tidak Meluruskan Shaf dan Enggan di Shaf Pertama&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di banyak masjid, kerapian, kelurusan dan kerapatannya shaf shalat berjamaah sering kali diabaikan. Padahal shaf yang tidak rapat akan mengganggu ketenangan shalat. Rasulullah bersabda, “Luruskanlah shafmu atau Allah akan menaruh permusuhan dan kemarahan dalam hati kalian.” (HR. Muslim). Sahabat Nu’man bin basyir radhiyallahu ‘anhu berkata, “Kami melihat salah satu di antara kami menyentuhkan pundaknya dengan pundak temannya.” Bahkan Imam Bukhari dalam kitab shahihnya beliau membuat satu judul bab, “Bab hendaknya pundak menyentuh pundak dan kaki menyentuh kaki dalam pengaturan shaf.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selain itu, kadang seseorang malas berada di shaf pertama dan lebih suka berada di shaf belakang. Bahkan ia malah mempersilakan orang lain mengisi shaf pertama sementara ia sendiri ada di belakang. Rasulullah bersabda, “Andaikan manusia tahu betapa besar pahala orang yang menjawab azan dan shaf yang pertama, lalu ia tidak mendapatkannya kecuali dengan undian tentu ia akan mengikutinya.” (HR. Bukhari)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Berjalan Tergesa-gesa dan Tidak Segera Shalat Bersama Imam Ketika Masbuk&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seorang yang khawatir ketinggalan shalat (masbuk) hendaklah tetap berjalan dengan tenang dan tidak tergesa-gesa apalagi sampai berlari untuk menuju ke masjid. Rasulullah bersabda, “Jika kalian mendengarkan iqomat, hendaklah berjalan untuk shalat. Wajib bagimu untuk mendatanginya dengan tenang dan janganlah lari terburu-buru. Apa yang kalian dapati bersama imam maka kerjakanlah dan yang kurang sempurnakanlah.” (HR. Bukhari)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kadang ada makmum masbuk yang ketika mendapati imam yang sedang sujud tidak segera takbirotul ihrom dan sujud, tetapi justru menunggu sampai imam berdiri. Perbuatan ini bertentangan dengan sunnah, berdasarkan hadis di atas dan hadits: “Sesungguhnya imam itu dijadikan panutan, jika ia bertakbir maka bertakbirlah, jika ia sujud maka bersujudlah dan jika ia bangun maka bangunlah.” (HR. Muslim)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Jual Beli Dalam Masjid&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jual beli di dalam masjid hukumnya haram, berdasarkan hadits: “Apabila kalian melihat orang menjual atau membeli barang dalam masjid maka katakan kepadanya: “semoga Allah tidak memberi keuntungan dalam jual belimu.” (HR. Tirmidzi). Hadits ini juga memerintahkan kita yang melihatnya untuk mengatakan: ‘Semoga Allah tidak memberi keuntungan dalam jual-belimu’ sebagai teguran dalam bentuk doa, karena memang masjid dibangun bukan untuk jual beli.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Wallohu a’lam bish showab.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;***&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Penulis: Johan Lil Muttaqin&lt;br /&gt;Artikel www.muslim.or.id&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2341110395006740809-1515321067345880169?l=bertahajudlah.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://bertahajudlah.blogspot.com/feeds/1515321067345880169/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://bertahajudlah.blogspot.com/2010/04/beberapa-kesalahan-dalam-masjid.html#comment-form' title='3 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2341110395006740809/posts/default/1515321067345880169'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2341110395006740809/posts/default/1515321067345880169'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://bertahajudlah.blogspot.com/2010/04/beberapa-kesalahan-dalam-masjid.html' title='Beberapa Kesalahan Dalam Masjid'/><author><name>Abu Rasya</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='25' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_Vu2uwPa37To/SwJVf4XAdFI/AAAAAAAAAEk/lhZhkq-B4QA/S220/Fatih-Sultan-Muhammad.jpg'/></author><thr:total>3</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2341110395006740809.post-47094066392917629</id><published>2010-04-19T09:38:00.002+07:00</published><updated>2010-04-19T09:43:17.215+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='kuburan'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='sholat'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='kubur'/><title type='text'>Kesalahan Seputar Kubur</title><content type='html'>Segala puji bagi Allah, Rabb semesta alam. Shalawat dan salam kepada Nabi kita Muhammad, keluarga dan sahabatnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berikut beberapa kesalahan seputar kubur yang sejak dahulu muncul dan tetap laris manis hingga saat ini. Pembahasan ini kami terjemahkan dari Majmu’ Al Fatawa Abul Abbas Ahmad bin Abdul Halim Al Haroni rahimahullah. Semoga bermanfaat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[Membaca Al Qur’an di Sisi Kubur]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Adapun membaca Al Qur’an terus menerus di sisi kubur, maka ini tidaklah pernah dikenal oleh para ulama salaf.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Para ulama pun berselisih pendapat mengenai masalah membaca Al Qur’an di kuburan. Imam Abu Hanifah, Imam Malik, dan Imam Ahmad (menurut kebanyakan pendapat dari beliau) melarang hal ini. Namun, Imam Ahmad memberikan keringanan dalam masalah ini dalam pendapat beliau yang terakhir. Yang menjadi dasar Imam Ahmad dari pendapatnya yang terakhir adalah bahwa ‘Abdullah bin ‘Umar pernah mewasiatkan agar dibacakan bagian awal dan akhir surat Al Baqarah ketika pemakamannya. Begitu pula ada riwayat dari beberapa kaum Anshor bahwasanya Ibnu ‘Umar pernah mewasiatkan agar membaca surat Al Baqarah di kuburnya (sebelum pemakaman). Namun ingat, ini semua dilakukan sebelum pemakaman.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Adapun pembacaan Al Qur’an untuk mayit sesudah pemakaman, maka tidak ada satu riwayat pun dari salaf tentang hal ini. Oleh karena itu, pendapat ketiga ini membedakan antara membacakan Al Qur’an ketika pemakaman dan pembacaan Al Qur’an terus menerus sesudah pemakaman. Pembacaan Al Qur’an sesudah pemakaman adalah amalan yang tidak ada tuntunan dalam agama ini (baca: bid’ah). Amalan seperti ini tidak memiliki landasan dalil sama sekali.&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;[Mayit Mendapatkan Pahala karena Mendengar Al Qur’an yang Dibacakan padanya]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sedangkan jika ada yang mengatakan bahwa bermanfaat bagi si mayit ketika dia diperdengarkan Al Qur’an dan dia akan mendapatkan pahala jika mendengarnya, maka pemahaman seperti ini sungguh keliru. Karena Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam sendiri pernah bersabda,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;إذَا مَاتَ ابْنُ آدَمَ انْقَطَعَ عَمَلُهُ إلَّا مِنْ ثَلَاثٍ : صَدَقَةٍ جَارِيَةٍ أَوْ عِلْمٍ يُنْتَفَعُ بِهِ أَوْ وَلَدٍ صَالِحٍ يَدْعُو لَهُ&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Jika manusia itu mati, amalannya akan terputus kecuali melalui tiga perkara: [1] sedekah jariyah, [2] ilmu yang dimanfaatkan, atau [3] anak sholeh yang mendo’akan dirinya. ”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Oleh karena itu, setelah kematian si mayit tidak akan mendapatkan pahala melalui bacaan Al Qur’an yang dia dengar dan amalan lainnya. Walaupun memang si mayit mendengar suara sandal orang lain dan juga mendengar salam orang yang mengucapkan salam padanya dan mendengar suara selainnya. Namun ingat, amalan orang lain (seperti amalan membaca Al Qur’an, pen) tidak akan berpengaruh padanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[Membangun Masjid di Atas Kubur]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Adapun membangun masjid di atas kubur yang biasa disebut dengan masyahid, seperti ini tidaklah diperbolehkan. Bahkan seluruh ulama kaum muslimin melarang perbuatan semacam ini karena ada sebuah hadits dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;لَعَنَ اللَّهُ الْيَهُودَ وَالنَّصَارَى اتَّخَذُوا قُبُورَ أَنْبِيَائِهِمْ مَسَاجِدَ يُحَذِّرُ مَا فَعَلُوا&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Allah melaknat orang Yahudi dan orang Nashrani karena mereka telah menjadikan kubur para nabi mereka sebagai masjid. Allah memperingatkan apa yang mereka lakukan.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;‘Aisyah mengatakan,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;وَلَوْلَا ذَلِكَ لَأُبْرِزَ قَبْرُهُ وَلَكِنْ كُرِهَ أَنْ يُتَّخَذَ مَسْجِدًا&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Seandainya bukan karena larangan beliau ini, tentu kubur beliau akan dikeluakan. Akan tetapi, hal ini dilarang karena ditakutkan kalau kuburnya dijadikan masjid.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam hadits yang shahih pula, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;إنَّ مَنْ كَانَ قَبْلَكُمْ كَانُوا يَتَّخِذُونَ الْقُبُورَ مَسَاجِدَ أَلَا فَلَا تَتَّخِذُوا الْقُبُورَ مَسَاجِدَ فَإِنِّي أَنْهَاكُمْ عَنْ ذَلِكَ&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Sesungguhnya orang-orang sebelum kalian, mereka menjadikan kubur-kubur sebagai masjid.. Ingatlah janganlah kalian menjadikan kubur sebagai masjid, karena sesungguhnya aku melarang kalian dari hal ini.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam kitab sunan, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;لَعَنَ اللَّهُ زَوَّارَاتِ الْقُبُورِ وَالْمُتَّخِذِينَ عَلَيْهَا الْمَسَاجِدَ وَالسُّرُجَ&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Allah melakanat para wanita yang sering menziarahi kubur dan orang yang menjadikan kubur sebagai masjid serta memasang lentera di atasnya.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[Shalat di Masjid yang Dibangun Di Atas Kubur dan Shalat di Daerah Pekuburan]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Para ulama telah bersepakat bahwa shalat di masyahid (masjid yang berada di atas kubur) tidaklah diperintahkan sama sekali baik dengan perintah wajib atau pun sunnah. Shalat di masyahid yang berada di atas kubur dan semacamnya tidaklah memiliki keutamaan dari tempat-tempat lainnya. Lebih-lebih lagi shalat di masyahid tidaklah lebih utama dari shalat di masjid berdasarkan kesepakatan para ulama kaum muslimin.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Barangsiapa meyakini bahwa shalat di masjid yang dibangun di atas kubur lebih memiliki keutamaan dari shalat di tempat lainnya atau lebih utama dari shalat di sebagian masjid, maka dia telah keluar dari jama’ah kaum muslimin dan telah keluar dari agama ini. Bahkan yang diyakini oleh umat ini bahwa shalat di masjid yang dibangun di atas kubur adalah sesuatu yang terlarang dengan larangan haram. Walaupun di sana, para ulama berselisih pendapat tentang hukum shalat di daerah pekuburan, apakah diharamkan, dimakruhkan, atau mubah? Atau dibedakan antara kubur yang baru digali dengan kubur yang sudah lama. Hal ini dikarenakan apakah larangan shalat di pekuburan tadi karena alasan najis yaitu bercampurnya tanah dengan darah mayit ataukah bukan?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun sebenarnya, larangan shalat di pekuburan tadi karena di sana terdapat tasyabbuh (penyerupaan) dengan orang-orang musyrik dan inilah asal penyembahan berhala.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Allah Ta’ala berfirman,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;وَقَالُوا لَا تَذَرُنَّ آلِهَتَكُمْ وَلَا تَذَرُنَّ وَدًّا وَلَا سُوَاعًا وَلَا يَغُوثَ وَيَعُوقَ وَنَسْرًا&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Dan mereka berkata: “Jangan sekali-kali kamu meninggalkan (penyembahan) tuhan-tuhan kamu dan jangan pula sekali-kali kamu meninggalkan (penyembahan) wadd, dan jangan pula suwaa’, yaghuts, ya’uq dan nasr”.” (QS. Nuh: 23)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lebih dari satu orang sahabat dan tabi’in mengatakan bahwa berhala-berhala tadi adalah nama orang sholeh dari kaum Nabi Nuh. Tatkala mereka mati, kaumnya beri’tikaf di atas pekuburan mereka. Lalu kaumnya membuat patung yang menyerupai orang sholeh tadi. Oleh karena itu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda –sebagaimana diriwayatkan oleh Imam Malik dalam Al Muwattho’-,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;اللَّهُمَّ لَا تَجْعَلْ قَبْرِي وَثَنًا يُعْبَدُ اشْتَدَّ غَضَبُ اللَّهِ عَلَى قَوْمٍ اتَّخَذُوا قُبُورَ أَنْبِيَائِهِمْ مَسَاجِدَ&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ya Allah janganlah engkau jadikan kuburku sebagai berhala yang disembah. Sesungguhnya Allah amat murka terhadap kaum yang menjadikan kubur nabi-nabi mereka sebagai masjid.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[Nadzar di Masyahid]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Oleh karena itu, para ulama sepakat bahwa tidak disyari’atkannya nadzar di masyahid (masjid yang berada di atas kubur) baik dengan zaitun, lilin, dirham dan selainnya dan tidak boleh ditujukan pada tetangga kubur atau orang penunggu kubur (khoddam). Hal ini tidak diperbolehkan karena Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam telah melaknat orang yang menjadikan kubur sebagai masjid dan memasang lentera (penerangan) di atas kubur. Barangsiapa melakukan semacam ini, maka dia berarti telah melakukan nadzar maksiat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam hadits yang shahih, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;مَنْ نَذَرَ أَنْ يُطِيعَ اللَّهَ فَلْيُطِعْهُ وَمَنْ نَذَرَ أَنْ يَعْصِيَ اللَّهَ فَلَا يَعْصِهِ&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Barangsiapa melakukan nadzar untuk mentaati Allah, maka lakukanlah nadzar tersebut. Namun, barangsiapa melakukan nadzar yang mengandung maksiat kepada Allah, maka janganlah bermaksiat kepada Allah (dengan melaksanakan nadzar tersebut).”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Adapun kafaroh (tebusan) untuk orang yang melakukan nadzar semacam ini ada dua pendapat di antara para ulama.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menurut madzhab Imam Ahmad dan selainnya, kafarohnya adalah sama dengan kafaroh sumpah. Dalilnya adalah sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;كَفَّارَةُ النَّذْرِ كَفَّارَةُ الْيَمِينِ&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Kafaroh nadzar sama dengan kafaroh sumpah.” Hadits ini diriwayatkan oleh Muslim.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam kitab sunan, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;مَنْ نَذَرَ أَنْ يُطِيعَ اللَّهَ فَلْيُطِعْهُ وَمَنْ نَذَرَ أَنْ يَعْصِيَ اللَّهَ فَلَا يَعْصِهِ&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Barangsiapa melakukan nadzar untuk mentaati Allah, maka lakukanlah nadzar tersebut. Namun, barangsiapa melakukan nadzar yang mengandung maksiat kepada Allah, maka janganlah bermaksiat kepada Allah (dengan melaksanakan nadzar tersebut).”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Adapun madzhab Imam Malik, Imam Asy Syafi’i, dan selainnya, mereka berpendapat bahwa tidak ada kafaroh dalam nadzar seperti ini. Akan tetapi, dia boleh memberi sedekah -karena nadzar yang dia niatkan di masyahid tadi- kepada para faqir dari kaum muslimin, di mana para fiqir berarti telah menolong dirinya dalam melakukan ketaatan kepada Allah dan Rasul-Nya. Ini adalah perbuatan yang sangat baik dan pahalanya di sisi Allah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[Memindahkan Shalat dari Masjid ke Masyahid]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tidak boleh bagi seorang pun -berdasarkan kesepakatan para ulama- memindahkan shalat kaum muslimin dari masjid yang biasa mereka berkumpul di sana, lalu dipindahkan ke masyahid. Ini merupakan kesesatan dan kemungkaran yang sungguh keterlaluan karena mereka telah meninggalkan perintah Allah dan Rasul-Nya, lalu melakukan larangan Allah dan Rasul-Nya. Mereka juga telah meninggalkan ajaran Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dan melakukan perkara yang tidak ada tuntunannya (alias bid’ah).  Mereka pun meninggalkan ketaatan pada Allah dan Rasul-Nya, lalu terjerumus dalam berbuat maksiat kepada Allah dan Rasul-Nya. Bahkan yang seharusnya dilakukan adalah kembali melakukan shalat Jum’at dan shalat Jama’ah di masjid yang merupakan rumah Allah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;فِي بُيُوتٍ أَذِنَ اللَّهُ أَنْ تُرْفَعَ وَيُذْكَرَ فِيهَا اسْمُهُ يُسَبِّحُ لَهُ فِيهَا بِالْغُدُوِّ وَالْآَصَالِ&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Bertasbih kepada Allah di mesjid-mesjid yang telah diperintahkan untuk dimuliakan dan disebut nama-Nya di dalamnya, pada waktu pagi dan waktu petang.” (QS. An Nur: 36)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;رِجَالٌ لَا تُلْهِيهِمْ تِجَارَةٌ وَلَا بَيْعٌ عَنْ ذِكْرِ اللَّهِ وَإِقَامِ الصَّلَاةِ وَإِيتَاءِ الزَّكَاةِ يَخَافُونَ يَوْمًا تَتَقَلَّبُ فِيهِ الْقُلُوبُ وَالْأَبْصَارُ&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“laki-laki yang tidak dilalaikan oleh perniagaan dan tidak (pula) oleh jual beli dari mengingat Allah, dan (dari) mendirikan shalat, dan (dari) membayarkan zakat. Mereka takut kepada suatu hari yang (di hari itu) hati dan penglihatan menjadi guncang.” (QS. An Nur: 37)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Allah Ta’ala berfirman,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;إِنَّمَا يَعْمُرُ مَسَاجِدَ اللَّهِ مَنْ آَمَنَ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآَخِرِ وَأَقَامَ الصَّلَاةَ وَآَتَى الزَّكَاةَ وَلَمْ يَخْشَ إِلَّا اللَّهَ فَعَسَى أُولَئِكَ أَنْ يَكُونُوا مِنَ الْمُهْتَدِينَ&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Hanyalah yang memakmurkan masjid-masjid Allah ialah orang-orang yang beriman kepada Allah dan hari kemudian, serta tetap mendirikan salat, menunaikan zakat dan tidak takut (kepada siapa pun) selain kepada Allah, maka merekalah orang-orang yang diharapkan termasuk golongan orang-orang yang mendapat petunjuk.” (QS. At Taubah: 18)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[Yang Dianjurkan Ketika Menziarahi Masyahid dan Kubur Lainnya]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Adapun kubur yang terdapat di masyahid dan kubur lainnya, maka yang disunnahkan bagi orang yang menziarahinya adalah memberi salam kepada si mayit dan mendo’akan dirinya seperti pada shalat jenazah. Sebagaimana Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam biasa mengajarkan para sahabatnya bacaan ketika berziarah kubur,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;السَّلَامُ عَلَيْكُمْ أَهْلَ الدِّيَارِ مِنْ الْمُؤْمِنِينَ وَالْمُسْلِمِينَ وَإِنَّا إنْ شَاءَ اللَّهُ بِكُمْ عَنْ قَرِيبٍ لَاحِقُونَ وَيَرْحَمُ اللَّهُ الْمُسْتَقْدِمِينَ مِنَّا وَمِنْكُمْ وَالْمُسْتَأْخِرِين نَسْأَلُ اللَّهَ لَنَا وَلَكُمْ الْعَافِيَةَ اللَّهُمَّ لَا تَحْرِمْنَا أَجْرَهُمْ وَلَا تَفْتِنَّا بَعْدَهُمْ وَاغْفِرْ لَنَا وَلَهُمْ&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Assalaamu ‘alaikum ahlad diyaar minal mu’miniina wal muslimiin, wa inna insyaa Allah bikum ‘an qoriibin laahiquun wa yarhamullahul mustaqdimiina minnaa wa minkum wal musta’khiriin. Nas-alullaha lanaa wa lakumul ‘aafiyah. Allahumma laa tahrimnaa ajrohum wa laa taftinnaa ba’dahum waghfir lanaa wa lahum.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[Ibadah Di Sisi Kubur Lebih Utama dari Tempat Lainnya]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Adapun mengusap-ngusap, shalat di sisinya, bersengaja berdo’a di sisi kubur karena berkeyakinan bahwa do’a di tempat tersebut adalah lebih utama dari do’a di tempat lainnya, atau berkeyakinan pula bahwa nadzar di sisi kubur lebih utama dari tempat lainnya, maka amalan dan keyakinan semacam ini bukanlah ajaran Islam. Akan tetapi, ini semua termasuk ajaran yang jelek yang tidak ada tuntunannya (alias bid’ah qobihah) dan semacam ini termasuk cabang-cabang kesyirikan. Wallahu a’lam wa ahkam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Diterjemahkan dari Majmu’ Al Fatawa, Abul ‘Abbas Ahmad bin Abdul Halim Al Haroni, 24/317-321, Darul Wafa’, cetakan ketiga, tahun 1426 H&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;NB: Yang didalam kurung seperti ini [ ], itu adalah tambahan judul dari kami untuk memudahkan pembaca.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Diselesaikan di rumah mertua tercinta, Panggang-GK, 27 Jumadits Tsani 1430 H&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;***&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Penerjemah: Muhammad Abduh Tuasikal&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Artikel www.muslim.or.id&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2341110395006740809-47094066392917629?l=bertahajudlah.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://bertahajudlah.blogspot.com/feeds/47094066392917629/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://bertahajudlah.blogspot.com/2010/04/kesalahan-seputar-kubur.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2341110395006740809/posts/default/47094066392917629'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2341110395006740809/posts/default/47094066392917629'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://bertahajudlah.blogspot.com/2010/04/kesalahan-seputar-kubur.html' title='Kesalahan Seputar Kubur'/><author><name>Abu Rasya</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='25' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_Vu2uwPa37To/SwJVf4XAdFI/AAAAAAAAAEk/lhZhkq-B4QA/S220/Fatih-Sultan-Muhammad.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2341110395006740809.post-6253045628331214702</id><published>2010-04-09T16:00:00.002+07:00</published><updated>2010-04-09T16:02:54.550+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='kehancuran'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='zina'/><title type='text'>Ketahuilah Zina Mengakibatkan Kehancuran</title><content type='html'>Oleh: Ust. Mashadi&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rasulullah Shallahu Alaihi Wa Sallam bersabda, “Kebanyakan yang menyebabkan seseorang masuk neraka adalah mulut dan farj (kemaluan)”. Dan, sabda Rasul lainnya, “Tidak halal darah seorang muslim, kecuali tiga orang, yaitu laki-laki yang berzina, orang yang membunuh jiwa, dan orang yang meninggalkan agamanya (murtad) yang keluar dari jamaah muslim”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Betapa zina yang hina itu, membolehkan pelakunya untuk dibunuh. Karena perbuatan yang dilakukannya itu, termasuk perbuatan dosa besar, yang sangat merusak. Dan, hadist diatas secara berurutan, zina, kekufuran, dan pembunuhan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seperti di dalam surah al-Furqan dan hadist Ibnu Mas’ud, yaitu hadist yang menegaskan bahwa yang paling sering terjadi adalah zina.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Zina perbuatan yang sering terjadi, kemudian pembunuhan, dan murtad. Rasulullah Shallahu Alaihi Wa Sallam, menyebutkan dari segi tingkat mafsadah-nya dan efek negatifnya, disebutkan zina merupakan perbuatan yang memiliki tingkat kerusakan paling besar. Perzinahan bertentangan dengan kemaslahatan, yaitu merusak tatanan kehidupan masyarakat.&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Apabila seorang perempuan berbuat zina, maka ia telah menciptakan aib kepada keluarga, suami, dan familinya. Setelah itu kehormatannya pun jatuh dihadapan manusia. Perempuan yang telah berzina menjadi hina dihadapan manusia maupun Allah Rabbul Alamin. Jika perempuan itu hamil dari hasil perzinaan, dan membunuh anaknya, maka ia melakukan dua tindakan kriminal sekaligus. Dan, jika pada saat yang sama ia hamil dari hasil hubungannya dengan suaminya yang sah, maka ia memasukkan orang asing dalam keluarganya. Ini mafsadah dari perempuan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sementara mafsadah yang ditimbulkan laki-laki yang berzina adalah juga terjadi percampuran nasab, yaitu ketidakjelasan dari mana janin itu, sehingga tidak ada kejelasan status bayi yang lahir. Orang laki-laki itu juga telah menjerumuskan perempuan kedalam mafsadah dan kehancuran. Jenis kriminal dan dosa besar ini menyebabkan kerusakan, kehancuran, dan mafsadah dunia dan agama.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perzinaan menyebabkan kefakiran, memendekkan umur, muka menghitam dihadapan manusia, menimbulkan murka orang lain, menghancurkan hati, menimbulkan sakit hati, mematikan hati, menyebabkan kesedihan, dan kekhawatiran. Seandainya seseoang isterinya berzina atau keluarga membunuhnya, itu lebih ringan dibandingkan dengan mendengar isterinya berzina.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sa’ad bin Ubadah berkata, “Seandainya aku melihat seorang laki-laki berzina dengan isteriku, maka akan aku penggal leher laki-laki itu dengan pedang”, ucapnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perkataan Sa’ad itu sampai ke telinga Rasulullah Shallahu Alaihi Wa Sallam, dan beliau berkata : “Apakah kalian heran dengan kecemburuan Sa’ad?” Sesungguhnya aku lebih cemburu daripada Sa’ad dan Allah lebih cemburu daripada aku. Oleh karena itu, Allah mengharamkan kekejian-kekejian yang tampak dan yang tersembunyi”. (HR. Muttafaq alaih).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Beliau juga bersabda :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Sesungguhnya Allah cemburu (tersinggung) dan seorang mukmin harus cemburu. Ketersinggungan Allah adalah ketika hamba-Nya melakukan apa yang dilarang Allah”. (HR. Bukhari Muslim)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam hadist yang lain, ketika beliau khotbah shalat gerhana matahari beliau bersabda :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Wahai umat Muhammad, tidak ada yang lebih tersinggung (ghirah) melebihi Allah ketika seorang hamba laki-laki dan perempuan berzina. Hai umat Muhammad seandainya kalian mengetahui apa yang aku ketahui apa yang aku ketahui niscaya kalian akan banyak menangis dan sedikit tertawa”. Kemudian, Rasulullah mengangkat kedua tangannya dan berkata, “Ya Allah, apakah hal ini sudah aku sampaikan?”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ada rahasia yang penting dibalik penyebutan dosa besar zina pada saat shalat kusuf. Maraknya perzinaan adalah tanda-tanda hancurnya dunia dan hari kiamat, dan gerhana adalah satu satu bentuk tanda kiamat. Sebagaimana disebutkan dalam hadist Anas bin Malik berkata :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Akan aku beritahu berita yang tidak akan diberitakan oleh seorangpun yang sesudahku. Saya mendengar Rasulullah Shallahu Alaihi Wa Sallam, bersabda, “Termasuk tanda-tanda kiamat adalah diangkatnya ilmu dan menyebarnya kebodohan, maraknya minuman khamar, dan pernzinaan. Perempuan akan berjumlah banyak sebaliknya laki-laki sedikit. Sehingga laki-laki satu berbanding lima puluh perempuan”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sunnah Allah berlaku pada makhluk-Nya, di mana jika perzinaan merajalela, maka Allah murka kepada mereka. Jika kemurkaan Allah terus berlangsung, maka ia akan menurunkan hukuman-Nya ke bumi. Abdullah bin Mas’ud, berkata, “Tidaklah muncul perzinaan di sebuah negeri, kecuali Allah mengumumkan kehancurannya”. Wallahu’alam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2341110395006740809-6253045628331214702?l=bertahajudlah.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://bertahajudlah.blogspot.com/feeds/6253045628331214702/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://bertahajudlah.blogspot.com/2010/04/ketahuilah-zina-mengakibatkan.html#comment-form' title='2 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2341110395006740809/posts/default/6253045628331214702'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2341110395006740809/posts/default/6253045628331214702'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://bertahajudlah.blogspot.com/2010/04/ketahuilah-zina-mengakibatkan.html' title='Ketahuilah Zina Mengakibatkan Kehancuran'/><author><name>Abu Rasya</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='25' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_Vu2uwPa37To/SwJVf4XAdFI/AAAAAAAAAEk/lhZhkq-B4QA/S220/Fatih-Sultan-Muhammad.jpg'/></author><thr:total>2</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2341110395006740809.post-2973055798511539030</id><published>2010-04-02T14:35:00.000+07:00</published><updated>2010-04-02T14:37:38.588+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='dzikir'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='malam'/><title type='text'>Keutamaan Berzikir Ketika Terjaga Di Malam Hari</title><content type='html'>Dari ‘Ubadah bin Shamit radhiyallahu ‘anhu, dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, beliau bersabda,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;مَن تَعارَّ من الليل فقال: لا إله إلا اللهُ وَحْدَهُ لا شَرِيْكَ لَهُ، لَهُ الْمُلْكُ ولهُ الْحَمْدُ وهُوَ على كُلِّ شَيْءٍ قَدِيْرٌ، الحمدُ للهِ، وسبحانَ اللهِ، ولا إله إلا اللهُ، واللهُ أَكْبَرُ، ولا حَوْلَ ولا قُوَّةَ إلا بِاللهِ، ثم قال: اَللّهُمَّ اغْفِرْ لي – أو دعا – استُجِيبَ له، فإنْ توضأ وصلى قُبِلتْ صلاتُه&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Barangsiapa yang terjaga di malam hari, kemudian dia membaca (zikir tersebut di atas): &lt;br /&gt;الحمدُللهِ، وسبحانَ اللهِ، ولا إله إلا اللهُ، واللهُ أَكْبَرُ، ولا حَوْلَ ولا قُوَّةَ إلا بِاللهِ،&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[Alhamdulillah wa subhanallah, wa laa ilaha illallah, wallahu akbar, wa laa hawla wa laa quwwata illa billah] Tiada sembahan yang benar kecuali Allah semata dan tiada sekutu bagi-Nya, milik-Nyalah segala kerajaan/kekuasaan dan bagi-Nya segala pujian, dan Dia maha mampu atas segala sesuatu, segala puji bagi Allah, maha suci Allah, tiada sembahan yang benar kecuali Allah, Allah maha besar, serta tiada daya dan kekuatan kecuali dengan (pertolongan) Allah, kemudian dia mengucapkan: “Ya Allah, ampunilah (dosa-dosa)ku“, atau dia berdoa (dengan doa yang lain), maka akan dikabulkan doanya, jika dia berwudhu dan melaksanakan shalat maka akan diterima shalatnya”[1].&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Hadits yang mulia ini menunjukkan besarnya keutamaan orang yang berzikir ketika terjaga di malam hari, kemudian dia berdoa kepada Allah atau melakukan shalat[2].&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Imam Ibnu Baththal berkata: “Allah menjanjikan melalui lisan (ucapan) nabi-Nya shallallahu ‘alaihi wa sallam bahwa barangsiapa yang terjaga dari tidurnya (di malam hari) dalam keadaan dia lidahnya selalu mengucapkan (kalimat) tauhid kepada Allah, tunduk pada kekuasaan-Nya, dan mengakui (besarnya limpahan) nikmat-Nya yang karenanya dia memuji-Nya, serta mensucikan-Nya dari (sifat-sifat) yang tidak layak bagi-Nya dengan bertasbih (menyatakan kemahasucian-Nya), tunduk kepada-Nya dengan bertakbir (menyatakan kemahabesaran-Nya), dan berserah diri kepada-Nya dengan (menyatakan) ketidakmampuan (dalam segala sesuatu) kecuali dengan pertolongan-Nya, sesungguhnya (barangsiapa yang melakukan ini semua) maka jika dia berdoa kepada-Nya akan dikabulkan, dan jika dia melaksanakan shalat akan diterima shalatnya. Maka bagi orang sampai kepadanya hadits ini, sepantasnya dia berusaha mengamalkannya dan mengikhlaskan niatnya (ketika mengamalkannya) untuk Allah Ta’ala“[3].&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Faidah-faidah penting yang terkandung dalam hadits ini:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;- Imam Ibnu Hajar berkata: “Perbuatan yang disebutkan dalam hadits ini hanyalah (mampu dilakukan) oleh orang telah terbiasa, senang dan banyak berzikir (kepada Allah), sehingga zikir tersebut menjadi ucapan (kebiasaan) dirinya sewaktu tidur dan terjaga, maka Allah Ta’ala memuliakan orang yang demikian sifatnya dengan mengabulkan doanya dan menerima shalatnya”[4].&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;- Keutamaan mengucapkan zikir ini juga berlaku bagi orang yang terjaga di malam hari kemudian dia mengucapkan zikir ini (berulang-ulang) sampai dia tertidur. Imam an-Nawawi berkata: “Orang yang terjaga di malam hari dan ingin tidur (lagi) setelahnya, dianjurkan baginya untuk berzikir kepada Allah Ta’ala sampai dia tertidur. Zikir-zikir yang dibaca (pada waktu itu) banyak sekali yang disebutkan (dalam hadits-hadits Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam), di antaranya … kemudian beliau menyebutkan hadits di atas[5].&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;- Di antara para ulama ada yang menjelasakan bahwa peluang dikabulkannya doa dan diterimanya shalat pada saat setelah mengucapkan zikir ini lebih besar dibandingkan waktu-waktu lainnya[6].&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Penulis: Ustadz Abdullah Taslim, MA&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Artikel www.muslim.or.id&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[1] HSR al-Bukhari (no. 1103), Abu Dawud (no. 5060), at-Tirmidzi (no. 3414) &amp; Ibnu Majah (no. 3878).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[2] Lihat kitab “Shahih Ibni Hibban” (6/330) dan “al-Washiyyatu biba’dhis sunani syibhil mansiyyah” (hal. 185).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[3] Dinukil oleh imam Ibnu Hajar dalam kitab “Fathul Baari” (3/41).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[4] Kitab “Fathul Baari” (3/40).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[5] Kitab “al-Adzkaar” (hal. 79 – cet. Darul Manar, Kairo, 1420 H).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[6] Lihat kitab “Tuhfatul ahwadzi” (9/254).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2341110395006740809-2973055798511539030?l=bertahajudlah.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://bertahajudlah.blogspot.com/feeds/2973055798511539030/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://bertahajudlah.blogspot.com/2010/04/keutamaan-berzikir-ketika-terjaga-di.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2341110395006740809/posts/default/2973055798511539030'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2341110395006740809/posts/default/2973055798511539030'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://bertahajudlah.blogspot.com/2010/04/keutamaan-berzikir-ketika-terjaga-di.html' title='Keutamaan Berzikir Ketika Terjaga Di Malam Hari'/><author><name>Abu Rasya</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='25' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_Vu2uwPa37To/SwJVf4XAdFI/AAAAAAAAAEk/lhZhkq-B4QA/S220/Fatih-Sultan-Muhammad.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2341110395006740809.post-5824254201583391246</id><published>2010-03-28T14:28:00.002+07:00</published><updated>2010-03-28T14:35:07.299+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='malu'/><title type='text'>Bila Malu Sudah Tiada</title><content type='html'>Malu merupakan salah satu sifat terpuji yang bisa mengendalikan orang yang memilikinya dari perbuatan-perbuatan yang tidak sepatutnya dilakukan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;الْحَيَاءُ لَا يَأْتِي إِلَّا بِخَيْرٍ&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Rasa malu itu hanya mendatangkan kebaikan.” (HR. Bukhari dan Muslim dari ‘Imron bin Hushain)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ الْحَيَاءُ خَيْرٌ كُلُّهُ قَالَ أَوْ قَالَ الْحَيَاءُ كُلُّهُ خَيْرٌ&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rasulullah bersabda, “Rasa malu adalah kebaikan seluruhnya atau rasa malu seluruhnya adalah kebaikan.” (HR. Muslim)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari Abu Hurairah, Rasulullah bersabda, “Iman itu terdiri dari 70 sekian atau 60 sekian cabang. Cabang iman yang paling utama adalah ucapan la ilaha illalloh. Sedangkan cabang iman yang terendah adalah menyingkirkan gangguan dari tempat berlalu lalang. Rasa malu adalah bagian dari iman.” (HR. Bukhari dan Muslim)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Suatu ketika Nabi menjumpai seorang yang sedang mencela saudaranya karena dia sangat pemalu, Nabi lantas bersabda, “Biarkan dia karena rasa malu itu bagian dari iman.” (HR. Bukhari dan Muslim)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menurut penuturan Imam Ibnul Qoyyim, alhaya’ (rasa malu) diambil dari kata-kata hayat (kehidupan). Sehingga kekuatan rasa malu itu sebanding lurus dengan sehat atau tidaknya hati seseorang. Berkurangnya rasa malu merupakan pertanda dari matinya hati dan ruh orang tersebut. Semakin sehat suatu hati maka akan makin sempurna rasa malunya.&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hakikat rasa malu adalah suatu akhlak yang mendorong untuk meninggalkan hal-hal yang buruk dan kurang memperhatikan haknya orang yang memiliki hak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rasa malu itu ada dua macam. Yang pertama adalah rasa malu kepada Allah. Artinya seorang hamba merasa malu jika Allah melihatnya sedang melakukan kemaksiatan dan menyelisihi perintah-Nya. Yang kedua adalah rasa malu dengan sesama manusia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Untuk rasa malu dengan kategori pertama, Nabi jelaskan dalam sabdanya, “Malulah kalian kepada Allah dengan sebenar-benarnya”. “Kami sudah malu duhai Rasulullah”, jawab para sahabat. Nabi bersabda,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;لَيْسَ ذَاكَ وَلَكِنَّ الِاسْتِحْيَاءَ مِنْ اللَّهِ حَقَّ الْحَيَاءِ أَنْ تَحْفَظَ الرَّأْسَ وَمَا وَعَى وَالْبَطْنَ وَمَا حَوَى وَلْتَذْكُرْ الْمَوْتَ وَالْبِلَى وَمَنْ أَرَادَ الْآخِرَةَ تَرَكَ زِينَةَ الدُّنْيَا فَمَنْ فَعَلَ ذَلِكَ فَقَدْ اسْتَحْيَا مِنْ اللَّهِ حَقَّ الْحَيَاءِ&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Bukan demikian namun yang dimaksud malu kepada Allah dengan sebenar-benarnya adalah menjaga kepala dan anggota badan yang terletak di kepala, menjaga perut dan anggota badan yang berhubungan dengan perut, mengingat kematian dan saat badan hancur dalam kubur. Siapa yang menginginkan akhirat harus meninggalkan kesenangan dunia. Siapa yang melakukan hal-hal tersebut maka dia telah merasa malu dengan Allah dengan sebenar-benarnya.” (HR. Tirmidzi dll, dinilai hasan karena adanya riwayat-riwayat lain yang menguatkannya oleh Al Albani dalam Shahih Jami’ Shaghir no. 935)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam hadits ini, Nabi menjelaskan bahwa tanda memiliki rasa malu kepada Allah adalah menjaga anggota badan agar tidak digunakan untuk bermaksiat kepada Allah, mengingat kematian, tidak panjang angan-angan di dunia ini dan tidak sibuk dengan kesenangan syahwat serta larut dalam gemerlap kehidupan dunia sehingga lalai dari akhirat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rasa malu yang kedua adalah malu dengan sesama manusia. Malu inilah yang mengekang seorang hamba untuk melakukan perbuatan yang tidak pantas. Dia merasa risih jika ada orang lain yang mengetahui kekurangan yang dia miliki.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rasa malu dengan sesama akan mencegah seseorang dari melakukan perbuatan yang buruk dan akhlak yang hina. Sedangkan rasa malu kepada Allah akan mendorong untuk menjauhi semua larangan Allah dalam setiap kondisi dan keadaan, baik ketika bersama banyak orang ataupun saat sendiri tanpa siapa-siapa menyertai.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rasa malu kepada Allah adalah di antara bentuk penghambaan dan rasa takut kepada Allah. Rasa malu ini merupakan buah dari mengenal betul Allah, keagungan Allah. Serta menyadari bahwa Allah itu dekat dengan hamba-hambaNya, mengawasi perilaku mereka dan sangat paham dengan adanya mata-mata yang khianat serta isi hati nurani.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rasa malu kepada Allah adalah termasuk tanda iman yang tertinggi bahkan merupakan derajat ihsan yang paling puncak. Nabi bersabda, “Ihsan adalah beribadah kepada Allah seakan-akan memandang Allah. Jika tidak bisa seakan memandang-Nya maka dengan meyakini bahwa Allah melihatnya.” (HR Bukhari).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Orang yang memiliki rasa malu dengan sesama tentu akan menjauhi segala sifat yang tercela dan berbagai tindak tanduk yang buruk. Karenanya orang tersebut tidak akan suka mencela, mengadu domba, menggunjing, berkata-kata jorok dan tidak akan terang-terangan melakukan tindakan maksiat dan keburukan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rasa takut kepada Allah mencegah kerusakan sisi batin seseorang. Sedangkan rasa malu dengan sesama berfungsi menjaga sisi lahiriah agar tidak melakukan tindakan buruk dan akhlak yang tercela. Karena itu orang yang tidak punya rasa malu itu seakan tidak memiliki iman. Nabi bersabda, “Di antara perkataan para Nabi terdahulu yang masih diketahui banyak orang pada saat ini adalah jika engkau tidak lagi memiliki rasa malu maka berbuatlah sesuka hatimu.” (HR. Bukhari)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Makna hadits, jika orang itu sudah tidak lagi memiliki rasa malu maka dia akan berbagai perilaku buruk yang dia inginkan. Ini dikarenakan rasa malu yang merupakan faktor penghalang berbagai tindakan buruk tidak lagi terdapat pada diri orang tersebut. Siapa yang sudah tidak lagi memiliki rasa malu akan tenggelam dalam berbagai perbuatan keji dan kemungkaran.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nabi bersabda,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;الحياء و الإيمان قرنا جميعا فإذا رفع أحدهما رفع الآخر&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Rasa malu dan iman itu terikat menjadi satu. Jika yang satu hilang maka yang lain juga akan hilang.” (HR. Hakim dari Ibnu Umar dengan penilaian ’shahih menurut kriteria Bukhari dan Muslim. Penilaian beliau ini disetuju oleh Dzahabi. Juga dinilai shahih oleh al Albani dalam Shahih Jami’ Shaghir, no. 1603)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Salman al Farisi mengatakan,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;إِنَّ اللَّهَ عَزَّ وَجَلَّ إِذَا أَرَادَ أَنْ يُهْلِكَ عَبْدًا نَزَعَ مِنْهُ الْحَيَاءَ فَإِذَا نَزَعَ مِنْهُ الْحَيَاءَ لَمْ تَلْقَهُ إِلَّا مَقِيتًا مُمَقَّتًا فَإِذَا لَمْ تَلْقَهُ إِلَّا مَقِيتًا مُمَقَّتًا نُزِعَتْ مِنْهُ الْأَمَانَةُ فَإِذَا نُزِعَتْ مِنْهُ الْأَمَانَةُ لَمْ تَلْقَهُ إِلَّا خَائِنًا مُخَوَّنًا فَإِذَا لَمْ تَلْقَهُ إِلَّا خَائِنًا مُخَوَّنًا نُزِعَتْ مِنْهُ الرَّحْمَةُ فَإِذَا نُزِعَتْ مِنْهُ الرَّحْمَةُ لَمْ تَلْقَهُ إِلَّا رَجِيمًا مُلَعَّنًا فَإِذَا لَمْ تَلْقَهُ إِلَّا رَجِيمًا مُلَعَّنًا نُزِعَتْ مِنْهُ رِبْقَةُ الْإِسْلَامِ&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Sungguh jika Allah berkehendak untuk membinasakan seseorang maka akan Allah hilangkan rasa malu dari diri orang tersebut. Jika rasa malu sudah tercabut dari dirinya maka tidaklah kau jumpai orang tersebut melainkan orang yang sangat Allah murkai. Setelah itu akan hilang sifat amanah dari diri orang tersebut. Jika dia sudah tidak lagi memiliki amanah maka dia akan menjadi orang yang suka berkhianat dan dikhianati. Setelah itu sifat kasih sayang akan dicabut darinya. Jika rasa kasih sayang telah dicabut maka dia akan menjadi orang yang terkutuk. Sesudah itu, ikatan Islam akan dicabut darinya.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;kata-kata di atas ada yang menganggapnya sebagai sabda Nabi karena jika dinisbatkan kepada Nabi maka berstatus sebagai hadits palsu, diriwayatkan oleh Ibnu Majah dari Ibnu Umar. Lihat Silsilah Dhaifah karya al Albani no. 3044.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ibnu Abbas mengatakan,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;الحياء والإيمان في قرن ، فإذا سلب أحدهما اتبعه الآخر&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Rasa malu dan iman itu satu ikatan. Jika dicabut salah satunya maka akan diikuti oleh yang lain.” (Diriwayatkan dalam Mu’jam Ausath secara marfu’ dari Ibnu Abbas no. 8548. Namun riwayat yang marfu’ ini dinilai sebagai hadits palsu oleh al Albani dalam Dhaif Jami’ no 1435)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hadits dan perkataan dua orang sahabat Nabi di atas menunjukkan bahwa orang yang tidak lagi memiliki rasa malu itu tidak memiliki faktor pencegah untuk melakukan keburukan. Dia tidak akan sungkan-sungkan untuk melakukan yang haram dan sudah tidak takut dengan dosa. Lisannya juga tidak berat untuk mengucapkan kata-kata yang buruk.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Oleh karena itu di zaman ini, suatu zaman yang rasa malu sudah berkurang bahkan hilang bagi sebagian orang, kemungkaran merajalela, hal-hal yang memalukan dilakukan dengan terang-terangan bahkan keburukan dinilai sebagai sebuah kebaikan. Bahkan sebagian orang merasa bangga dengan perbuatan tercela dan hina sebagaimana artis yang suka buka-bukaan atau sexy dancer. Wal’iyadu billah…&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;***&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Penulis: Ustadz Aris Munandar&lt;br /&gt;Artikel www.muslim.or.id&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2341110395006740809-5824254201583391246?l=bertahajudlah.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://bertahajudlah.blogspot.com/feeds/5824254201583391246/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://bertahajudlah.blogspot.com/2010/03/bila-malu-sudah-tiada.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2341110395006740809/posts/default/5824254201583391246'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2341110395006740809/posts/default/5824254201583391246'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://bertahajudlah.blogspot.com/2010/03/bila-malu-sudah-tiada.html' title='Bila Malu Sudah Tiada'/><author><name>Abu Rasya</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='25' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_Vu2uwPa37To/SwJVf4XAdFI/AAAAAAAAAEk/lhZhkq-B4QA/S220/Fatih-Sultan-Muhammad.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2341110395006740809.post-1180092094209848525</id><published>2010-03-26T10:10:00.004+07:00</published><updated>2010-03-26T10:34:37.161+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='pacaran'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='zina'/><title type='text'>Pacaran Dalam Kacamata Islam</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://2.bp.blogspot.com/_Vu2uwPa37To/S6wqM8iMjNI/AAAAAAAAAK8/Czn2YXCBEdU/s1600/Pacaran1.jpg"&gt;&lt;img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;width: 248px; height: 400px;" src="http://2.bp.blogspot.com/_Vu2uwPa37To/S6wqM8iMjNI/AAAAAAAAAK8/Czn2YXCBEdU/s400/Pacaran1.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5452779650735181010" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://2.bp.blogspot.com/_Vu2uwPa37To/S6wqMc9CM8I/AAAAAAAAAK0/CeNsbMScZLI/s1600/Pacaran2.jpg"&gt;&lt;img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;width: 248px; height: 400px;" src="http://2.bp.blogspot.com/_Vu2uwPa37To/S6wqMc9CM8I/AAAAAAAAAK0/CeNsbMScZLI/s400/Pacaran2.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5452779642257814466" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://4.bp.blogspot.com/_Vu2uwPa37To/S6wqLlMnypI/AAAAAAAAAKs/QVj_kHKKUno/s1600/Pacaran3.jpg"&gt;&lt;img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;width: 250px; height: 400px;" src="http://4.bp.blogspot.com/_Vu2uwPa37To/S6wqLlMnypI/AAAAAAAAAKs/QVj_kHKKUno/s400/Pacaran3.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5452779627290806930" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://3.bp.blogspot.com/_Vu2uwPa37To/S6wqLKZMY6I/AAAAAAAAAKk/H1ycUH7-Y08/s1600/Pacaran4.jpg"&gt;&lt;img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;width: 244px; height: 400px;" src="http://3.bp.blogspot.com/_Vu2uwPa37To/S6wqLKZMY6I/AAAAAAAAAKk/H1ycUH7-Y08/s400/Pacaran4.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5452779620095779746" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2341110395006740809-1180092094209848525?l=bertahajudlah.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://bertahajudlah.blogspot.com/feeds/1180092094209848525/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://bertahajudlah.blogspot.com/2010/03/pacaran-dalam-kacamata-islam.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2341110395006740809/posts/default/1180092094209848525'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2341110395006740809/posts/default/1180092094209848525'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://bertahajudlah.blogspot.com/2010/03/pacaran-dalam-kacamata-islam.html' title='Pacaran Dalam Kacamata Islam'/><author><name>Abu Rasya</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='25' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_Vu2uwPa37To/SwJVf4XAdFI/AAAAAAAAAEk/lhZhkq-B4QA/S220/Fatih-Sultan-Muhammad.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/_Vu2uwPa37To/S6wqM8iMjNI/AAAAAAAAAK8/Czn2YXCBEdU/s72-c/Pacaran1.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2341110395006740809.post-97313132320027916</id><published>2010-03-22T08:12:00.002+07:00</published><updated>2010-03-22T09:10:35.709+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='sunnah'/><title type='text'>Hidup Mulia dengan Mengikuti Sunnah Rasulullah SAW</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://4.bp.blogspot.com/_Vu2uwPa37To/S6bQJ9NYm4I/AAAAAAAAAKE/WOIbRG4GKwM/s1600-h/img018.jpg"&gt;&lt;img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;width: 301px; height: 400px;" src="http://4.bp.blogspot.com/_Vu2uwPa37To/S6bQJ9NYm4I/AAAAAAAAAKE/WOIbRG4GKwM/s400/img018.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5451273268446665602" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://1.bp.blogspot.com/_Vu2uwPa37To/S6bQKfFnYGI/AAAAAAAAAKM/OMConrDHqrY/s1600-h/img019.jpg"&gt;&lt;img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;width: 319px; height: 400px;" src="http://1.bp.blogspot.com/_Vu2uwPa37To/S6bQKfFnYGI/AAAAAAAAAKM/OMConrDHqrY/s400/img019.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5451273277540884578" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://4.bp.blogspot.com/_Vu2uwPa37To/S6bQK3c8sqI/AAAAAAAAAKU/84Zo1ItEzCc/s1600-h/img020.jpg"&gt;&lt;img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;width: 309px; height: 400px;" src="http://4.bp.blogspot.com/_Vu2uwPa37To/S6bQK3c8sqI/AAAAAAAAAKU/84Zo1ItEzCc/s400/img020.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5451273284081201826" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://4.bp.blogspot.com/_Vu2uwPa37To/S6bQLqC9K0I/AAAAAAAAAKc/7ApO_d9Ttww/s1600-h/img021.jpg"&gt;&lt;img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;width: 305px; height: 400px;" src="http://4.bp.blogspot.com/_Vu2uwPa37To/S6bQLqC9K0I/AAAAAAAAAKc/7ApO_d9Ttww/s400/img021.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5451273297662389058" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2341110395006740809-97313132320027916?l=bertahajudlah.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://bertahajudlah.blogspot.com/feeds/97313132320027916/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://bertahajudlah.blogspot.com/2010/03/hidup-mulia-dengan-mengikuti-sunnah.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2341110395006740809/posts/default/97313132320027916'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2341110395006740809/posts/default/97313132320027916'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://bertahajudlah.blogspot.com/2010/03/hidup-mulia-dengan-mengikuti-sunnah.html' title='Hidup Mulia dengan Mengikuti Sunnah Rasulullah SAW'/><author><name>Abu Rasya</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='25' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_Vu2uwPa37To/SwJVf4XAdFI/AAAAAAAAAEk/lhZhkq-B4QA/S220/Fatih-Sultan-Muhammad.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/_Vu2uwPa37To/S6bQJ9NYm4I/AAAAAAAAAKE/WOIbRG4GKwM/s72-c/img018.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2341110395006740809.post-2579133580408492514</id><published>2010-03-17T08:59:00.003+07:00</published><updated>2010-03-17T09:09:34.847+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='firasat'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='pandangan'/><title type='text'>Ghadh-Dhul Bashar (Menahan Pandangan), Bagian ke-2</title><content type='html'>dakwatuna.com – Pada kajian bagian kedua ini dibahas mengenai akibat negatif memandang yang haram, manfaat menahan pandangan, dan faktor-faktor yang bisa menyebabkan kita mampu menahan pandangan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Akibat Negatif Memandang yang Haram&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;1. Rusaknya hati.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pandangan yang haram dapat mematikan hati seperti anak panah mematikan seseorang atau minimal melukainya. Seorang penyair berkata:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;لِقَلْبِكَ يَوْمًا أَتْعَبَتْكَ الْمَنَاظِرُ وَكُنْتَ إِذَا أَرْسَلْتَ طَرْفَكَ رَائِدًا&lt;br /&gt;عَلَيْهِ وَلاَ عَنْ بَعْضِهِ أَنْتَ صَابِرُ رَأَيْتَ الَّذِي لاَ كُلَّهُ أَنْتَ قَادِرٌ&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kau ingin puaskan hatimu dengan mengumbar pandanganmu&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Suatu saat pandangan itu pasti kan menyusahkanmu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Engkau tak kan tahan melihat semuanya,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bahkan terhadap sebagiannya pun kesabaranmu tak berdaya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Atau seperti percikan api yang membakar daun atau ranting kering lalu membesar dan membakar semuanya:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;وَمُعْظَمُ النَّارِ مِنْ مُسْتَصْغَرِ الشَّرَرِ كُلُّ الحَوَادِثِ مَبْدَؤُهَا النَّظَرُ&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Segala peristiwa bermula dari pandangan,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;dan api yang besar itu berasal dari percikan api yang kecil.&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;2. Terancam jatuh kepada zina.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ibnul Qayyim berkata bahwa pandangan mata yang haram akan melahirkan lintasan pikiran, lintasan pikiran melahirkan ide, sedangkan ide memunculkan nafsu, lalu nafsu melahirkan kehendak, kemudian kehendak itu menguat hingga menjadi tekad yang kuat dan biasanya diwujudkan dalam amal perbuatan (zina). Penyair berkata:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;فَكَلاَمٌ فَمَوْعِدٌ فَلِقَاءُ نَظْرَةٌ فَابْتِسَامَةٌ فَسَلاَمٌ&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bermula dari pandangan, senyuman, lalu salam,..&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lantas bercakap-cakap, membuat janji, akhirnya bertemu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;3. Lupa ilmu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;4. Turunnya bala’&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Amr bin Murrah berkata: “Aku pernah memandang seorang perempuan yang membuatku terpesona, kemudian mataku menjadi buta. Ku harap itu menjadi kafarat penghapus dosaku.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;5. Merusak sebagian amal.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hudzaifah ra berkata: “Barangsiapa membayangkan bentuk tubuh perempuan di balik bajunya berarti ia telah membatalkan puasanya.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;6. Menambah lalai terhadap Allah swt dan hari akhirat.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;7. Rendahnya mata yang memandang yang haram dalam pandangan syariat Islam.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ قَالَ: قَالَ رَسُوْلُ اللهِ صلى الله عليه وسلم: ((لَوِ اطَّلَعَ أَحَدٌ فِي بَيْتِكَ وَلَمْ تَأْذَنْ لَهُ، فَخَذَفْتَهُ بِحَصَاةٍ فَفَقَأْتَ عَيْنَهُ، مَا كَانَ عَلَيْكَ جُنَاحٌ)) (متفق عليه).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari Abu Hurairah ra berkata: Rasulullah saw bersabda: “Jika seseorang melongok ke dalam rumahmu tanpa izinmu, lalu kau sambit dengan kerikil hingga buta matanya, tak ada dosa bagimu karenanya.” (Muttafaq ‘alaih).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Manfaat Menahan Pandangan&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di antara manfaat menahan pandangan adalah:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1. Membebaskan hati dari pedihnya penyesalan, karena barangsiapa yang mengumbar pandangannya maka penyesalannya akan berlangsung lama.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2. Hati yang bercahaya dan terpancar pada tubuh terutama mata dan wajah, begitu pula sebaliknya jika seseorang mengumbar pandangannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3. Terbukanya pintu ilmu dan faktor-faktor untuk menguasainya karena hati yang bercahaya dan penuh konsentrasi. Imam Syafi’i berkata:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;شَكَوْتُ إِلَى وَكِيْعٍ سُوْءَ حِفْظِي            فَأَرْشَدَنِي إلَى تَرْكِ الْمَعَاصِي&lt;br /&gt;وَأَخْبَرَنِي بِأَنَّ العِـلْمَ نُـوْرٌ وَنُوْرُ اللهِ لاَ يُهْـدَي لِعَاصِي&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kuadukan kepada Waki’, guruku, tentang buruknya hafalan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Arahannya: “Tinggalkanlah maksiat.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Diberitahukannya bahwa ilmu itu cahaya,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan cahaya Allah tidak akan diberikan kepada pelaku maksiat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;4. Mempertajam firasat dan prediksi&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Syuja’ Al-Karmani berkata:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;مَنْ عَمَرَ ظَاهِرَهُ بِاتِّبَاعِ السُّنَّةِ، وَبَاطِنَهُ بِدَوَامِ الْمُرَاقَبَةِ، وَغَضَّ بَصَرَهُ عَنِ الْمَحَارِمِ، وَكَفَّ نَفْسَهُ عَنِ الشَّهَوَاتِ، وَأَكَلَ مِنَ الْحَلاَلِ- لَمْ تُخْطِئْ فِرَاسَتُهُ.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Siapa yang menyuburkan lahiriyahnya dengan mengikuti sunnah, menghiasi batinnya dengan muraqabah, Menundukkan Pandangannya dari yang haram, menahan dirinya dari syahwat, dan memakan yang halal maka firasatnya tidak akan salah.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;5. Menjadi salah satu penyebab datangnya mahabbatullah (cinta Allah swt).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Al-Hasan bin Mujahid berkata:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;غَضُّ البَصَرِ عَنْ مَحَارِمِ اللهِ يُوْرِثُ حُبَّ اللهِ.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menahan pandangan dari apa yang diharamkan Allah swt akan mewarisi cinta Allah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Faktor-faktor Penyebab Mampu Menahan Pandangan&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di antara faktor yang membuat seseorang mampu menahan pandangannya adalah:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;- Hadirnya pengawasan Allah dan rasa takut akan siksa-Nya di dalam hati.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;- Menjauhkan diri dari semua penyebab mengumbar pandangan seperti yang telah disebutkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;- Meyakini semua bahaya mengumbar pandangan seperti yang telah disebutkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;- Meyakini manfaat menahan pandangan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;- Melaksanakan pesan Rasulullah saw untuk segera memalingkan pandangan ketika melihat yang haram.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;- Memperbanyak puasa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;- Menyalurkan keinginan melalui jalan yang halal (pernikahan).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;- Bergaul dengan orang-orang shalih dan menjauhkan diri dari persahabatan akrab dengan orang-orang yang rusak akhlaqnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;- Selalu merasa takut dengan su’ul khatimah ketika meninggal dunia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tamat&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2341110395006740809-2579133580408492514?l=bertahajudlah.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://bertahajudlah.blogspot.com/feeds/2579133580408492514/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://bertahajudlah.blogspot.com/2010/03/ghadh-dhul-bashar-menahan-pandangan_17.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2341110395006740809/posts/default/2579133580408492514'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2341110395006740809/posts/default/2579133580408492514'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://bertahajudlah.blogspot.com/2010/03/ghadh-dhul-bashar-menahan-pandangan_17.html' title='Ghadh-Dhul Bashar (Menahan Pandangan), Bagian ke-2'/><author><name>Abu Rasya</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='25' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_Vu2uwPa37To/SwJVf4XAdFI/AAAAAAAAAEk/lhZhkq-B4QA/S220/Fatih-Sultan-Muhammad.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2341110395006740809.post-3598286200239035271</id><published>2010-03-15T09:21:00.002+07:00</published><updated>2010-03-15T09:27:35.985+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='pandangan'/><title type='text'>Ghadh-Dhul Bashar (Menahan Pandangan), Bagian ke-1</title><content type='html'>&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Makna Menahan Pandangan&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;dakwatuna.com – Secara bahasa, غَضُّ البَصَرِ (gadh-dhul bashar) berarti menahan, mengurangi atau Menundukkan Pandangan [1]. Menahan pandangan bukan berarti menutup atau memejamkan mata hingga tidak melihat sama sekali atau menundukkan kepala ke tanah saja, karena bukan ini yang dimaksudkan di samping tidak akan mampu dilaksanakan. Tetapi yang dimaksud adalah menjaganya dan tidak melepas kendalinya hingga menjadi liar. Pandangan yang terpelihara adalah apabila seseorang memandang sesuatu yang bukan aurat orang lain lalu ia tidak mengamat-amati kecantikan/kegantengannya, tidak berlama-lama memandangnya, dan tidak memelototi apa yang dilihatnya [2]. Dengan kata lain menahan dari apa yang diharamkan oleh Allah swt dan rasul-Nya untuk kita memandangnya [3].&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Dalil Kewajiban Menahan Pandangan&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;1. Al-Quran:&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;قُلْ لِلْمُؤْمِنِينَ يَغُضُّوا مِنْ أَبْصَارِهِمْ وَيَحْفَظُوا فُرُوجَهُمْ ذَلِكَ أَزْكَى لَهُمْ إِنَّ اللَّهَ خَبِيرٌ بِمَا يَصْنَعُونَ&lt;br /&gt;وَقُلْ لِلْمُؤْمِنَاتِ يَغْضُضْنَ مِنْ أَبْصَارِهِنَّ وَيَحْفَظْنَ فُرُوجَهُنَّ&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Katakanlah kepada orang laki-laki yang beriman: “Hendaklah mereka menahan pandangannya dan memelihara kemaluannya; yang demikian itu adalah lebih suci bagi mereka, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang mereka perbuat”. Katakanlah kepada wanita yang beriman: “Hendaklah mereka menahan pandangannya, dan memelihara kemaluannya.” (An-Nur [24]: 30-31)&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Para ulama tafsir menyebutkan bahwa kata min dalam min absharihim maknanya adalah sebagian, untuk menegaskan bahwa yang diharamkan oleh Allah swt hanyalah pandangan yang dapat dikontrol atau disengaja, sedangkan pandangan tiba-tiba tanpa sengaja dimaafkan. Atau untuk menegaskan bahwa kebanyakan pandangan itu halal, yang diharamkan hanya sedikit saja. Berbeda dengan perintah memelihara kemaluan yang tidak menggunakan kata min karena semua pintu pemuasan seksual dengan kemaluan adalah haram kecuali yang diizinkan oleh syariat saja (nikah).[4]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Larangan menahan pandangan didahulukan dari menjaga kemaluan karena pandangan yang haram adalah awal dari terjadinya perbuatan zina.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;2. Hadits Rasulullah saw:&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;عَنْ جَرِيرِ بْنِ عَبْدِ اللَّهِ قَالَ سَأَلْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَنْ نَظَرِ الْفُجَاءَةِ فَأَمَرَنِي أَنْ أَصْرِفَ بَصَرِي  (رواه مسلم).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari Jarir bin Abdillah ra berkata: “Aku bertanya kepada Rasulullah saw tentang pandangan tiba-tiba (tanpa sengaja), lalu beliau memerintahkanku untuk memalingkannya. (HR. Muslim).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Maksudnya jangan meneruskan pandanganmu, karena pandangan tiba-tiba tanpa sengaja itu dimaafkan, tapi bila diteruskan berarti disengaja.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;((لاَ يَنْظُرُ الرَّجُلُ إِلَى عَوْرَةِ الرَّجُلِ، وَلاَ تَنْظُرُ الْمَرْأَةُ إِلَى عَوْرَةِ الْمَرْأَةِ، وَلاَ يُفْضِي الرَّجُلُ إِلَى الرَّجُلِ فِي الثَّوْبِ الْوَاحِدِ، وَلاَ الْمَرْأَةُ إِلَى الْمَرْأَةِ فِي الثَّوْبِ الْوَاحِدِ)). (رواه مسلم وأحمد وأبو داود والترمذي).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seorang laki-laki tidak boleh melihat aurat laki-laki lain, dan seorang perempuan tidak boleh melihat aurat perempuan lain. Seorang laki-laki tidak boleh bersatu (bercampur) dengan laki-laki lain dalam satu pakaian, dan seorang perempuan tidak boleh bercampur dengan perempuan lain dalam satu pakaian. (HR. Muslim, Ahmad, Abu Dawud &amp; Tirmidzi).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;((يَا عَلِيُّ، لاَ تُتْبِعِ النَّظْرَةَ النَّظْرَةَ؟ فَإِنَّ لَكَ الأُوْلَى، وَلَيْسَتْ لَكَ الآخِرَةُ)) [رواه الترمذي وأبو داود وحسنه الألباني].&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Wahai Ali, jangan kamu ikuti pandangan pertama dengan pandangan berikutnya, karena yang pertama itu boleh (dimaafkan) sedangkan yang berikutnya tidak. (HR. Tirmidzi dan Abu Dawud dan di-hasan-kan oleh Al-Bani).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;((الْعَيْنَانِ تَزْنِيَانِ، وَزِنَاهُمَا النَّظَرُ)) [متفق عليه].&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dua mata itu berzina, dan zinanya adalah memandang. (Muttafaq ‘alaih).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Penyebab Mengumbar Pandangan&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di antara faktor-faktor yang menyebabkan seseorang mengumbar pandangannya adalah:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;- Mengikuti hawa nafsu dan ajakan syaithan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;- Jahil (tidak tahu) terhadap akibat negatif mengumbar pandangan, di antaranya bahwa mengumbar pandangan itu penyebab utama zina.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;- Hanya mengandalkan dan mengingat ampunan Allah swt dan lupa terhadap ancaman siksa-Nya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;- Melihat atau menyaksikan media yang porno atau berbau pornografi baik cetak, elektronik, atau internet.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;- Tidak menikah atau menunda pernikahan bagi mereka yang sebenarnya telah siap untuk menikah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;- Sering berada di tempat-tempat bercampurbaurnya laki-laki dan perempuan, seperti pasar atau mall.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;- Merasakan kelezatan semu ketika memandang yang haram sebagai akibat dari lemahnya iman dan tidak hadirnya keagungan Allah swt dalam hatinya. Karena orang yang merasakan keagungan-Nya pasti akan bersedih kalau berbuat maksiat kepada-Nya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;- Godaan dari lawan jenis berupa pakaian yang membuka aurat, ucapan, atau gerakan tubuh yang menarik perhatian.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;– Bersambung&lt;br /&gt;___&lt;br /&gt;Catatan Kaki:&lt;br /&gt;[1] Berasal dari kata غَضَّ yang berarti كَفَّ (menahan) atau نَقَصَ (mengurangi) atau خَفَضَ (menundukkan). Lihat: Tajul ‘Arus 1/4685, dan Maqayisul Lughah 4/306.&lt;br /&gt;[2] Yusuf Al-Qaradhawi, Halal &amp; Haram, hlm 171.&lt;br /&gt;[3] Tafsir At-Thabari 19/154, Ibnu Katsir 6/41.&lt;br /&gt;[4] Al-Jami’ Li Ahkamil Quran, Al-Qurthubi, 1/3918.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2341110395006740809-3598286200239035271?l=bertahajudlah.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://bertahajudlah.blogspot.com/feeds/3598286200239035271/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://bertahajudlah.blogspot.com/2010/03/ghadh-dhul-bashar-menahan-pandangan.html#comment-form' title='1 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2341110395006740809/posts/default/3598286200239035271'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2341110395006740809/posts/default/3598286200239035271'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://bertahajudlah.blogspot.com/2010/03/ghadh-dhul-bashar-menahan-pandangan.html' title='Ghadh-Dhul Bashar (Menahan Pandangan), Bagian ke-1'/><author><name>Abu Rasya</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='25' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_Vu2uwPa37To/SwJVf4XAdFI/AAAAAAAAAEk/lhZhkq-B4QA/S220/Fatih-Sultan-Muhammad.jpg'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2341110395006740809.post-5146945216327323155</id><published>2010-03-12T08:05:00.004+07:00</published><updated>2010-03-12T08:32:43.908+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='qiyamul lail'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='tahajud'/><title type='text'>Keutamaan Qiyamullail</title><content type='html'>عَنْ جَابِرٍ قَالَ سَمِعْتُ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ إِنَّ فِي اللَّيْلِ لَسَاعَةً لَا يُوَافِقُهَا رَجُلٌ مُسْلِمٌ يَسْأَلُ اللَّهَ خَيْرًا مِنْ أَمْرِ الدُّنْيَا وَالْآخِرَةِ إِلَّا أَعْطَاهُ إِيَّاهُ وَذَلِكَ كُلَّ لَيْلَةٍ&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari Jabir r.a., ia barkata, “Aku mendengar Rasulullah saw. bersabda, “Sesungguhnya pada malam hari itu benar-benar ada saat yang seorang muslim dapat menepatinya untuk memohon kepada Allah suatu kebaikan dunia dan akhirat, pasti Allah akan memberikannya (mengabulkannya); dan itu setiap malam.” (HR. Muslim dan Ahmad)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Qiyamullail adalah sarana berkomunikasi seorang hamba dengan Rabbnya. Sang hamba merasa lezat di kala munajat dengan Penciptanya. Ia berdoa, beristighfar, bertasbih, dan memuji Sang Pencipta. Dan Allah Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang, sesuai dengan janjinya, akan mencintai hamba yang mendekat kepadanya. Kalau Allah swt. mencintai seorang hamba, maka Ia akan mempermudah semua aspek kehidupan hambaNya. Dan memberi berkah atas semua aktivitas sang hamba, baik aktivitas di bidang dakwah, pendidikan, ekonomi, sosial, budaya, maupun politik. Sang hamba akan dekat dengan Rabbnya, diampuni dosanya, dihormati oleh sesama, dan menjadi penghuni surga yang disediakan untuknya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seorang muslim yang kontinu mengerjakan qiyamullail, pasti dicintai dan dekat dengan Allah swt. Karena itu, Rasulullah saw. menganjurkan kepada kita, “Lazimkan dirimu untuk shalat malam karena hal itu tradisi orang-orang shalih sebelummu, mendekatkan diri kepada Allah, menghapus dosa, menolak penyakit, dan pencegah dari dosa.” (HR. Ahmad)&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Jika Anda ingin mendapat kemuliaan di sisi Allah dan di mata manusia, amalkanlah qiyamullail secara kontinu. Dari Sahal bin Sa’ad r.a., ia berkata, “Malaikat Jibril a.s. datang kepada Nabi saw. lalu berkata, ‘Wahai Muhamad, hiduplah sebebas-bebasnya, akhirnya pun kamu akan mati. Berbuatlah semaumu, pasti akan dapat balasan. Cintailah orang yang engkau mau, pasti kamu akan berpisah. Kemuliaan orang mukmin dapat diraih dengan melakukan shalat malam, dan harga dirinya dapat ditemukan dengan tidak minta tolong orang lain.’”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Orang yang shalat kala orang lain lelap tertidur, diganjar dengan masuk surga. Kabar ini sampai kepada kita dari hadits yang diriwayatkan oleh Imam Tirmidzi dari Abdullah bin Salam dari Nabi saw., beliau bersabda, “Wahai manusia, sebarkanlah salam, berikanlah makanan, dan shalat malamlah pada waktu orang-orang tidur, kalian akan masuk surga dengan selamat.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seorang dai yang ingin berhasil dakwahnya, harus mennabur kasih sayang kepada seluruh lapisan masyarakat. Hal itu dapat digapai dengan wajah yang berseri-seri, mengucapkan salam, mengulurkan bantuan, silaturahim, dan pada malam hari memohon kepada Allah diawali dengan qiyamulail. Tapi sayang, yang melaksanakan qiyamulail secara kontinu sangat sedikit jumlahnya. Semoga kita termasuk kelompok yang sedikit ini dan berhak masuk surga tanpa dihisab. Rasululah saw. bersabda, “Seluruh manusia dikumpulkan di tanah lapang pada hari kiamat. Tiba-tiba ada panggilan dikumandangkan dimana orang yang meninggalkan tempat tidurnya, maka berdirilah mereka jumlahnya sangat sedikit, lalu masuk surga tanpa hisab. Baru kemudiaan seluruh manusia diperintah untuk diperiksa.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Kiat Mudah Qiyamullail&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Qiyamullail memerlukan kesungguhan dan kebulatan tekad. Jika ada tekad, akan sangat mudah merealisasikannya dengan izin Allah. Berikut ini kiat-kiat pendorong meninggalkan tempat tidur untuk bermunajat kepada Yang Maha Pengasih.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1. Programlah aktivitas Anda di hari yang malamnya Anda rencanakan untuk qiyamulail agar memungkinkan Anda tidak kelelahan. Sehingga tidak membuat Anda tidur terlalu lelap.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2. Pahamilah bahwa Anda punya kebutuhan jasmani, aqli, dan ruhani, serta Anda wajib memenuhinya dengan seimbang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;3. Hindari maksiat. Sebab menurut pengalaman Sufyan Ats-Tsauri, “Aku sulit sekali melakukan qiyamullail selama 5 bulan disebabkan satu dosa yang aku lakukan.”&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;4. Ketahuilah fadhilah (keutamaan) dan keistimewaan qiyamulail. Dengan begitu Anda termotivasi untuk melaksanakannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;5. Tumbuhkan perasaan sangat ingin bermunajat dengan Allah yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;6. Makan malam jangan kekenyangan, berdoa untuk bisa bangun malam, dan jangan lupa pasang alarm sebelum tidur.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;7. Baik juga jika Anda janjian dengan beberapa teman untuk saling membangunkan dengan miscall melalui telepon atau handphone yang Anda miliki.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;8. Buat kesepakatan dengan istri dan anak-anak bahwa keluarga punya program qiyamullail bersama sekali atau dua malam dalam sepekan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;9. Berdoalah kepada Allah swt. untuk dipermudah dalam beribadah kepadaNya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2341110395006740809-5146945216327323155?l=bertahajudlah.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://bertahajudlah.blogspot.com/feeds/5146945216327323155/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://bertahajudlah.blogspot.com/2010/03/keutamaan-qiyamullail.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2341110395006740809/posts/default/5146945216327323155'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2341110395006740809/posts/default/5146945216327323155'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://bertahajudlah.blogspot.com/2010/03/keutamaan-qiyamullail.html' title='Keutamaan Qiyamullail'/><author><name>Abu Rasya</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='25' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_Vu2uwPa37To/SwJVf4XAdFI/AAAAAAAAAEk/lhZhkq-B4QA/S220/Fatih-Sultan-Muhammad.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2341110395006740809.post-65048220071855266</id><published>2010-02-22T17:34:00.002+07:00</published><updated>2010-02-22T17:40:04.327+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='masjid'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='isyroq'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='sholat'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='shubuh'/><title type='text'>Meraih Pahala Haji dan Umroh Melalui Shalat Isyroq</title><content type='html'>Segala puji bagi Allah, Rabb yang berhak disembah. Shalawat dan salam kepada Nabi kita Muhammad, keluarga, para sahabat, dan orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik hingga akhir zaman.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sedikit di antara kita yang mengetahui shalat yang satu ini. Shalat ini dikenal dengan shalat isyroq. Shalat isyroq sebenarnya termasuk shalat Dhuha, namun dikerjakan di awal waktu. Simak penjelasannya berikut ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Asal Penamaan Shalat Isyroq&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Penyebutan shalat ini dengan shalat isyraq berdasarkan penamaan sahabat Ibnu 'Abbas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari 'Abdullah bin Al Harits, ia berkata,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;أن ابن عباس كان لا يصلي الضحى حتى أدخلناه على أم هانئ فقلت لها : أخبري ابن عباس بما أخبرتينا به ، فقالت أم هانئ : « دخل رسول الله صلى الله عليه وسلم في بيتي فصلى صلاة الضحى ثمان ركعات » فخرج ابن عباس ، وهو يقول : « لقد قرأت ما بين اللوحين فما عرفت صلاة الإشراق إلا الساعة » ( يسبحن بالعشي والإشراق) ، ثم قال ابن عباس : « هذه صلاة الإشراق »&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ibnu 'Abbas pernah tidak shalat Dhuha sampai-sampai kami menanyakan beliau pada Ummi Hani, aku mengatakan pada Ummi Hani, “Kabarilah mengenai Ibnu 'Abbas.” Kemudian Ummu Hani mengatakan, “Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam pernah shalat Dhuha di rumahku sebanyak 8 raka'at.” Kemudian Ibnu 'Abbas keluar, lalu ia mengatakan, “Aku telah membaca antara dua sisi mushaf, aku tidaklah mengenal shalat isyroq kecuali sesaat.” (Allah berfirman yang artinya), “Mereka pun bertasbih di petang dan waktu isyroq (waktu pagi).”1 Ibnu 'Abbas menyebut shalat ini dengan SHALAT ISYROQ.2&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Keutamaan Shalat Isyroq&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Dari Abu Umamah, Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;مَنْ صَلَّى صَلاةَ الصُّبْحِ فِي مَسْجِدِ جَمَاعَةٍ يَثْبُتُ فِيهِ حَتَّى يُصَلِّيَ سُبْحَةَ الضُّحَى، كَانَ كَأَجْرِ حَاجٍّ، أَوْ مُعْتَمِرٍ تَامًّا حَجَّتُهُ وَعُمْرَتُهُ&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Barangsiapa yang mengerjakan shalat shubuh dengan berjama'ah di masjid, lalu dia tetap berdiam di masjid sampai melaksanakan shalat sunnah Dhuha, maka ia seperti mendapat pahala orang yang berhaji atau berumroh secara sempurna.”3&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari Anas bin Malik, Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;« مَنْ صَلَّى الْغَدَاةَ فِى جَمَاعَةٍ ثُمَّ قَعَدَ يَذْكُرُ اللَّهَ حَتَّى تَطْلُعَ الشَّمْسُ ثُمَّ صَلَّى رَكْعَتَيْنِ كَانَتْ لَهُ كَأَجْرِ حَجَّةٍ وَعُمْرَةٍ ». قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- « تَامَّةٍ تَامَّةٍ تَامَّةٍ »&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Barangsiapa yang melaksanakan shalat shubuh secara berjama'ah lalu ia duduk sambil berdzikir pada Allah hingga matahari terbit, kemudian ia melaksanakan shalat dua raka'at, maka ia seperti memperoleh pahala haji dan umroh.” Beliau pun bersabda, “Pahala yang sempurna, sempurna dan sempurna.”4&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Tata Cara Pelaksanaan Shalat Isyroq&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Shalat isyroq dilakukan sebanyak dua raka'at. Gerakan dan bacaannya sama dengan shalat-shalat lainnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berdasarkan hadits-hadits yang telah dikemukakan, shalat isyroq disyariatkan bagi orang yang melaksanakan shalat jama'ah shubuh di masjid lalu ia berdiam untuk berdzikir hingga matahari terbit, lalu ia melaksanakan shalat isyroq dua raka'at.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketika berdiam di masjid dianjurkan untuk berdzikir. Dzikir di sini bentuknya umum, bisa dengan membaca Al Qur'an,membaca dzikir, atau lebih khusus lagi membaca dzikir pagi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Waktu shalat isyroq sebagaimana waktu dimulainya shalat Dhuha yaitu mulai matahari setinggi tombak, sekitar 15-20 menit setelah matahari terbit. Hal ini sebagaimana keterangan Syaikh Muhammad bin Shalih Al Utsaimin5 dan Al Lajnah Ad Daimah6 mengenai pengertian matahari setingi tombak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Faedah Berharga Lainnya dari Hadits di atas&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;# Dalam hadits yang telah disebutkan terdapat dorongan untuk melaksanakan shalat jama'ah shubuh di masjid.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;# Dianjurkan memanfaatkan waktu pagi untuk ibadah dan bukan diisi dengan malas-malasan seperti kebiasaan sebagian muslim yang malah mengisi waktu selepas shubuh dengan tidur pagi. Sungguh sia-sia waktu jika digunakan seperti itu. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;# Dianjurkan berdiam setelah shalat shubuh untuk berdzikir hingga matahari terbit sebagaimana hal ini dicontohkan oleh Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;An Nawawi dalam Shohih Muslim membawakan bab dengan judul ‘Keutamaan tidak beranjak dari tempat shalat setelah shalat shubuh dan keutamaan masjid’. Dalam bab tersebut terdapat suatu riwayat dari seorang tabi’in –Simak bin Harb-. Beliau rahimahullah mengatakan bahwa dia bertanya kepada Jabir bin Samuroh,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;أَكُنْتَ تُجَالِسُ رَسُولَ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم-&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Apakah engkau sering menemani Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam duduk?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jabir menjawab,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;نَعَمْ كَثِيرًا كَانَ لاَ يَقُومُ مِنْ مُصَلاَّهُ الَّذِى يُصَلِّى فِيهِ الصُّبْحَ أَوِ الْغَدَاةَ حَتَّى تَطْلُعَ الشَّمْسُ فَإِذَا طَلَعَتِ الشَّمْسُ قَامَ وَكَانُوا يَتَحَدَّثُونَ فَيَأْخُذُونَ فِى أَمْرِ الْجَاهِلِيَّةِ فَيَضْحَكُونَ وَيَتَبَسَّمُ.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Iya. Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam biasanya tidak beranjak dari tempat duduknya setelah shalat shubuh hingga terbit matahari. Apabila matahari terbit, beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam berdiri (meninggalkan tempat shalat). Dulu para sahabat biasa berbincang-bincang (guyon) mengenai perkara jahiliyah, lalu mereka tertawa. Sedangkan beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam hanya tersenyum saja.”7&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;# Dianjurkan berdzikir setelah shalat shubuh, bisa dengan membaca Al Qur'an atau membaca dzikir pagi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;# Keutamaan mmengerjakan shalat isyroq dua raka'at adalah mendapatkan pahala haji dan umroh. Akan tetapi shalat ini tidak bisa menggantikan ibadah haji dan umroh, namun hanya sama dalam pahala dan balasan saja.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Semoga bermanfaat dan semoga Allah menolong kita menghidupkan sunnah yang mulia ini. Segala puji bagi Allah yang dengan nikmat-Nya segala kebaikan menjadi sempurna.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Penulis: Muhammad Abduh Tuasikal&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Artikel http://rumaysho.com&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Diselesaikan di waktu Ashar, 28 Muharram 1431 H di Wisma MTI, sekretariat YPIA, Pogung Kidul&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Footnote:&lt;br /&gt;1 QS. Shad: 18&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2 HR. Al Hakim. Syaikh Bazmoul dalam Bughyatul Mutathowwi' mengatakan bahwa atsar ini hasan ligoirihi (hasan dilihat dari jalur lainnya).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3 HR. Thobroni. Syaikh Al Albani dalam Shahih Targhib (469) mengatakan bahwa hadits ini shahih ligoirihi (shahih dilihat dari jalur lainnya).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;4 HR. Tirmidzi no. 586. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadits ini hasan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;5 Lihat Syarh Al Arba’in An Nawawiyah, Syaikh Muhammad bin Sholih Al ‘Utsaimin,hal. 289, Daruts Tsaroya, cetakan pertama, tahun 1424 H.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;6 Fatwa Al Lajnah Ad Da-imah no. 19285, 23/423, Darul Ifta’.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;7 HR. Muslim no. 670.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2341110395006740809-65048220071855266?l=bertahajudlah.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://bertahajudlah.blogspot.com/feeds/65048220071855266/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://bertahajudlah.blogspot.com/2010/02/meraih-pahala-haji-dan-umroh-melalui.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2341110395006740809/posts/default/65048220071855266'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2341110395006740809/posts/default/65048220071855266'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://bertahajudlah.blogspot.com/2010/02/meraih-pahala-haji-dan-umroh-melalui.html' title='Meraih Pahala Haji dan Umroh Melalui Shalat Isyroq'/><author><name>Abu Rasya</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='25' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_Vu2uwPa37To/SwJVf4XAdFI/AAAAAAAAAEk/lhZhkq-B4QA/S220/Fatih-Sultan-Muhammad.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2341110395006740809.post-6315620415845782846</id><published>2010-02-16T12:22:00.002+07:00</published><updated>2010-02-16T12:33:40.908+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='ritual'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='sholat'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='spiritual'/><title type='text'>Dua Dimensi Shalat</title><content type='html'>Oleh: DR. Amir Faishol Fath&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Shalat adalah ibadah yang terpenting dan utama dalam Islam. Dalam deretan rukun Islam Rasulullah saw. menyebutnya sebagai yang kedua setelah mengucapkan dua kalimah syahadat (syahadatain). Rasullah bersabda, “Islam dibangun atas lima pilar: bersaksi bahwa tiada tuhan selain Allah dan Muhammad adalah utusan Allah, menegakkan shalat, membayar zakat, berhajji ke ka’bah baitullah dan puasa di bulan Ramadlan.” (HR. Bukhari, No.8 dan HR. Muslim No.16).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketika ditanya Malaikat Jibril mengenai Islam, Rasullah saw. lagi-lagi menyebut shalat pada deretan yang kedua setelah syahadatain (HR. Muslim, No.8). Orang yang mengingkari salah satu dari rukun Islam, otomatis menjadi murtad (keluar dari Islam). Abu Bakar Ash Shidiq ra. ketika menjabat sebagai khalifah setelah Rasullah saw. wafat, pernah dihebohkan oleh sekelompok orang yang menolak zakat. Bagi Abu Bakar mereka telah murtad, maka wajib diperangi. Para sahabat bergerak memerangi mereka. Peristiwa itu terkenal dengan harbul murtaddin. Ini baru manolak zakat, apalagi menolak shalat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketika menyebutkan ciri-ciri orang yang bertakwa pada awal surah Al-Baqarah, Allah menerangkan bahwa menegakkan ibadah shalat adalah ciri kedua setelah beriman kepada yang ghaib (Al-Baqarah: 3). Dari proses bagaimana ibadah shalat ini disyariatkan –lewat kejadian yang sangat agung dan kita kenal dengan peristiwa Isra’ Mi’raj– Rasulullah saw. tidak menerima melalui perantara Malaikat Jibril, melainkan Allah swt. langsung mengajarkannya. Dari sini tampak dengan jelas keagungan ibadah shalat. Bahwa shalat bukan masalah ijtihadi (baca: hasil kerangan otak manusia yang bisa ditambah dan diklurangi) melainkan masalah ta’abbudi (baca: harus diterima apa adanya dengan penuh keta’atan). Sekecil apapun yang akan kita lakukan dalam shalat harus sesuai dengan apa yang diajarkan Allah langsung kepada Rasul-Nya, dan yang diajarkan Rasulullah saw. kepada kita.&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Bila dalam ibadah haji Rasulullah saw. bersabda, “Ambillah dariku cara melaksanakan manasik hajimu”, maka dalam shalat Rasullah bersabda, “shalatlah sebagaiman kamu melihat aku shalat”. Untuk menjelaskan bagaimana cara Rasullah saw. melaksanakan shalat, paling tidak ada dua dimensi yang bisa diuraikan dalam pembahasan ini: dimensi ritual dan dimensi spiritual.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Dimensi Ritual Shalat&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Dimensi ritual shalat adalah tata cara pelaksanaannya, termasuk di dalamnya berapa rakaat dan kapan waktu masing-masing shalat (shubuh, zhuhur, ashar, maghrib, isya’) yang harus ditegakkan. Dalam hal ini tidak ada seorang pun dari sahabat Rasulullah saw., apa lagi ulama, yang mencoba-coba berusaha merevisi atau menginovasi. Umpamnya yang empat rakaat dikurangi menjadi tiga, yang tiga ditambah menjadi lima, yang dua ditambah menjadi empat dan lain sebagainya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam segi waktu pun tidak ada seorang ulama yang berani menggeser. Katakanlah waktu shalat Zhuhur digeser ke waktu dhuha, waktu shalat Maghrib digeser ke Ashar dan sebagainya (perhatikan: An-Nisa’: 103). Artinya shalat seorang tidak dianggap sah bila dilakukan sebelum waktunya atau kurang dari jumlah rakakat yang telah ditentukan. Dalam konteks ini tentu tidak bisa beralasan dengan shalat qashar (memendekkan jumlah rakaat) atau jama’ taqdim dan ta’khir (menggabung dua shalat seperti dzhuhur dengan ashar: diawalkan atau diakhirkan) karena masing-masing dari cara ini ada nashnya (baca: tuntunan dari Alquran dan sunnah Rasullah saw.; An-Nisa’: 101), dan itupun tidak setiap saat, melainkan hanya pada waktu-waktu tertentu sesuai dengan kondisi yang tercantum dalam nash.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apa yang dibaca dalam shalat juga tercakup dalam tata cara ini dan harus mengikuti tuntunan Rasulullah. Jadi tidak bisa membaca apa saja seenaknya. Bila Rasullah memerintahkan agar kita harus shalat seperti beliau shalat, maka tidak ada alasan lagi bagi kita untuk menambah-nambah. Termasuk dalam hal menambah adalah membaca terjemahan secara terang-terangan dalam setiap bacaan yang dibaca dalam shalat. Karena sepanjang pengetahuan penulis tidak ada nash yang memerintahkan untuk juga membaca terjemahan bacaan dalam shalat, melainkan hanya perintah bahwa kita harus mengikuti Rasullah secara ta’abbudi dalam melakukan shalat ini.&lt;br /&gt;Mungkin seorang mengatakan, benar kita harus mengikuti Rasullah, tapi bagaimana kalau kita tidak mengerti apa makna bacaan yang kita baca dalam shalat? Bukankah itu justru akan mengurangi nilai ibadah shalat itu sendiri? Dan kita hadir dalam shalat menjadi seperti burung beo, mengucapkan sesuatu tetapi tidak paham apa yang kita ucapkan?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Untuk mengerti bacaan dalam shalat, caranya tidak mesti dengan membaca terjemahannya ketika shalat, melainkan Anda bisa melakukannya di luar shalat. Sebab, tindakan membaca terjemahan dalam shalat seperti tindakan seorang pelajar yang menyontek jawaban dalam ruang ujian. Bila menyontek, jawaban merusak ujian pelajar. Membaca terjemahan dalam shalat juga merusak shalat. Bila si pelajar beralasan bahwa ia tidak bisa menjawab kalau tidak nyontek, kita menjawab Anda salah mengapa tidak belajar sebelum masuk ke ruang ujian. Demikian juga bila seorang beralasan bahwa ia tidak mengerti kalau tidak membaca terjemahan dalam shalat, kita jawab, Anda salah mengapa Anda tidak belajar memahami bacaan tersebut di luar shalat. Mengapa Anda harus dengan mengorbankan shalat, demi memahami bacaan yang Anda baca dalam shalat? Wong itu bisa Anda lakukan di luar shalat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pentingnya mengikuti cara Rasullah bershalat, ternyata bukan hanya bisa dipahami dari hadits tersebut di atas, melainkan dalam teks-teks Alquran sangat nampak dengan jelas. Dari segi bahasa dan gaya ungkap Alquran selalu menggunakan “aqiimush shalaata” (tegakkankanlah shalat) atau “yuqiimunash sahalat” (menegakkan shalat). Menariknya, ungkapan seperti ini juga digunakan Rasullah saw. Pada hadits mengenai pertemuannya dengan Malaikat Jibril, Rasullah bersabda: “watuqiimush shalata“ (HR. Muslim No.8) dan pada hadits mengenai pilar-pilar Islam bersabda: “waiqaamish shalati “. (HR. Bukahri No.8 dan HR. Muslim No.16)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apa makna dari aqiimu atau yuqiimu di sini? Mengapa kok tidak langsung mengatakan shallu (bershalatlah) atau yushalluuna (mereka bershalat)? Para ahli tafsir bersepakat bahwa dalam kata aqiimu atau yuqiimuuna mengandung makna penegasan bahwa shalat itu harus ditegakkan secara sempurna: baik secara ritual dengan memenuhi syarat dan rukunnya, tanpa sedikitpun mengurangi atau menambah, maupun secara spiritual dengan melakukannya secara khusyuk seperti Rasulullah saw. melakukannya dengan penuh kekhusyukan. Masalah khusyu’ adalah pembahasan dimensi spiritual shalat yang akan kita bicarakan setelah ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Dimensi Spiritual Shalat&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Mengikuti cara Rasulullah saw. shalat tidak cukup hanya dengan menyempurkan dimensi ritulanya saja, melainkan harus juga diikuti dengan menyempurnakan dimensi spritualnya. Ibarat jasad dengan ruh, memang seorang bisa hidup bila hanya memenuhi kebutuhan jasadnya, namun sungguh tidak sempurna bila ruhnya dibiarkan meronta-meronta tanpa dipenuhi kebutuhannya. Demikian juga shalat, memang secara fikih shalat Anda sah bila memenuhi syarat dan ruku’nya secara ritual, tapi apa makna shalat Anda bila tidak diikuti dengan kekhusyukan. Perihal kekhusyukan ini Alquran telah menjelaskan, “Dan mohonlah pertolongan (kepada Allah) dengan sabar dan shalat, dan sesungguhnya shalat itu sangat berat kecuali bagi mereka yang khusyu.” (Al-Baqarah: 45)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Imam Ibn Katsir, ketika menafsirkan ayat ini, menyebutkan pendapat para ulama salaf mengenai makna khusyu’ dalam shalat: Mujahid mengatakan, itu suatu gambaran keimanan yang hakiki. Abul Aliyah menyebut, alkhasyi’in adalah orang yang dipenuhi rasa takut kepada Allah. Muqatil bin Hayyanperpendapat, alkhasyi’in itu orang yang penuh tawadhu’. Dhahhaq mengatakan, alkhasyi’en merupakan orang yang benar-benar tunduk penuh ketaatan dan ketakutan kepada Allah. (Ibn Katsir, Tafsirul Qur’anil azhim, Bairut, Darul fikr, 1986, vol. 1, h.133)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan pada dasarnya shalat –seperti yang digambarkan Ustadz Sayyid Quthub– adalah hubungan antara hamba dan Tuhannya yang dapat menguatkan hati, membekali keyakinan untuk menghadapi segala kenyataan yang harus dilalui. Rasulullah saw. –kata Sayyid- setiap kali menghadapi persoalan, selalu segara melaksanakan shalat. (Sayyid Quthub, fii zhilalil Qur’an, Bairut, Darusy syuruuq, 1985, vol. 1, h. 69)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam hal ini tentu shalat yang dimaksud bukan sekedar shalat, melainkan shalat yang benar-benar ditegakkan secara sempurna: memenuhi syarat dan rukunnya, lebih dari itu penuh dengan kekhusyukan. Karena hanya shalat yang seperti inilah yang akan benar-benar memberikan ketenangan yang hakiki pada ruhani, dan benar- benar melahirkan sikap moral yang tinggi, seperti yang dinyatakan dalam Alquran: “dan dirikanlah shalat. Sesungguhnya shalat itu mencegah dari (perbuatan-perbuatan) keji dan mungkar ”. (Al-Ankabut: 45)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jelas, bahwa hanya shalat yang khusyu’ yang akan membimbing pelaksananya pada ketenangan dan kemuliaan perilaku. Oleh sebab itu para ulama terdahulu selalu mengajarkan bagimana kita menegakkan shalat dengan penuh kekhusyukan. Imam As-Samarqandi dalam bukunya tanbihul ghafiliin, menulis bab khusus dengan judul: Bab itmamush shalaati wal khusyu’u fiihaa (Bab menyempurkan dan khusyuk dalam shalat). Disebutkan dalam buku ini bahwa orang yang sembahyang banyak, tetapi orang yang menegakkan shalat secara sempurna sedikit. (As Samarqandi, Tanbihul ghafiliin, Bairut, Darul Kitab al’Araby, 2002, h. 293)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Imam As-Samarqandi benar. Kini kita menyaksikan orang-orang shalat di mana-mana. Tetapi, berapa dari mereka yang benar-benar menikmati buah shalatnya, menjaga diri dari perbuatan keji, perzinaan, korupsi dan lain sebagainya yang termasuk dalam kategori munkar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Antara Ritual dan Spritual&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Ketika Rasulullah saw. memerintahkan agar kita mengikuti shalat seperti yang beliau lakukan, itu maksudnya mengikuti secara sempurna: ritual dan spiritual. Ritual artinya menegakkan secara benar syarat dan rukunnya, spiritual artinya melaksanakannya dengan penuh keikhlsan, ketundukan dan kekhusyukan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kedua dimiensi itu adalah satu kesatuan tak terpisahkan. Satu dimensi hilang, maka shalat Anda tidak sempurna. Bila Anda hanya mengutamakan yang spiritual saja, dengan mengabaikan yang ritual (seperti tidak mengkuti cara-cara shalat Rasulluah secara benar, menambahkan atau mengurangi, atau meniggalkannya sema sekali) itu tidak sah. Dengan bahasa lain, shalat yang ditambah dengan menerjemahkan setiap bacaannya ke dalam bahasa Indonesia, itu bukan shalat yang dicontohkan Rasullah. Maka, itu tidak disebut shalat, apapun alasan dan tujuannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebaliknya, bila yang Anda utamakan hanya yang ritual saja dengan mengabaikan yang spiritual, boleh jadi shalat Anda sah secara fikih. Tetapi, tidak akan membawa dampak apa-apa pada diri Anda. Karena yang Anda ambil hanya gerakan shalatnya saja. Sementara ruhani shalat itu Anda campakkan begitu saja. Bahkan bila yang anda abaikan dari dimensi spiritual shalat itu adalah keikhlasan, akibatnya fatal. Shalat Anda menjadi tidak bernilai apa-apa di sisi-Nya. Na’udzubillahi mindzaalika. Wallahu A’lam bish shawab.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2341110395006740809-6315620415845782846?l=bertahajudlah.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://bertahajudlah.blogspot.com/feeds/6315620415845782846/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://bertahajudlah.blogspot.com/2010/02/dua-dimensi-shalat.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2341110395006740809/posts/default/6315620415845782846'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2341110395006740809/posts/default/6315620415845782846'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://bertahajudlah.blogspot.com/2010/02/dua-dimensi-shalat.html' title='Dua Dimensi Shalat'/><author><name>Abu Rasya</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='25' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_Vu2uwPa37To/SwJVf4XAdFI/AAAAAAAAAEk/lhZhkq-B4QA/S220/Fatih-Sultan-Muhammad.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2341110395006740809.post-7686599713814995710</id><published>2010-02-15T14:43:00.001+07:00</published><updated>2010-02-15T14:52:53.194+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='wudhu'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='sholat'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='pahala'/><title type='text'>Meraup Pahala Menjelang Shalat</title><content type='html'>Mempersiapkan diri untuk shalat artinya mempersiapkan sebuah pekerjaan yang sangat besar dan mulia. Maka persiapan shalat di dalam Islam memiliki keutamaan tak terhingga yang dengannya seorang muslim dapat menuai kebaikan dan pahala yang tak berbilang. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berikut ini adalah langkah-langkah yang perlu kita perhatikan sebelum kita shalat, semoga kita dapat merealisasikannya sehingga berhak memperoleh berbagai keutamaan dan kebaikan yang amat banyak. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;1. Berwudhu&lt;/span&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Diantara keutamaan wudhu adalah sebagai berikut:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Kecintaan Allah&lt;/span&gt;, sebagaimana firman-Nya, artinya, &lt;br /&gt;“Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang taubat dan menyukai orang-orang yang mensucikan diri.” (QS. 2:222) &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Dosa Berguguran Bersama air wudhu&lt;/span&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Diriwayatkan dari Abu Hurairah ra, Rasulullah Shalallaahu alaihi wasalam bersabda, artinya, &lt;br /&gt;"Apabila seorang hamba muslim atau mukmin berwudhu, maka tatkala ia membasuh wajahnya keluarlah dari wajahnya seluruh dosa yang dilakukan matanya bersamaan dengan air itu atau dengan tetesan terakhirnya. Apabila dia membasuh dua tangannya maka akan keluar seluruh dosa yang dilakukan tangannya bersamaan dengan air itu atau tetesan air yang terakhir. Apabila dia membasuh dua kakinya maka keluarlah seluruh dosa yang telah dilangkahkan oleh kakinya bersama air atau tetesannya yang terakhir sehingga dia selesai wudhu dalam keadaan bersih dari dosa-dosa." (HR. Muslim) &lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Anggota Wudhu bercahaya di Hari Kiamat &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Abu Hurairah Radhiallaahu anhu, berkata, "Aku mendengar Rasulullah Shalallaahu alaihi wasalam bersabda, "Sesungguhnya umatku dipanggil pada hari kiamat dalam keadaan ghurran muhajjilin (wajahnya bercahaya dan badannya bersinar) karena bekas wudhu, maka barang siapa mampu untuk memanjangkan ghurrah hendaklah melakukannya." (HR al Bukhari dan Muslim). &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Dosa Terhapus dan Derajat Terangkat &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Abu Hurairah Radhiallaahu anhu berkata, Rasulullah Shalallaahu alaihi wasalam bersabda, "Maukah kalian aku tunjukkan kepada sesuatu yang dengannya Allah akan menghapus dosa-dosa dan mengangkat beberapa derajat?" Para sahabat menjawab, Tentu wahai Rasulullah. Nabi bersabada, "Menyempurnakan wudhu' dalam keadaan tidak disukai (spt cuaca sangat dingin -red), memperbanyak langkah menuju masjid, menunggu shalat setelah shalat, dan itulah ribath, itulah ribath.' (HR Muslim) &lt;br /&gt;Yang dimaksud ar-ribath (ikatan) adalah karena amalan- amalan itu mengikat yang bersangkutan dari berbagai kemaksiatan dan dosa. Sebagian lagi ada yang mengatakan bahwa selalu ingat tali yang melingkar dileher musuh, karena ingin mendapat kan syahid dan ampunan Allah. Wallahu a'lam. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Dosa Terampuni dan Masuk Surga &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Utsman bin Affan ra, dia berwudhu lalu berkata, "Aku melihat Rasulullah saw berwudhu seperti wudhuku ini lalu bersabda, "Barang siapa berwudhu seperti wudhuku ini lalu shalat dua rakaat tanpa berbicara sesuatu terhadap diri sendiri dalam dua rakaat itu maka akan diampuni dosanya yang telah lalu." (HR Muslim) &lt;br /&gt;Uqbah bin 'Amir Radhiallaahu anhu berkata, Rasulullah saw bersabda, "Tidaklah seseorang berwudhu lalu membaguskan wudhunya dan shalat dua rakaa'at, hati dan wajahnya khusyu’ pada dua rakaat itu kecuali wajib baginya Surga." (HR al-Bukhari dan Muslim)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;2. Dzikir Setelah Wudhu &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dzikir setelah wudhu juga memiliki keutamaan yang sangat besar, diantaranya adalah:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Bebas Masuk Surga Dari Pintu Mana Saja. &lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Diriwayatkan dari Umar bin Khaththab Radhiallaahu anhu , Rasulullah saw bersabda, artinya, &lt;br /&gt;"Tidakalah salah seorang diantara kalian berwudhu, lalu membaguskan wudhunya kemudian mengucapkan, "Asyhadu an la ilaha illallah wahdahu la syarika lahu, wa asyhadu anna muhammadan 'abduhu wa rasuluh, kecuali akan dibukakan untuknya pintu-pintu surga yang delapan lalu dia boleh masuk dari pintu mana saja yang dia inginkan." (HR Muslim) &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Ditulis dalam Lembaran Yang tidak rusak hingga hari Kiamat&lt;/span&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Diriwayatkan dari Abu Sa'id al Khudri Radhiallaahu anhu dia berkata, Rasulullha Shalallaahu alaihi wasalam bersabda, artinya, &lt;br /&gt;"Barang siapa berwudhu lalu mengucapkan, "Subhanakallahumma wabihamdika asyhadu an la ilaha illa anta astaghfiruka wa atubu ilaik, maka akan ditulis di dalam lembaran lalu di kunci dan tidak akan rusak hingga Hari Kiamat.”(HR ath-Thabrani dalam al Ausath, sebagimana dikatakan al Mundziri dalam at-Targhib)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;3. Bersiwak &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Siwak adalah kebersihan bagi mulut dan mendatangkan keridhaan Allah, sebagaimana hadits yang bersumber dari Aisyah ra dia berkata bahwa Nabi Shalallaahu alaihi wasalam bersabda, artinya, &lt;br /&gt;"Siwak adalah kebersihan bagi mulut dan keridhaan bagi Rabb." &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;4.Bersegera Menuju Shalat &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nabi saw bersabda, artinya, &lt;br /&gt;"Andaikan orang-orang mengetahui apa (kebaikan) yang ada pada adzan dan shaf awal lalu mereka tidak mendapati kecuali dengan mengundinya tentu mereka akan mengundi, dan andaikan mereka tahu apa yang diperoleh ketika bersegera menuju shalat maka tentu mereka akan berlomba menuju ke sana."(Muttafaq 'alaih) &lt;br /&gt;Hal ini juga merupakan bukti ketergantungan hati kita dengan masjid yang dijanjikan oleh Rasulullah saw mendapatkan naungan dari Allah pada Hari Kiamat. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;5.Meniru ucapan Muadzin &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menirukan muadzin memiliki keutamaan yang tidak ternilai, yaitu masuk surga. Dalam hal ini bukan sekedar menirukan, akan tetapi dengan segenap hati, memahami dengan benar maknanya serta mengamalkan apa yang dia ucapkan itu. &lt;br /&gt;Diantara hadits yang menjelaskan hal itu adalah yang diriwayatkan Abu Hurairah ra dia berkata, "Kami bersama Rasulullah Shalallaahu alaihi wasalam lalu Bilal berdiri mengumandang kan adzan, ketika bilal diam beliau bersabda, "Barang siapa yang mengucapkan seperti yang diucapkan Bilal ini dengan yakin niscaya masuk surga." (HR Ahmad, an Nasai dan Ibnu Hibban) &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;6.Dzikir Setelah Adzan &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dzikir setelah adzan memiliki keutamaan sebagai berikut:&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Dosa Terampuni &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari Sa'ad bin Abi Waqash, Dari Rasulullah Shalallaahu alaihi wasalam bersabda, artinya, &lt;br /&gt;"Barang siapa ketika mendengar adzan mengucapkan, " Wa ana asyhadu an la ilaha illallah wahdahu la syarika lahu wa anna Muhammadan 'abduhu wa rasuluhu, radhitu billahi rabba, wabil islami diina, wa bimuhammadin rasula, maka Allah akan mengampuni dosanya.” (HR Muslim) &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Mendapatkan syafa’at Nabi saw &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jabir bin Abdillah meriwayatkan, Rasulullah saw bersabda bahwa barang siapa ketika mendengar adzan mengucapkan, “Allahumma rabba hadzihid da'watit taammah... dan seterusnya maka berhak mendapatkan syafaat beliau. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;7.Berjalan Menuju Masjid &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Orang yang berjalan menuju masjid mendapatkan keutamaan sebagai berikut:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Peristirahatan di Surga &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hal ini ditunjukkan dalam sebuah hadits muttafaq alaih dari Abu Hurairah bahwa barang siapa yang berjalan menuju masjid maka Allah akan menyediakan untuknya tempat peristirahatan di dalam surga. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Terhapusnya dosa dan terangkatnya derajat&lt;/span&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari Abu Hurairah, Nabi Shalallaahu alaihi wasalam bersabda, artinya, &lt;br /&gt;"Barang siapa bersuci di rumahnya lalu beranjak menuju salah satu rumah Allah untuk melakukan kewajiban dari kewajiban-kewajiban yang ditentukan Allah maka seluruh langkahnya yang satu akan menghapus kesalahannya dan yang lain akan mengangkat derajatnya." (HR Muslim) &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Mendapatkan Pahala yang Sangat Besar&lt;/span&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Dari Abu Musa Radhiallaahu anhu , Nabi Shalallaahu alaihi wasalam bersabda, artinya, &lt;br /&gt;"Sesunguhnya orang yang paling besar pahalanya di dalam shalat adalah yang paling jauh perjalanannya (ke masjid)." (Muttafaq alaih) &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Mendapatkan Cahaya yang Sempurna di Hari Kiamat&lt;/span&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari Buraidah Radhiallaahu anhu , dari nabi Shalallaahu alaihi wasalam bersabda,artinya, &lt;br /&gt;"Orang yang berjalan menuju masjid dalam kegelapan mendapatkan kabar gembira dengan cahaya yang sempurna pada Hari Kiamat." &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Terampuninya dosa &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berdasarkan hadits riwayat Abu Hurairah yang menyebutkan ribath, dimana salah satunya adalah banyak melangkah menuju masjid, (lihat bab wudhu, sub bab terhapusnya dosa dan terangkatnya derajat) &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Mendapat Pahala Shadaqah &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Diriwayatkan dari Abu Hurairah Radhiallaahu anhu , Nabi Shalallaahu alaihi wasalam bersabda,artinya, &lt;br /&gt;"Kalimat yang baik adalah shadaqah, dan setiap langkah yang diayunkan menuju shalat adalah shadaqah." (HR Muslim)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;8.Bersegara Menuju Shaf Pertama&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Mendapat Kebaikan yang Sangat Besar&lt;/span&gt; &lt;br /&gt;Sebagaimana disebutkan dalam hadits bahwa andaikan orang tahu apa yang diperoleh dalam shaf pertama maka mereka tentu akan berundi untuk mendapatkannya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Meniru para Malaikat &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rasulullah Shalallaahu alaihi wasalam menyebutkan bahwa shafnya para malaikat adalah, “Menyempurnakan shaf awal dan merapatkan shaf.”(HR. Muslim) &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Shaf Terbaik Bagi Laki-laki&lt;/span&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nabi Shalallaahu alaihi wasalam bersabda, artinya, &lt;br /&gt;“Sebaik-baik shaf laki-laki adalah shaf yang pertama, dan seburuk-buruknya adalah yang terakhir.” (HR Muslim) &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Bebas dari Ancaman Nabi saw&lt;/span&gt;, yang menyebutkan bahwa suatu kaum yang selalu terlambat menuju shalat maka Allah akan membuat mereka selalu berada paling belakang. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Shalawat Allah dan Malaikat untuk Shaf awal &lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Nabi Shalallaahu alaihi wasalam pernah bersabda, artinya, &lt;br /&gt;“Sesungguhnya Allah dan malaikat Nya bershalawat kepada shaf-shaf yang pertama.” (HR Abu Dawud dengan sanad hasan)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;9.Sunnah Rawatib&lt;/span&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Diantara keutamaan sunnah rawatib adalah:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Dijanjikan Rumah di dalam Surga&lt;/span&gt;.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Doa dari Nabi Shalallaahu alaihi wasalam , kepada yang menjaga qabliyah Ashar, artinya, “Semoga Allah merahmati seseorang yang shalat empat rakaat sebelum Ashar.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;10.Berdoa antara Adzan dan Iqamah. &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Antara adzan dan iqamah adalah salah satu waktu mustajabah untuk dikabulkannya doa. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;11.Menunggu Shalat &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menunggu shalat berdasarkan hadits-hadits Nabi saw memiliki keutamaan sebanding dengan shalat, dimintakan ampun oleh para malaikat, mengahapus dosa serta mengangkat derajat. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;12.Memanfaatkan Waktu dengan Berdzikir dan Berdoa. &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Orang yang datang ke masjid lebih awal dapat memanfaatkan waktu untuk bertaqarrub kepada Allah dengan berdoa, berdzikir ataupun membaca al Qur’an. Itu semua dapat menunjang kekhusyukan shalat yang akan dilakukan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Buletin An-Nur.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2341110395006740809-7686599713814995710?l=bertahajudlah.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://bertahajudlah.blogspot.com/feeds/7686599713814995710/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://bertahajudlah.blogspot.com/2010/02/meraup-pahala-menjelang-shalat.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2341110395006740809/posts/default/7686599713814995710'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2341110395006740809/posts/default/7686599713814995710'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://bertahajudlah.blogspot.com/2010/02/meraup-pahala-menjelang-shalat.html' title='Meraup Pahala Menjelang Shalat'/><author><name>Abu Rasya</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='25' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_Vu2uwPa37To/SwJVf4XAdFI/AAAAAAAAAEk/lhZhkq-B4QA/S220/Fatih-Sultan-Muhammad.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2341110395006740809.post-4734762569700386739</id><published>2010-02-13T12:52:00.002+07:00</published><updated>2010-02-13T13:00:01.638+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='khusyu'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='sholat'/><title type='text'>Shalat Khusyu’</title><content type='html'>Jika semua ibadah disampaikan pewajibannya kepada Nabi melalui malaikat Jibril. Tidak demikian halnya dengan shalat, ibadah ini disampaikan secara langsung oleh Allah melalui peristiwa besar yang dialami seorang hamba, Isra’ dan Mi’raj. Shalat adalah ibadah paling utama dalam Islam. Bahkan ia adalah amal pertama yang akan ditanyakan Allah ketika seseorang masuk ke dalam kuburnya. Begitu penting shalat di antara amal ibadah ini maka seorang muslim diwajibkan mengerjakannya lima kali sehari semalam, di tambah lagi dengan shalat-shalat sunnah. Jika pada ibadah lain kewajibannya disyaratkan adanya istitha’ah (kemampuan) seperti haji dan zakat. Pada ibadah puasa, kalau seseorang tidak mampu melaksanakannya karena sakit atau uzur lainnya, ia boleh mengganti puasa di hari lain atau bahkan boleh menggantinya dengan fidyah jika benar-benar tidak mampu melakukannya, seperti jika seseorang sakit parah atau berusia lanjut. Maka dalam shalat uzur yang membuat uzur fisik yang menjadikan seseorang boleh meninggalkannya sampai ia bertemu dengan Allah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Urgensi Khusyu’ dalam Shalat&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;   &lt;span style="font-weight:bold;"&gt;1. Khusyu’ dalam shalat adalah cermin kekhusyu’an seseorang di luar shalat.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Khusyu’ dalam shalat adalah sebuah ketundukan hati dalam dzikir dan konsentrasi hati untuk taat, maka ia menentukan nata’ij (hasil-hasil) di luar shalat. Olerh karena itulah Allah memberi jaminan kebahagiaan bagi mu’min yang khusyu’ dalam shalatnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;قَدْ أَفْلَحَ الْمُؤْمِنُونَ الَّذِينَ هُمْ فِي صَلَاتِهِمْ خَاشِعُونَ&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Sungguh beruntung orang-orang yang beriman. Yaitu orang-orang yang dalam shalatnya selalu khusyu’” (Al-Mu’minun:1-3).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Begitu juga iqamatush-shalah yang sebenarnya akan menjadi kendali diri sehingga jauh dari tindakan keji dan munkar. Allah berfirman,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;وَأَقِمِ الصَّلَاةَ إِنَّ الصَّلَاةَ تَنْهَى عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ وَلَذِكْرُ اللَّهِ أَكْبَرُ وَاللَّهُ يَعْلَمُ مَا تَصْنَعُونَ&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Dan tegakkanlah shalat, sesungguhnya shalat itu mencegah tindakan keji dan munkar” (Al-Ankabut:45).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebaliknya, orang yang melaksanakan shalat sekedar untuk menanggalkan kewajiban dari dirinya dan tidak memperhatikan kualitas shalatnya, apalagi waktunya, maka Allah dan Rasul-Nya mengecam pelaksanaan shalat yang semacam itu. Allah berfirman,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;فَوَيْلٌ لِلْمُصَلِّينَ الَّذِينَ هُمْ عَنْ صَلَاتِهِمْ سَاهُونَ&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Maka celakalah orang-orang shalat, yaitu orang-orang yang lalai dari shalatnya” (Al-Maun: 4-5)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Shalat yang tidak khusyu’ merupakan ciri shalatnya orang-orang munafik. Seperti yang Allah firmankan,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;إِنَّ الْمُنَافِقِينَ يُخَادِعُونَ اللَّهَ وَهُوَ خَادِعُهُمْ وَإِذَا قَامُوا إِلَى الصَّلَاةِ قَامُوا كُسَالَى يُرَاءُونَ النَّاسَ وَلَا يَذْكُرُونَ اللَّهَ إِلَّا قَلِيلًا&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Sessungguhnya orang-orang munafik itu menipu Allah, padahal Allah (balas) menipu mereka. Dan apabila mereka berdiri untuk shalat mereka berdiri malas-malasan, mereka memamerkan ibadahnya kepada banyak orang dan tidak mengingat Allah kecuali sangat sedikit” (An-Nisa’:142).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rasulullah saw. bersabda,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;تِلْكَ صَلَاةُ الْمُنَافِقِ يَجْلِسُ يَرْقُبُ الشَّمْسَ حَتَّى إِذَا كَانَتْ بَيْنَ قَرْنَيْ الشَّيْطَانِ قَامَ فَنَقَرَهَا أَرْبَعًا لَا يَذْكُرُ اللَّهَ فِيهَا إِلَّا قَلِيلًا&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Itulah shalat orang munafiq, ia duduk-duduk menunggu matahari sampai ketika berada di antara dua tanduk syetan, ia berdiri kemudian mematok empat kali, ia tidak mengingat Allah kecuali sedikit.” (Diriwayatkan Al-Jama’ah kecuali Imam Bukhari).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;2. Hilangnya kekhusyu’an adalah bencana bagi seorang mukmin.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hilangnya kekhusyu’an dalam shalat adalah musibah (bencana) besar bagi seorang mukmin. Ini bisa memberi pengaruh buruk terhadap pelaksanaan agamanya, karena shalat adalah tiang penyangga tegaknya agama. Maka Rasulullah saw. berlindung kepada Allah, “Ya, Allah aku berlindung kepada-Mu dari ilmu yang tidak bermanfaat, hati yang tidak khusyu’, jiwa yang tidak puas, mata yang tidak menangis, dan do’a yang tidak diijabahi”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;3. Khusyu’ adalah puncak mujahadah seorang mukmin&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Khusyu’ adalah puncak mujahadah dalam beribadah, hanya dimiliki oleh mukmin yang selalu bersungguh-sungguh dalam muraqabatullah. Khusyu’ bersumber dari dalam hati yang memiliki iman kuat dan sehat. Maka khusyu’ tidak dapat dibuat-buat atau direkayasa oleh orang yang imannya lemah. Pernah ada seorang laki-laki berpura-pura shalat dengan khusyu’ di hadapan umar bin Khatthab ra. dan ia menegurnya, “Hai pemilik leher. Angkatlah lehermu! Khusyu; itu tidak berada di leher namun berada di hati.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Ayat-ayat tentang khusyu’ dalam shalat:&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Jadikanlah sabar dan shalat sebagai penolongmu. Dan sesungguhnya yang demikian itu sungguh berat, kecuali bagi orang-orang yang khusyu’. (Yaitu) orang-orang yang meyakini, bahwa mereka akan menemui Tuhannya, dan bahwa mereka akan kembali kepada-Nya.” (Al-Baqarah: 45-46).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Sesungguhnya beruntunglah orang-orang yang beriman. (Yaitu) orang-orang yang khusyu’ dalam sembahyangnya.” (Al-Mukminun: 1-2).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Peliharalah semua shalat(mu), dan (peliharalah) shalat wusthaa. Berdirilah untuk Allah (dalam shalatmu) dengan khusyu’.” (Al-Baqarah: 238).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Al-Mujahid berkata, “Di antara bentuk qunut adalah tunduk, khusyu’, menundukkan pandangan, dan merendah karena takut kepada Allah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Maka apabila kamu Telah selesai (dari sesuatu urusan), kerjakanlah dengan sungguh-sungguh (urusan) yang lain. Dan hanya kepada Tuhanmulah hendaknya kamu berharap.” (Al-Insyirah: 7-8)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Al-Mujahid berkata, “Kalau kamu selesai dari urusan dunia segeralah malakukan shalat, jadikan niat dan keinginganmu hanya kepada Allah.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Hadits-hadits dan atsar anjuran tentang shalat khusyu’&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;عَنْ أَنسٍ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ قَالَ قَالَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى الله عَلَيْْهِ وَسَلَّمَ ” َاْذُكُرِ الْمَوْتَ فِى صَلاَتِكَ فَإِنَّ الرَّجُلَ إِذَا ذَكَرَ الْمَوْتَ فِى صَلاَتِهِ لَحَرِيٌّ أَنْ يُحْسِنَ صَلاَتَهُ وَصَلَّى صَلاَةَ رَجُلٍ لاَ يَظُنُّ أَنَّهُ يُصَلِّى صَلاَةً غَيْرَهَا وَإِيَّاكَ وَكُلُّ أَمْرٍ يُعْتَذَرُ مِنْهُ ” رواه الديلمي فى مسند الفردوس وحسنه الحافظ ابن حجر و تابعه الألباني&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Anas ra berkata, Rasulullah saw bersabda, “Ingatlah akan kematian dalam shalatmu karena jika seseorang mengingat kematian dalam shalatnya tentu lebih mungkin bisa memperbagus shalatnya dan shalatlah sebagaimana shalatnya seseorang yang mengira bahwa bisa shalat selain shalat itu. Hati-hatilah kamu dari apa yang membutmu meminta ampunan darinya.” (Diriwayatkan Ad-Dailami di Musnad Firdaus, Al-Hafidz Ibnu Hajar menilainya hasan lalu diikuti Albani.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;عَنْ أَبِي أَيُّوبَ الْأَنْصَارِيِّ قَالَ جَاءَ رَجُلٌ إِلَى النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَالَ عِظْنِي وَأَوْجِزْ فَقَالَ إِذَا قُمْتَ فِي صَلَاتِكَ فَصَلِّ صَلَاةَ مُوَدِّعٍ وَلَا تَكَلَّمْ بِكَلَامٍ تَعْتَذِرُ مِنْهُ غَدًا وَاجْمَعْ الْإِيَاسَ مِمَّا فِي يَدَيْ النَّاسِ رواه أحمد وحسنه الألباني&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Abu Ayyub Al-Anshari ra berkata, seseorang datang kepada Nabi saw. lalu berkata, “Nasihati aku dengan singkat.” Beliau bersabda, “Jika kamu hendak melaksanakan shalat, shalatnya seperti shalat terakhir dan janganlah mengatakan sesuatu yang membuatmu minta dimaafkan karenanya dan berputus asalah terhadap apa yang ada di angan manusia.” (Diriwayatkan Ahmad dan dinilai hasan oleh Albani).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;عَنْ مُطَرِّفٍ عَنْ أَبِيهِ قَالَ رَأَيْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يُصَلِّي وَفِي صَدْرِهِ أَزِيزٌ كَأَزِيزِ الرَّحَى مِنْ الْبُكَاءِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ رواه أبو داود و الترمذي&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari Mutharif dari ayahnya berkata, “Aku melihat Rasulullah saw shalat dan di dadanya ada suara gemuruh bagai gemuruhnya penggilingan akibat tangisan.” (Diriwayatkan Abu Dawud dan Tirmidzi).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;عَنْ عُقْبَةَ بْنَ عَامِرٍ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ عَنِ النَّبِيِّ قَالَ “مَا مِنْ مُسْلِمٍ يَتَوَضَّأ فَيُسْبِغُ الْوُضُوْءَ ثُمَّ يَقُوْمُ فِى صَلاَتِهِ فَيَعْلَمُ مَا يَقُوْلُ إِلاَّ انْتَفَلَ وَهُوَ كَيَوْمِ وَلَدَتْهُ أُمُّهُ رواه الحاكم وصححه الألباني&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Utbah bin Amir meriyatkan dari Nabi yang bersabda, “Tidaklah seorang muslim berwudhu dan menyempurnakan wudhunya lalua melaksakan shalat dan mengetahuai apa yang dibacanya (dalam shalat) kecuali ia terbebas (dari dosa) seperti di hari ia dilahirkan ibunya.” (Diriwayatkan Al-Hakim dan dinilai shahih oleh Albani).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Khusyu’nya para Salafus Shalih&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Abu Bakar&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Imam Ahmad meriwatkan dari Mujahid bahwa Abdullah bin Zubair ketika shalat, seolah-olah ia sebatang kayu karena kyusyu’nya. Abu Bakar juga demikian.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Umar bin Khathab&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Juga diriwayatkan ketika Umar melewati satu ayat (dalam shalat). Ia seolah tercekik oleh ayat itu dan diam di rumah hingga beberapa hari. Orang-orang menjenguknya karenanya mengiranya sedang sakit.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Utsman bin Affan&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Muhammad bin Sirin meriwayatkan, istri Utsman berkata bahwa ketika Utsman terbunuh, malam itu ia menghidupkan seluruh malamnya dengan Al-Qur’an.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Ali bin Abi Thalib&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan adalah Ali bin Abi Thalib, ketika waktu shalat tiba ia begitu terguncang dan wajahnya pucat. Ada yang bertanya, “Ada apa dengan dirimu wahai Amirul Mukminin?” ia menjawab, “Karena waktu amanah telah datang. Amanah yang disampaikan kepada langit, bumi, dan gunung, lalu mereka sanggup memikulnya dan aku sanggup.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Zainal Abidin bin Ali bin Husain&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Diriwayatkan pula ketika Zainal Abidin bin Ali bin Husain berwudhu, wajahnya berubah dan menjadi pucat. Dan ketika shalat, ia menjadi ketakutan. Ketika ditanya tentang hal itu ia menjawab, “Tahukan anda di hadapan siapa anda berdiri?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Hatim Al-Asham&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seseorang melihat Hatim Al-Asham berdiri memberi nasihat kepada orang lain. Orang itu berkata, “Hatim, aku melihatmu memberi nasihat orang lain. Apakah kamu bisa shalat dengan baik?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ya.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Bagaimana kamu shalat?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Aku berdiri karena perintah Allah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku berjalan dengan tenang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku masuk masjid dengan penuh wibawa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku bertakbir dengan mangagungkan Allah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku membaca ayat dengan tartil.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku duduk tasyahud dengan sempurna.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku mengucapkan salam karena sunnah dan memasrahkan shalatku kepada Rabbku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kemudian aku memelihara shalat di hari-hari sepanjang hidupku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku kembali sambil mencaci diriku sendiri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku takut kiranya shalatku tidak diterima.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku berharap kiranya shalatku diterima.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jadi, aku berada di antara harap dan takut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku berterima kasih kepada orang yang mengajarkanku dan mengajarkan kepada orang yang bertanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan aku memuji Tuhanku yang memberi hidayah kepadaku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Muhammad bin Yusuf berkata,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Orang seperti kamu ini berhak untuk memberi nasihat.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Kecaman Bagi yang Meninggalkan Kekhusyukan&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sifat seorang mukmin adalah khusyu’ dalam shalat, sementara orang yang lalai dan tidak bisa khusyu’ dalam shalatnya seperti sifat orang-orang munafik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Allah berfirman,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Sesungguhnya orang-orang munafik itu menipu Allah, padahal Allah yang (membalas) menipu mereka. Apabila hendak shalat, mereka melaksanakannya dengan malas dan ingin dilihat manusia serta tidak berzikir kepada Allah kecuali sedikit sekali. Mereka dalam keadaan ragu-ragu antara yang demikian (iman atau kafir): tidak masuk kepada golongan Ini (orang-orang beriman) dan tidak (pula) kepada golongan itu (orang-orang kafir), Maka kamu sekali-kali tidak akan mendapat jalan (untuk memberi petunjuk) baginya.” (An-Nisa’ : 142-143).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Inilah sifat orang-orang munafik dalam amal yang sangat mulia, shalat. Ini disebabkan pada diri mereka tidak ada niat, rasa takut, dan keimanan kepada Allah. Sifat lahiriyah mereka adalah malas dan sifat batiniyah lebih buruk lagi, agar dilihat oleh orang lain.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seperti firman Allah yang lain,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Dan tidak ada yang menghalangi mereka untuk diterima dari mereka nafkah-nafkahnya melainkan Karena mereka kafir kepada Allah dan Rasul-Nya dan mereka tidak mengerjakan sembahyang, melainkan dengan malas dan tidak (pula) menafkahkan (harta) mereka, melainkan dengan rasa enggan.” (At-Taubah: 54).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam kondisi apapun mereka tidak melakukan shalat selain bermalas-malasan. Karena tidak ada pahala yang mereka harapkan dan tidak ada yang mereka takutkan. Maka dengan shalat itu mereka hanya ingin menampakkan sebagai orang Islam dan demi kepentingan dunia semata.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rasulullah pernah mengingatkan orang yang nampak tidak khusyu’ dalam shalatnya bahkan menyusuh orang itu untuk mengulanginya. Abu Hurairah meriwatkan,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ دَخَلَ الْمَسْجِدَ فَدَخَلَ رَجُلٌ فَصَلَّى ثُمَّ جَاءَ فَسَلَّمَ عَلَى النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَرَدَّ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَلَيْهِ السَّلَامَ فَقَالَ ارْجِعْ فَصَلِّ فَإِنَّكَ لَمْ تُصَلِّ فَصَلَّى ثُمَّ جَاءَ فَسَلَّمَ عَلَى النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَالَ ارْجِعْ فَصَلِّ فَإِنَّكَ لَمْ تُصَلِّ ثَلَاثًا فَقَالَ وَالَّذِي بَعَثَكَ بِالْحَقِّ فَمَا أُحْسِنُ غَيْرَهُ فَعَلِّمْنِي قَالَ إِذَا قُمْتَ إِلَى الصَّلَاةِ فَكَبِّرْ ثُمَّ اقْرَأْ مَا تَيَسَّرَ مَعَكَ مِنْ الْقُرْآنِ ثُمَّ ارْكَعْ حَتَّى تَطْمَئِنَّ رَاكِعًا ثُمَّ ارْفَعْ حَتَّى تَعْتَدِلَ قَائِمًا ثُمَّ اسْجُدْ حَتَّى تَطْمَئِنَّ سَاجِدًا ثُمَّ ارْفَعْ حَتَّى تَطْمَئِنَّ جَالِسًا ثُمَّ اسْجُدْ حَتَّى تَطْمَئِنَّ سَاجِدًا ثُمَّ افْعَلْ ذَلِكَ فِي صَلَاتِكَ كُلِّهَا&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bahwa Nabi masuk masjid kemudian masuk pula seseorang ke dalam masjid lalu ia shalat dan mengucapkan salam kepada beliau. Nabi saw menjawab salamnya dan bersabda, “Kembalilah dan shalatlah lagi, sebab kamu belu shalat.” Serta merta orang itu pun shalat lalu mengucapkan salam kepada Nabi saw dan beliau besabda, “Kembalilah dan shalatlah lagi, sebab kamu belu shalat,” tiga kali. Orang itu berkata, “Demi Dzat yang mengutusmu dengan kebenaran, aku tidak bisa lebih baik dari itu, maka ajarilah aku.” Beliau bersabda, “Apabila kamu hendak shalat beratkbirlah lalu bacalah apa yang mudah bagimu dari Al-Qur’an (Al-Fatihah). Lalu ruku’lah sampai kamu benar-benar tenang dalam ruku’, kemudian angkatlah sampai tegak berdiri, lalu sujudlah sampai tenang dalam sujud, kemudian bangunlah sampai kamu tenang dalam duduk, kemudian sujudlah sampai kamu tenang dalam sujud. Lakukan hal itu dalam semua shalatmu.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Abu Darda’ meriwatkan dari Nabi saw. yang bersabda,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;أَوَّلُ شَيْئٍ يُرْفَعُ مِنْ هَذِهِ الأُمَّةِ الْخُشُوْعُ حَتَّى لاَ تَرَى فِيْهَا خَاشِعًا&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Hal pertama yang diangkat dari ummat ini adalah khusyu’sampai-sampai kamu tidak menemukan seorang pun yang khusyu’.” (Thabrani dengan sanad baik dan dinilai shahih oleh Albani).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Thalq bin Ali Al-Hanafi ra berkata, Rasulullah saw bersabda,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;لاَ يَنْظُرُ اللهُ صَلاَة َعَبْدٍ لاَ يُقيْمُ فِيْهَا صُْلْبَهُ بَيْنَ ركُوْعِهَا وَ  سُجُوْدِهَا&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Allah tidak akan melihat shalat seseorang hamba yang tidak tegak tulang sulbinya antara tuku’ dan sujudnya.” (Diriwayatkan Thabrani dan dishahihkan Albani).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;عَنْ أَبِي عَبْدِ اللهِ الأَشْعَرِي أَنَّ رَسُوْلَ الله صَلَّى الله ِعَلَيْهِ وَ سَلَّمَ رَأى رَجُلاً لاَ يُتِمُّ رُكُوْعَهُ وَينْقِرُ فِى سُجُوْدِهِ وَهُوَ يُصَلِّي فَقَالَ رَسُوْلُ اللهِ  صَلَّى الله عَلَيْهِ وَ سَلَّمَ : “لَوْ مَاتَ هَذَا عَلَى حَالِهِ  هَذِهِ مَاتَ عَلَى غَيْرِ  مِلَّةِ مُحَمَّدٍ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَ سَلَّمَ” مَثَلُ الَّذِي لاَ يُتِمُّ رُكُوْعَهُ وَ  يَنْقِرُ فِى سُجُوْدِهِ مَثلُ الْجَاِئع ، يَأكُلُ التَّمْرَ ةَ أَوِ التَّمْرَتَيْنِ لاَ يُغْنِيَانِ عَنْهُ شَيْئًا”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Abu Abdullah Al-Asy’ari meriwayatkan bahwa Rasulullah saw. melihat seseorang yang tidak menyempurnakan ruku’nya dan mematok dalam sujudnya dalam shalatnya. Rasulullah saw bersabda, “Kalau orang ini mati dalam keadaan seperti ini tentu ia mati di luar agama Muhammad saw.” Lalu beliau bersabda lagi, “Perumpamaan orang yang tidak menyempurnakan ruku’nya dan mematok dalam sujudnya bagai orang lapar lalu ia makan satu atau dua biji kurma namun tidak merasa kenyang sedikit pun.” (Diriwayatkan Thabrani di Al-Kabir, Abu Ya’la, dan Khuzaimah. Albani menilainya hasan).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Atsar tentang ancaman bagi mereka yang mengabaikan khusyu’ dalam shalat.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Umar bin Khatthab&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Umar bin Khatthab ra pernah melihat seseorang yang mengangguk-anggukkan kepalanya dalam shalat lalu ia berkata, “Hai pemilik leher. Angkatlah lehermu! Khusyu; itu tidak berada di leher namun berada di hati.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Ibnu Abbas&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Kamu tidak mendapatkan apa-apa dari shalatmu selain apa yang kamu mengerti  darinya.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Dua rakaat sederhana yang penuh penghayatan lebih baik daripada qiyamul-lail namun hatinya lalai.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Salman&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Shalat adalah takaran. Barangsiapa memenuhi takaran itu akan dipenuhi (pahalanya) dan barangsiapa curang ia akan kehilangan (pahalanya). Kalian telah tahu apa yang Allah katakan tentang orang-orang yang curang terhadap takaran.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Hudzaifah&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Hati-hatilah kalian terhadap kekhusyu’an munafik.” Ada yang bertanya, “Apa yang dimaksud dengan kekhusyu’an munafik itu?” Ia menjawab, “Yaitu orang yang kamu lihat jasadnya khusyu’ namun hatinya tidak khusyu’.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Said bin Musayyib&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ia melihat seseorang yang main-main dalam shalatnya lalu berkata, “Kalau hati orang ini khusyu’ tentu raganya juga khusyu’.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Ibul Qayyim&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lima tingkatan manusia dalam shalat:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Pertama:&lt;/span&gt; Tingkatan orang yang mendzalimi dan sia-sia. Orang yang selalu kurang dalam hal wudhu’nya, waktu-waktu shalatnya, batasan-batasannya, dan rukun-rukunnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Kedua:&lt;/span&gt; Orang yang memelihara waktu-waktunya, batasan-batasannya, rukun-rukun lahiriyahnya, dan wudhu’nya. Akan tetapi ia tidak bermujahadah terhadap bisikan-bisikan di saat shalat akhirnya ia larut dalam bisikan itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Ketiga: &lt;/span&gt;Orang yang memelihara waktu-waktunya, batasan-batasannya, rukun-rukun lahiriyahnya, dan wudhu’nya. Ia juga bermujahadah melawan bisikan-bisikan dalam shalatnya agar tidak kecolongan dengan shalatnya. Maka ia senantiasa dalam shalat dan dalam jihad.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Keempat:&lt;/span&gt; Orang yang ketika melaksanakan shalat ia tunaikan hak-haknya, rukun-rukunnya, dan batasan-batasannya. Haitnya tenggelam dalam upaya memelihara batasan-batasannya dan rukun-rukunnya agar tidak ada yang menyia-nyiakannya sedikitpun. Seluruh perhatiannya terpusat kepada upaya memenuhi sebagaimana mestinya, secara sempurna dan utuh. Hatinya benar-benar larut dalam urusan shalat dan penyembahann kepada Tuhannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Kelima: &lt;/span&gt;Orang yang menunaikan shalat seperti di atas (keempat) di samping itu ia telah meletakkan hatinya di haribaan Tuhannya. Dengan hatinya ia melihat Tuhannya, merasa diawasi-Nya, penuh dengan cinta dan mengagungkan-Nya. Seoalah-olah ia melihat da menyaksikan-Nya secara kasat mata. Seluruh bisikan itu menjadi kecil dan tidak berarti da ada hijad yang begitu tinggi antaranya dengan Tuhannya dalam shalatnya. Hijab yang lebih kuat daripada hijab antara langit dan bumi. Maka dalam shalatnya ia sibuk bersama Tuhannya yang telah menjadi penyejuk matanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tingkatan pertama Mu’aqab (disiksa karena kelalaiannya), yang kedua Muhasab (dihisab), yang ketiga Mukaffar ‘Anhu (dihaspus kesalahannya), yang ketiga Mutsab (mendapatkan pahala), dan yang kelima Muqarrab min Rabbihi (yang didekatkan kepada Tuhannya) karena ia mendapatkan bagian dalam hal dijadikannya shalat sebagai penyejuk mata. Barangsiapa yang dijadikan kesenangannya pada shalatnya di dunia ia akan didekatkan kepada Tuhannya di akhirat dan di dunia ia diberi kesenangan. Lalu barangsiapa yang kesenangannya ada pada Allah dijadikan semua orang senang kepadanya dan barangsiapa yang kesenangannya bukan pada Allah ia akan mendapatkan kegelisahan di dunia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Contoh Kekhusyu’an Salafus Shalih&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mujahid berkata, “Jika Ibnu Zubair shalat, ia seperti kayu.” Tsabit Al-Banani juga berkata, “Aku pernah melihat Ibnu Zubair sedang shalat di belakang Maqam, ia seperti kayu yang disandarkan, tidak bergerak sama sekali.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ma’mar, muazzinnya Salman At-Tamimi berkata, “Salman shalat Isya’ di sampingku lalu aku mendengarnya membaca Tabaraka al-ladzi bi yadihi al-Mulku, ketika sampai pada ayat ini, fa lamma raawhu zulfatan siiat wajuhul ladzina kafaru… Ia mengulang-ulang ayat tersebut samapai orang-orang yang berada di masjid ketakutan dan mereka pun bubar. Aku juga keluar meninggalkannya.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Kiat-kiat Khusyu’ dalam Shalat&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;A. Mempersiapkan kondisi batin&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1. Menghadirkan hati dalam shalat sejak mulai hingga akhir shalat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2. Berusaha tafahhum (memahami) dan tadabbur (menghayati) ayat dan do’a yang dibacanya sehingga timbul respon positif secara langsung.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ayat yang mengandung perintah: bertekad untuk melaksanakan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ayat yang mengandung larangan: bertekad untuk menjauhi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ayat yang mengandung ancaman: muncul rasa tajut dan berlindung kepada Allah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ayat yang mengandung kabar gembira: muncul harapan dan memohon kepada Allah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ayat yang mengandung pertanyaan: memberi jawaban yang tepat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ayat yang mengandung nasihat: mengambil pelajaran.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ayat yang menjelaskan nikmat: bersyukur dan bertahmid&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ayat yang menjelaskan peristiwa bersejarah: mengambil ibrah dan pelajarannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3. Selalu mengingat Allah dan betapa sedikitnya kadar syukur kita.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;4. Merasakan haibah (keagungan) Allah ketika berada di hadapan-Nya, terutama saat sujud. Rasulullah bersabda,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ أَقْرَبُ مَا يَكُونُ الْعَبْدُ مِنْ رَبِّهِ وَهُوَ سَاجِدٌ فَأَكْثِرُوا الدُّعَاءَ&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari Abu Huirairah bahwa Rasulullah saw bersabda, “Sedekat-dekat seorang hamba dengan Tuhannya adalah ketika ia bersujud, maka perbanyaklah doa.” (Riwayat Muslim)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;5. Menggabungkan rasa raja’ (harap) dan khauf (takut) dalam kehidupan sehari-hari.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;6. Merasakan haya’ (malu) kepada Allah dengan sebenar-benar haya’.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rasulullah bersabda,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;الْحَيَاءُ لَا يَأْتِي إِلَّا بِخَيْرٍ&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Rasa malu tidak akan mendatangkan selain kebaikan” (Muttafaq ‘alaih).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan para ulama berkata, “Hakikat haya’ adalah satu akhlak yang bangkit untuk meninggalkan tindakan yang buruk dan mencegah munculnya taqshir (penyia-nyiaan) hak orang lain dan hak Allah.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;B. Mempersiapkan kondisi lahiriyah:&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1. Menjauhi yang haram dan maksiat lalu banyak bertaubah kepada Allah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2. Memperhatikan dan menunggu waktu-waktu shalat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rasulullah saw. bersabda,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;لَا يَزَالُ الْعَبْدُ فِي صَلَاةٍ مَا كَانَ فِي الْمَسْجِدِ يَنْتَظِرُ الصَّلَاةَ مَا لَمْ يُحْدِثْ&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Seorang hamba senantiasa dalam keadaan shalat selama ia berada di dalam masjid menunggu (waktu) shalat selama tidak batal.” (Bukhari Muslim).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3. Berwudlu’ sebelum datangnya waktu shalat. Sebagaimana sabda Rasulullah saw.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;مَنْ تَوَضَّأَ فَأَحْسَنَ وُضُوءَهُ ثُمَّ خَرَجَ عَامِدًا إِلَى الصَّلَاةِ فَإِنَّهُ فِي صَلَاةٍ مَا دَامَ يَعْمِدُ إِلَى الصَّلَاةِ وَإِنَّهُ يُكْتَبُ لَهُ بِإِحْدَى خُطْوَتَيْهِ حَسَنَةٌ وَيُمْحَى عَنْهُ بِالْأُخْرَى سَيِّئَةٌ فَإِذَا سَمِعَ أَحَدُكُمْ الْإِقَامَةَ فَلَا يَسْعَ فَإِنَّ أَعْظَمَكُمْ أَجْرًا أَبْعَدُكُمْ دَارًا قَالُوا لِمَ يَا أَبَا هُرَيْرَةَ قَالَ مِنْ أَجْلِ كَثْرَةِ الْخُطَا&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Barangsiapa berwudhu dengan baik kemudian keluar untuk tujuan shalat. Maka orang  itu berada dalam shalat selama ia bertujuan menuju shalat. Setiap satu langkahnya ditulis kebaikan dan langkah lainnya dihapus kesalahan.” (Riwayat Imam Malik).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;4. Berjalan ke masjid dengan tenang sambil membaca do’a dan dzikirnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;إِذَا أَتَيْتُمُ الصَّلاَةَ فَعَلَيْكُمْ بِالسَّكِينَةِ وَلاَ تَأْتُوْهَا وَأنْتُمْ تَسْعَوْنَ فَمَا أدْرَكْتُمْ فَصَلُّوْا وَمَا فَاتَكُمْ فَأَتِمُّوْا&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Jika kalian berangkat shalat hendaklah dengan tenang janganlah kalian berangkat shalat tergesa-gesa, jika kalian mendapatinya shalatlah dan jika ketinggalan maka sempurnakan.” (Bukhari, Muslim, dan Ahmad).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;5. Menempatkan diri pada shaf depan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;6. Melakukan shalat sunnah sebelum shalat wajib sebagai pemanasan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;7. Shalat dengan menjaga sunnahnya dan menghindari makruhnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Allahu a’lam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Source: Dakwatuna.com&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2341110395006740809-4734762569700386739?l=bertahajudlah.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://bertahajudlah.blogspot.com/feeds/4734762569700386739/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://bertahajudlah.blogspot.com/2010/02/shalat-khusyu.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2341110395006740809/posts/default/4734762569700386739'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2341110395006740809/posts/default/4734762569700386739'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://bertahajudlah.blogspot.com/2010/02/shalat-khusyu.html' title='Shalat Khusyu’'/><author><name>Abu Rasya</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='25' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_Vu2uwPa37To/SwJVf4XAdFI/AAAAAAAAAEk/lhZhkq-B4QA/S220/Fatih-Sultan-Muhammad.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2341110395006740809.post-4007582171729527454</id><published>2010-02-12T10:13:00.000+07:00</published><updated>2010-02-12T10:14:54.700+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='pemuda'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='masjid'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='wangi'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='jumat'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='jum&apos;at'/><title type='text'>PEMUDA DAN HARI JUM'AT</title><content type='html'>Di antara hal yang sangat memprihatinkan yaitu adanya sebuah kenyataan yang kita saksikan dari segolongan pemuda yang tidak memiliki kepedulian terhadap waktu, khususnya waktu-waktu yang utama. Padahal mereka mengetahui dengan baik bahwasanya hidup itu pendek meskipun panjang. Kesenangan itu akan sirna meskipun abadi. Sehat akan digantikan oleh sakit, dan masa muda akan digantikan masa tua. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di antara waktu-waktu utama yang sering diremehkan oleh sebagian pemuda adalah hari Jum'at yang Allah subhanahu wata’ala telah menunjukkan umat Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam kepadanya dan membiarkan umat-umat terdahulu tanpa petunjuk untuk menggapainya. Berikut ini beberapa ide terpilih yang dapat ditawarkan kepada para pemuda atau remaja untuk mengisi hari Jum'at: &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1). Hendaknya seorang pemuda menghindarkan dirinya dari begadang sampai larut malam. Karena begadang akan menghalangi dari bergegas menuju masjid untuk menunaikan shalat Jum'at dengan segera. Ibnu Mas'ud radhiyallahu ‘anhu berkata, "Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam mencela kami karena begadang setelah Isya". (HR. Ahmad dan dishahihkan oleh Syaikh al-Albani). &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2). Berdiam diri di Masjid setelah menunaikan shalat Fajar untuk berdzikir dan membaca al-Qur'an. &lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;3). Beristirahat sebentar kemudian menyantap sarapan pagi, mandi, bersiwak, mencukur kumis dan memakai pakaian yang bagus/paling bersih dan memakai minyak wangi. Dari Salman Al-Farisi radhiyallahu ‘anhu dia berkata, "Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam telah bersabda, "Tidaklah seseorang mandi pada hari Jum'at, lalu menyucikan diri semampunya, memakai minyak rambut atau mengoleskan minyak wangi yang ada di rumahnya, kemudian ia pergi keluar rumahnya menuju masjid, dan tidak memisahkan antara dua orang (yang datang lebih awal) untuk selanjutnya ia mengerjakan shalat sebagaimana yang ditentukan kepadanya lalu memperhatikan khutbah pada saat khatib sedang berkhutbah, melainkan diampuni dosa-dosa yang dilakukan hari itu dan Jum'at yang lain". (HR. al-Bukhari). &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Telah berkata Muhammad ibn Ibrahim At-Taimi rahimahullah, "Barangsiapa memotong kukunya pada hari Jum'at, memotong kumisnya, dan menghiasi diri dengan sunnah, maka ia telah menyempurnakan Jum'at." (Abdur Razzaq di dalam karangannya). Ibnu Umar radhiyallahu ‘anhu tidaklah berangkat menuju shalat Jum'at, melainkan ia memakai minyak rambut dan minyak wangi. Berkata Abu Sa'id al-Khudry radhiyallahu ‘anhu, "Tiga perkara yang menjadi kewajian seorang muslim pada hari Jum'at: Mandi, bersiwak, dan memakai minyak wangi jika ia mendapatkannya." &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;4). Bersegera menghadiri shalat Jum'at dengan berjalan kaki, tidak menaiki kendaraan untuk meraih pahala yang besar dalam kesegeraannya. Sebagaimana disebutkan dalam shahihain dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu bahwasanya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam telah bersabda, "Barangsiapa mandi pada hari Jum'at seperti mandi junub, lalu dia berangkat (menuju masjid), maka seakan-akan dia berkurban unta. Barangsiapa berangkat pada saat ke dua, maka seakan-akan dia berkurban sapi. Barangsiapa berangkat pada saat ke tiga, maka seakan-akan dia berkurban kambing. Barangsiapa berangkat pada saat yang ke empat, maka seakan-akan ia berkurban ayam. Barangsiapa berangkat pada saat yang ke lima, maka seakan-akan dia berkurban telor. Sedangkan jika imam telah datang, maka para malaikat berdatangan untuk mendengarkan peringatan (nasihat) ". &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ats-Tsaqofi radhiyallahu ‘anhu berkata, "Saya mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, "Barangsiapa mandi hari Jum'at dan membersihkan diri, lalu bersegera dan bergegas, berjalan kaki dan tidak menaiki kendaraan, mendekati posisi imam kemudian mendengarkan dan tidak berbuat sia-sia, maka baginya setiap langkah amalan satu tahun, termasuk pahala puasa dan qiyamullail yang ada pada tahun itu." (HR. Ahmad). &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sedangkan petunjuk para sahabat Radhiyallahu 'Anhum, maka Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu berkata, "Kami bersegera menuju Jum'at dan beristirahat setelah Jum'at.” (HR. al-Bukhari). &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;5). Hendaknya seorang pemuda memanfaatkan waktu duduknya di Masjid dengan amalan ibadah yang cocok dengan hati dan kondisinya. Adakalanya dengan memperbanyak shalat. Disebutkan dalam shahih Muslim dari hadits Rabi'ah bin Ka'ab al-Aslamy radhiyallahu ‘anhu dia berkata, "Saya bermalam bersama Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, maka saya membawakan air wudhu dan kebutuhannya. Maka beliau berkata kepadaku, "Mintalah". Maka saya berkata, "Saya meminta agar bisa menemanimu di Surga". Beliau berkata, "Ada yang lain selain itu". Maka aku berkata, "Cukup itu saja". Beliau berkata, "Bantulah aku agar bisa membantumu dengan memperbanyak sujud". &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Harapan kita semua adalah tinggal bersama Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam di surga. Harapan ini (tinggal bersama Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam di surga) tidak akan terealisasi setelah rahmat dari Allah subhanahu wata’ala, kecuali dengan mengerjakan sebab-sebabnya. Dan di antara sebab-sebab tersebut adalah memperbanyak shalat. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nafi' berkata, "Ibnu Umar radhiyallahu ‘anhu senantiasa shalat pada hari Jum'at. Maka ketika mendekati waktu keluarnya imam, ia duduk sebelum keluarnya imam.” (Abdurrozzak 3/210). &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan di antara sebab-sebab yang lainnya yaitu membaca surat Al-Kahfi. Terdapat banyak nash yang menjelaskan keutamaan membacanya. Di antaranya adalah hadits yang diriwayatkan oleh Ad-Darimi dalam sunannya dari Abu Said Al-Khudry radhiyallahu ‘anhu dia bekata, "Barangsiapa membaca surat Al-Kahfi pada malam Jum'at, maka dia akan diterangi oleh cahaya dalam jarak antara dia dengan Baitul 'Atiq". (Sanadnya memiliki hukum marfu' sebagaimana yang dikatakan oleh Syaikh al-Albani). &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kemudian selayaknya ia berusaha menghafal ayat-ayat al-Qur'an yang mulia agar hati dan dadanya terisi oleh ayat-ayat al-Qur'an. Karena sebaik-baik yang mengisi hati adalah Kitabullah. Imam At-Tirmidzi telah meriwayatkan sebuah hadits dari Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhu dia berkata, "Sesungguhnya seseorang yang di dalam rongga dadanya tidak ada sesuatu dari al-Qur'an seperti rumah yang runtuh". (Berkata At-Tirmidzi: Hadits ini hasan shahih). &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;6). Jika khatib telah masuk untuk menyampaikan khutbah dan menunaikan shalat, hendaknya ia diam untuk mendengarkan khutbah yang disampaikannya agar dapat mengambil faidah dari khutbah tersebut. hendaknya ia berkonsentrasi mendengarkan khutbah, seolah-olah nanti ia akan ditanya tentang materi khutbah atau ia diminta untuk berbicara tentang materi yang disampaikan Khotib. Maka dengan cara ini akal dan pikirannya akan terpusat lebih banyak pada pembicaraan sang Khotib. Cobalah cara ini, engkau akan mendapatkan kebenaran dari apa yang aku ucapkan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;7). Seusai shalat Jum'at tunaikanlah shalat sunnah Jumat. Jika di masjid shalatlah empat rakaat. Sebagaimana yang telah diriwayatkan At-Tirmidzi dari hadits Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu dia berkata, "Bersabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, "Barangsiapa di antara kalian shalat setelah Jum'at, maka shalatlah empat raka’at setelahnya". Dan jika engkau lakukan di rumah maka shalatlah dua raka'at. Sebagaimana telah ditetapkan dalam shahihain, bahwasanya Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam shalat dua raka’at setelah Jum'at di rumahnya. Setelah itu santaplah makananmu dan beristirahatlah. Sebagaimana yang telah diriwayatkan Imam al-Bukhari dari hadits Sahl bin Sa'd radhiyallahu ‘anhu dia berkata, "Kami tidak beristirahat dan makan siang, kecuali setelah shalat Jum'at." &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;8). Setelah Ashar mungkin kamu bisa mengisinya dengan mengunjungi kerabat atau menengok orang sakit atau bisa juga dengan mengulangi pelajaran-pelajaranmu. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;9). Mendekti waktu Maghrib selayaknya seorang pemuda berjalan menuju masjid untuk berdoa dan memanfaatkan waktu yang mustajab. Sebagaimana yang terdapat dalam shahihain dari hadits Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu bahwasanya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam menyebut hari Jum'at, lalu dia berkata, "Di dalamnya terdapat satu waktu yang tidaklah seorang hamba muslim yang berdiri berdoa memohon kebaikan kepada Allah bertepatan dengan waktu tersebut, melainkan Dia akan memberikan kepadanya.” Dan beliau mengisyaratkan (pendeknya waktu tersebut) dengan tangannya." &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Para ulama berbeda pendapat dalam menentukan waktu ini dengan pendapat-pendapat yang banyak. Tetapi sepertinya pendapat yang pa ling kuat adalah akhir waktu Ashar. Maka selayaknya seorang pemuda muslim yang mengetahui kefakiran dan kebutuhannya kepada Rabb-nya menggunakan kesempatan ini dengan memohon hidayah dan keteguhan di atas agamanya untuk dirinya sendiri dan berdoa untuk saudara-saudaranya kaum muslimin di negara-negara bagian timur bumi dan bagian baratnya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;10). Setelah shalat Maghrib, hendaknya ia membaca wirid sore hari kemudian mengerjakan shalat sunnah Maghrib. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;11). Setelah Maghrib ia bisa berkumpul bersama keluarganya untuk bercengkrama dengan mereka dan memberi manfaat dengan sesuatu yang bermanfaat bagi mereka atau bisa juga memanfaatkan waktu itu untuk mengulangi pelajarannya sehari-hari. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seorang pemuda hendaknya mengingat bahwasanya pengulangan pelajaran yang ia lakukan adalah dalam rangka meraih ilmu. Dan menuntut ilmu merupakan ibadah yang sangat agung yang seorang hamba memperoleh pahala jika melaksanakannya. Hadits riwayat At-Tirmidzi, Ad-Darimi dan Abu Daud, menyebutkan bahwa seseorang datang kepada Abu Darda’ radhiyallahu ‘anhu saat itu ia sedang berada di Damaskus, lalu ia bertanya, "Wahai Abu Darda! Sesunggunya aku mendatangimu dari kota Madinah Rasul untuk mengklarifikasi sebuah hadits yang engkau riwayatkan dari Rasulullahshallallahu ‘alaihi wasallam". Abu Darda’ radhiyallahu ‘anhu berkata, "Apa yang menyebabkan anda datang ke sini, apakah karena suatu perniagaan? Ia menjawab,” Tidak". Ia bertanya lagi, "Apakah tidak ada hal lain yang anda cari? Orang itu menjawab, "Tidak". Maka Abu Darda radhiyallahu ‘anhu berkata, "Saya mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, "Barangsiapa berjalan (keluar) untuk mencari ilmu maka Allah akan memudahkan baginya jalan ke surga, dan malaikat akan meletakkan sayapnya sebagai keridloan terhadap penuntut ilmu. Sesungguhnya para penghuni langit dan bumi sampai makhluk yang ada di laut akan memohonkan ampunan baginya dan keutamaan seorang penutut ilmu daripada seorang yang beribadah adalah seperti keutamaan bulan dari bintang-bintang yang lainnya. Para ulama adalah pewaris nabi-nabi dan sesunggunya nabi-nabi itu tidak mewariskan dinar maupun dirham tetapi mereka mewariskan ilmu, maka barangsiapa mengambilnya (ilmu) sesungguhnya ia telah mengambil keuntungan yang besar" &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;12). Setelah menunaikan shalat Isya dan menyantap makan malam, jika kamu ingin membaca kitab ilmu yang cocok bagimu, maka ini adalah sebuah kebaikan. Jika engkau malas/enggan melakukan yang demikian itu maka shalat witirlah sebelum engkau tidur untuk mengakhiri harimu dengan sesuatu yang diridhoi Allah subhanahu wata’ala. Jangan lupa dzikir-dzikir menjelang tidur dan etika-etikanya. Semoga Allah subhanahu wata’ala menjaga dan memeliharamu. Shalawat dan salam semoga tercurah pada nabi kita Muhammad shallallahu 'alaihi wasallam, keluarga dan sahabat-sahabatnya. (Zainal Abidin) &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Maraji': "Kai Yastafiidusy Syaab Min Yaumil Jumu'ah, Syaikh Muhammad Abdullah Al-Habdan" &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;alsofwah.or.id&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2341110395006740809-4007582171729527454?l=bertahajudlah.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://bertahajudlah.blogspot.com/feeds/4007582171729527454/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://bertahajudlah.blogspot.com/2010/02/pemuda-dan-hari-jumat.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2341110395006740809/posts/default/4007582171729527454'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2341110395006740809/posts/default/4007582171729527454'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://bertahajudlah.blogspot.com/2010/02/pemuda-dan-hari-jumat.html' title='PEMUDA DAN HARI JUM&apos;AT'/><author><name>Abu Rasya</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='25' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_Vu2uwPa37To/SwJVf4XAdFI/AAAAAAAAAEk/lhZhkq-B4QA/S220/Fatih-Sultan-Muhammad.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2341110395006740809.post-6244188910732945488</id><published>2010-02-11T10:02:00.003+07:00</published><updated>2010-02-11T10:41:52.708+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='rapat'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='shaf'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='berjamaah'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='sholat'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='lurus'/><title type='text'>Luruskan Dan Rapatkan Shaf</title><content type='html'>Shalat berjamaah merupakan amal yang sangat dianjurkan oleh Rasulullah Shallallaahu alaihi wa Sallam . Sebagaimana sabdanya, “Shalat berjamaah lebih afdhal dari shalat sendirian dua puluh derajat”. Ketika shalat berjamaah, meluruskan dan merapatkan shaf (barisan) sangat diperintahkan, sebagaimana di dalam sabda Nabi Shallallaahu alaihi wa Sallam, Artinya, “Luruskan shafmu, karena sesungguhnya meluruskan shaf itu merupakan bagian dari kesempurnaan shalat”. (Muttafaq ‘Alaih). &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hadits ini dan hadits-hadits lain yang semisal, kata Ibnu Hazm, merupakan dalil wajibnya merapikan shaf sebelum shalat dimulai. Karena menyempurnakan shalat itu wajib, sedang kerapihan shaf merupakan bagian dari kesempurnaan shalat, maka merapikan shaf merupakan kewajiban. Juga lafaz amr (perintah) dalam hadits di atas menunjukkan wajib. Selain itu, Rasulullah Shallallaahu alaihi wa Sallam setiap memulai shalat, selalu menghadap kepada jamaah dan memerintahkan untuk meluruskan shaf, sebagaimana yang diriwayatkan oleh Anas bin Malik Radhiallaahu anhu. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Teladan dari Nabi dan Para Shahabat &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Umar bin Khaththab pernah memukul Abu Utsman An-Nahdi karena ke luar dari barisan shalatnya. Juga Bilal pernah melakukan hal yang sama, seperti yang dikatakan oleh Suwaid bin Ghaflah bahwa Umar dan Bilal pernah memukul pundak kami dan mereka tidak akan memukul orang lain, kecuali karena meninggalkan sesuatu yang diwajibkan (Fathul Bari juz 2 hal 447). Itulah sebabnya, ketika Anas tiba di Madinah dan ditanya apa yang paling anda ingkari, beliau berkata, “Saya tidak pernah mengingkari sesuatu melebihi larangan saya kepada orang yang tidak merapikan shafnya.” (HR. A-Bukhari). &lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Bahkan Rasulullah Shallallaahu alaihi wa Sallam sebelum memulai shalat, beliau berjalan merapikan shaf dan memegang dada dan pundak para sahabat dan bersabda, "Wahai sekalian hamba Allah! Hedaklah kalian meluruskan shaf-shaf kalian atau (kalau tidak), maka sungguh Allah akan membalikkan wajah-wajah kalian." (HR. Al-Jama'ah, kecuali al-Bukhari) &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di dalam riwayat Abu Hurairah, dia berkata, "Rasulullah biasa masuk memeriksa ke shaf-shaf mulai dari satu ujung ke ujung yang lain, memegang dada dan pundak kami seraya bersabda, "Janganlah kalian berbeda (tidak lurus shafnya), karena akan menjadikan hati kalian berselisih" (HR. Muslim) &lt;br /&gt;Imam Al-Qurthubi berkata, “Yang dimaksud dengan perselisihan hati pada hadits di atas adalah bahwa ketika seorang tidak lurus di dalam shafnya dengan berdiri ke depan atau ke belakang, menunjukkan kesombongan di dalam hatinya yang tidak mau diatur. Yang demikian itu, akan merusak hati dan bisa menimbulkan perpecahan (Fathul Bari juz 2 hal 443). Pendapat ini juga didukung oleh Imam An-Nawawi, beliau berkata, berbeda hati maksudnya terjadi di antara mereka kebencian dan permusuhan dan pertentangan hati. Perbedaan ketika bershaf merupakan perbedaan zhahir dan perbedaan zhahir merupakan wujud dari perbedaan bathin yaitu hati. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sementara Qhadhi Iyyadh menafsirkannya dengan mengatakan Allah akan mengubah hati mereka secara fisik, sebagaimana di dalam riwayat lain (Allah akan mengubah wajah mereka). Hal itu merupakan ancaman yang berat dari Allah, sebagaimana Dia mengancam orang yang mengangkat kepalanya sebelum imam (i’tidal), maka Allah akan mengubah wajahnya menjadi wajah keledai. Imam Al-Kirmani menyimpulkan, akibat dari pertentangan dan perbedaan di dalam shaf, bisa menimbulkan perubahan anggota atau tujuan atau juga bisa perbedaan balasan dengan memberikan balasan yang sempurna bagi mereka yang meluruskan shaf dan memberikan balasan kejelekan bagi mereka yang tidak meluruskan shafnya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berdiri di dalam shaf bukan hanya sekedar berbaris lurus, tetapi juga dengan merapatkan kaki dan pundak antara satu dengan yang lainnya seperti yang dilakukan oleh para shahabat. Diriwayatkan oleh Ibnu Umar Radhiallaahu anhu Rasulullah Shallallaahu alaihi wa Sallam bersabda, Artinya “Rapatkankan shaf, dekatkan (jarak) antara shaf-shaf itu dan ratakan pundak-pundak.” (HR. Abu Daud dan An-Nasai, dishahihkan oleh Ibnu Hibban). &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di dalam riwayat lain oleh Abu Dawud Rasulullah bersabda, Artinya “Demi jiwaku yang ada di tanganNya, saya melihat syaitan masuk di celah-celah shaf, sebagaimana masuknya anak kambing.” &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Posisi Makmum di Dalam Shalat &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://4.bp.blogspot.com/_Vu2uwPa37To/S3N76Eu6YFI/AAAAAAAAAJ8/6YF15o6h83U/s1600-h/posisi-imam-dan-makmum-shalat.jpg"&gt;&lt;img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;width: 400px; height: 282px;" src="http://4.bp.blogspot.com/_Vu2uwPa37To/S3N76Eu6YFI/AAAAAAAAAJ8/6YF15o6h83U/s400/posisi-imam-dan-makmum-shalat.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5436825412799455314" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apabila imam shalat berjamaah hanya dengan seorang makmum, maka dia (makmum) disunnahkan berdiri di sebelah kanan imam(sejajar dengannya), sebagaimana yang diceritakan oleh Ibnu Abbas bahwa beliau pernah shalat berjamaah bersama Rasulullah Shalallaju 'alaihi wa sallam pada suatu malam dan berdiri di sebelah kirinya. Maka Rasulullah Shalallaju 'alaihi wa sallam memegang kepala Ibnu Abbas dari belakang lalu memindahkan di sebelah kanannya (Muttafaq ‘Alaih). &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apabila makmum terdiri dari dua orang, maka keduanya berada di belakang imam, sebagaimana yang diriwayatkan oleh Anas bin Malik, beliau bersabda, Artinya “Rasulullah shalat maka saya dan seorang anak yatim berdiri di belakangnya dan Ummu Sulaim berdiri di belakang kami” (Muttafaq ‘Alaih). &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Adapun pendapat Kufiyyun (Ulama-ulama’ Kufah) yang mengatakan bahwa kalau makmum terdiri dari dua orang maka yang satunya berdiri di sebelah kanan Imam dan yang lainnya di sebelah kirinya, maka hal itu dibantah oleh Ibnu Sirin, seperti yang diriwayatkan oleh Attahawi bahwa yang demikian itu hanya boleh diamalkan, ketika shalat di tempat yang sempit yang tidak cukup untuk membuat shaf di belakang. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hadits di atas juga menjelaskan bahwa makmum wanita mengambil posisi di belakang laki-laki, sekali pun harus bershaf sendirian. Dan dia tidak boleh bershaf di samping laki-laki, apalagi di depannya. Sebaik-baik shaf laki-laki adalah yang pertama dan seburuk-buruknya adalah yang terakhir. Sebaliknya bagi wanita, sebaik-baik shaf baginya adalah yang terakhir dan yang paling buruk adalah yang pertama. (HR. Muslim dari Abu Hurairah). Dan shaf yang paling afdhal adalah di sebelah kanannya imam. Dan dari situlah dimulainnya membuat shaf baru, sebagaimana yang dikata-kan oleh Barra’ bin ‘Azib dengan sanad yang shahih. Menyempurnakan shaf terdepan adalah yang dilakukan oleh para malaikat, ketika berbaris di hadapan Allah. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di riwayatkan oleh Abu Dawud dari Jabir bin Samurah ia berkata, “Rasulullah Shallallaahu alaihi wa Sallam bersabda, ”Tidakkah kalian ingin berbaris, sebagaimana para malaikat berbaris di hadapan Rabb mereka.” Maka kami bertanya, “Bagaimanakah para malaikat berbaris di hadapan Rabb?” Beliau menjawab, “Mereka menyempurnakan barisan yang depan dan saling merapat di dalam shaf.” &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dibolehkan seorang makmum shalat di lantai dua dari masjid atau dipisahkan dengan tembok atau lainnya dari imam, selama dia mendengar suara takbir imam. Sebagaimana yang dikatakan oleh Hasan, “Tidak mengapa kamu shalat berjamaah dengan imam, walaupun di antara kamu dan imam ada sungai”. Ditambahkan oleh Abu Mijlaz, selama mendengar takbirnya imam (Shahih Al-Bukhari). Dan sebagian ulama juga menyaratkan harus bersambungnya shaf, namun hal ini masih diperdebatkan di antara para ulama. Juga kisah qiyamuramadhan (shalat tarawih), yang pertama kali yang dilakukan oleh Rasulullah Shallallaahu alaihi wa Sallam . &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Larangan Membuat Shaf Sendirian &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seorang makmum dilarang membuat shaf sendirian, berdasarkan hadits yang diriwayatkan oleh Wabishah bin Mi’bad, bahwa Rasulullah melihat seseorang shalat di belakang shaf sendirian, maka beliau memerintahkan untuk mengulang shalatnya (HR. Ahmad, Abu Daud, Tirmidzi dan dishahihkan oleh Ibnu Hibban). &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan pada riwayat Thalq bin Ali ada tambahan, “Tidak ada shalat bagi orang yang bersendiri di belakang shaf”. Walaupun demikian sebagian ulama’ tetap menyatakan sah shalat seorang yang berdiri sendiri dalam satu shaf karena alasan hadits di atas sanadnya mudltharib (simpang siur), sebagai-mana yang dikatakan oleh Ibnu Abdil Barr. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menurut Syaikh Muhammad bin Shaleh Al-Utsaimin, jika seseorang menjumpai shaf yang sudah penuh, sementara ia sendirian dan tidak ada yang ditunggu, maka boleh baginya shalat sendiri di belakang shaf itu. Karena apabila ada larangan berhada-pan dengan kewajiban (jamaah bersama imam, red), maka di dahulu-kan yang wajib. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Untuk menjaga keutuhan shaf boleh saja seorang maju atau bergeser ketika mendapatkan ada shaf yang terputus. Sabda Nabi Shallallaahu alaihi wa Sallam yang diriwayatkan oleh Abu Juhaifah beliau bersabda, “Barangsiapa yang meme-nuhi celah yang ada pada shaf maka Allah akan mengampuni dosanya.” (HR. Bazzar dengan sanad hasan). &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tiada langkah paling baik melebihi yang dilakukan oleh seorang untuk menutupi celah di dalam shaf. Dan semakin banyak teman dan shaf dalam shalat berjamaah akan semakin afdhal, sebagaimana yang diriwayatkan oleh Ubay bin Ka’ab, Rasulullah Shallallaahu alaihi wa Sallam bersabda, Artinya “Shalat seorang bersama seorang lebih baik daripada shalat sendirian dan shalatnya bersama dua orang lebih baik daripada shalatnya bersama seorang. Dan bila lebih banyak maka yang demikian lebih disukai oleh Allah ‘Azza wa Jalla.” (Muttafaq ‘Alaih). &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan ketika memasuki shaf untuk shalat disunahkan untuk melakukannya dengan tenang tidak terburu-buru, sebagaimana yang diriwayatkan oleh Abi Bakrah, bahwasanya ia shalat dan mendapati Nabi sedang ruku’ lalu dia ikut ruku’ sebelum sampai kepada shaf, maka Nabi berkata kepadanya, Artinya “Semoga Allah menambahkan kepadamu semangat (kemauan), tetapi jangan kamu ulangi lagi.” (HR. Al Bukhari) dan dalam riwayat Abu Daud ada tambahan: “Ia ruku’ sebelum sampai di shaf lalu dia berjalan menuju shaf.” (Nurul Mukhlisin) &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;alsofwah.or.id&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2341110395006740809-6244188910732945488?l=bertahajudlah.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://bertahajudlah.blogspot.com/feeds/6244188910732945488/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://bertahajudlah.blogspot.com/2010/02/luruskan-dan-rapatkan-shaf.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2341110395006740809/posts/default/6244188910732945488'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2341110395006740809/posts/default/6244188910732945488'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://bertahajudlah.blogspot.com/2010/02/luruskan-dan-rapatkan-shaf.html' title='Luruskan Dan Rapatkan Shaf'/><author><name>Abu Rasya</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='25' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_Vu2uwPa37To/SwJVf4XAdFI/AAAAAAAAAEk/lhZhkq-B4QA/S220/Fatih-Sultan-Muhammad.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/_Vu2uwPa37To/S3N76Eu6YFI/AAAAAAAAAJ8/6YF15o6h83U/s72-c/posisi-imam-dan-makmum-shalat.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2341110395006740809.post-5176761874880358143</id><published>2010-02-10T07:48:00.001+07:00</published><updated>2010-02-10T07:50:44.524+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='idaman'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='suami'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='istri'/><title type='text'>ISTRI IDAMAN SUAMI</title><content type='html'>Istri cantik, bukanlah satu-satunya kriteria bagi seorang mu'min yang memiliki cita-cita untuk membangun keluarga yang sakinah, mawaddah wa rahmah. keshalihan sang istri merupakan kriteria utama dan didambakan seorang lelaki di antara sekian banyak kriteria yang diinginkannya. Apalah arti istri yang cantik, jika ia tidak taat kepada sang suami, suka membuatnya jengkel dan sakit hati, tidak menyenangkan ketika berada di dekatnya, tidak amanah, dan lain sebagainya. Tentunya keadaan seperti ini dapat membuat sang suami merasa tak aman dan nyaman berlama-lama di dalam rumah, bahkan boleh jadi rumah baginya laksana neraka. Beginilah konsekuensi yang akan ditanggung oleh seorang lelaki, tatkala ia memutuskan kecantikanlah sebagai kriteria utama dan segalanya dalam memilih partner hidupnya, meskipun ia tidak memiliki keshalihan. Seorang istri demikianlah yang memiliki potensi besar untuk tidak patuh kepada seorang suami, menyeleweng, dan cenderung mengabaikan hak-haknya. Padahal hak seorang suami atas seorang istri merupakan seagung-agungnya hak setelah hak Allah subhanahu wata’ala dan RasulNya shallallahu ‘alaihi wasallam. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, "Kalau seandainya aku boleh menyuruh seorang untuk sujud kepada orang lain, niscaya aku akan menyuruh seorang istri untuk sujud kepada suaminya." (HR. at-Tirmidzi. Dan ia berkata, "Hasan Shahih."). &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Maka perlu bagi seorang wanita, baik yang sudah menjadi seorang istri, maupun yang akan menjadi seorang istri, untuk berusaha mencari tahu kiat-kiat khusus yang harus dilaksanakan agar ia menjadi dambaan dan pujaan para suami. Mudah-mudahan beberapa pesan dan nasehat di bawah ini bisa menjadi kiat-kiat yang berharga bagi para wanita untuk mewujudkan impiannya, menjadi idola dan idaman sang suami, serta untuk menggapai kebahagian yang hakiki dalam mengarungi lautan kehidupan rumah tangga yang penuh dengan liku-liku ini bersama suami tercinta. Kiat-kiat tersebut di antaranya adalah:&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1. Hendaklah seorang istri merasa cukup dan ridha dengan pemberian yang sedikit dari sang suami. Tidak banyak menuntutnya, sehingga membuatnya kecewa dan dapat menjerumuskannya untuk mencari nafkah dengan jalan dan cara yang haram. Sungguh para wanita generasi Salafush-Shalih, apabila suaminya hendak berangkat dari rumahnya untuk mencari nafkah, ia berkata kepadanya, "Jauhkanlah (wahai suamiku) mencari nafkah yang haram. Sesung-guhnya kami mampu bersabar menahan lapar, akan tetapi kami tidak mampu bersabar menahan panasnya api neraka!" &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2. Hendaklah seorang istri menjauhkan diri dari berbuat durhaka kepada suaminya, meninggikan suara ketika berbicara kepadanya, dan selalu mengeluhkan tentang suaminya kepada keluarganya. Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda kepada seorang wanita, "Bagaimana sikapmu terhadap suamimu?! Sesungguhnya ia adalah surga dan nerakamu!" (HR. an-Nasa'i dan Ahmad, dan dishahihkan oleh Syaikh al-Albani). &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3. Hendaklah seorang istri tidak meminta kepada suaminya seorang pembantu wanita yang masih muda, karena hal itu dapat menjadi sebab sang suami menceraikannya. Dan karena seorang pembantu wanita muda lebih berpotensi mengundang fitnah dalam rumah tangga. Khususnya fitnah bagi sang suami. Tidak sedikit kasus-kasus perselingkuhan terjadi di dalam rumah tangga antara seorang suami dengan seorang pembantu wanita muda, karena seringnya komunikasi, saling memandang dan berdua-duaan, tatkala sang istri tak ada di rumah, dan lain sebagainya. Kemudian terjadilah perselisihan dan percekcokan antara suami dan istri yang berakhir pada perceraian. Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, "Tidaklah aku meninggalkan fitnah sepeninggalanku ini bagi para lelaki yang lebih berbahaya, selain para wanita." (Muttafaq 'alaih). Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam juga bersabda, “Janganlah sekali-kali seorang lelaki berkhalwat (berdua-duaan) dengan seorang wanita melainkan ada mahram bersamanya, lalu seorang lelaki berdiri dan berkata, "Wahai Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, istriku hendak keluar menunaikan haji, sedangkan namaku telah terdaftar untuk mengikuti perang ini dan itu. Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, "Pulanglah kamu! Dan berhajilah bersama istrimu!". (Muttafaq 'alaih). Dan Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam juga bersabda, "Barangsiapa yang beriman kepada Allah dan hari Akhir, janganlah sekali-kali ia berkhalwat (berdua-duan) dengan seorang wanita yang tidak ada mahram bersamanya, maka sungguh ketiganya adalah syetan." (HR. Ahmad, dengan sanad yang shahih) &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;4. Hendaklah seorang istri mengetahui bahwa hak suami harus lebih diutamakan dari semua hak kerabat/ keluarganya. Jika mendapatkan hak-hak yang saling bertabrakan, maka ia harus tetap mengutamakan hak suami, dan hendaklah ia mengabaikan yang lainnya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;5. Hendaklah seorang istri menjaga harta suaminya, tidak menggunakannya tanpa sepengetahuannya. Jika ia bersedekah dari hartanya dengan idzinnya, maka ia mendapatkan pahala seperti pahala suaminya. Jika ia bersedekah tanpa ridhanya, maka suaminya mendapatkan pahala, sedangkan ia mendapatkan dosa. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;6. Hendaklah seorang istri menghindar dari pergaulan dengan para tetangga yang tidak baik, teman-teman yang buruk perangainya, yang dapat mempe-ngaruhinya sehingga ia bersikap buruk terhadap suaminya, dan dapat menjadi sebab terjadinya perselihan antara ia dengannya, serta dapat merendahkan martabat dan harga diri suami di hadapannya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;7. Hendaklah seorang istri bersikap sabar atas perlakuan suaminya yang kurang baik. Hendaklah ia bijaksana dalam menyikapinya tatkala sedang emosi, niscaya suaminya akan memujinya pada waktu ia senang. Dan hendaklah ia juga mengetahui, bahwa problematika dalam rumah tangga tidak akan menjadi besar kecuali jika hal itu disikapi dengan keras kepala dan kesombongan. Maka janganlah ia menghancurkan rumah tangganya dengan sikap keras kepala dan kesombongan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;8. Hendaklah seorang istri memenuhi panggilan suaminya dalam situasi dan kondisi apa pun. Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, "Barangsiapa mengajak istrinya ke tempat tidurnya, lalu ia enggan, maka para malaikat melaknatnya hingga pagi." (Muttafaq 'alaih) &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;9. Hendaklah seorang istri tidak menyebutkan atau menceritakan 'sifat'/keistimewaan wanita lain kepada suaminya. Karena Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam melarang hal tersebut. Sebagaimana sabda shallallahu ‘alaihi wasallam beliau, "Janganlah seorang wanita bergaul dengan wanita lain, kemudian ia menceritakan wanita tersebut kepada suaminya, seakan-akan suaminya melihatnya (wanita tersebut)."(Muttafaq 'alaih). &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;10. Hendaklah seorang istri mampu menjadi pemimpin di rumah suaminya dan bertanggung jawab terhadap anak-anaknya, dengan menyuruh mereka berbuat baik, dan melarang mereka dari perbuatan yang mungkar (tidak baik). Serta tidak meridhai jika ada sesuatu yang mungkar di rumahnya. Dan hendaklah ia mengerti bahwasanya tidak ada ketaatan kepada satu makhlukpun dalam maksiat kepada Allah subhanahu wata’ala. Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, "…Dan seorang wanita (Ibu) adalah pemimpin di rumah suaminya, dan akan mem pertanggungjawabkan atas kepemimpinannya,…”(HR. al-Bukhari dan Muslim). Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam juga bersabda, "Apabila salah seorang di antara kalian melihat kemungkaran, maka hendaklah ia mencegahnya dengan tangannya, dan apabila ia tidak mampu, maka hendaklah ia mencegahnya dengan lisannya, dan apabila tidak mampu juga, maka hendaklah ia mencegahnya dengan hatinya, dan yang demikian itu adalah selemah-lemahnya iman." (HR. Muslim, Abu Daud, an-Nasai, at-Tirmidzi, Ibnu Majah dan Ahmad). Wallahu a'alam. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dialihbahasakan dari buletin : &lt;br /&gt;“Baaqotu wardin wa Nisrin, Muhdatun Likulli ‘Arusain”, Min al-Qism al’Ilmy Bi Daril-Wathan.” (Oleh: Abu Nabiel)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;www.alsofwah.or.id&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2341110395006740809-5176761874880358143?l=bertahajudlah.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://bertahajudlah.blogspot.com/feeds/5176761874880358143/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://bertahajudlah.blogspot.com/2010/02/istri-idaman-suami.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2341110395006740809/posts/default/5176761874880358143'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2341110395006740809/posts/default/5176761874880358143'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://bertahajudlah.blogspot.com/2010/02/istri-idaman-suami.html' title='ISTRI IDAMAN SUAMI'/><author><name>Abu Rasya</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='25' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_Vu2uwPa37To/SwJVf4XAdFI/AAAAAAAAAEk/lhZhkq-B4QA/S220/Fatih-Sultan-Muhammad.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2341110395006740809.post-5042229129629964416</id><published>2010-02-09T08:29:00.005+07:00</published><updated>2010-02-09T08:33:49.980+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='suami'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='istri'/><title type='text'>CATATAN UNTUK PARA SUAMI</title><content type='html'>Wanita mana yang tidak mendambakan seorang lelaki yang kelak dapat menjadi sandaran hidupnya, mampu membimbing dan mendidiknya untuk menjadi wanita terbaik dan shalihah bukan saja hanya untuk suaminya, tetapi terbaik untuk Allah subhanahu wata’ala. Suami yang selalu memotivasinya untuk beribadah kepada Allah subhanahu wata’ala dan selalu istiqamah di jalan-Nya. Maka tentunya kiat-kiat di bawah ini perlu diketahui oleh para kaum lelaki yang ingin menjadi suami idaman bagi istri-istrinya. Di antaranya adalah: &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1. Hendaklah seorang suami senantiasa bertakwa kepada Allah subhanahu wata’ala dalam mempergauli dan memperlakukan istrinya. Karena ia adalah amanah yang akan dipertanyakan oleh Allah subhanahu wata’ala pada hari Kiamat. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, "Perlakukanlah wanita-wanita itu dengan baik". (Muttafaq 'alaih). Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam melarang berbuat zhalim terhadap wanita. Sebagaimana beliau shallallahu ‘alaihi wasallam pernah berdo'a, "Ya Allah sesungguhnya aku akan menjadi penghalang (orang yang menzhalimi) hak dua golongan yang lemah, yakni: Anak yatim dan wanita." (HR. Ibnu Majah dengan sanad hasan). &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2. Hendaklah seorang suami memiliki perangai dan tabiat yang mulia. Janganlah ia mencaci istrinya, menjelek-jelekkannya, dan mendiamkannya. Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, "Janganlah seorang mu'min membenci seorang mu'minah, jika ia tidak menyukai suatu perangai nya, maka ia akan menyukai perangai yang lain dari dirinya." (HR. Muslim). &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3. Hendaklah seorang suami banyak bersabar dan baik dalam bermu'amalah dengan istrinya. Maka sebaik-baik kalian adalah yang menjaga persahabatan dan kasih sayang! Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, "Sebaik-baik kalian adalah yang terbaik terhadap keluarganya, dan aku adalah sebaik-baik kalian kepada keluargaku". (HR. Ibnu Majah) &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;4. Hendaklah seorang suami memiliki kecemburuan terhadap istrinya, tetapi tidak berlebihan, sehingga berburuk sangka kepadanya. Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, "Apakah kalian merasa kagum/heran dengan ghirah (rasa cemburu)nya Sa'ad? Sungguh aku lebih cemburu darinya, dan Allah lebih cemburu dariku." (HR.Muslim). &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;5. Hendaklah seorang suami bersikap lemah lembut dan bijaksana dalam menyikapi kesalahan dan kekeliruan. Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, "Sesungguhnya tidaklah kelembutan itu ada pada sesuatu, melainkan ia akan membuatnya menjadi indah, dan tidaklah kelembutan itu hilang dari sesuatu, melainkan ia akan memperbu-ruknya." (HR. Muslim). Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam juga bersabda, "Sesungguhnya Allah Maha lembut, Dia menyukai kelembutan di dalam semua perkara." (HR. Al-Bukhari dan Muslim). &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;6. Hendaklah seorang suami memberikan nafkah kepada istrinya dengan ma'ruf (layak). Sebagaimana Allah subhanahu wata’ala berfirman, artinya, "Dan janganlah kamu jadikan tanganmu terbelenggu pada lehermu dan janganlah kamu terlalu mengulurkannya karena itu kamu menjadi tercela dan menyesal." (QS. Al-Isra': 29) &lt;br /&gt;(maksudnya: tidak kurang dan tidak berlebihan, pent.) &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam pernah ditanya, apa hak istri yang wajib dipenuhi oleh suami? Lalu beliau shallallahu ‘alaihi wasallam menjawab, "Kamu memberi makan kepadanya, jika kamu makan. Dan kamu memberi pakaian untuknya, jika kamu memakai pakaian. Dan janganlah kamu memukul wajah, menjelek-jelekkannya, dan jangan pula kamu mendiamkannya kecuali di dalam rumah." (HR. Ahmad dan Abu Daud). &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;7. Hendaklah seorang suami mempelajari fiqih kewanitaan sehingga ia mengetahui cara menggauli istrinya saat haidh dan nifas, dan hendaklah ia mengajarkan kepada istrinya tentang masalah tersebut, jika ia belum mengetahuinya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;8. Hendaklah seorang suami mengerti, bahwasannya tidak boleh baginya berhubungan (bersetubuh) dengan istrinya waktu haidh, dan tidak pula pada duburnya. Dan dibolehkan baginya untuk bermesra-mesraan dengannya waktu haidh, kecuali melakukan jima' (bersetubuh), karena hal tersebut diharamkan. Allah subhanahu wata’ala berfirman,artinya, "Mereka bertanya kepadamu tentang haidh. Katakanlah:"Haidh itu adalah suatu kotoran". Oleh sebab itu hendaklah kamu menjauhkan diri dari wanita di waktu haidh; dan janganlah kamu mendekati mereka, sebelum mereka suci. Apabila mereka telah suci, maka campurilah mereka itu di tempat yang diperintakan Allah kepadamu. Sesung guhnya Allah menyukai orang-orang yang taubat dan menyukai orang-orang yang mensucikan diri. Isteri-isterimu adalah (seperti) tanah tempat kamu bercocok tanam, maka datangilah tanah tempat bercocok-tanammu itu bagai mana saja kamu kehendaki. Dan kerjakanlah (amal yang baik) untuk dirimu, dan bertaqwalah kepada Allah dan ketahuilah ahwa kamu kelak akan menemui-Nya. Dan berilah kabar gembira orang-orang yang beriman." (QS. Al-Baqarah: 222-223) &lt;br /&gt;Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, "Allah subhanahu wata’ala tidak memandang seorang lelaki yang menggauli lelaki lain atau seorang wanita melalui dubur". (HR. At-Tirmidzi, dishahihkan oleh Al-Albani). &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di antara etika melakukan jima': Memulai dengan basmalah (membaca bismillah dan berdo'a), bersenda gurau, berpelukan, mencium sebelum melakukannya. Karena hal itu lebih dapat memberikan kepuasan bagi suami dan istri. Dan jika seorang suami telah selesai menunaikan hajatnya, maka hendaklah ia tidak tergesa-gesa (menyudahinya), sampai sang istri mendapatkan haknya. Dan barangsiapa yang ingin mengulanginya (jima'), maka hendaklah ia membasuh kemaluannya, lalu berwudhu. Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, yang artinya, "Jika salah seorang di antara kalian akan menyetubuhi istrinya mengucapkan (berdoa), "Dengan nama Allah, Ya Allah! Jauhkan kami dari setan, dan jauhkan setan untuk mengganggu apa yang Engkau rezekikan kepada kami. Maka niscaya setan tidak akan mencelakakan anak (hasil) dari keduanya selama-lamanya."(Muttafaq 'alaih). Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, "Jika salah seorang di antara kalian menyetubuhi istrinya, kemudian hendak mengulangi, maka hendaklah ia berwudhu." (HR. Muslim) &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;9. Hendaklah seorang suami menjauhkan diri dari menyebarkanluaskan rahasia-rahasia hubungan suami-istri. Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, "Sesungguhnya di antara manusia yang paling buruk kedudukannya di sisi Allah subhanahu wata’ala pada hari Kiamat adalah seorang suami yang menggauli istrinya, dan istrinya menggaulinya, kemudian ia sebarkan rahasia istrinya." (HR. Muslim). &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Suatu ketika dikatakan kepada sebagian orang-orang shalih yang ingin menceraikan istrinya, "Apa yang membuatmu ragu kepada istrimu?" Lalu ia menjawab, "Orang yang berakal tak akan membuka rahasia." Maka tatkala ia telah menceraikannya, ia pun kembali ditanya, "Mengapa kamu menceraikannya?". Lalu ia pun menja-wab, "Apa urusanku/ hakku dengan istri orang lain?" &lt;br /&gt;Mudah-mudahan kiat-kiat di atas dapat menjadi nasihat berharga untuk para suami dan para calon suami yang ingin menjadi idaman para istri. Dan semoga Allah subhanahu wata’alasenantiasa memberi kan taufiq-Nya kepada kita semua. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sumber: Dialihbahasakan dari buletin “Baaqotu wardin wa Nisrin, Muhdatun Likulli ‘Arusain”, Min al-Qism al’Ilmy Bi Daril-Wathan. (Oleh: Abu Nabiel)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;www.alsofwah.or.id&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2341110395006740809-5042229129629964416?l=bertahajudlah.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://bertahajudlah.blogspot.com/feeds/5042229129629964416/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://bertahajudlah.blogspot.com/2010/02/catatan-untuk-para-suami.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2341110395006740809/posts/default/5042229129629964416'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2341110395006740809/posts/default/5042229129629964416'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://bertahajudlah.blogspot.com/2010/02/catatan-untuk-para-suami.html' title='CATATAN UNTUK PARA SUAMI'/><author><name>Abu Rasya</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='25' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_Vu2uwPa37To/SwJVf4XAdFI/AAAAAAAAAEk/lhZhkq-B4QA/S220/Fatih-Sultan-Muhammad.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2341110395006740809.post-7176316254117276867</id><published>2010-02-07T12:32:00.000+07:00</published><updated>2010-02-07T12:33:30.579+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='aqidah'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='makam'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='kuburan'/><title type='text'>Histori Kuburan Rasulullah Dalam Tinjauan Aqidah</title><content type='html'>(Al Fikrah No.02 Thn VII/06 Ramadhan 1427 H)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Salah  satu  fenomena  yang cukup menyejukkan pandangan dalam bulan  Ramadhan  adalah  maraknya masjid-masjid dikunjungi oleh jamaah untuk mengerjakan shalat. Namun perlu untuk diperhatikan, bahwa ternyata, tidak semua masjid layak untuk kita gunakan mengerjakan shalat, baik yang wajib maupun sunnah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di antara penyebabnya adalah adanya kuburan dalam masjid tersebut atau di sekitar masjid tersebut.   Sebagian orang membolehkan shalat di masjid yang dibangun di atas kuburan dengan dalih kuburan Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wa Sallam berada dalam masjid Nabawi. Masalahnya adalah bolehkah berdalil dengan posisi kuburan Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wa Sallam tersebut yang kini telah berada dalam masjid Nabawi? Bagaimana histori masuknya kuburan Nabi Shallallahu 'Alaihi Wa Sallam tersebut ke dalam masjid Nabawi?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Sakit dan wafatnya Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wa Sallam&lt;br /&gt;Lima hari sebelum beliau wafat, yaitu pada hari Rabu beliau masuk ke dalam masjid lalu duduk di atas mimbar dan berkhutbah di hadapan sahabat, beliau berkata,&lt;br /&gt;áóÚúäóÉõ Çááåö Úóáóì ÇáúíóåõæúÏö æóÇáäøóÕóÇÑóì ÇÊøóÎóÐõæúÇ ÞõÈõæúÑó ÃóäúÈöíóÇÆöåöãú ãóÓóÇÌöÏó&lt;br /&gt;“Semoga Allah melaknat orang-orang Yahudi dan Nashara, mereka telah menjadikan kuburan nabi-nabi mereka sebagai masjid.”                  (HR. Bukhari dan Muslim).&lt;br /&gt;Dalam riwayat lain dikatakan,&lt;br /&gt; ÞóÇÊóáó Çááåõ ÇáúíóåõæúÏó ÇöÊøóÎóÐõæúÇ ÞõÈõæúÑó ÃóäúÈöíóÇÆöåöãú ãóÓóÇÌöÏó&lt;br /&gt; “Semoga Allah memerangi orang-orang Yahudi, mereka menjadikan kuburan nabi-nabi mereka sebagai masjid.” (HR. Bukhari dan Muslim).&lt;br /&gt;Kemudian beliau berkata, ”Janganlah kalian jadikan kuburanku sebagai berhala yang disembah.”&lt;br /&gt;Setelah menyampaikan beberapa hal, beliau turun dari mimbar untuk shalat zhuhur, kemudian beliau duduk kembali di atas mimbar dan mengulangi perkataannya yang sebelumnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Penyakit Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wa Sallam terus makin parah dan makin berat sampai beliau menutupkan pakaiannya ke wajahnya, lalu beliau buka kembali dan berwasiat, “Laknat Allah atas orang-orang Yahudi dan Nashara, mereka menjadikan kuburan nabi-nabi mereka sebagai masjid.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Detik-detik Menjelang Wafat Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wa Sallam&lt;br /&gt;Menjelang wafatnya, Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wa Sallam memasukkan kedua tangannya ke dalam sebuah bejana yang berisi air kemudian mengusapkannya ke wajahnya sambil berkata, “La ilaaha illallah, sesungguhnya kematian itu mengalami sekarat.” Tak berapa lama setelah bersiwak, Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wa Sallam mengangkat tangan atau jarinya dan menatapkan pandangannya ke atap, kedua bibirnya bergerak membaca doa. Kemudian tangannya miring dan beliau pun akhirnya menjumpai Kekasihnya yang Maha Tinggi Allah Subhaanahu Wa Ta'ala.&lt;br /&gt;Kejadian ini berlangsung pada saat waktu dhuha sedang panas-panasnya, yaitu pada hari Senin tanggal 12 Rabi'ul Awal 11 H., setelah umur beliau mencapai 63 tahun empat hari.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Prosesi Penguburan Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wa Sallam&lt;br /&gt;Para sahabat berselisih tentang tempat pemakaman Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wa Sallam sampai Abu Bakar Radhiyallahu 'Anhu berkata, “Sesungguhnya aku telah mendengar Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wa Sallam bersabda: “Tidaklah seorang Nabi wafat kecuali dikubur di tempat ia wafat”. (HR. Ahmad dan Ibnu Mâjah).&lt;br /&gt;Maka Abu Thalhah mengangkat kasur dalam kamar Aisyah Radhiyallahu 'Anha yang dipakai Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wa Sallam pada saat wafat lalu menggali tanah yang ada di bawahnya, dan membentuk liang lahad. Adapun kamar Aisyah terletak di sebelah timur Masjid Nabawi di sudut kiri depan masjid.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Renovasi dan Perluasan Masjid Nabawi dan Masuknya Kuburan ke Dalamnya&lt;br /&gt;Sejalan dengan jumlah kaum muslimin yang semakin bertambah, Masjid Nabawi pun beberapa kali mengalami perluasan. Ketika al-Walîd bin Abdul Mâlik memegang tampuk pemerintahan Dinasti Banî Umayyah (86-96 H.), pada tahun 91 H., renovasi dan perluasan Masjid Nabawi akhirnya mencakup kamar Aisyah tempat Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wa Sallam, Abu Bakar Radhiyallahu 'Anhu dan Umar Radhiyallahu 'Anhu dimakamkan. Maka sejak saat itu hingga kini, kubur Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wa Sallam masuk ke dalam masjid.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kesalahan dalam perencanaan renovasi ini karena bertentangan dengan hadits-hadits Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wa Sallam bahkan wasiat beliau yang terakhir disampaikan sebelum wafatnya, akhirnya mereka sadari. Karena itu, mereka berusaha untuk mengurangi celah penyimpangan aqidah dengan memagari hujrah tersebut dengan pagar berbentuk segi tiga yang memanjang ke arah utara, belakang kubur agar seseorang yang ingin shalat menghadap ke kuburnya tidak dapat melakukannya. (Tâhzîrus Sâjid, hal. 65-66).&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Pada masa pemerintahan Dinasti Utsmâniyah, tahun 1813 M, Sultan Mahmud II membangun sebuah kubah baru berwarna hijau di atas kamar Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wa Sallam yang masih tetap kokoh hingga kini yang kian menambah fenomena baru dalam kuburan Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wa Sallam, yang tidak di ridhai oleh penghuni kubur tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jawaban Terhadap Syubhat&lt;br /&gt;Fenomena masuknya kubur Rasululullah Shallallahu 'Alaihi Wa Sallam, Abu Bakar As-Siddiq dan Umar bin Khattab Radhiyallahu 'Anhu ke dalam Masjid Nabawi telah menjadi salah satu alasan bagi sebagian orang untuk menguburkan atau mempertahankan kuburan yang ada di dalam, atau di depan masjid, atau membolehkan untuk tetap shalat di masjid-masjid seperti itu, meskipun Nabi Shallallahu 'Alaihi Wa Sallam telah melarang bahkan melaknat perbuatan tersebut dalam banyak hadits shahihnya, antara lain;&lt;br /&gt;"Ingatlah! Janganlah kalian menjadikan kubur sebagai masjid, sungguh aku melarang kalian dari hal itu.”&lt;br /&gt;”Ya Allah! Janganlah Engkau  biarkan kuburanku sebagai berhala yang disembah. Semoga Allah melaknat kaum yang menjadikan kuburan nabi mereka sebagai masjid."&lt;br /&gt; “Sesungguhnya orang yang terburuk adalah orang yang masih hidup pada saat terjadi kiamat dan orang yang menjadikan kuburan sebagai masjid.”&lt;br /&gt;Di antaranya telah kami sebutkan pada bagian awal tulisan ini.&lt;br /&gt;Yang mungkin dipahami dari kalimat "menjadikan kuburan sebagai masjid" adalah tiga pengertian:&lt;br /&gt;* Shalat di atas makam, dengan pengertian sujud di atasnya.&lt;br /&gt;* Sujud dengan menghadap ke arahnya dan menjadikannya kiblat shalat dan doa.&lt;br /&gt;* Mendirikan masjid di atas makam dengan tujuan mengerjakan shalat di dalamnya.&lt;br /&gt;Hadits-hadits tersebut melarang keras praktik menguburkan mayat atau mempertahankan kuburan yang ada di masjid-masjid. Sementara berhujjah dengan fenomena kuburan Rasululullah Shallallahu 'Alaihi Wa Sallam, Abû Bakar As-Shiddîq dan Umar bin Khatthâb Radhiyallahu 'Anhu yang ada di Masjid Nabawi tidak dapat diterima, karena beberapa hal;&lt;br /&gt;* Masjid Nabawi tidak dibangun di atas kuburan, bahkan beliaulah bersama para sahabat termasuk Abû Bakar As-Shiddîq dan Umar bin Khattâb, yang membangunnya semasa hidupnya.&lt;br /&gt;* Mereka tidak dikuburkan di dalam masjid, mereka hanya dikuburkan di kamar Aisyah Radhiyallahu 'Anhu  yang terletak di sebelah timur masjid.&lt;br /&gt;* Proses masuknya kuburan-kuburan tersebut bukan dilakukan oleh orang-orang yang perbuatannya menjadi hujjah dan patokan, bukan Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wa Sallam dan bukan pula Khulafâur-Râsyidîn yang praktik dan perbutannya merupakan hujjah. Dan tidak pula terjadi pada zaman mereka, bahkan terjadi setelah mereka dan kebanyakan sahabat yang tinggal di Madinah telah wafat. Karena sahabat yang berdomisili di Madinah yang terakhir wafat adalah Jâbir bin Abdullâh pada tahun 78 H (Tâhdzîrus Sâjid, hal. 59.). Sedangkan renovasi Umar bin Abdul Azîz atas instruksi Al-Walîd bin Abdul Mâlik yang merambah ke kuburan tersebut terjadi setelahnya pada tahun 91 H.&lt;br /&gt;*Kuburan tersebut setelah masuk ke dalam masjid, tetap tidak memungkinkan seseorang untuk menjadikannya sebagai watsan yu’bad (berhala yang disembah)  karena dipagar dengan pagar segi tiga yang salah satu seginya memanjang ke belakang, atau ke arah utara, sehingga seseorang yang ingin shalat menghadap kepadanya akan melenceng dari arah kiblat.&lt;br /&gt;* Pagar tersebut telah menjadi wujud dari doa Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wa Sallam,&lt;br /&gt;”Ya Allah! Janganlah Engkau biarkan kuburanku sebagai berhala yang disembah.”&lt;br /&gt;Karena Al-Watsan adalah berhala yang disembah oleh orang dari jarak dekat, sementara pagar tersebut telah menghalau niat tersebut (Adhwâul Bayân, 5/498-499, Asy-Syinqithi).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bolehkah Tetap Shalat di Masjid Nabawi Sekarang?&lt;br /&gt;Larangan shalat di masjid yang terdapat kubur di dalamnya, atau di depannya, atau yang dibangun di atas kubur, sama sekali tidak mencakup larangan shalat di Masjid Nabawi, karena ia memiliki keistimewaan yang tidak terdapat pada masjid lain karena shalat di dalamnya diberi ganjaran seribu kali dibanding dengan shalat di masjid lain, ia merupakan tempat yang dianjurkan untuk dikunjungi walaupun dari jauh, di dalamnya terdapat raudhah (taman) yang merupakan salah satu taman di antara taman-taman surga dan lain-lain.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Syaikh Al Albani menukil perkataan Syaikhul Islam ibnu Taimiyah bahwa beliau berkata, "Shalat di masjid yang dibangun di atas kuburan secara mutlak dilarang, berbeda dengan masjid Nabi Shallallahu 'Alaihi Wa Sallam. Sebab shalat di masjid beliau ini sama dengan seribu shalat, karena ia didirikan berdasarkan ketakwaan."&lt;br /&gt;Beliau melanjutkan, "Barangsiapa yang berkeyakinan bahwa masjid tersebut sebelum ada makam di dalamnya tidak memiliki keutamaan, karena Nabi Shallallahu 'Alaihi Wa Sallam mengerjakan shalat di dalamnya bersama orang-orang Muhajirin dan Anshar, tetapi keutamaan itu baru muncul pada masa kekhalifahan al Walîd bin Abdul Mâlik, setelah dimasukkannya kamar di mana Nabi Shallallahu 'Alaihi Wa Sallam meninggal ke dalam masjid beliau,maka dia sudah mendustakan apa yang dibawa dari Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wa Sallam dan dia berhak untuk diperangi."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Syaikhul Islam juga menjelaskan tentang sebab dibolehkannya shalat yang dikerjakan karena suatu sebab pada waktu-waktu yang dilarang mengerjakan shalat (seperti shalat sunnah setelah  shalat Ashar, dibolehkan ketika seseorang masuk ke dalam masjid dan ingin mengerjakan shalat tahiyyatul masjid—red.), karena dengan melarangnya, akan menghilangkan kesempatan shalat tersebut, di mana tidak mungkin untuk mendapatkan keutamaannya karena telah tertinggal waktunya. Demikian juga shalat di masjid Nabi Shallallahu 'Alaihi Wa Sallam." Wallâhu A'lâ wa A'lam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sumber:&lt;br /&gt;Diringkas dari makalah berjudul "Histori Kuburan Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wa Sallam dalam Tinjauan Aqidah" Karya Abu  Yahya Salahuddin Guntung, Lc.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2341110395006740809-7176316254117276867?l=bertahajudlah.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://bertahajudlah.blogspot.com/feeds/7176316254117276867/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://bertahajudlah.blogspot.com/2010/02/histori-kuburan-rasulullah-dalam.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2341110395006740809/posts/default/7176316254117276867'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2341110395006740809/posts/default/7176316254117276867'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://bertahajudlah.blogspot.com/2010/02/histori-kuburan-rasulullah-dalam.html' title='Histori Kuburan Rasulullah Dalam Tinjauan Aqidah'/><author><name>Abu Rasya</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='25' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_Vu2uwPa37To/SwJVf4XAdFI/AAAAAAAAAEk/lhZhkq-B4QA/S220/Fatih-Sultan-Muhammad.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2341110395006740809.post-2062550917375601195</id><published>2010-02-07T11:27:00.001+07:00</published><updated>2010-02-07T11:30:25.423+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='remaja'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='kesucian'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='gadis'/><title type='text'>Nasihat Kepada Para Gadis Remaja</title><content type='html'>Dengan terbata-bata dan diiringi linangan air mata penyesalan seorang remaja putri bertutur,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Peristiwa ini bermula hanya dari pembicaraan melalui telepon antara diriku dengan seorang pria, lalu berlanjut membuahkan kisah cinta di antara kami. Ia merayu bahwa dirinya sangat mencintaiku dan ingin segera meminangku. Dia berharap dapat bertemu muka denganku, namun aku sungguh merasa keberatan, bahkan aku mengancam ingin menjauhi dirinya, kemudian menyudahi hubungan ini. Akan tetapi aku tak kuasa melakukan itu. Maka aku putuskan dengan mengirimkan fotoku dalam sebuah surat cinta yang semerbak dengan wangi aroma bunga mawar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Gayung bersambut suratku pun dibalas olehnya, dan semenjak itu kami sering saling kirim surat. Suatu ketika melalui surat, ia mengajakku untuk keluar pergi berduaan, aku menolak dengan keras ajakan itu. Tetapi ia balik mengancam akan membeberkan semua tentang diriku, foto-fotoku, surat cintaku, dan obrolanku dengannya selama ini melalui telepon, yang ternyata ia selalu merekamnya. Aku benar-benar dibuat tak berdaya oleh ancamannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Akhirnya aku pun pergi keluar bersamanya dan berharap dapat pulang kembali ke rumah dengan secepatnya. Memang aku pun akhirnya pulang, namun sudah bukan sebagai diriku yang dulu lagi, aku telah berubah. Aku kembali ke rumah dengan membawa aib yang berkepanjangan, dan suatu ketika kutanyakan kepadanya, "Kapan kita akan menikah?" Apakah tidak secepatnya? Namun ternyata jawaban yang ia berikan sungguh menyakitkan, dengan nada menghina dan merendahkanku ia berkata, "Aku tak mau menikah dengan wanita rendahan sepertimu!"&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Wahai saudariku tercinta!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;kini engkau tahu bagaimana akhir dari hubungan kami yang jelas-jelas terlarang dalam agama ini. Oleh karena itu waspada dan berhati-hatilah jangan sampai engkau terjerumus dalam hubungan semacam itu. Jauhilah teman yang buruk perangai, yang suatu saat bisa saja ia menjerumuskanmu lalu menyeretmu ke dalam pergaulan yang rendah dan terlarang. Ia hiasi itu semua sehingga seakan-akan menarik dan merupakan hal biasa yang tidak akan berakibat apa-apa, tak akan ada aib dan lain sebagainya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jangan percaya omongannya, sekali lagi jangan gampang percaya! Itu semua tak lain adalah tipu daya yang dilancarkan oleh syetan dan teman-temannya. Dan jika engkau tak mau berhati-hati maka sungguh hubungan haram itu akan berakibat sebagaimana yang telah kusebutkan di atas atau bahkan lebih parah dan menyakitkan lagi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berhati-hatilah jangan sampai engkau terpedaya dengan bujuk rayu para laki-laki pendosa itu yang kesukaannya hanya mempermainkan kehormatan orang lain. Mereka adalah pembohong, pendusta dan pengkhianat, walau salah satu dari mulut mereka terkadang menyampaikan kejujuran dan keikhlasan. Apa yang diinginkan mereka adalah sama, dan semua orang yang berakal mengetahui itu, seakan tiada yang tersembunyi. Berapa kali kita mendengarkan, demikian juga selain kita tentang perilaku keji mereka terhadap para gadis remaja.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun sayang seribu sayang bahwa sebagian para gadis tak bisa mengambil pelajaran dari peristiwa memalukan yang menimpa gadis lainnya. Mereka tak mempercayai segala ucapan dan nasehat yang diberikan kecuali setelah peristiwa itu benar-benar menimpa, dan setelah terlanjur menjadi korban kebiadaban lelaki amoral itu. Tatkala musibah dan aib yang mencoreng muka telah terjadi, maka ketika itulah ia baru terbangun dari keterlenaannya, timbullah penyesalan yang mendalam atas segala yang telah dilakukannya. Ia berangan-angan agar aib, derita, dan kegetiran itu segera berakhir, namun musim telah berlalu dan segalanya telah terjadi,yang hilang tiada mungkin kembali! "Mengapa semua jadi begini?"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saudariku Tercinta!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bagi yang terlanjur jatuh dalam hubungan yang haram dan terlarang, jika mau berpikir maka tentu ia akan menjauhi cara seperti itu sejak awal mulanya. Sehingga tak seorang pun bisa mengajaknya demikian berpetualang dalam cinta. Sebab dalam petualangan tersebut mempertaruhkan sesuatu yang paling mulia yang merupakan lambang harga diri dan kesucian wanita. Jika sekali telah hilang, maka tak akan mungkin kembali selamanya. Wanita mana yang menginginkan agar miliknya yang paling berharga hilang begitu saja dengan sia-sia demi kesenangan sekejap? Lalu setelah itu kembali ke tengah-tengah keluarga dan masyarakat dalam keadaan terhina dan tersisih tiada mampu mendongakkan kepala?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tiada lagi laki-laki yang mengingin kannya, hidup terkucil dan penuh kerugian yang selalu mengiringi sisa umurnya. Hatinya makin teriris manakala melihat teman sebayanya atau yang lebih muda telah menjadi seorang istri, seorang ibu rumah tangga dan pendidik generasi muda.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Oleh karena itu wahai saudariku, pikirkanlah semua ini! Jauhilah olehmu hubungan muda-mudi yang melanggar aturan agama agar engkau tidak menjadi korban selanjutnya. Ambillah pelajaran dari peristiwa yang menimpa gadis selainmu, dan jangan sampai engkau menjadi pelajaran yang diambil oleh mereka. Ketahuilah bahwa wanita yang terjaga kehormatannya itu sangatlah mahal, jika ia mengkhianati dan tak menjaga kehormatan itu, maka kehinaanlah yang pantas baginya. Tetaplah engkau pada kondisi jiwamu yang suci dan mulia dan janganlah sekali-kali engkau membuatnya hina serta menurunkan martabat dan ketinggian nilainya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jangan kau kira bahwa untuk mendapatkan seorang suami yang baik hanya dapat diperoleh melalui obrolan lewat telepon ataupun pacaran dan pergaulan bebas. Banyak di antara mereka yang jika dimintai pertanggung jawaban agar segera menikah justru mengatakan:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bagaimana mungkin aku menikahi wanita sepertinya.&lt;br /&gt;Bagaimana pula aku rela dengan tingkah laku dan caranya.&lt;br /&gt;Bagi wanita yang telah mengkhianati kehormatannya sehari saja.&lt;br /&gt;Maka tiada mungkin bagi diriku untuk memperistrinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bila engkau tak menginginkan jawaban yang menyakitkan seperti ini maka jangan sekali-kali menjalin hubungan terlarang, cegahlah sedini mungkin. Selagi dirimu dapat mengen-dalikan segala urusan yang menyangkut pribadimu, maka kemuliaan dan harga diri akan terjaga. Carilah suami dengan cara yang baik dan benar, sebab kalau toh engkau mendapatkannya dengan cara gaul bebas dan cara-cara lain yang tidak benar, maka biasanya akan berakibat tersia-sianya rumah tangga dan bahkan perceraian. Rata-rata kehidupan mereka dipenuhi oleh duri, saling curiga, menuduh, dan penuh ketidakpercayaan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jangan kau percayai propaganda sesat yang berkedok kemajuan zaman atau mereka yang menggembar-gemborkan kebebasan kaum wanita yang mengharuskan menjalin cinta terlebih dahulu sebelum menikah. Janganlah terkecoh, sebab cinta sejati tak akan ada kecuali setelah menikah. Sedang selain itu, maka pada umumnya adalah cinta semu, hanya mengikuti angan-angan dan fatamorgana, sekedar menuruti kesenangan, hawa nafsu, dan pelampiasan emosi belaka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ingatlah bahwa kehidupan dunia ini sangatlah singkat dan sementara, mungkin sebentar lagi engkau akan meninggalkannya. Maka jika ternyata engkau telah terkhilaf dengan dosa-dosa segera saja bertaubat memohon ampunan sebelum ada dinding penghalang antara taubat dengan dirimu. Demi Allah nasihat ini kusampaikan dengan tulus untukmu dan itu semua semata-mata karena rasa sayang dan cintaku kepadamu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sumber: Buletin Darul Wathan “nihayatu fatah” &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2341110395006740809-2062550917375601195?l=bertahajudlah.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://bertahajudlah.blogspot.com/feeds/2062550917375601195/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://bertahajudlah.blogspot.com/2010/02/nasihat-kepada-para-gadis-remaja.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2341110395006740809/posts/default/2062550917375601195'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2341110395006740809/posts/default/2062550917375601195'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://bertahajudlah.blogspot.com/2010/02/nasihat-kepada-para-gadis-remaja.html' title='Nasihat Kepada Para Gadis Remaja'/><author><name>Abu Rasya</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='25' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_Vu2uwPa37To/SwJVf4XAdFI/AAAAAAAAAEk/lhZhkq-B4QA/S220/Fatih-Sultan-Muhammad.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2341110395006740809.post-5903210777333425911</id><published>2010-02-06T18:22:00.001+07:00</published><updated>2010-02-06T18:25:45.247+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='parfum'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='berjamaah'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='durhaka'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='sholat'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='khamer'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='tukang ramal'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='bermusuhan'/><title type='text'>JANGAN SIA-SIAKAN SHALAT ANDA</title><content type='html'>Shalat merupakan amalan yang sangat penting dan salah satu rukun Islam yang agung. Oleh karena itu selayaknya setiap muslim memberikan perhatian yang besar terhadap urusan shalat. Shalat yang dilakukan dengan ikhlash dan memenuhi syarat dan rukunnya insya-Allah akan diterima di sisi Allah subhanahu wata’ala. Namun ada juga shalat yang tidak diterima di sisi Allah meskipun syah, dan ada pula yang batil (tidak syah) dan tentunya Allah subhanahu wata’ala pun tidak akan menerima shalat tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berikut ini beberapa kiat untuk menjaga agar shalat kita diterima di sisi Allah subhanahu wata’ala, berpahala, dan tidak sia-sia. Semoga bermanfaat!!&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;&lt;br /&gt;1. Jangan Datangi Tukang Ramal&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Orang yang mendatangi tukang ramal/juru tebak, maka shalatnya tidak diterima selama empat puluh hari, walaupun shalat yang dia kerjakan adalah syah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,&lt;br /&gt;"Barangsiapa yang medatangi tukang ramal ('arraf) lalu menanyakan kepada-nya tentang sesuatu (berkonsultasi), maka tidak diterima shalatnya selama empat puluh hari." (HR. Muslim)&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;&lt;br /&gt;2. Hindari Parfum bagi Wanita yang Ingin Shalat di Masjid&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada dasarnya wanita tidak dilarang shalat di masjid, namun shalat di dalam rumahnya adalah lebih utama. Andaikan seorang wanita ingin shalat di masjid, maka hendaknya dia memperhatikan ketentuan-ketentuan syara'. Di antara yang terpenting adalah tidak memakai parfum, karena Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam telah bersabda,&lt;br /&gt;"Wanita mana saja yang memakai wewangian untuk pergi ke masjid, maka tidak diterima shalatnya sebelum dia mandi sebagaimana ia mandi dari janabah." (HR. Ahmad, Abu Dawud, dishahihkan Al-Albani)&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;3. Laksanakan Shalat dengan Berjama’ah&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berdasarkan sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam,&lt;br /&gt;"Barang siapa yang mendengar adzan lalu dia tidak memenuhinya, maka tidak ada shalat baginya kecuali karena ada udzur." (HR. Abu Dawud dan Ibnu Majah, dishahihkan oleh al-Albani)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hal ini juga menunjukkan bahwa shalat berjama'ah hukumnya wajib bagi laki-laki yang tidak mempunyai udzur.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;4. Jauhi Khamer (Miras)&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berdasarkan sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam,&lt;br /&gt;"Barangsiapa meminum khamer, maka tidak diterima shalatnya selama empat puluh hari. Jika dia bertaubat, maka Allah akan menerima taubatnya." (HR Ahmad dan At-Tirmidzi)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;5. Jangan Bermusuhan Secara Tidak Haq&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,&lt;br /&gt;"Ada tiga golongan yang Allah tidak menerima shalat mereka," (di antaranya).... dua orang yang saling bermusuhan." (HR. Ibnu Hibban dan Ibnu Majah)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yang dimaksud dengan bermusuh-an di sini adalah tidak bertegur sapa melebihi tiga hari dengan alasan yang tidak dibenarkan menurut agama.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;6. Jangan Durhaka kepada Orang Tua dan Memutus Tali Silatur Rahim&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berdasarkan sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam,&lt;br /&gt;"Allah tidak menerima amalan orang yang memutus tali silaturrahim." (HR. Ahmad)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Orang yang melakukan perbuatan di atas mendapatkan ancaman berupa shalatnya tidak diterima oleh Allah subhanahu wata’ala, atau tidak berpahala, tetapi dari segi hukum shalatnya syah. Dan mereka tetap wajib melaksanakan shalat. Hal ini sebagai hukuman atau sanksi atas kesalahan yang dia lakukan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Teks-teks dalil syar'i menunjukkan bahwa orang yang melakukan kesalahan tersebut di atas, maka shalatnya tidak diterima. Dengan tetap melaksanakan shalat, berarti kewajibannya telah gugur sehingga tidak terkena dosa meninggalkan shalat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Untuk menjaga shalat agar syah dan tidak batil (sia-sia), berikut ini ditunjukkan kiat yang hendaknya kita perhatikan:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;1. Shalatlah dalam Keadaan Suci&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Orang yang dalam keadaan memiliki hadats, baik hadats besar maupun kecil, maka tidak syah bila mengerjakan shalat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,&lt;br /&gt;"Allah tidak menerima shalat salah seorang di antara kalian, jika ia berhadats, sampai ia berwudhu." (Muttafaqun 'alaih). Dan juga sabda beliau yang lainnya, "Tidak akan diterima shalat tanpa bersuci." (HR. Muslim)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;2. Jauhi Sikap Riya'&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hadits riwayat Al-Bukhari dan Muslim, Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam menjelaskan bahwa amal seseorang itu tergantung niatnya. Kalau orang melaksanakan shalat karena Allah, maka shalatnya akan diterima, sedangkan jika shalatnya bukan karena Allah, maka Allah subhanahu wata’ala tidak membutuhkannya. Dalam sebuah hadits Qudsi Allah subhanahu wata’ala berfirman,&lt;br /&gt;"Aku tidak butuh terhadap sekutu-sekutu, barangsiapa yang melakukan suatu amalan, yang di dalam amalan tersebut menyekutukan Aku dengan selain-Ku, maka Aku tinggalkan dia dan sekutunya." (HR. Muslim)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;3. Jangan Bersikap Munafik&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Orang munafik adalah orang yang mengaku Islam, namun dalam hatinya menyembunyikan kekufuran dan kebencian terhadap Islam. Dia tidak senang jika syariat Islam ditegakkan, dia membenci sunnah-sunnah yang diajarkan Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, mengejek dan memusuhi Islam, atau mengatakan bahwa Islam itu hanya di masjid saja, sedang di luar masjid tidak perlu Islam lagi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Maka orang seperti ini tidak akan diterima shalatnya sebelum ia bertobat. Allah subhanahu wata’ala berfirman, artinya:&lt;br /&gt;Katakanlah, "Apakah dengan Allah, ayat-ayat-Nya dan Rasul-Nya kamu selalu berolok-olok?". Tidak usah kamu minta maaf, karena kamu kafir sesudah beriman." (QS. At-Taubah:65-66)&lt;br /&gt;"Maka demi Rabbmu, mereka (pada hakikatnya) tidak beriman hingga mereka menjadikan kamu hakim dalam perkara yang mereka perselisihkan, kemudian mereka tidak merasa keberatan dalam hati mereka terhadap putusan yang kamu berikan, dan mereka menerima dengan sepenuhnya." (QS. An-Nisa': 65)&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;&lt;br /&gt;4. Hindari Shalat di Masjid yang Ada Kuburannya&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,&lt;br /&gt;"Bumi keseluruhannya adalah masjid kecuali jamban dan kuburan." (HR. Abu Dawud, dishahihkn oleh Al-Albani).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Beliau juga telah bersabda,&lt;br /&gt;"Janganlah kalian shalat menghadap ke kubur dan jangan duduk di atasnya." (HR. Muslim)&lt;br /&gt;"Semoga laknat Allah ditimpakan kepada orang-orang yahudi dan nashrani yang telah menjadikan kubur para nabi mereka sebagai masjid-masjid." Aisyah radhiyallahu ‘anha berkata, "Rasulullah memperingatkan kita dari apa yang telah mereka lakukan." (Muttafaqun 'alaih)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Juga sabda beliau,&lt;br /&gt;"Ketahuilah bahwa orang-orang sebelum kalian telah menjadikan kuburan para nabi mereka dan kuburan orang-orang shaleh mereka sebagai masjid-masjid. Ingatlan, jangan kalian menjadikan kubur-kubur sebagai masjid, karena sesungguhnya aku melarang yang demikian itu." (HR. Muslim)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebagian ulama berpendapat bahwa shalat di masjid yang ada kuburannya tidak syah, jika dengan niat ingin bertabarruk dengan ahli kubur. Sedangkan jika hanya sekedar shalat, maka shalatnya itu tetap syah, namun pelakunya terjerumus ke dalam perbuatan yang dibenci (makruh).&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;&lt;br /&gt;5. Jangan Sekali-kali Melakukan Kemusyrikan.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Orang musyrik adalah orang yang memalingkan ibadah kepada selain Allah subhanahu wata’ala, seperti orang yang ber-taqarrub atau beribadah kepada orang yang telah mati dengan keyakinan bahwa orang yang telah mati ini dapat memberikan manfaat atau menghilang-kan madharat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ataupun orang yang menyembelih binatang karena selain Allah, sujud kepada mereka, berdo’a kepada mereka agar memenuhi hajat dan kebutuhan hidup. Meminta mereka agar memberikan barakah kepada diri, harta dan anak-anaknya. Begitu pula orang yang berkeyakinan bahwa ada makhluk yang mengetahui perkara ghaib dan memberikan manfaat selain Allah subhanahu wata’ala serta berkeyakinan bahwa dia dapat mengatur kehidupan ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Orang-orang seperti ini meskipun mengerjakan shalat, tetapi shalatnya tidak diterima oleh Allah subhanahu wata’ala karena dia telah melakukan kesyirikan yang menyebabkan amal menjadi hilang lenyap.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Allah subhanahu wata’ala befirman, artinya:&lt;br /&gt;"Dan sesungguhnya telah diwahyukan kepadamu dan kepada (nabi-nabi) sebelummu, "Jika kamu mempersekutu-kan (Allah), niscaya akan hapus amalmu dan tentulah kamu termasuk orang-orang yang merugi." (QS. Az-Zumar: 65)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sumber: Shalatul Muslim, Fahd bin Sholih Al-Shuwailih. (Khalif Muttaqin) &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2341110395006740809-5903210777333425911?l=bertahajudlah.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://bertahajudlah.blogspot.com/feeds/5903210777333425911/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://bertahajudlah.blogspot.com/2010/02/jangan-sia-siakan-shalat-anda.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2341110395006740809/posts/default/5903210777333425911'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2341110395006740809/posts/default/5903210777333425911'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://bertahajudlah.blogspot.com/2010/02/jangan-sia-siakan-shalat-anda.html' title='JANGAN SIA-SIAKAN SHALAT ANDA'/><author><name>Abu Rasya</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='25' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_Vu2uwPa37To/SwJVf4XAdFI/AAAAAAAAAEk/lhZhkq-B4QA/S220/Fatih-Sultan-Muhammad.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2341110395006740809.post-3807649313621011073</id><published>2010-02-02T17:18:00.005+07:00</published><updated>2010-02-03T10:40:17.896+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='israel'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='zionis'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='ghorqod'/><title type='text'>Dari Nitraria Retusa Sampai Sholat Subuh</title><content type='html'>oleh: Addy Aba Salma&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menghadapi dampak global warming yang sangat terasa dengan suhu udara yang menjadi sangat panas, Indonesia diakhir tahun 2007 awal tahun 2008 kemarin mencanangkan penanaman sejuta pohon. Penanaman sejuta pohon ini menjadi program pemerintah RI yang intruksinya datang langsung dari Presiden SBY. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hampir disetiap lahan luas yang masih kosong digalakkan untuk ditanami pohon. Area Bandara Soekarno Hatta pun tidak ketinggalan ikut serta dalam menghadapi issue global warming tersebut dengan menanami lahan-lahan yang masih kosong untuk ditanami macam-macam tanaman yang dapat tumbuh besar dan dapat menghijaukan lingkungan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Penanaman sejuta pohon juga terjadi di israel, negara yang sebenarnya tidak punya tanah. Negara ini ada karena menjajah bangsa Palestina semenjak tahun 1948 silam. Yang sebenarnya ada di peta dengan nama negara israel itu tidak lain adalah tanah Bangsa Palestina tempat lahirnya para Nabi negeri yang diberakhi, tempat dimana Masjidil Aqsa berada, persinggahan Nabi Muhammad SAW ketika dalam peristiwa Isra’ wal Mi’raj.&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;”Maha Suci Allah, yang telah memperjalankan hamba-Nya pada suatu malam dari Al Masjidil Haram ke Al Masjidil Aqsha yang telah Kami berkahi sekelilingnya agar Kami perlihatkan kepadanya sebagian dari tanda-tanda (kebesaran) Kami. Sesungguhnya Dia adalah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.” (Qs. Al Isra’:1)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Penanaman pohon yang dilakukan di israel bukan untuk menghadapi issue global warming tetapi dalam rangka menghadapi sesuatu yang pasti terjadi yaitu peperangan yang dilakakukan umat Islam terhadap kaum yahudi yang akan terjadi diakhir zaman nanti. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://4.bp.blogspot.com/_Vu2uwPa37To/S2f84SwhkXI/AAAAAAAAAJ0/9Bt5qRh8-VM/s1600-h/4imx7d.jpg"&gt;&lt;img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:left;cursor:pointer; cursor:hand;width: 341px; height: 331px;" src="http://4.bp.blogspot.com/_Vu2uwPa37To/S2f84SwhkXI/AAAAAAAAAJ0/9Bt5qRh8-VM/s400/4imx7d.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5433589519484031346" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Pohon yg nanti akan bisa berbicara...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pohon yang ditanam oleh orang-orang yahudi di israel yaitu pohon NITRARIA RETUSA nama latin dari pohon GHORQOD. Orang-orang yahudi telah melakukan penanaman pohon Ghorqod (NitrarIa Retusa) ini sejak lama karena memang dianjurkan untuk secara aktif menanam pohon jenis ini di wilayah pendudukan israel di tanah Palestina. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Website Jewish National Fund (jnf.org) diakhir tahun 2007 telah mengumumkan bahwa di tanah Palestina yang dikuasai zionis-israel telah ditanami tak kurang dari 220 juta batang pohon Ghorqod. (eramuslim.com) Jumlah yang tidak sedikit dan hari ini pastinya sudah lebih dari angka 220 juta batang pohon Ghorqod.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ada apa dengan orang-orang yahudi itu, sampai-sampai mereka melakukan aksi penanaman berjuta-juta pohon Ghorqod? Tidak lain karena mereka ternyata MENYAKINI perkataan yang diucap oleh manusia yang selama hidupnya tidak pernah berkata dusta walau sekalipun, yaitu perkataan Rasulullah Muhammad SAW. Yang tidak lain perkataan itu yang terdapat di dalam salah satu Hadist Shahih yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari dan Muslim.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Tidak akan terjadi kiamat hingga kaum Muslimin memerangi kaum Yahudi, lalu membunuh mereka, sehingga seorang Yahudi bersembunyi di balik batu dan pohon, lalu batu dan pohon itu berkata: Hai Muslim! Hai hamba Allah! Ini Yahudi di belakangku, kemarilah, bunuhlah dia! Kecuali pohon Ghorqod, maka itu adalah dari pohon-pohonnya orang Yahudi.” (HR. Bukhari Muslim)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kalau orang-orang yahudi itu sangatlah menyakini sabda Nabi Muhammad SAW yang jelas-jelas bukan Nabinya mereka, bagaimana dengan kita yang jelas-jelas sebagai umat Islam, umatnya Nabi Muhammad SAW?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Satu hadist lagi yang diayakini oleh zionis-israel yaitu hadist tentang keutamaan shalat subuh berjama’ah. Sampai-sampai &lt;span style="font-weight:bold;"&gt;ada salah Seorang penguasa yahudi pernah menyatakan bahwa mereka tidak akan takut terhadap orang Islam, kecuali pada satu hal, yaitu bila jumlah jama’ah sholat subuh mencapai jumlah jama’ah sholat jum’at&lt;/span&gt;.(hudzaifah.org)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Sesungguhnya sholat yang paling berat bagi orang munafik adalah sholat Isya’ dan shalat Subuh. Sekiranya mereka mengetahui apa yang terkandung didalamnya, niscaya mereka akan mendatangi keduanya sekalipun dengan merangkak.” (HR. Al-Bukhari dan Muslim).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Orang yahudi itu menilai dari hadist tersebut jika masih banyaknya umat Islam yang lalai dalam melaksanakan sholat subuh berjamaah ke Masjid berarti kemenangan akan jauh dari umat Islam. Karena kemenangan akan hanya di raih ketika umat Islam jauh dari kemunafikan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;...Assholatu khairum minannaum...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Muhassabah khusus buat saya pribadi dan kita semua, sudahkah kita menjadi satu diantara umat Islam yang senantiasa mendatangi Masjid untuk berjamaah Sholat Subuh?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Wallahua’lam bishshawab&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sumber: http://indonesiancommunity.multiply.com&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2341110395006740809-3807649313621011073?l=bertahajudlah.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://bertahajudlah.blogspot.com/feeds/3807649313621011073/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://bertahajudlah.blogspot.com/2010/02/dari-nitraria-retusa-sampai-sholat.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2341110395006740809/posts/default/3807649313621011073'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2341110395006740809/posts/default/3807649313621011073'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://bertahajudlah.blogspot.com/2010/02/dari-nitraria-retusa-sampai-sholat.html' title='Dari Nitraria Retusa Sampai Sholat Subuh'/><author><name>Abu Rasya</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='25' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_Vu2uwPa37To/SwJVf4XAdFI/AAAAAAAAAEk/lhZhkq-B4QA/S220/Fatih-Sultan-Muhammad.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/_Vu2uwPa37To/S2f84SwhkXI/AAAAAAAAAJ0/9Bt5qRh8-VM/s72-c/4imx7d.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2341110395006740809.post-1184171660086169186</id><published>2010-01-31T22:05:00.002+07:00</published><updated>2010-01-31T22:10:53.363+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='fawaidh'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='sholat'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='sunnah'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='faedah'/><title type='text'>FAWAID SHALAT SUNNAH</title><content type='html'>Tidak ada sesuatu yang diperintahkan atau dianjurkan dalam Islam kecuali ia mengandung hikmah-hikmah atau faidah-faidah mulia, tanpa kecuali shalat sunnah. Di antara fawaidnya adalah:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Pertama,&lt;/span&gt;Menjaga shalat sunnah membantu hamba untuk masuk ke dalam deretan sabiqina bil khairat sebagaimana dalam ayat 32 surat Fathir yang telah hadir di tulisan sebelumnya dan hal itu menurut penafsiran sebagian ulama.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Kedua,&lt;/span&gt; Menjaga shalat sunnah mendekatkan hamba kepada Allah dan selanjutnya membuat hamba meraih mahabbah, kecintaan dari Allah Ta'ala.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;عن أبي هريرة رضي الله عنه قال : قال رسول الله صلى الله عليه وسلم : إن الله تعالى يقول : مَنْ عَادَى لِي وَلِيًا فَقَدْ آذَنْتُهُ بِالحَرْبِ وَمَا تَقَرَّبَ إِلَيَّ عَبْدِي بِشَيءٍ أَحَبَّ إِلَيَّ مِمَّا افْتَرَضْتُهُ عَلَيهِ وَمَا يَزَالُ عَبْدِي يَتَقَرَّبُ إِلَيَّ بِالنَوَافِلِ حَتَّى أُحِبَّهُ...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari Abu Hurairah berkata, Rasulullah saw bersabda, “Sesungguhnya Allah Ta'ala berfirman, ‘Barangsiapa memusuhi waliKu maka Aku mengumumkan perang terhadapnya. HambaKu tidak mendekatkan diri kepadaKu dengan sesuatu yang lebih Aku cintai daripada apa yang telah Aku wajibkan atasnya. HambaKu terus mendekatkan diri kepadaKu dengan amalan-amalan sunnah sehingga Aku menyintainya…” Diriwayatkan oleh al-Bukhari.&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Ketiga,&lt;/span&gt; Menjaga shalat sunnah memberi peluang bagi seorang hamba untuk menyertai Nabi saw di surga.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari Rabi’ah bin Kaab al-Aslami berkata, Rasulullah saw bersabda kepadaku, “Mintalah.” Aku menjawab, “Aku berharap bisa menyertaimu di surga.” Nabi saw bertanya, “Apakah tidak yang lain?” Aku menjawab, “Cukup itu.” Maka Nabi saw bersabda, “Bantulah aku atas dirimu dengan memperbanyak sujud.” Diriwayatkan oleh Muslim.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hadits ini mempunyai kisah sebagaimana yang diriwayatkan oleh Ath-Thabrani dan dinyatakan shahih li ghairihi oleh Syaikh al-Albani dalam Shahih at-Targhib wat Tarhib no. 388, Rabi’ah berkata, “Di siang hari aku melayani Nabi saw, jika malam tiba, aku datang ke pintu Rasulullah saw dan tidur di sana. Aku selalu mendengar beliau mengucapkan, ‘Subhanallah, Subhanallah, Subhana Rabbi.’ Sampai aku merasa bosan dan tidak kuat menahan kantuk sehingga aku pun tidur. Suatu hari Rasulullah saw berkata kepadaku, ‘Wahai Rabi’ah, mintalah sesuatu kepadaku, aku akan memberimu.’ Aku menjawab, ‘Beri aku waktu untuk berpikir.’ Rabi’ah berkata, “Aku ingat bahwa dunia fana dan terputus, maka aku berkata kepada Rasulullah saw, ‘Ya Rasulullah, aku memohon kepadamu agar engkau berdoa kepada Allah agar Dia menyelamatkanku dari neraka dan memasukkanku ke dalam surga.’ Rasulullah saw diam sesaat lalu bersabda, ‘Siapa yang menyuruhmu meminta itu?’ Aku menjawab, ‘Tidak ada, akan tetapi aku menyadari bahwa dunia fana dan terputus sementara engkau mempunyai kedudukan mulia di sisi Allah seperti saat ini, maka aku ingin engkau berdoa kepada Allah untukku.’ Rasulullah saw bersabda, ‘Aku lakukan, namun bantulah aku untuk memenuhi keinginanmu itu dengan memperbanyak sujud.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Memperbanyak sujud berarti memperbanyak shalat, ungkapa
